[9. Manusia Serigala Merepotkan]
"Saya minta roti yang biasa dan segelas kopi hitam," ujar Leah pada Tom. Ia bangun agak terlambat dari biasanya. Tidak sempat memakai riasan dan terlihat sangat buruk rupa dengan kantung mata yang menghitam dan wajah kusam. Paling tidak, ia masih memulas sedikit pewarna di bibirnya agar tidak terlalu pucat. Kalau bukan karena terlalu merindukan roti buatan Tom, ia lebih memilih membelinya sepulang kerja.
"Nona Leah?" Tom menatap Leah cemas. "Kenapa Anda kelihatan tidak segar? Apa Anda sakit?"
"Ah, saya hanya kekurangan tidur karena lembur sampai malam. Hari ini pun saya harus buru-buru karena tak ingin ketinggalan kereta."
"Oh, kalau begitu saya harus bergegas. Silakan duduk dulu sementara saya menyiapkan pesanan Anda." Tom menunjuk meja yang biasa dipakai Leah menikmati makanannya.
Leah tanpa pikir panjang segera meletakkan kepala di meja. Matanya terpejam sebentar, tertidur untuk waktu yang singkat. Sebuah goyangan di bahu segera menyadarkan Leah.
"Ini pesanan, Anda." Tom menyerahkan pesanan Leah yang sudah dibungkus rapi dalam kotak.
"Ah, aku pasti ketiduran cukup lama," balas Leah sambil mengucek mata. Ia mengecek arloji, rupanya tidak selama yang ia duga. Tom sangat tangkas mengerjakan pesanan Leah. Dalam keadaan sedang diburu waktu, pria tersebut sangat hebat dalam menjaga performa kerjanya tetap maksimal. Dan tentunya diselesaikan dalam waktu yang singkat. Benar-benar hebat.
"Anda harus bergegas kalau tidak ingin ketinggalan kereta, Nona Leah."
"Ah, iya. Anda benar. Terima kasih Tuan."
Leah lantas meninggalkan beberapa lembar uang di meja beserta sedikit uang tips. Ketika Tom mengatakan ada sisa kembalikan, Leah memberikan isyarat untuk menyimpannya saja.
Sepotong roti gandum sudah terjepit di mulut dan ia setengah berlari menuju stasiun. Tom sendiri tersenyum sebelum kembali ke meja kasir menanti pelanggan.
***
Leah tiba di depan mansion lebih cepat daripada biasanya karena terlalu terburu. Di dalam kereta, ia sempatkan diri tidur sebentar. Roti dan kopi yang tersisa dalam kotak akan dimakan nanti di tengah-tengah kerja saja. Agenda pagi ini adalah membujuk kepala yayasan dan pihak dari Benjamin untuk memberikan rekomendasi lebih cepat.
"Wah, aku mencium aroma roti yang enak! Ini roti khas jaman dulu yang aku suka!"
Leah terhenti ketika mendengar suara tidak asing tersebut. Itu adalah Benjamin, manusia serigala yang telah bersahabat dengan Simon selama beratus tahun. Perawakannya tinggal dan tegap, bertubuh lebih berisi dari Simon, dan wajahnya selalu ceria. Sebagai ketua para manusia serigala, Benjamin adalah orang yang unik karena tidak pernah terlihat serius dan formal. Ia orang yang easy going dan supel. Sangat kontradiktif dengan Simon yang serius dan lebih suka menyendiri.
"Wah, Leah Webster sudah datang pagi-pagi sekali." Benjamin mendekati Leah, ekspresi ramah di wajahnya selalu terpasang, seolah sudah cetakan dari lahir. Sementara di belakangnya seorang pria berkacamata tebal datang menyusul. Apakah itu sekretaris Benjamin yang baru? Bukankah dulu sekretarisnya adalah seorang perempuan, terlebih lagi sekretaris perempuan itu baru terlihat beberapa minggu lalu. Ah, tak heran karena sekretaris-sekretaris Benjamin memang terkenal tidak betah dengan pria itu.
Benjamin memang sering berbuat di liar, ia seperti bom yang meledak-ledak. Sering kali spontan dan di luar prediksi. Orang-orang tak bisa menebak apa isi dalam pikirannya dan apa yang hendak dilakukan pria itu ke depannya. Perhatian mudah teralih dan emosi juga fluktuatif, walaupun bukan dalam konteks yang buruk. Terkadang ceria seperti anak-anak, ceroboh jika tidak fokus, berpikiran pendek seperti remaja, dan gampang merajuk.
Namun, entah mengapa ia selalu bisa menghandel segala pekerjaan dengan baik, seolah seluruh kelakuan anehnya terbayar dengan performa pekerjaannya yang cemerlang. Tak heran jika Simon menunjuknya sebagai ketua para manusia serigala kendati kelakuannya agak ajaib.
"Selamat pagi Tuan Benjamin," sapa Leah sembari menunduk dalam.
"Eh, eh, eh, jangan seperti ini. Kita kan sudah mengenal cukup lama. Santai saja kalau di depanku."
Seperti yang sudah diduga dari seorang Benjamin, pria itu selalu ramah pada orang lain. Juga tampak tidak nyaman dengan bentuk penghormatan seperti yang dilakukan Leah. Ia akan malu jika diperlakukan selayaknya orang terhormat.
"Ada apa Tuan Benjamin pagi-pagi sekali datang kemari?" tanya Leah heran. Mungkinkah ini salah satu dari kespontanan seorang Benjamin?
"Haha, aku datang ke sini langsung karena kamu mengirimkan email rekomendasi manusia serigala yang dapat dipekerjakan sebagai bodyguard bagi gundik-gundik Simon, 'kan?"
Leah memang mengirimkan surel tersebut, tapi bukan ke akun emai pribadi milik Benjamin. Terlebih lagi ia mengirimkannya nyaris tengah malam, ini pun masih terlalu pagi untuk membuka surel itu bukan? Memberikan rekomendasi pun membutuhkan waktu.
"Iya, Tuan. Saya memang mengirimkannya semalam, tapi—"
"Ah, kebetulan ketika aku dan sekretaris dalam perjalanan pulang, sekretarisku membuka akun surelnya," sela Benjamin lantas menunjuk sang sekretaris yang tampak mengantuk. Kantung matanya menghitam dan tampak sangat bengkak. Seperti orang yang tidak tidur selama berhari-hari.
"Ah, perjalanan pulang dari mana, Tuan? Benjamin?"
Sambil membusungkan d**a, Benjamin menunjuk ke langit. Gestur aneh itu menimbulkan tanda tanya bagi Leah.
"Selama tiga hari ini Tuan Benjamin sedang mencari spot bagus untuk menonton bulan purnama dan melakukan ritual bulan purnama. Kami baru saja menemukannya dan berniat pulang." Sang sekretaris mengambil alih menjawab.
"Itu berarti selama pencarian spot itu kalian berdua tidak ti—"
"Kami tidak memerlukan tidur, Nona," potong sang sekretaris dengan seluruh otot di wajahnya ditahan keluar. Rahangnya mengeras dan Leah seolah melihat asap mengebul dari kepala. Entah itu sisa-sisa embun yang menguap atau amarah yang membuat otaknya terbakar.
Leah memaklumi saja jika Benjamin memang bertingkah liar lagi hingga membuat sekretarisnya murka. Lagipula, Benjamin juga tidak dapat ditolak. Tidak heran jika balasan dari surel itu datang dengan cepat dan eksklusif. Itu karena sekretarisnya tidak tidur selama tiga hari sehingga bekerja seolah lembur selama berhari-hari.
"Ah, tapi jika Anda memberikan rekomendasi sekarang, saya rasa akan sedikit sulit. Tuan Simon belum bangun, ia sedang kelelahan jadi seba—"
"Wah, dasar pemalas. Sebaiknya aku membangunkan tukang tidur itu dulu," putus Benjamin tiba-tiba sembari melakukan beberapa peregangan kecil pada tubuhnya.
Perkataan itu membuat sekretaris Benjamin panik, pun dengan Leah.
"Tunggu, apa maksud Anda, Tuan Benja—"
"Jangan lakukan hal-hal aneh lagi dasar kau seri—"
Bak sebuah peluru yang melesat, Benjamin berlari kencang lalu melompat tinggi ke arah lantai tiga, kamar tidur Simon. Beberapa bulunya yang berwarna abu-abu rontok hingga beterbangan di antara sekretarisnya dan Leah.
"Yuhuuu! Aku sampai dengan selamat!" Benjamin mendarat tepat di atas pinggiran balkon. Ia masuk ke dalam mode separuh serigala. Sepasang telinga mencuat dari rambut dan ekornya bergelantungan dari celana yang didesain khusus untuk manusia serigala. Tak lupa membentuk tanda V sembari tersenyum lebar.
Tentu saja bukan itu masalahnya! Apa yang akan terjadi selanjutnya jika Simon murka karena tidurnya diusik? Leah bersama sekretaris Benjamin yang panik segera berlari ke dalam rumah. Bak dikejar anjing pemburu, keduanya berlari sekencang-kencangnya. Kendati beberapa kali nyaris menabrak meja, vas bunga, ataupun pelayan yang sedang bekerja. Para pelayan sendiri ketakutan dan otomatis menyingkir ketika melihat mereka berdua berlarian dengan kecepatan cahaya.
Begitu sampai di lantai tiga, betapa kagetnya mereka ketika membuka kamar Simon dan mendapati sang manusia serigala tengah menjilati badan Simon dalam mode penuh manusia serigala. Kepala serigala, moncong serigala, dan gigi-gigi tajam.
"Tuan Benjamin tolong jangan lakukan!" pekik Leah panik.
Sedangkan sekretaris Benjamin kehilangan kesadaran hingga tumbang di samping Leah. Pemandangan itu mungkin menimbulkan trauma mendalam baginya.
Karena rasa aneh yang menggerayangi tubuhnya dan pekikan kencang Leah, Simon membuka mata lebar. Mendapati sang teman sedang menjilati tubuhnya, Simon refleks melayangkan satu pukulan kencang di kepala Benjamin hingga pria manusia serigala itu terpental dan menabrak dinding.
"Apa yang kaulakukan padaku dasar anjing m***m?!" amuk Simon yang segera mendatangi Benjamin lagi dan mencengkeram bulu-bulu dadanya yang tebal.
"Hehe, selamat pagi teman!" balas Benjamin sambil menyengir lebar hingga gigi-giginya tajam terlihat seluruhnya.
"Dasar tidak tahu malu, untung aku tadi tidak memukulmu sekuat tenaga. Kau bisa mati nanti! Kenapa juga kau berbuat begitu?! Itu sangat menjijikkan!"
Sementara Simon mengomeli Benjamin habis-habisan, Leah duduk merosot ke lantai. Pagi yang tidak sehat untuk jantung dan tekanan darah rendahnya.
|Bersambung|