[11. Orang yang Datang Dari Masa Lalu]

1211 Kata
[11. Orang yang Datang Dari Masa Lalu] Leon datang terburu-buru, panggilan dari Leah yang mengabarkan jika tuan mereka sudah bangun lebih awal sukses menerbangkan separuh nyawa pria itu. Ia belum mengumpulkan seluruh informasi yang diperintahkan. Bagaimana bisa ia menghadap pria itu sepagi ini? Para informan masih tertahan di tempat masing-masing sementara Leon mengawasi mereka. "Mereka sedang sarapan sehingga aku tidak begitu yakin apakah Tuan sudah siap. Tapi setidaknya jika Tuan makan dengan Tuan Benjamin, berarti butuh waktu lama untuk menyelesaikan sarapan itu. Toh, mereka pasti sedang berdiskusi," ujar Leah melalui sambungan telepon seluler. "Aku juga baru saja tiba di tempat biasa mengumpulkan informasi. Seluruh informanku tertahan di tempat mereka sejak semalam. Kami bekerja sangat keras di sini," balas Leon sembari menerima beberapa lembar kertas yang baru saja dicetak. "Aku akan pesankan makan siang mereka nanti, semua tagihan mereka akan dibayar dengan rekening yang biasa." "Terima kasih, Leah. Segera setelah semua informasi ini terkumpul, aku akan segera ke sana." "Kabari aku jika kau sudah dalam perjalanan, aku hanya tidak ingin Tuan khawatir tangan kanannya tidak ada di tempat." "Haha, tentu saja. Sampai jumpa nanti." Tepat setelah Leon memutuskan panggilan tersebut, tumpukan kertas yang lebih tebal lagi diserahkan padanya. Pria tambun yang menyerahkan kertas-kertas tersebut segera kembali ke kursi putar dengan lemas, semalam suntuk dipaksa mengumpulkan informasi di sana-sini, diawasi, dan ditekan oleh Leon. Setelah seluruh usaha keras itu selesai, ia bermaksud hibernasi sampai tahun depan saja. Leon membuka-buka per halaman, membacanya sekilas, lalu beralih ke halaman lain. Entah pada halaman ke berapa, matanya berhenti bergerak, berhenti pada sebuah halaman. "Ini, kan? Tidak mungkin!" Leon buru-buru mengangkuti tas dan jaketnya yang tadi dijatuhkan begitu saja ke lantai. "Jim, aku akan berangkat sekarang. Kalau nanti ada seseorang yang membawa pesanan makanan, itu untuk kalian. Mengerti? Jangan buka pintu sampai aku sendiri yang kembali ke sini," pesan Leon sembari menutup pintu markas. Ia mendapat sebuah informasi mengejutkan setelah membaca-baca informasi yang didapat. Pria yang meledakkan diri itu ternyata pernah bekerja di kantor Mankind Guardian sebelum memutuskan resign mendadak dan mencoba melamar pekerjaan beberapa kali di pabrik-pabrik milik Simon. Selama masa menganggurnya, ia tak pernah menampakkan diri di kantor Mankind Guardian tetapi masih berhubungan dengan mantan rekan kerjanya. Lantas, hal yang paling membuat Leon terkaget-kaget adalah pria itu juga merupakan anak dari mantan gundik Simon. Gundik yang dibuang oleh Simon karena ketahuan memiliki hubungan asmara dengan sesama pekerja di mansion. Leon penasaran apa yang akan dikatakan sang tuan jika mengetahui berita ini. Ia segera menyalakan mobil dan meninggalkan markas dengan kecepatan tinggi. *** Pintu kamar Simon diketuk perlahan, setelah mendapat instruksi masuk barulah Leon bergegas masuk. Tuannya sedang berkemas, tumben sekali. "Aku sudah mendapat beberapa informasi dari Benjamin. Tidak cukup banyak, tapi sepertinya akan sedikit membantu penyelidikan kita tentang pria yang terlibat dalam insiden bom bunuh diri itu." "Saya justru mendapat informasi yang lebih mengejutkan lagi, Tuanku. Pria itu, tersangka bom bunuh diri itu adalah anak dari gundik Anda yang disuir dari mansion ini berpuluh-puluh tahun yang lalu. Anda pasti ingat dengan Janice Will yang ketahuan memiliki hubungan rahasia dengan petugas kebersihan taman, bukan? Pria itu adalah anak dari Janice," tutur Leon sembari meletakkan tumpukan kertas yang didapatnya ke meja sang tuan. Buah selalu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dunia sungguh sangat sempit. Padahal Simon enggan bertemu dengan perempuan itu lagi. Mantan gundik yang akan selalu Simon ingat sebagai aib. Aib yang membuat dirinya menjadi bahan pembicaraan seluruh dunia, juga pemerintah. "Lalu, Tuan. Dia tercatat pernah bekerja di kantor Mankind Guardian beberapa tahun yang lalu. Ia mengundurkan diri secara mendadak sebelum melamar di beberapa pabrik Anda dan mendapat banyak penolakan di sana. Lantas ia mendapat semua penolakan itu karena memiliki temperamen buruk dan bahkan nyaris berkelahi dengan beberapa pewawancara kerja. Ia juga menjelek-jelekkan nama Anda di sana, lalu mencaci dan mengutuk Anda habis-habisan." Kekehan tidak percaya meluncur dari bibir Simon. Dengan begini bukankah udah jelas bahwa motif bom bunuh diri itu memang sengaja untuk memperburuk nama Simon sendiri? Namun, seseorang di balik ledakan itu, otaknya masih belum ditemukan. Dengan begitu, pekerjaan rumah Leon adalah menemukan si dalang hitam. Di tengah kesunyian tersebut tiba-tiba saja panggilan dari ruang kerja Leah dialihkan ke teleponnya. Sang sekretaris menyebutkan jika seorang perempuan berusaha menghubungi Simon berkali-kali. Ketika perempuan tersebut mengenalkan diri sebagai mantan gundik Simon dan ibu dari pelaku peledakan, Leah segera meneruskan panggilan tersebut kepada Simon. "Aku akan menemui Janice sebentar. Baru saja aku mendapat panggilan darinya. Ia ingin aku datang ke rumah sakit dan memohon-mohon untuk melindungi anaknya." Simon menunjuk koper yang belum terisi penuh pakaian di bawah meja. "Jadi, Anda susah mengetahui hal ini? Tuan tentu tidak akan menemui wanita itu bukan? Jika orang penting seperti Anda mendatangi orang-orang seperti mereka, apa yang akan terjadi pada media dan orang-orang dari Mankind Guardian? Mereka pasti akan menjadikan Anda sebagai bahan olokan di mana pun beberapa minggu ke depan." Simon urung membalas dengan perkataan. Alih-alih menjawab, ia justru menyeringai. "Aku akan memenmuinya langsung, bukan sebagai orang yang akan menyelamatkan anaknya. Aku akan mengajak mantan gundikku mengobrol tentang masa lalu kami yang indah. Sebuah nostalgia singkat." "Tuan, saya tahu bahwa Anda memiliki rencana tersendiri, tetapi tidakkah Anda pikir kalau pergerakan Anda ini terlalu ceroboh?" "Sebenarnya aku tidak mengetahui kalau pria pelaku bom bunuh diri itu adalah anak Janice, aku hanya berniat menyogok pria itu. Tapi siapa yang menduga bahwa aku akan bertemu dengan mantan gundikku sendiri. Ia menelepon Leah seperti orang gila. Kalaupun aku mau menyogokya, aku juga tidak akan menampakkan diri di depan orang-orang. Bukankah ada kau ataupun Leah yang bisa kuperintah sesuka hati." Ekspresi Leon masih menunjukkan ketidaksenangan. "Tuan, tolong pikirkan masak-masak lagi. Anda tidak mungkin datang langsung ke sana hanya dengan alasan itu bukan?" Simon tertawa kecil, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa. "Kau sudah cukup pintar untuk bisa menjawabnya. Kenapa harus bertanya-tanya. Aku tidak bilang akan datang ke rumah sakit itu, 'kan? Kamar yang dihuni pria itu dipenuhi dengan alat penyadap, baru saja salah seorang yang dikirim Benjamin mengabarkan hal itu. Kalau secara langsung mematikannya di sana, orang-orang di balik semua ini pasti akan tahu kalau kita juga sedang membuat pergerakan." "Lalu, apa yang Anda inginkan, Tuan?" "Jemput Janice dan bawa ia ke sini secepatnya. Itu pilihan yang lebih aman daripada mendatanginya langsung. Supaya dia merasa aman meninggalkan anaknya, bawa salah satu anak buah Benjamin untuk menggantikannya di sana." Leon buru-buru membungkuk. "Baik, Tuan. Akan saya laksanakan." Sebelum Leon menghilang dari balik pintu, Simon memanggil namanya lagi dan memberikan satu wejangan, "Jangan sampai ada goresan di tubuhnya. Ia harus tiba di sini dalam keadaan hidup dan mulus." Sepeninggal Leon, Simon kembali membaringkan tubuhnya di sofa. Ah, takdir manusia memang sangat berbelit-belit. Padahal wanita itu sudah bersumpah tak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di mansion ini. Simon sudah mengusirnya dengan cara yang sangat memalukan. Sesuai dengan kesalahan apa yang sudah dperbuat perempuan itu padanya. Simon menyambar ponselnya di meja lantas menghubungi Leah. "Leah, tolong siapkan menu makan siang istimewa untuk tamu kita yang akan datang sebentar lagi, Leon sedang dalam perjalanan menjemputnya. Aku ingin kalian menghidangkan makanan laut yang ada abalone segar di dalamnya. Makanan itu harus sudah siap sebelum tamu kita datang." Abalone. Simon mendengkus. Makanan yang benar-benar mengingatkannya pada masa lalu. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN