[8. Malam Tanpa Teman]

1465 Kata
[8. Malam Tanpa Teman] Terlalu lelah karena serangkaian hal yang terjadi, Simon memanggil beberapa pelayan laki-laki ke kamarnya dan Leon. Jika Simon sudah memanggil para footman, maka para pelayan pria sudah dapat menebak betapa lelahnya pekerjaan mereka nanti. Tuan mereka bukan tipe orang yang suka dilayani dalam urusan membersihkan dan merias diri. Seorang Simon yang lebih senang mandi sendiri tiba-tiba saja memerintahkan seseorang membantunya membersihkan diri. Pasti ada sesuatu yang besar dan bermasalah tengah terjadi. Bak mandi yang diberi tetesan aroma terapi, uap dari air hangatnya yang membumbung, serta kecipak air ketika salah satu pelayan membilas sisa-sisa busa sabun dari badan Simon. Leon berdiri di samping bak mandi. Menggantikan posisi Simon memberi perintah. Sementara Simon sendiri berusaha menyamankan diri sembari memejamkan mata. Ketika matanya terbuka dan mentas dari air, para footman bergegas membungkus tubuh pucat Simon dengan jubah mandi. "Kalian boleh keluar sekarang. Biar aku yang mengeringkan rambut, Tuan. Siapkan makan malam terbaik dan sebool anggur," perintah Leon. Para footman menunduk hormat lalu keluar kamar untuk membawa pesanan Leon sementara pria itu mengambil pengering rambut dan handuk lain. Simon sendiri sudah duduk di kursi favoritnya yang menghadap ke jendela besar. Ia sedang tidak banyak bicara. Mode hemat kata itu sering kali membuat orang-orang ketakutan. Tidak terkecuali Leon. "Saya akan mengeringkan rambut Anda, Tuan," ujar Leon meminta izin. Ia tidak memerlukan balasan dari sang tuan, karena uannya sendiri sedang enggan diajak bicara. Selain dari bunyi mesin pengering rambut, tak ada suara lain yang mampu mengurai ketegangan. Simon masih betah membisu, ia memang sedang tidak dalam suasana bagus untuk bicara. Leon berdoa dalam hati semoga tidak melakukan kesalahan yang bisa membuat tuannya Lebih marah. Simon mungkin tidak menunjukkan dengan gamblang bagaimana kemarahan itu. Tapi dengan berdiam diri tanpa mengucap sepatah kata saja, orang-orang sudah tahu kalau ia sedang marah dan suasana hatinya buruk. Bahkan ketika para pelayan datang membawakan makan malam, menatanya hingga rapi, dan berjejer di sepanjang dinding kamar, Simon masih urung bersuara. "Makan malam Anda telah siap, Tuan. Rambut Anda pun sudah kering," ujar Leon lagi yang dibalas Simon dengan mengangkat tangan. Mengisyaratkan agar para pelayannya keluar dari kamar. Leon dapat bernapas lega ketika tuannya memberikan perintah supaya duduk dan ikut bergabung dalam makan malam itu. Sebagai seorang vampir, Simon selalu mengonsumsi darah manusia. Itulah gunanya para gundik yang sekaligus dijadikan bekal makan berjalannya. Namun, seiring waktu para vampir mulai mengubah pola makan mereka tersebut. Alternatif darah manusia adalah darah palsu. Sebagaimana manusia membuat naget dan sosis, mereka juga menemukan cara membuat darah palsu. Dengan sedikit darah manusia dan beberapa bahan tambahan lain, terciptalah darah palsu yang dikemas dan didistribusikan untuk seluruh vampir di dunia. Tentu saja darah manusia yang digunakan memiliki perbandingan sangat sedikit jika dibandingkan bahan tambahan lain, tapi setidaknya dengan penemuan cemerlang darah palsu ini dapat memuaskan para vampir untuk sementara. "Insiden terorisme itu ... apa kau menemukan sesuatu? Mankind Guardian?" Simon menagih, sedangkan Leon masih belum tahu bagaimana jawabannya. "Saya belum memiliki jawaban, Tuan. Tapi menurut beberapa anggota Red Honey lain, memang ada kemungkinan mereka di balik insiden bom bunuh diri ini." "Lalu bagaimana dengan pelaku bom bunuh diri itu?" "Dia adalah seorang buruh pabrik biasa. Ia tidak pernah bekerja di pabrik Anda. Tapi ia pernah beberapa kali melamar di salah satu pabrik Anda dan selalu mendapat penolakan. Jika karena alasan itu membuatnya melakukan tindakan bodoh ini, saya rasa tidak mungkin, Tuanku." Simon menyesap minuman anggurnya tenang. "Selalu ada orang besar yang mencuci otak mereka kalau begitu. Segera lakukan penyelidikan. Aku ingin masalah ini sampai di mejaku besok pagi ketika bangun. Lalu, suruh Leah segera menyelesaikan urusan para pekerja yang dipecat. Mengerti?" "Baik, Tuanku." Simon bangkit dari kursinya lalu berjalan ke ranjang dengan lungai. Harusnya hari ini mereka menyelesaikan urusan dengan para pembunuh amatir itu. Lokasi sudah diketahui dan Simon hanya perlu menitahkan para anak buahnya membereskan masalah itu dengan rapi. Tapi ia tidak bisa membumihanguskan markas mereka ketika ada seseorang yang diam-diam berencana mencatut namanya lagi dalam insiden berdarah itu. Menghabisi para pembunuh bayaran itu bisa lain kali. Ketegangan karena insiden bom bunuh diri tersebut masih belum reda, jika bertambah satu insiden lagi maka media tidak akan semakin menggila. Warganet akan membuat berbagai macam teori konspirasi, media massa akan mengabarkan berita-berita itu tanpa jeda selama beberapa hari ke depan untuk membangun opini masyarakat, dan tidak menutup kemungkinan pemerintah akan turun tangan dalam masalah ini. Simon menahan diri, setidaknya hingga ia menemukan waktu tepat mengeksekusi para serangga pengganggu itu. "Kau bisa pergi kalau sudah selesai makan malam. Malam ini aku tak ada jadwal kunjungan. Mereka juga sedang tidak bisa dikunjungi dan aku ingin sedikit beristirahat," imbuh Simon. "Baik, Tuanku. Kalau begitu saya undur diri dulu." Leon memanggil salah seorang pelayan. Setelah semua makanan di meja diangkuti dan keadaan kamar kembali bersih, barulah Leon benar-benar meninggalkan Simon seorang diri. Kamar yang biasanya jarang digunakan itu, kini kembali berpenghuni. Pada hari-hari biasa, ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar para gundik. Satu paket, untuk makan malam dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Khusus malam ini, ketika merasa begitu lelah, ia akan menikmati malam itu untuk dirinya sendiri. Tanpa seseorang di sampingnya. *** "Leah." Panggilan dari Leon di ambang pintu sejenak mengalihkan perhatian Leah dari layar komputer. Pria tersebut memasuki ruang kerja dan menjatuhkan diri di sofa. Sang asisten pribadi tampak begitu lelah. Sebagai tangan kanan yang merangkap peran sebagai bodyguard dan peran-peran lain yan dapat muncul belakangan, Leon memiliki beban kerja yang lebih banyak daripada Leah. Sang sekretaris heran saja, apakah pria itu pernah berlibur? "Kau tidak pulang? Ini hampir tengah malam. Kereta terakhir sudah tidak ada," ujar Leon. "Ada banyak hal yang harus dikerjakan. Kau pasti juga begitu, 'kan?" sahut Leah sembari menatap sang pria lelah. Kantong mata Leah dan Leon menjadi lebih menghitam dan tebal daripada sebelumnya. "Aku akan antar kau pulang sambil menuju ke suatu tempat. Jangan menolak karena Tuan tidak ingin kau sakit besok. Ya, walaupun sebenarnya ia ingin kau menyelesaikan tugas-tugasmu dan sudah harus ada di mejanya esok ketika bangun," tutur Leon. "Jika ia bilang esok ketika membuka mata, itu berarti...." "Mungkin tengah hari atau lebih dari itu. Tuan kelihatan sangat kacau, ia bisa tidur sampai berhari-hari kau tahu." Leah terkekeh sejenak, "Ya, sebagai separuh vampir, ia memang sangat mirip dengan manusia. Jam tidur, pola makan, dan beberapa hal lain yang mirip dengan kita, ya?" "Kecuali di bagian berumur panjang, awet muda, dan memiliki kemampuan vampir." Leon buru-buru mengoreksi. "Oh, kemampuan vampir Tuan sudah bangkit semua?" Leah mendadak penasaran. Sang Tuan sangat pelit jika diminta menunjukkan kekuatan tersembunyinya. Simon menggeleng sembari meringis. "Aku sendiri tidak berharap banyak ia akan mengaktifkan semuanya. Tapi tahu sendiri kalau separuh vampir tidak memiliki semua kemampuan vampir murni. Kalau kita melihatnya, anggap saja itu sebuah keberuntungan." Leon mengakhiri kalimatnya sambil tersenyum jail. Leah pun tak kuasa menahan senyum mengejek. Denting notifikasi yang berbunyi dari komputer menarik atensi perempuan berambut pirang tersebut. Sebuah surel balasan otomatis dari akun yang ia kirimi pesan. Ia hanya mendapat balasan bahwa hanya melayani di jam kerja. Oke, berarti ia juga tidak bisa meneruskan pekerjaan. Leah menggosok matanya yang lelah karena berair. Ia baru saja mengirimkan surel permintaan rekomendasi pada yayasan untuk mengirimkan rekomendasi pelayan baru dan permintaan bodyguard kepada yayasan manusia serigala. Mereka juga tidak mungkin menjawabnya tengah malam begini. Paling baru pagi hari dibuka dan siang atau sorenya mendapat tanggapan. Ia memang harus pulang sebelum kehilangan kesadaran. Pada akhirnya Leah menurut saja diantarkan Leon pulang. Setelah memberikan sebotol minuman berenergi untuk pria tersebut, Leah turun dari mobil. Dengan satu lambaian tangan dan menanti hingga mobil tersebut menghilang dari jangkauan pandang, sang sekretaris memasuki areal apartemen. Ia pulang ke rumahnya yang sepi, hanya untuk mendapati bahwa dirinya begitu kesepian. Ah, ia lupa kalau hari ini tidak membeli roti apa pun. Hanya tersisa beberapa potong sosis di kulkas dan sebotol s**u yang mendekati tanggal kedaluarsa. Menyedihkan. Sisa roti yang dibeli dari toko Tom sudah tidak seenak ketika pertama kali dibeli. Seharusnya ia meminta pria itu mengantarkan satu bungkus ke apartemen. Tidak ingin menyerah menemukan makanan yang dapat dijadikan pengganjal perut, ia membuka-buka laci dapur dan mendapati sebungkus ramen instan yang sudah tiga bulan tersembunyi di antara perkakas dapur dan kemasan-kemasan bahan makanan lain yang belum sempat tersentuh. Setidaknya ada sesuatu yang mudah dimasak dan tidak memerlukan banyak tenaga dan usaha membuatnya. Televisi dinyalakan, kendati tak ada acara bagus yang dapat dijadikan penghiburan. Hanya sekadar mengusir sunyi dan menemani kesendirian. Lawakan kotor pada acara komedi dewasa tengah malam sama sekali tidak memperbaiki suasana hatinya yang lelah. Menandaskan satu porsi ramen, berbaring di atas ranjang sambil memandangi langit-langit, masih membawa perkara pekerjaan menjelang tidur, tidak ada seseorang yang dapat diajaknya bicara, hah ... bukankah Leah benar-benar kesepian? Apakah ia akan menjalani sisa-sisa hidupnya dengan sendirian seperti ini? Leah enggan berpikir lagi, matanya terpejam lalu dibawa pada kegelapan. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN