[12. Perkara Abalone]
Leah segera meluncur ke dapur bersama Aby. Simon jarang sekali memesan menu yang mengandung abalone. Menurut catatan yang ditinggalkan oleh sekretaris-sekretaris yang dulu, hewan sejenis kerang itu menjadi menu yang haram dihidangkan di meja makan kendati Simon sendiri tidak mengonsumsinya. Bahkan jika para gundik bermaksud menikmati abalone, menu tersebut haruslah dimakan di kamar mereka sendiri tanpa Simon.
Alasan di baliknya adalah karena abalone mengingatkan Simon akan salah satu gundik yang mempermalukannya. Leah tidak tahu bagaimana detailnya, tetapi sampai sekarang pun Leah masih menjadikan catatan yang diberikan para sekretaris terdahulu sebagai acuan. Selalu ada cerita di balik larangan-larangan tak tertulis itu, ketika larangan-larangan tersebut mendadak mendapat pengecualian atau tercabut, tentu sesuatu yan besar sedang terjadi.
"Maaf, Nona Sekretaris. Tapi kami tidak memiliki stok abalone. Semenjak Tuan membuang abalone dari daftar menu, kami jarang sekali membeli abalone. Terkadang ada beberapa gundik yang memesan menu tersebut. Tapi beberapa bulan ini kami tidak mendapat pesanan abalone apa pun sehingga tidak menyetoknya." Jawaban dari kepala koki sukses menambahkan satu beban lagi untuk Leah. Tuannya tidak akan senang dengan berita ini.
"Saya akan menghubungi restoran atau hotel terdekat untuk mendapatkan abalone. Saya juga akan menghubungi seluruh kota jika perlu. Demi abalone!" putus Leah.
"No-Nona sekretaris. Biar saya saja yang menghubungi kebetulan suami saya bekerja untuk restoran makanan laut bintang lima yang berada di sekitar kawasan ini!" usul salah seorang koki di belakang tubuh sang kepala.
"Saya juga akan berusaha mendapatkan abalone terbaik! Kalau menggunakan nama saya, tidak akan sulit bagi kita untuk mendapat abalone kualitas paling bagus di mana pun!" Pada akhirnya sang kepala koki menawarkan diri juga.
Leah menatap seluruh pekerja di dapur seolah jenderal perang yang memimpin pasukannya bertempur. "Baiklah, saya akan memastikan sampai di mana tamu tuan berada. Selama itu, kalian harus sudah mendapatkan abalone bagaimanapun caranya. Ketika saya kembali, abalone itu sudah harus ada di sini."
Leah meninggalkan dapur sembari menarik ponsel dari sakunya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan huru-hara yang terjadi di dapur. Leon segera menjawab panggilan dari Leah.
"Kau di mana? Sudah bertemu dengan tamu yang Tuan maksudkan itu?"
"Belum, ini masih dalam perjalanan. Aku belum ada setengah jalan ke sana. Ada pengalihan dan perbaikan jalan karena insiden bom bunuh diri itu. Mungkin tempoku akan lebih lambat dari biasa," balas Leon dari seberang telepon. Bunyi klakson dan keramaian jalanan sedikit mengaburkan suara pria tersebut.
"Baguslah. Karena Tuan meminta dapur menyiapkan abalone untuk menjamu tamunya."
"Oh, itu wanita yang menelepon tadi seperti orang gila."
"Dia mantan gundik Tuan, bukan? Janice?"
"Ya, salah satu gundik yang memiliki catatan buruk di mansion."
"Pastikan untuk sedikit menunda waktu sampai kami mendapatkan abalone. Kau tahu sendiri kalau Tuan tidak mendapatkan yang ia mau."
Sebuah kekehan renyah terdengar dari pengeras suara ponsel. Pembicaraan mereka masih berlangsung dan Leon masih sering menggoda Leah kendati di saat yang tidak tepat. "Tenang saja. Tuan sendiri pasti juga tidak ingjn cepat-cepat bertemu perempuan itu. Kau tidak perlu khawatir."
"Baiklah, aku tutup teleponnya."
Leah bergegas menuju kamar tidur sang tuan di lantai tiga. Belum ada kesibukan berarti bagi para tukang reparasi untuk memperbaiki dinding kamar Simon yang retak. Sebelum pengganti furnitur yang rusak itu didapatkan, Simon menunda perbaikan. Tuannya sendiri belum ada tanda-tanda bersiap. Ketika Leah sampai di kamar tidurnya, pria itu masih berbaring dan bersantai. Padahal Leah sudah menggantikan Aby dengan footman yang biasa melayani Simon jika pria itu sedang malas membersihkan diri.
"Kau sudah persiapkan jamuan itu? Aku ingin jamuan mendadak ini dilakukan di ruang makan utama. Tidak perlu besar, asalkan ada abalone. Ah, omong-omong soal abalone, kalian sudah memasaknya?" Simon tidak perlu repot-repot bangkit dari tempatnya semula.
"Kami sedang mengusahakannya, Tuan?"
"Hmm, aku tidak ingin kecewa saja. Lakukan dengan benar."
"Baik, Tuan. Tapi bukankah sudah seharusnya Tuan mandi dan bersiap-siap jika hendak menyambut tamu Tuan?"
Simon urung menanggapi. "Baiklah, karena aku malas bertemu dengannya. Aku juga malas membersihkan diri. Aku butuh bantuan."
Leah mempersilakan footman lain yang berjaga di luar kamar agar segera masuk sementara ia meninggalkan perawatan Simon pada mereka. Ia bergegas menuju ruang makan dan mendapati para pelayan telah siap membersihkan segala sudut. Masalah yang terakhir adalah di dapur. Mereka belum mendapat bahan dan hanya mendapat waktu singkat dan terbatas untuk mendapatkan olahan abalone.
Sesampainya di dapur, kepala koki menghemat waktu dengan membuat hidangan pembuka lebih dulu dan menyiapkan makanan penutup sementara salah satu dari kokinya sedang mengebut menggunakan motor, keluar dari kediaman ini demi menjemput abalone di restoran makanan laut terdekat. Biarpun tidak secepat yang Leah bayangkan, setidaknya para koki tidak ada yang membuang waktu.
Beruntungnya para gundik juga dapat diatur hari ini. Semenjak Cedric, Elaine, dan Natalie secara tidak sengaja terjebak dalam insiden bom bunuh diri waktu itu, ketiganya bersikap lebih tenang. Seolah telah menyadari kesalahan dan membenahi diri sendiri. Terlebih lagi Natalie dan Elaine masih mendapat kunjungan dari psikiater dan Cedric berada di samping kedua teman terdekatnya itu untuk membantu beres-beres kamar. Semenjak pelayan pribadi mereka dipecat, posisi kosong tersebut belum mendapat pengganti. Emma dan Roxanne tidak bermurah hati meminjamkan pelayan pribadi mereka.
Terpaksalah beberapa pelayan yang melayani rumah utama diambil beberapa untuk melayani mereka bertiga. Yang berarti pula bahwa rumah utama mengalami pengurangan tenaga. Itulah mengapa Leah dan Eugene yang masih bertugas harus lebih ketat dalam mengorganisir segala kebutuhan di kediaman Simon kendati jumlah pekerjanya berkurang.
Sebuah panggilan dari Leon menjeda Leah membantu pelayan memasang taplak meja baru. Ia buru-buru mengangkat panggilan sembari keluar dari ruang makan. "Ada apa?"
"Kalian beruntung bisa menunda sedikit waktu. Aku sedang dalam perjalanan kembali, tapi ban mobil pecah di jalan. Kami sedang berada di bengkel sekarang."
"Kami? Hanya kau dan Janice bukan?"
"Tentu saja. Aku mana mungkin membawa orang lain."
"Berhati-hatilah, jangan sampa terjadi sesuatu seperti dibuntuti atau hal-hal lain di luar dugaan."
"Aku bukan anak kecil. Mereka sudah ada di bawah kendali tanganku."
Leah mengernyit, tetapi ia memutuskan tidak bertanya lagi. Toh, Leon pasti bisa mengatasi semuanya dengan baik. Sebagaimana pria itu direkrut Simon melalui jalur spesial. Selagi bisa memegang ponsel, Leah menelusuri surel yang masuk. Orang-orang dari yayasan membalas dengan cepat. Rekomendasi pekerja baru sudah ada dan siap dicetak. Satu masalah beres sedikit demi sedikit. Di tengah kelegaannya, suara mesin sepeda motor yang digas dengan kencang melengking dari luar.
Seorang pria berseragam koki tampak memasuki halaman belakang dengan terburu-buru sementara ia mengalungkan sebuah tas pendingin di bahu. Ini dia yang mereka tunggu-tunggu. Menu utama untuk jamuan hari ini telah tiba. Semoga saja tak ada kekacauan yang datang lagi. Leah beralih dari jendela, setengah berlari menuju dapur lagi. Ia mendapati kepala koki dan koki lainnya menatap abalone yang dikemas dalam kotak bertabur es itu dengan puas.
Saatnya mengeksekusi menu utama. Dan, Leah enggan menambah ketegangan di dapur dengan berdiri sebagai pengawas. Ia hanya memastikan menu apa yang disiapkan para koki dan membiarkan Simon mengetahui masakan apa yang akan dihidangkan hari itu. Ia baru saja melewati dapur ketika Emma menghalangi jalan.
"Selamat siang Nona Emma," sapa Leah sembari menundukkan kepala sopan.
"Benjamin sudah pulang, menghabiskan banyak daging dan membuat pekerja di dapur kelimpungan tadi. Lalu, siapa orang lain yang membuat pekerja dapur masih ditekan stres di jam ini? Demi Tuhan, aku sampai tidak bisa mendapat selembar bacon pun karena manusia serigala itu dan sekarang ada orang lain yang berusaha mendominasi dapur." Emma memberondong Leah dengan pertanyaan dan kata-kata kurang menyenangkan. Ia tidak salah sebenarnya, dua tamu yang datang secara tidak diduga ini benar-benar menggerakkan tenaga di dapur melebihi kuasa di hari-hari biasa.
"Salah satu mantan gundik Tuan Simon datang berkunjung, jadi Tuan meminta kami mencarikan menu yang agak berbeda dari selera Tuan sendiri. Itu yang membuat dapur masih bekerja habis-habisan." Leah berusaha memberikan jawaban paling netral, sembari berharap Emma tidak akan bertanya lebih banyak.
Namun, Emma makin terusik dengan pernyataan Leah barusan. "Oh, hanya karena ada mantan yang datang berkunjung seluruh dapur jadi tidak bisa melayani gundik yang sekarang ada di sini seperti biasa. Kami dipinggirkan karena seseorang dari masa lalu itu?"
"Saya sedang banyak pekerjaan, Nona. Tuan harus mengetahui perkembangan di dapur dan tamunya di perjalanan. Mohon jangan menahan saya lebih lama."
Emma berdecak kesal lantas pergi sembari menghentakkan kaki. Tentu saja ia memberikan makian pada Leah sebelum sepenuhnya menghilang. Yah, setidaknya ia tidak menahan Leah lebih lama. Untungnya mereka benar-benar bisa diatur akhir-akhir ini.
|Bersambung|