[10. Biarpun Gila, Tapi Dia Tampan]

1528 Kata
[10. Biarpun Gila, Tapi Dia Tampan] Separuh nyawa Leah yang menguap setelah melihat kelakuan Benjamin belum juga kembali. Roti dan kopi yang dibawa dari perjalanan berangkat sudah tandas. Ia bahkan sudah diberikan minuman berenergi oleh pelayan dan salah satu dari mereka sedang memijat bahunya. Di samping Leah, sekretaris Benjamin yang baru diketahui bernama Kevin sedang berbaring di sofa sementara kepalanya dikompres es. Ruangan kerja Leah jadi terasa lebih sempit dari hari biasa karena kedatangan Kevin, beberapa pelayan, dan seorang dokter. Kelakuan aneh Benjamin sukses membuat kekacauan kecil tadi. Dinding kamar Simon harus diperbaiki karena retak parah dan beberapa perabotan mahal tidak dapat diselamatkan. Sembari menerima sedikit pijatan, Leah menelusuri situs perabotan yang serupa dengan milik Simon. Hal pertama yang ia cemaskan setelah menyelesaikan perkara dengan Benjamin adalah menangisi furnitur mahalnya tersebut. Bukan karena harga, tetapi karena perabotan tersebut dipesan secara eksklusif dari pengrajinnya puluhan tahun lalu. Sedangkan sang pengrajin telah meninggal dunia beberapa tahun silam. Sebelum Simon menyuruhnya mencari-cari pengganti furnitur rusak itu, Leah harus lebih dulu menemukan rekomendasi. Mereka tak mungkin menghidupkan kembali orang yang sudah mati demi mendapatkan barang yang sama, mengingat segala keinginan Simon harus dituruti. "Nona Leah, sebaiknya Anda beristirahat sebentar. Kenapa Anda masih memusingkan diri dengan perabotan yang rusak itu?" tegur Aby, pelayan yang sedang memijat bahu Leah. "Bagaimana aku bisa istirahat kalau seluruh kekacauan ini datang bertubi-tubi? Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku masih bisa mengatasi ini, kok. Kamu tenang saja." Leah memasang senyum lembut, jarang sekali ada pelayan yang perhatian padanya. Aby merengut, tetapi tetap melanjutkan memijat bahu sang sekretaris. "Saya hanya khawatir, Nona Leah sudah bekerja terlalu keras akhir-akhir ini. Anda bisa minta cuti." "Atau resign saja," celetuk Kevin yang tiba-tiba saja masuk dalam obrolan dua perempuan itu. Kalimat singkat itu menarik atensi seluruh penghuni ruangan, termasuk para pelayan dan dokter yang khusus dipanggil oleh Simon. Para pekerja itu enggan merespons, tetapi ada seseorang yang terusik. Tentu saja seseorang yang paling menaruh perhatian pada Kevin adalah Leah. Leah tampak tersinggung, ia melirik Kevin sengit. "Bagaimana bisa Anda menyarankan hal demikian, Tuan?" Kevin bangun dari posisi berbaringnya. Dengan wajah kusam, cekungan mata dalam, kantung mata yang tebal menghitam, serta jenggot halus merayap di dagu, orang-orang pasti akan ketakutan melihat betapa seramnya pria itu. "Saya ingin berhenti jadi sekretaris Tuan Benjamin. Beban kerjanya terlalu berat untuk saya tanggung sendiri." "Saya kira Anda tadi memberikan sedikit saran untuk saya. Ternyata untuk Anda sendiri," balas Leah. Ekspresinya masih sama seperti tadi, tidak senang. "Buat apa memberikan saran pada orang lain kalau saya sendiri juga butuh saran untuk bertahan dengan pekerjaan ini." Kevin merapikan rambutnya yang basah karena sisa-sisa air dari kompres esnya. "Anda sangat egois, Tuan," balas Leah tidak mau kalah. "Aku tidak butuh pendapatmu." Kevin bangun dari tempatnya, bersiap pergi. Leah menahan diri agar tidak membalas lagi. Mengesampingkan perasaan pribadi untuk menjaga keprofesionalitasnya. Padahal ia ingin membalas dengan lebih dingin dan kasar, tapi tuas remnya segera bergerak cepat. Terlebih lagi Aby juga memberikan isyarat ketakutan jika sewaktu-waktu terjadi masalah yang lebih besar lagi dari sekadar adu mulut. Ketika Kevin sudah keluar dari ruang kerja Leah, barulah para pelayan yang tersisa dan dokter mengerubungi sang sekretaris. Ekspresi mereka juga sama tersinggungnya dengan Leah. Sebagai seorang tamu, ia sungguh tidak sopan. Walaupun Kevin tidak secara langsung menghina Simon, malah tuannya sendiri. "Ya, Tuhan. Aku paling benci orang-orang seperti itu. Arogan sekali." "Kalau Anda tidak pandai menahan diri, pasti sudah terjadi pertengkaran hebat, Nona Leah." Leah sendiri enggan merespon lebih banyak. "Sudahlah, jangan hiraukan dia lagi. Semoga saja dia tidak menangis-nangis di kaki Tuan Benjamin meminta pekerjaan lagi jika semisalnya tidak mendapat pekerjaan lain." "Haha, semoga dia kena batunya! Padahal Tuan Benjamin itu baik dan tampan, kenapa dia sangat tidak menyukai Tuan Benjamin. Aku tidak bisa membayangkan orang setampan itu dibenci," celetuk Aby. "Kau benar, Aby. Tuan Benjamin itu lucu dan menggemaskan. Benar-benar seperti anak anjing yang lucu." Bahkan dokter juga ikut-ikutan. "BIsa-bisanya ada orang yang membenci anjing kita yang mungil dan lucu." Sungguh, Leah tidak memahami mengapa perempuan-perempuan ini menyebut Benjamin demikian. Apa mereka belum pernah melihat Benjamin dalam wujud penuh manusia serigalanya yang menakutkan? Ataukah mereka sudah terbutakan oleh tingkahnya? Wah, pantas saja Leah tidak pernah pacaran selama ini. Otaknya tidak bisa mencerna apa yang disukai perempuan-perempuan ini. *** Sebuah meja dan dua buah kursi diletakkan di taman. Meja itu bukan meja biasa, panjangnya mencapai dua meter dan muat menampung segala jenis masakan, terutama daging-daging besar dan utuh. Benjamin sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan daging-daging tersebut disajikan mentah atau matang. Simon hanya memerintahkan kepala koki menyiapkan seluruh pasukan daging utuh di gudang penyimpanan mereka untuk dihidangkan kepada Benjamin. Daging-daging tersebut tidak dimasak, hanya saja diperlukan sedikit pemanasan untuk mencairkan lapisan esnya. Dapur Simon memiliki ruang dingin khusus yang berpendingin guna menjaga kesegaran daging-daging tersebut. "Wah, wah, wah, wah, wah!" pekik Benjamin takjub saat satu per satu daging dihantarkan padanya. Matanya berbinar-binar kegirangan. "Jangan wah wah wah saja, cepat makan dan cepat berikan rekomendasi bodyguard untukku," ketus Simon sementara tangannya sibuk memotong darah palsu yang dibentuk seperti jeli. "Eh, kau berikan ini semua untukku?" "Tentu saja, bodoh!" "Yuhu! Terima kasih temanku! Terima kasih juga kalian para pelayan dan koki." Kedua telinga Benjamin yang sejak tadi tersembunyi kembali mencuat dan ekornya bergoyang-goyang senang. Para pelayan dan koki perempuan yang melayani dua bos besar itu tak kuasa menahan rona merah di pipi. Melihat Benjamin yang bertingkah manis seperti anjing penurut, secara tak sadar menggetarkan jantung mereka. "Sudah, sudah. Makan saja semua daging itu. Lalu kalian semua boleh pergi, kami ingin makan berdua dengan tenang," titah Simon. Sepeninggal para pelayan, Simon dan Benjamin justru tidak menikmati sarapan mereka. Keduanya saling menatap penuh arti, buka dalam artian romantis, malah jauh dari perasaan senang. Orang-orang yang menyebut Benjamin sebagai anak anjing yang lucu pasti tak akan menyangka jika Benjamin terlihat sangat serius di momen ini. Tatapannya menyipit dan mode ceria di wajahnya seolah terhapus dari pengaturan pabrik. Tak ada kesan ceria dan konyol yang tersisa pada dirinya. "Jadi, apa kau mencurigai Mankind Guardian lagi atas insiden bom bunuh diri waktu itu?" tanya Benjamin langsung pada intinya. Kedatangannya ke mansion Simon tidak semata-mata memberikan rekomendasi bodyguard seperti yang dikatakannya kepada Leah. Lebih dari sekadar alasan remeh untuk mendatangi atasannya. "Tentu saja. Orang-orang sudah menghubung-hubungkan bom bunuh diri itu dengan kita, komentar di dunia maya, media cetak, televisi, mereka seakan-akan sudah menunjuk kaum kita sebagai alasan. Kendati sudah mengerahkan anak-anak untuk menutup mulut para media dan mengalihkan isu, tapi kita tidak bisa berdiam diri lagi," jelas Simon. "Aku sudah mengerahkan beberapa orang untuk mengawasi kantor mereka. Lalu pria yang meledakkan diri itu sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di sana. Tapi pria itu mendapat aliran uang yang cukup banyak beberapa minggu lalu. Sepertinya ia habiskan untuk membuat bom." Benjamin meraba bagian dalam blazer-nya, yang untungnya tidak rusak ketika membesar menjadi manusia serigala. Ia harus berterima kasih pada desainer genius yang menciptakan penemuan-penemuan hebat untuk kaum serigala seperti mereka. Dari saku bagian dalam itu ia menunjukkan selembar kertas yang berisikan catatan masuk rekening sang pelaku peledakan. Simon menyeringai. "Otaknya dicuci dengan buruk. Seluruh uang ini dihabiskan untuk membunuh diri sendiri. Lalu bagaimana dengan keluarganya?" "Ia sudah bercerai dengan istrinya, anak-anak mereka ikut dengan mantan istrinya itu. Mereka baru enam bulan bercerai setelah suaminya tidak mendapatkan pekerjaan apa pun." "Pantas saja pikirannya begitu sempit, ia pasti sangat stres." "Hmm, aku pikir juga begitu. Bukankah orang-orang itu sangat hebat dalam menghancurkan sesama mereka? Sekarang siapa yang harusnya lebih ditakuti daripada vampir dan manusia serigala?" Simon mengangkat gelas bertangkainya yang diisi darah kepada Benjamin. Pria serigala itu menggeleng. "Aku lebih suka banyak daging daripada darahnya." "Makanlah sebanyak yang kau mau sebelum ritual bulan purnama datang. Sementara kau bersenang-senang saat itu, aku akan dipusingkan dengan segala urusan ini dan itu." "Ah, omong-omong soal ritual bulan purnama. Kau sudah menyiapkan obat untuk bodyguard yang nanti kau pekerjakan bukan? Bulan purnama akan sangat menyakitkan tanpa pasangan yang akan memenuhi desakan tubuh kami," tutur Benjamin sesopan mungkin. Ia tentu tidak ingin acara sarapan ini jadi tidak menyenangkan karena menyebut hubungan badan di meja makan. Ritual bulan purnama adalah ketika para manusia serigala menggila dan sering kali menjadi lebih terangsang daripada hari-hari biasa. Itulah mengapa mereka harus dikumpulkan ketika bulan purnama tiba untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Termasuk juga ketika musim kawin datang. Di sinilah peran vampir dan manusia berguna untuk mengawasi para manusia serigala tidak hilang kendali. Mereka akan membuat pagar vampir yang terbuat dari perak sementara para manusia serigala melakukan ritual. Butuh konsentrasi tingkat tinggi untuk hal-hal seperti ini. Membayangkan berjaga ketika orang-orang di belakangmu melakukan hubungan badan, siapa yang tahan? Simon beruntung ia tidak perlu melakukannya. Sebagai bos teratas, tentu banyak bawahan yang bisa disuruh-suruh bukan? "Leah pasti sudah mengurus semuanya. Ia tidak pernah melewatkan apa pun." Benjamin urung merespons karena mulutnya dipenuhi daging hingga tidak bisa membalas. Simon hanya menggeleng-geleng, kelakuannya benar-benar seperti anak kecil. Biar saja, biarkan ia makan dengan kenyang sementara Simon menikmati ketenangan ini. Di balik sebuah ketenangan selalu ada hal yang tersembunyi di bawahnya. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN