[13. Jamuan Makan yang Tidak Nyaman ]
Leah berjaga di depan pintu bersama Eugene untuk mengecek seluruh masakan yang akan dihidangkan pada Janice. Setelah memastikan rasa dan tampilannya paripurna, barulah seluruh hidangan tersebut dibawa masuk ke ruang makan. Setelah seluruh pelayan masuk, Leah dan Eugene akan menyusul di akhir. Namun, tubuh sang sekretaris mendadak terasa ringan dan kepalanya seolah berputar-putar.
"Nona Leah, Anda tidak apa-apa?" Eugene menahan bahu Leah, menahan agar tubuh langsing perempuan itu tidak jatuh ke lantai.
"Saya tidak apa-apa, Tuan. Hanya sedikit pusing saja. Karena Tuan Benjamin saya tadi, tekanan darah saya mendadak turun. Itu saja. Saya akan baik-baik saja setelah makan siang nanti," balas Leah sembari memijat pelipisnya yang dialiri titik-titik keringat.
"Tapi, Nona. Anda sangat pucat. Sebaiknya Anda beristirahat." Ekspresi di wajah Eugene sarat kecemasan. Tapi Leah tidak ingin menambah perkara lagi.
"Pak Kepala, saya bisa bertahan sampai acara jamuan ini selesai. Percaya pada saya." Itu adalah bujukan final Leah. Eugene tidak memiliki waktu membujuk Leah beristirahat karena tamu yang dinantikan telah datang.
Perempuan berusia di penghujung angka lima itu masuk bersama Leon melalui pintu lain yang berlawanan dengan posisi Leah dan Eugene sekarang. Keduanya lantas memasuki ruangan dan menempatkan diri masing-masing di sisi kanan dan kiri Simon yang sudah lebih dulu duduk di kursinya. Ia duduk kursi paling ujung, di pusat perhatian seluruh orang dalam ruangan. Sedangkan wanita itu masih berdiri di sisi berseberangan dengan Simon. Ia membungkuk dalam memberikan salam.
"Duduklah, Janice," titah Simon singkat. Tak ada kehangatan yang tersisip dari perintahnya.
"Baik, Tuan." Wanita itu tidak banyak cakap, ia menurut saja. Leah dapat melihat bahwa Janice sempat bergetar ketika mendengar suara Simon. Kentara sekali jika Simon memiliki dendam pribadi dengan Janice.
"Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu dan nenek, Janice? Apakah menyenangkan?" Simon kembali mengawali percakapan.
Janice tampak tidak nyaman di tempatnya duduk. Seperti kursi yang ia duduk adalah kursi eksekusi listrik.
"Menjadi ibu dan nenek adalah hal yang luar biasa, Tuan."
Simon mengangkat gelas bertangkainya, Eugene segera menuangkan anggur sementara Simon membalas, "Oh, meskipun anakmu berbuat hal-hal di luar kendali? Kau tampaknya sangat stres sampai-sampai kelihatan sangat tua sekali, ha-ha."
Dark jokes. Di usia tiga ratus tahun pun, Simon masih bisa menunjukkan sisi kekanakannya yang suka mengejek. Leah menahan diri agar tidak tertawa mengingat Eugene di sampingnya juga terkejut dengan percobaan candaan Simon. Leon di seberang tampak datar-datar saja. Jangan tanya bagaimana ekspresi Janice, tentu saja ekspresinya sarat akan ketidaknyamanan. Ia bisa saja menangis sewaktu-waktu.
"Anak memang akan selalu begitu, Tuan. Berapa pun usia mereka. Itulah yang menjadikan orang tua menjadi sangat menantang dan menyenangkan." Janice selau menjawab dengan bijak.
Bagi Leah, jawabannya tak ada yang salah. Tapi lain lagi bagi Simon. Pria itu menampakkan seringai dan mendengkus tidak terima.
"Aku tidak percaya kau mengatakan itu padahal kau selalu saja dibuat murka karena kelakuan anak-anakmu. Hah, anggur ini jadi terasa tidak enak lagi. Cepat keluarkan makanannya saja sembari kita bercakap-cakap sebentar tentang apa yang harus kita lakukan pada anakmu."
Para pelayan mendorong meja aluminium beroda, di mana seluruh hidangan untuk hari itu akan disajikan. Hidangan pembuka dan pencuci mulutnya dibiarkan tidak tertutup, sedangkan hidangan utamanya diberi tutup aluminium besar. Ketika tutupnya diangkat, Janice tampak semakin pucat. Keringat dingin mengalir membasahi wajah dan ia bergetar makin kencang. Matanya tampak bergerak-gerak gelisah dan berair. Air matanya benar-benar tumpah.
"Tuan, mohon maaf jika saya lancang sudah meminta Anda mengampuni nyawa anak saya. Saya tidak kuasa jika Anda mengingatkan lagi pada hal memalukan itu, Tuan. Mohon ampun saya. Sekarang saya tidak akan meminta apa pun pada Tuan lagi, saya mohon, Tuan. Saya mohon.... "
Mungkin, inilah puncak yang dicari-cari oleh Simon. Membuat wanita itu menangis dan memohon-mohon di kakinya nanti. Setelah melihat Janice menangis, barulah ekspresi ketidaksenangan di wajah Simon luntur. Tergantikan senyum arogan.
"Aku tidak mengundangmu ke sini untuk kesia-siaan saja. Leon sudah bercerita bahwa sepanjang perjalanan, kalian diikuti oleh orang-orang tidak dikenal yang aku anggap di sini sebagai antek-antek Mankind Guardian. Sementara kamu dan anakmu kesusahan di sana, mereka enggan mendekati kalian lagi karena rencana bom bunuh diri itu gagal." Simon mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar Leon mendekat ke Janice dan Leah mengeluarkan barang yang sudah disiapkan Simon sedari tadi.
Leon menyerahkan rekaman video dan percakapan yang ia dapat dari beberapa mata-mata mereka di gedung Mankind Guardian. Dengan posisi sang mata-mata adalah kurir pizza. Dari monitor tablet yang diberikan kepada Janice, dua orang pria berseragam sedang merokok di ruang rapat.
'Harusnya orang itu mati. Kenapa ia tidak mati? Dengan adanya insiden ini, pasti seluruh perhatian akan terpusat pada para vampir. Mereka akan dicurigai dan lebih banyak mendapat sorotan dari pemerintah dunia.'
'Kalau dia mati, kita tidak perlu menyiapkan uang tutup mulut. Tapi karena dia tidak mati juga, kemungkinan kita ada dua rencana, menurut para atasan adalah memberikan uang suap, atau yang paling buruk adalah menghabisi langsung nyawanya.'
'Saya permisi dulu, terima kasih sudah memesan dan memberikan tips.' Pria yang menjadi pengantar makanan itu segera pamit. Posisi kamera berubah, tapi salah satu dari dua pria itu menahan pergelangan tangannya.
'Kau tidak dengar apa yang sedang kami bicarakan, bukan?'
'Apa? Saya mendengar semuanya, Tuan'
Pria yang lain memberikan beberapa lembar uang kepada sang mata-mata yang tengah menyamar.
'Jangan katakan pembicaraan ini pada siapa pun. Paham?'
Janice menutup mulut tidak percaya ketika mendapati dua pria dalam video tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah orang-orang yang selama ini selalu berada di balik layar dalam aksi putranya menuntut Simon hingga bom bunuh diri itu. Siapa kira jika mereka akan membuang putranya ketika sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi.
Simon kembali berkata, "Kau bersyukur karena aku sudah menempatkan para bodyguard terpilih menjaga anakmu. Kau tidak akan tahu apa yang mereka lakukan jika anakmu tidak memiliki penjaga."
Janice menangis kencang hingga terisak, kendati begitu ia masih bisa membalas perkataan Simon, "Terima kasih, Tuan. Saya sangat berterima kasih atas belas kasihan Anda."
Simon mengangkat tangan, lantas Leah berjalan mendekati Janice dan memberikan sebuah koper kepada mantan gundik tersebut.
"Aku berikan satu pilihan lagi untukmu. Bersembunyi dan tak usah terlibat lagi dengan mereka. Pakai uang dari penjualan benda itu untuk menghidupi kalian dulu dan lepas dari organisasi. Aku sudah merekomendasikan tempat untuk kalian dari salah satu temanku. Benjamin, kalian akan bekerja di bawahnya untuk sementara waktu sampai tak ada lagi pihak yang berusaha menghabisi nyawa kalian," tutur Simon dengan ekspresi datarnya.
Janice bangkit dari kursinya dengan susah payah, lantas bersujud di lantai. Ia menangis sembari mengucapkan terima kasih dan maaf berkali-kali. Simon sendiri terusik dengan bagaimana perempuan tua itu memperlakukannya seperti makhluk yang pantas disembah.
"Hentikan, Janice. Anggap saja ini sebagai pensiunmu setelah bertahun-tahun melayaniku sebagai gundik, walaupun kau pernah mengkhianatiku. Kau boleh pergi sekarang."
Leon kembali diberi tanggung jawab mengantar Janice ke rumah sakit. Kemungkinan putranya ditangkap untuk tindak kriminalisme masih tinggi, tetapi beberapa dokter meyakini kondisi kejiwaan pria itu pun tidak terlalu stabil sehingga ia tidak dipenjara. Simon akan menggunakan celah tersebut untuk mengeluarkan anak Janice dari rumah sakit dan pengawasan polisi.
Ruang makan utama segera dikosongkan kembali, hanya menyisakan Leah dan Eugene. Eugene bersiap pamit sedangkan Leah ditahan untuk mendapat beberapa kata dari Simon.
"Leah, aku ingin kau me—" Kata-kata Simon terpotong setelah melihat sekretarisnya terhuyung dan nyaris jatuh ke lantai. Simon buru-buru bangkit dari kursinya dengan ketangkasan di atas kemampuan manusia, ia menangkap tubuh Leah dan mendekatkan perempuan itu dalam dekapannya.
"Eugene! Cepat panggilkan dokter! Leah pingsan!"
Eugene masih berada di ambang pintu. Ia segera berlari dengan langkah kakinya yang tua. Simon sendiri segera mengangkat Leah seperti seorang putri. Tepat saat itulah mata sang sekretaris terbuka perlahan.
"Tu-Tuan!" pekik Leah ketika menyadari dirinya sedang dalam gendongan Simon. "Tolong turunkan, saya!" Biarpun lemas, Leah enggan menyerah melepaskan diri dari gendongan tuannya.
"Kalau kamu bergerak-gerak dan jatuh, aku tidak sudi menolongmu lagi," omel Simon sembari menghentikan langkahnya.
"Turunkan saya sekarang, Tuan."
"Kau sakit."
"Saya tidak sakit tekanan darah saya rendah dan saya hanya sedang ke—"
Perkataan Leah terhenti oleh jawaban gamblang yang dibuat oleh perutnya. Terlalu keras berpikir membuat perutnya keroncongan. Simon balas menatap Leah seolah sedang mengatakan: Serius? Kamu cuma kelaparan?
"Maka dari itu, tolong turunkan saya. Saya akan mencari makan di dapur," bujuk Leah lagi.
Simon mendengkus. "Terlambat. Sekarang kamu makan saja jatahnya Janice. Daripada terbuang percuma. Lagipula, kamu itu terlalu ringan. Aku jadi serasa mengangkat awan."
Leah didudukkan di kursi sementara Simon sendiri duduk di meja sembari menyodorkan satu per satu makanan ke depan Leah. "Makanlah semua ini dan naikkan berat badanmu dan meningkatkan ukuran pakaian dalammu."
"Tuan!"
Simon tertawa keras, melihat wajah merona Leah lebih menyenangkan daripada melihat wajah serius yang ditunjukkannya setiap hari. Namun, tanpa keduanya sadari. Sepasang mata mengintip dari kejauhan. Sepasang mata yang menatap iri.
|Bersambung|