[7. Mengobrol Santai Bersama Cedric]

1366 Kata
[7. Mengobrol Santai Bersama Cedric] Setelah memastikan keadaan Natalie dan Elaine sudah kembali tenang, Leah bermaksud kembali ke ruang kerjanya. Kedua perempuan itu telah mendapat kunjungan dari dokter dan meminum obat penenang. Tak butuh waktu lama hingga obat yang diberikan petugas medis bereaksi. Mereka tidur seperti putri yang terkena tusukan jarum pemintal. Artinya mereka akan tidur lelap dalam rentang waktu yang lebih lama daripada hari biasa. Dalam perjalanannya menuju ruang kerja, Leah justru terhenti di tengah jalan. Gulungan asap rokok yang memudar di udara membangkitkan sisi disiplin Leah. Ia dan beberapa gundik tidak suka aroma rokok, sehingga Simon pun membuat peraturan agar tidak merokok di area harem. Dengan langkah tergesa, Leah mendatangi asal asap tersebut. Ia terkejut ketika mendapati sang perokok adalah Cedric. Pria itu sama terkejutnya dengan Leah ketika tatapan mereka saling bertemu. "Tuan Cedric? Saya Anda tidak merokok?" "Aku perokok, tapi kadang-kadang. Tidak sesering perokok lain," balas pria itu. Kedua tangan bertumpu di d**a, salah satunya sibuk digunakan menggenggam rokok. Jemarinya yang lentik menggoyangkan batang rokoknya hingga abu berguguran. "Anda tahu sendiri kalau kebanyakan gundik di sini tidak menyukai asap dan aroma rokok." Ekspresi pria berambut pirang itu cenderung sendu. Ia kembali mengembuskan asap rokoknya kendati Leah sudah memberikan isyarat untuk mematikan rokok. "Maaf, Leah. Ini satu-satunya caraku melepas penat tanpa kehilangan akal. Jika aku minum-minum, mungkin aku bisa berbuat yang lebih buruk lagi," ujar Cedric sembari memperlihatkan seulas senyum kecut di wajahnya. Pria ini mungkin kelihatan lebih merana daripada tampilannya. Semenjak keluar dari ruangan yang digunakan penghakiman tadi, Cedric kelihatan sangat tertekan. Terlebih lagi, ia masih harus menggendong Elaine ke kamarnya karena perempuan itu pingsan setelah keluar ruang. Leah beranggapan jika rasa tanggung jawab dan bersalah atas apa yang terjadi pada Elaine dan Natalie membuat Cedric terlalu tertekan. Bahkan pemeriksaan dari dokter ditolak mentah-mentah. "Baiklah, kali ini saya biarkan. Tapi setidaknya Anda yang harus membersihkan sisa-sisa rokok ini. Karena kita sedang kekurangan pelayan," putus Leah. Ia menundukkan badan, bersiap berbalik. Namun, Cedric justru menahan sang sekretaris lebih lama. "Apa kau akan pergi begitu saja, Leah? Tidak adakah sedikit waktu untuk menemaniku?" Awalnya, Leah agak terkejut dengan pertanyaan penuh pesan tersirat itu. Cedric mungkin memang sedang butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya. Sebagaimana Eugene membutuhkan bahu Leah untuk menangis. Ah, jangan bilang kalau Cedric juga akan memutuskan kontrak sebagai gundik dan bank darah Simon. Pemecatan besar-besaran para pelayan saja sudah membuat kepala Leah pening, apa yang akan terjadi kalau para gundik memutuskan keluar dari kediaman Simon? Mungkin kepalanya akan pecah berkeping-keping. "Saya tidak keberatan menemani Anda sebentar di sini," jawab Leah lembut. Ia lantas menempatkan diri di samping Cedric kendati menciptakan sedikit jarak agar tidak terkena paparan langsung asap rokok. "Maaf, ya, karena sedikit mencuri waktumu. Padahal hari ini kamu banyak pekerjaan. Harusnya kau lembur hari ini, 'kan?" Cedric tersenyum canggung. Diingatkan tentang lembur, Leah hanya menanggapi perkataan Cedric dengan meringis. "Ah, jangan dipikirkan. Saya justru khawatir pada Anda, Tuan." "Untuk sekarang, panggil aku Cedric saja. Toh aku lebih muda darimu. Kita bicara santai saja," sela Cedric. "Baiklah, jika kau meminta demikian, Cedric. Kau tahu, aku ingin sekali menyebut namamu saja dengan nada marah waktu tahu kau berbuat masalah dengan Natalie dan Elaine tadi. Kau juga tidak mau menerima pemeriksaan dari dokter, dan itu membuat kepalaku makin pening," cerocos Leah yang ditanggapi dengan kekehan ringan dari Cedric. Karena kekehan ringan itulah Leah tertular senyum. "Aku senang bisa bicara santai denganmu begini. Seperti bicara dengan kakak perempuanku sendiri," balas Cedric sembari membuang puntung rokoknya yang tersisa ke lantai, lalu menginjaknya hingga benar-benar padam. Leah tersenyum kecil. "Ya, tapi daripada seorang kakak, kalian lebih sering menanggapku sebagai asisten serbabisa yang harus bisa mengabulkan apa pun yang kalian suruh. Kalian selalu begitu. Keinginan kalian kadang aneh-aneh dan menyebalkan. Susah sekali menurutinya." "Seperti memelihara aligator dan mencicipi racun penyihir jahat yang disebut sebagai resep masakan baru?" "Ya, itu salah satunya." Leah dan Cedric mengakhiri kalimat itu dengan tawa kecil. Bicara lebih santai kepada gundik-gundik itu rupanya tidak buruk juga. "Ya, tapi, Leah. Kau benar-benar mirip dengan kakak perempuanku. Dia benar-benar galak kalau sudah berurusan dengan anak-anaknya," imbuh Cedric. "Lalu kalian anak-anakku? Aku tidak sudi kalau begitu. Lagipula, seroang Ibu harusnya selalu berbelas kasih pada anaknya, tapi aku tidak. Aku ini galak tahu!" "Ha-ha, itu karena anak-anaknya masih kecil. Mungkin keponakan-keponakanku masih berusia delapan atau tujuh. Mereka kembar tiga dan sering membuat kakakku marah. Kau sangat mirip dengannya kalau sedang marah." Leah mengernyit. "Wah, kembar tiga pasti sangat menyusahkan. Tapi omong-omong aku jarang sekali menunjukkan sikap di luar ekspresi mode kerjaku di sini. Jadi, aku jarang bersikap eskpresif sesuai perasaan yang aku rasakan. Kalau di sini, aku dituntut menahan perasaan, lebih-lebih yang akan menghambat kerja," ujar Leah panjang lebar. Cedric manggut-manggut. Ia memahami bahwa Leah memang selalu tampak profesional ketika bekerja. Tak heran jika Simon merekrutnya menjadi sekretaris. "Bahkan cinta?" "Kau mau bicara soal cinta padaku? Aku ini tidak punya pengalaman apa pun soal cinta. Aku tidak pernah pacaran seumur hidupku." Pernyataan Leah yang terkesan masa bodoh itu meninggalkan kesan mendalam di wajah Cedric. Ekspresi pria tersebut mirip dengan karakter komikal yang lucu. Mata dan bibir terbuka lebar, sementara ekspresinya sarat akan tidak percaya. "Kau pasti berbohong!" "Aku serius!" "Kau masih pera—" "Aku malu membicarakan soal ini padamu. Tapi, iya. Aku memang masih suci dan tersegel," sela Leah sebelum Cedric menyebut kata itu. "Tapi, bagaimana bisa? Kau cantik, tubuhmu juga bagus, dan lagi kau punya karier yang bagus. Mana mungkin kau ... sampai sekarang ... masih...." Cedric membuat gestur yang menegaskan Leah masih belum tersentuh dengan menunjuk bagian bawah Leah. Tentu Leah sendiri juga geli dengan gestur yang dibuat Cedric tersebut. Leah menyilangkan kedua tangan di depan d**a lalu berkata panjang lagi, "Memang aku akui, kalau aku tidak begitu jelek. Sejak dulu, ketika masih berada di akademi. Banyak sekali murid akademi khusus laki-laki yang mendekatiku, tapi aku menolak semuanya karena aku harus fokus pada pendidikanku. Lalu, ketika aku sudah lulus dan bekerja. Para pria tidak berani mendekatiku sedikit pun ketika tahu pada siapa aku bekerja. Ya, karena pekerjaan ini, selama dua puluh sembilan tahun hidupku, aku tetap melajang dan masih tersegel rapat." "Oh, Tuhan ... masa kau tidak pernah suka sama laki-laki?!" "Hei, aku perempuan normal dan sehat. Tentu saja aku suka laki-laki. Tapi mereka menjauhiku saat tahu di mana aku bersekolah dan siapa yang menjadi donatur di tempatku bersekolah. Ketika aku lulus, mereka yang mendekatiku perlahan mundur saat tahu aku mendapat rekomendasi kerja di sini. Aku sudah ikut kencan buta berkali-kali dan banyak yang menolakku setelah tahu apa pekerjaanku. Aku normal, Ced. Yang membuatku tidak normal adalah pekerjaan ini." Obrolan panjang itu sedikit mengorek luka lama Leah tentang deretan kencan butanya yang berakhir buruk atau ditolak laki-laki yang ia suka sambil berlari dengan wajah pucat. Pada akhirnya, ketika ia bergabung di sebuah pesta malam untuk mencari seseorang yang dapat bermalam dengannya. Ia ditolak di pintu masuk. Karena status pekerjaannya sebagai sekretaris Simon sudah menyebar di mana pun. Oke, memang benar kata orang kalau karier menghancurkan urusan asmara seseorang. Kendati begitu, sekelebat wajah Tom yang melintas di pikirannya, membuat Leah sedikit terobati. Ya, walaupun ia sadar tidak memiliki nyali mengutarakan perasaannya pada pemilik toko roti tersebut. Karena terlalu tidak memiliki nyali, Leah bahkan tidak sampai hati menanyakan apakah Tom sedang menjalani hubungan dengan orang lain atau sedang melajang. Jika bicara tentang cinta, Leah benar-benar nol besar. "Aku khawatir kau akan menjadi perawan tua selamanya di samping Tuan Simon," balas Cedric kasihan. "Jangan menakut-nakutiku! Kenapa kau malah menambah beban hidupku, sih?!" omel Leah sambil menangis buaya. "Aku hanya sedikit mengingatkan, kok. Semoga saja kau bisa segera menemukan pangeran berkuda putih, menikah dengannya, dan hidup dengan bahagia." Cedric meringis di akhir kalimat. Sialan, bagaimana seorang perokok—biarpun tidak selalu merokok—giginya seputih itu? Dunia terkadang memang tidak adil. "Ah, sudahlah! Mood-ku jadi berantakan gara-gara kau, Ced! Kalau begitu saya pamit undur diri dulu, Tuan Cedric." Setelah membungkuk dalam-dalam, Leah beranjak sambil merengut. Ketika jarak mereka makin melebar, dari kejauhan Cedric meminta maaf. Tapi Leah tahu kalau pria itu juga tertawa jail ketika Leah tidak menoleh. Kenapa mereka semua kompak membuat suasana hati Leah jatuh? |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN