Insting, Feeling, atau ilusi

2058 Kata
Meskipun saat ini Sang sudah mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dan menenangkan pikirannya yang begitu sangat berpikir buruk kepada temannya saat itu Sang pun malah lebih tak bisa mengontrol pikirannya saat itu, bahkan Sang malah terus saja teringat dengan apa yang Sang saksikan tadi. Sekarang teman Sang sudah ada di depannya bukannya pikiran buruk Sang hilang karena tak enak jika sampai di ketahui olehnya mengenai perubahan sikap Sang yang sedikit tak bisa mengontrol pikirannya saat itu, tapi apa yang di rasakan Sang justru tak begitu dan Sang malah terus saja ingat mengenai hal itu meskipun teman Sang ada di hadapannya saat itu, sampai Sang pun malah melamun saat menghampiri kucing yang membuat Sang tertarik dan membuat teman Sang agak aneh saat melihat Sang yang penuh dengan lamunan di wajahnya saat itu sehingga teman Sang langsung saja sedikit mengagetkan Sang karena pertanyaannya saat itu. " Kau tak apa-apa Sang? aku memanggil mu beberapa kali tadi, apa ada hal buruk yang terjadi?"tanya teman Sang. " O-oh maaf kawan aku, aku sedikit tak fokus mungkin karena di sini agak panas dan kau lihat wajah ku di penuhi dengan keringat bahkan aku sudah membeli minuman dingin agar aku tak terus merasa panas karena meminumnya. Oh ya dan ini aku juga membelikannya untuk mu, minumlah,"ujar Sang dengan sedikit kaget langsung saja menjawab perkataan temannya saat itu dengan keadaan Sang yang sedikit tersudut karena pertanyaan temannya yang sepertinya melihat jika Sang memang melamun. Sang dengan sedikit terpojok langsung menjawab perkataan temannya saat itu padahal wajah Sang di penuhi dengan keringat karena Sang yang terpojok dan merasa tertekan dengan pertanyaan temannya yang sepertinya hampir bertanya mengenai Sang yang sedikit bertingkah aneh mengenai sikap Sang yang saat itu benar-benar hanya terdiam tanpa kata sehingga sepertinya membuat teman Sang berpikir jika Sang saat itu memikirkan sebuah sesuatu, Sang pun sedikit gugup dan merasa kaget dengan pertanyaan temanya karena Sang begitu tak bisa mengontrol perasaannya yang terus saja merasa curiga jika temannya menyembunyikan sesuatu meskipun Sang sudah mencoba untuk menenangkan dirinya dan melupakan semua kecurigaannya kepada temannya. Sang mengira saat teman Sang sudah ada di hadapannya saat ini Sang tak akan merasa curiga lagi kepada temannya saat itu tapi apa yang Sang pikirkan saat itu ternyata salah, meskipun teman Sang ada di hadapannya saat itu Sang malah terus saja memiliki pikiran buruk kepada temannya bahkan kecurigaan Sang malah semakin menjadi-jadi bukannya hilang, sampai barusan Sang pun di buat sedikit terdesak karena pertanyaan teman nya bahkan Sang menjawab dengan wajahnya yang di penuhi dengan keringat dingin menandakan jika dirinya merasa terdesak dengan pertanyaan temannya saat itu. Tapi meskipun begitu Sang untungnya bisa mengalihkan perhatian temannya dengan menjawab pertanyaan temannya meskipun jawaban Sang tentu saja tak benar dan hanya mengalihkan perhatian temannya saja saat itu. " Oh untuk ku? kau baik sekali,"ujar teman Sang dengan langsung saja meminum minuman yang Sang berikan barusan kepadanya saat itu. " Untunglah sepertinya teman ku tak berpikir sesuatu, apa lagi berpikir curiga kepada ku. ( dalam hati Sang bicara ). Ya tentu kawan,"ujar Sang. Setelah beberapa saat berjalan berniat langsung saja ke tempat kucing yang menarik perhatian nya, Sang pun akhirnya bisa melihat langsung kucing tersebut yang terlihat benar-benar sangat bersih dan saat itu Sang begitu sangat tergoda oleh kucing tersebut bahkan Sang melihat dengan sangat senang kucing tersebut dengan penglihatannya yang tak bisa di alihkan saat itu, sampai teman Sang pun mengejutkan Sang saat itu dan berkata agar Sang menahan, sabar dan menenangkan dulu perasaan takjub nya kepada kucing tersebut karena kucing tersebut belum menjadi kucing Sang dan entah kucing tersebut di jual atau hanya di pajang saja oleh toko tersebut sehingga Sang pun sadar, dan langsung saja menanyakan mengenai kucing tersebut ke petugas yang saat itu ada di dekat posisi kucing tersebut. " Maaf mas apa kucing ini di jual, aku salah satu karyawan di kantor seberang toko ini saat pertama kali kucing ini datang ke toko ini dan di pajang di sini aku selalu bersemangat dan senang melihat kucing ini. Melihat dari jauh saja aku begitu merasa sangat senang apa lagi barusan aku yang melihat langsung dekat di hadapan ku, aku benar-benar sangat menyukai kucing ini, apa kucing ini di jual?"ujar Sang tak sadar bicara mengenai dirinya yang begitu tergila-gila melihat kucing tersebut sampai Sang pun langsung saja bertanya. " Oh ya tuan, sepertinya kau benar-benar menyukai hewan dan kucing adalah salah satunya bahkan hewan yang begitu kau senangi sehingga membuat mu tak bisa kontrol perasaan mu seperti ini, sepertinya orang seperti mu begitu di butuhkan di sini tuan, orang yang menyayangi sesama makhluk hidup meskipun itu adalah hewan tak banyak orang yang menyukai seekor hewan sesuka diri mu tuan yang terlihat begitu jelas sangat menyukai hewan, tapi maaf tuan meskipun kau sangat menyukai kucing ini sepertinya kau harus mencari kucing lain yang bisa kau adopsi karena kucing ini tidak kami jual. Meskipun kucing ini kami pajang di depan toko kami itu karena kami memiliki tujuan untuk memikat pengunjung ke toko kami dengan kucing ini yang kami jadikan ikon toko ini. Sekali lagi maaf tuan kucing ini tak kami jual,"ujar petugas yang berjaga di dekat kucing tersebut pertama memuji Sang karena rasa sayangnya terhadap hewan, tapi petugas tersebut bicara hal yang sedikit mengejutkan kepada Sang saat itu dimana kucing tersebut tak mereka jual yang tentu saja hal itu membuat Sang merasa sedikit kecewa. Dan saat Sang mendengarkan hal itu Sang mulai sedikit kehilangan senyum di bibirnya, tapi itu semua belum berakhir mengenai kucing tersebut dan Sang pun bicara sesuatu kembali mencoba untuk membujuk petugas tersebut agar kucing itu mereka jual. " Tapi kenapa? aku begitu tertarik dengan kucing ini. Oh ya mungkin kalian belum menjualnya mendengar tawaran kucing ini dari orang lain yang di bawah target harga kalian? baik aku akan bayar berapapun kalian mau, bagaimana? mungkin aku akan membuka harga 4 juta? 5 juta,"ujar Sang saat itu mencoba membujuk petugas toko itu agar menjual kucing tersebut dengan membuka harga yang cukup tinggi mengenai kucing tersebut. " Maaf tuan bukan itu alasan kami tidak menjual kucing ini, jadi dengan menyesal karena sepertinya membuat mu kecewa kami meminta maaf kembali karena kucing ini benar-benar tak di jual, dan tak akan kami jual karena kucing ini memang bukan salah satu produk yang ada di toko ini yang bertujuan untuk di jual. Maaf tuan,"ujar petugas itu kembali menjawab jika kucing tersebut tak mereka jual. " Oke baiklah jika seperti itu, bagaimana jika 7 juta?"ujar Sang kembali menawarkan harga. " Tidak tuan,"singkat, santai petugas tersebut menjawab. " Masih kurang baiklah 10 juta. Aku begitu tertarik dan sangat menginginkan," " Cukup tuan sekali lagi dan ini yang terakhir aku mengatakan pada mu jika kucing ini tidak kami jual berapa pun harganya, maaf tuan aku sudah beberapa kali bicara maaf dan mengatakan jika kucing ini tak di jual jadi aku harap kau mengerti dan bisa menerima apa yang aku katakan tuan. Jadi sekarang jika kau hanya tertarik dengan kucing ini dan tak ingin membeli peralatan atau barang lain, aku harap kau pergi tinggalkan toko ini karena sepertinya apa yang kau inginkan tak bisa kami berikan tuan. Aku mohon keluar sekarang juga,"ujar petugas tersebut memotong pembicaraan Sang saat itu dengan kembali meminta maaf karena kucing tersebut memang tak di jual, bahkan karena mungkin petugas itu sedikit kesal beliau pun menjawab pertanyaan Sang dengan nada yang cukup tinggi seperti kesal dengan tawaran Sang. " Tapi," " Sudah Sang dia sudah beberapa kali mengatakan jika kucing itu tak mereka jual, kau lihat kan petugas ini sepertinya sudah sedikit kesal dengan mu, jangan membuat kerusuhan disini. Ayo kita pergi Sang,"ujar teman Sang saat itu membujuk Sang agar tak terus memberikan tawaran untuk kucing tersebut yang membuat petugas tersebut sepertinya kesal, dan langsung saja menarik Sang untuk pergi dari toko tersebut. Sampai Sang pun saat itu benar-benar kehilangan senyuman di wajahnya dan langsung saja menundukkan wajahnya karena kecewa dengan dirinya yang saat itu mendapatkan jawaban yang tidak membuatnya puas karena kucing tersebut yang tak mereka jual yang tentu saja hal itu membuat Sang tak bisa memiliki kucing tersebut, sehingga Sang berpikir mau apa lagi saat itu berada terus di sana petugas itu pun sepertinya sudah sedikit merasa kesal karena Sang yang sepertinya berlebihan memberikan tawaran kepada barang yang mereka tak jual, pada akhirnya Sang pun hanya pergi dengan tangan kosong dan wajah yang tertunduk kecewa. Tapi sebelum Sang meninggalkan toko tersebut Sang terlebih dahulu melihat ke arah kucing tersebut, entah apa yang Sang pikirkan saat itu karena Sang terdiam sejenak sampai Sang pun kembali di panggil oleh temannya untuk langsung saja pergi mengikutinya keluar dari toko itu. " Apa yang kau pikirkan Sang, kau membuatnya kesal karena tawaran mu yang terus saja kau katakan untuk kucing itu, sabar lah Sang kau memang sepetinya tak bisa memiliki kucing itu tapi Sang pasti ada hal atau kucing lain yang bisa membuat mu kembali senang kan. Ayo kita pergi, sepertinya pedagang itu cocok menjadi tempat kita berbincang sekaligus menenangkan pikiran mu Sang,"ujar teman Sang saat itu mengajak Sang untuk pergi ke tempat makan yang biasa Sang datangi untuk berbincang dan menenangkan pikiran Sang saat itu. Tanpa bicara apapun saat itu Sang langsung saja berjalan ke tempat makan kaki lima yang biasa Sang datangi untuk makan, dan langsung saja duduk dengan teman Sang yang memesan makanan dan minuman, sementara Sang hanya memesan minum saat itu. " Aku tak mengerti kenapa bisa toko itu tak menjual apa yang mereka pajang, dan mereka hanya bilang jika kucing itu hanya sebuah ikon untuk menarik pengunjung datang,"ujar Sang masih merasa sedikit kesal dan kecewa karena tak bisa mendapatkan apa yang Sang inginkan. " Tapi sebenarnya itu masuk akal juga Sang. Lihat lah kau, kau mengunjungi toko itu karena kau begitu tertarik dengan kucing tersebut sehingga kau memutuskan untuk mengunjungi toko tersebut, coba saja jika toko itu tak memajang kucing tersebut apa kau tertarik mengunjungi toko itu? sebelum toko itu memajang kucing tersebut toko itu sudah beberapa hari beroperasi di seberang kantor kita, dan sebelum ada kucing itu apa kau tertarik untuk mengunjungi toko tersebut Sang? sepertinya tidak Sang, jangankan mengunjunginya membicarakan atau menanyakan toko tersebut saja tidak Sang. Dan kucing itu adalah sebuah strategi bagus mereka yang sepertinya berhasil menarik pengunjung termasuk kau, orang yang sudah melihat cukup lama toko tersebut tapi tak sedikit pun tertarik, tapi dengan adanya kucing tersebut kau menjadi mulai menanyakan dan bahkan hari ini kau mau mengunjungi toko itu, sudah jelas Sang strategi marketing mereka menggunakan kucing tersebut tepat dan bisa benar-benar menarik pengunjung. Bisa kau pahami itu?"ujar teman Sang menjelaskan jika apa yang toko itu lakukan adalah strategi marketing mereka yang baik, dan berhasil menarik pengunjung. Saat itu Sang tak bicara apapun dan hanya minum saja minuman yang sudah Sang pesan, dan temannya pun tak ngotot agar Sang menjawab perkataan nya saat itu bahkan dia pun fokus saja terlebih dahulu ke makanannya. Tapi di samping teman Sang yang bicara kepada Sang, Sang memang mendengarkan apa yang temannya katakan tapi tak menjawabnya karena ada sesuatu yang sedang Sang pikirkan saat itu. Dan saat itu Sang begitu memikirkan mengenai dirinya yang barusan akan pergi meninggalkan toko tersebut, sejenak sebelum Sang pergi Sang sempat melihat ke arah kucing tersebut dan melihat kucing tersebut seperti mengeong tapi tanpa membuka mulutnya, dan suara kucing tersebut seperti suara yang meminta tolong, entah apa yang sebenarnya terjadi saat itu, apakah itu hanya feeling, insting atau hanya ilusi yang membuat Sang berhalusinasi yang di sebabkan oleh pikiran Sang yang kecewa berat dengan apa yang Sang dapatkan saat itu, sampai Sang pun malah melamun di saat temannya memberikan sebuah pengertian kepada Sang saat itu, sampai teman Sang pun kembali sedikit mengagetkan Sang agar sadar dari lamunannya saat itu. " Aku bicara pada mu Sang, lama aku menunggu kau yang terus saja melamun. Kau dengar apa yang aku katakan?"ujar teman Sang sambil menepuk Sang saat itu sehingga menyadarkan Sang dari lamunan panjangnya. " O-oh maaf kawan maaf, sepertinya aku begitu kecewa dengan apa yang aku dapatkan barusan sampai aku tak bisa fokus dengan apa yang kau katakan. Aku dengar apa yang kau katakan dan maaf sepertinya ini semua memang aku yang salah karena te lalu terobsesi dengan keinginan dan perasaan ku, maaf. Aku paham dengan apa yang kau katakan, terima kasih sudah mau mengunjungi toko ini dengan ku,"ujar Sang akhirnya menjawab meskipun dengan wajahnya yang masih di tekuk karena merasa terus saja kecewa. " Baiklah sepertinya ini sudah cukup Sang, aku akan pulang,"ujar teman Sang sambil berdiri, membayar makanan yang sudah di pesannya dan pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN