Setelah kelahiran putrinya, Wahyu jadi semakin sibuk membagi waktu. Menjadi ayah dan suami di rumahnya sendiri, menjalankan tugas perusahaan, serta menjadi ayah dan kekasih bagi Bunga dan putrinya. Terkadang Wahyu sampai tertidur karena kelelahan di sofa sederhana milik Bunga. Jika sudah begitu Bunga memandangi wajah lelap kekasih hatinya dengan rasa bersalah. “Mas, bangun!” Bunga menggoyangkan tubuh Wahyu dengan lembut. Tak ingin membuatnya kaget. Wahyu menggeliatkan tubuh seperti seorang bayi yang baru bangun dari tidur, lalu tersenyum mendapati Bunga telah berada di hadapannya. “Maaf, aku ketiduran sayang!” Wahyu memutar lehernya yang terasa berat dan kaku. Belakangan ini ia jadi jarang berolahraga karena kesibukannya mengurus semua hal sendirian. “Kau tidak perlu memaksakan diri u

