Dilecehkan

1173 Kata
Saat jam istirahat, Tiara menghabiskan waktu bersama Rayyan di kantin. Hampir semua mata memperhatikan tempat Tiara berada, dengan tatapan Jijik. Tatapan yang sudah biasa diterimanya. Tiara tak pernah mengambil hati atas semua pandangan aneh itu. Baginya yang terpenting ia tidak pernah mengganggu mereka semua. “Nggak makan?” tanya Rayyan pada Tiara yang hanya membeli sekotak s**u cokelat. Tiara menggeleng. “Nggak mood, belum laper,” jawab Tiara melanjutkan memainkan sedotan di bibirnya. Menggigit ujung sedotan hingga hampir putus. “Nggak usah dimasukin di hati," ucap Rayyan memberikan nasehat. "Semua hal yang tidak menyenangkan yang kamu terima dari luar, buat seperti ini!” Rayyan mengepal sebuah kertas bekas pembungkus makanan, lalu melemparkannya pada sebuah tempat sampah. Tiara menggelengkan kepala dan melemparkan senyum. “Enggak, sudah biasa! Lagian mereka hanya menebar desas-desus, tanpa bertanya langsung untuk mendapatkan klarifikasi dariku.” Tiara tersenyum kecut. Klarifikasi apa lagi yang dibutuhkan. Semua desas-desus itu benar adanya. Bahwa dia anak kotor yang tidak jelas. Bahwa dia hasil perbuatan kotor, dilahirkan ditempat yang kotor dan hidup dari hasil pekerjaan yang kotor. Tapi bisakah mereka semua mengerti, bahwa hal itu bukanlah keinginannya. Siapa yang menginginkan memiliki takdir buruk seperti itu. Saat hendak mengambil sendok di atas meja, Rayyan menyenggol gelas minumannya, gelas tersebut goyah, sebagian isinya tertumpah dan mengenai celananya. Rayyan bangkit dari tempat duduknya. “Ish! Nggak hati-hati!” cibir Tiara. “Ke toilet dulu ya!” pamit Rayyan, Tiara mengangguk. Tak lama setelah Rayyan pergi, Bara mendatangi meja Tiara. Menyandera dan menarik paksa pergelangan tangan Tiara untuk dapat mengikutinya. Berbagai desas-desus mengiringi kepergian Tiara dan Bara dari kantin. Keluhan rasa sakit dari mulut Tiara. tak juga Bara perdulikan. Dihempaskannya secara kasar tangan itu saat mereka tiba di atas gedung sekolah. Tiara mengelus pergelangan tangannya yang memerah, meringis menahan rasa perih karena cekalan itu. “Makanya kalau pakai cara lembut nurut!” ucap Bara dengan senyum menyeringai. “Ada apa?” tanya Tiara, tak ingin berlama-lama disana bersama Bara dan beberapa temannya yang sama-sama sedang tersenyum merendahkan saat menatap Tiara. “Kenapa buru-buru? Kita belum juga bersenang-senang!” Bara mendekat. “Bersenang-senang?” “Iya, aku ingin tau, berapa tarif untuk bersenang-senang dengan mu.” Bara mencolek pipi Tiara. “Maaf, aku bukan wanita seperti itu!” “Bukan wanita seperti itu?” Bara tertawa mengejek. “Lalu wanita apa? Wanita panggilan? Atau simpanan?” Alis Bara naik sebelah, mencibir. Bara menarik dagu Tiara, mencoba menjelajahi setiap lekukan wajah yang memang cantik, putih bersih. “Aku tidak menyangka, bahwa ada Mutiara dari tempat yang sangat kotor, Mutiara yang kilaunya sangat sempurna.” Tangan Bara masih saja menjelajah wajah itu, hingga jemarinya turun ke leher. Tangan Tiara sigap menangkapnya sebelum jari itu lebih kurang ajar, tak tau tempat. “Mungkin dia Mutiara hitam Bos!” ujar temannya di belakang Bara yang sedari tadi hanya tersenyum-senyum. Teman yang lain mengangguk dan tertawa terbahak-bahak. “Yang namanya Mutiara, baik dia putih atau hitam, dia tetaplah Mutiara. Kilaunya tidak pernah berdusta. Sebaliknya, sebuah batu jalanan, meskipun kau pajang di tempat terindah berhias lampu indah, dia tetap takkan berkilau.” Bara tersenyum sinis. “Maksudmu aku adalah batu itu?” “Aku tidak pernah menyebutkan nama. Kalau kau merasa sendiri, terserah saja!” Bara berdecih, merasa semakin jijik sekaligus tertantang oleh sikap Tiara. “Baik, aku akan langsung ke intinya. Aku mau kamu jadi pacarku.” Ucap Bara. Tiara terbelalak. Bukankah Bara adalah pacarnya Bela? “Bukankah Bela pacarmu? Apa tak cukup dengan satu gadis yang cantik dan populer itu!” Tiara berbicara setengah berteriak. Tak suka jika ada laki-laki yang menyakiti hati perempuan. Laki-laki manapun, dan perempuan manapun. Meskipun Bela sering sekali mengganggunya. “Aku tidak memintamu menjadi pacar biasaku.” “Pacar tidak biasa?” Bara memandangi setiap inci wajah dan lekuk tubuh Tiara. Meskipun tubuh itu tebalut oleh seragam yang sengaja kebesaran, tapi tak mampu menutupi keindahan sesungguhnya isi didalam sana. Jika saja Tiara berpenampilan modis seperti Bela, pasti dia akan menjadi primadona di sekolah. Menyaingi ketenaran Bela, pacarnya sendiri. “Jadilah Pacar Simpananku! Pacar panggilanku!” Bara mulai menyudutkan Tiara ke tembok. Kedua tangannya bertumpu pada dinding, mengunci pergerakan Tiara agar tak bisa melarikan diri. Tiara memalingkan wajah, tak sudi menghirup nafas yang tersembur dari wajah Bara. “Hentikan Bara! Aku tidak serendah itu!” bentak Tiara. Bara tertawa lepas. “Tidak serendah itu? Lalu serendah apa? Apa kau merasa harga dirimu tinggi? sangat mahal? Berapa? Seberapa mahal dirimu, biar aku bayar!” cecar Bara! Beberapa lembaran berwarna merah di lemparkannya ke arah Tiara. Mencoba menjatuhkan kepercayaan diri gadis itu. Tiara mendorong tubuh Bara. “Apakah harga dirimu semurah itu juga?” tantang Tiara, membuat Bara semakin bernafsu padanya. “Baiklah jika kau tidak menerima uang-uang ini!” Bara memunguti uangnya sendiri. “Ternyata kau lebih senang bermain sukarela tanpa bayaran.” Bara mencengkeram bahu Tiara, mendorong dan menahannya di dinding. Tangan satunya menyandra wajah Tiara. Memaksa gadis itu untuk diam agar bisa bersentuhan dengan bibirnya. Tiara meronta berusaha melepaskan diri. Tapi kekuatan Bara jauh lebih besar darinya. Pakaian bagian atas Tiara sudah kusut tak berbentuk, karena perlawanan itu. Pada satu titik Tiara tak mampu lagi meronta. Hanya dadanya kembang kempis menahan amarah. Bara tersenyum akan kemenangannya. Kini Tiara lebih tenang. Sadar bahwa pemberontakannya tak menghasilkan apa-apa. Biar dia beri pelajaran gadis sok mahal ini. Bara mulai mendekatkan wajahnya, meskipun Tiara melotot memperingatkan. Semua diabaikannya, yang dia pikirankan saat ini adalah membuat Tiara bertekuk lutut dan berhenti melawannya. Ciih! Tiara meludah ke arah Bara. Percikan itu mendarat tepat di matanya. Dengan penuh amarah Bara mengusap kasar wajahnya. Dilayangkan tangan kekarnya, bersiap diayunkan pada gadis tidak tau diri itu. Mungkin beberapa tamparan dapat menaklukkan dan menurunkan harga diri Tiara. Hampir saja tangan itu mendarat pada pipi putihnya, Tiara pun telah menutup mata, tak ingin menyaksikan akibat dari sikap keras kepalanya sendiri. Disaat bersamaan sebuah tangan menahan pergelangan tangan Bara. Bara menoleh, mencari tau pemilik tangan yang berani kurang ajar menghentikannya itu. Rayyan? Sekembalinya Rayyan dari toilet, dia tidak mendapati Tiara di meja. Beberapa murid mengatakan bahwa Bara menyeretnya pergi. Sebenarnya Rayyan malas untuk ikut campur, tapi firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu pada Tiara. Mau tidak mau Rayyan mencari gadis itu. Benar saja, gadis itu tengah berduel tak seimbang dengan Bara. Laki-laki b******k yang sok famous hanya karena orang tuanya pejabat dan terhormat. “Lepas!” Bentak Bara. Membuat Tiara beringsut ketakutan. Khawatir kedua lelaki itu berkelahi hanya karena gadis seperti dirinya “Lo lepasin dia dulu!” Rayyan membuat kesepakatan. Amarah Bara meledak menerima penolakan dua kali bersamaan di satu waktu. Dari gadis kotor di depannya dan dari Rayyan yang entah siapanya Tiara. “Lo mau macem-macem sama gue?” sungut Bara. Beberapa temannya maju, bersiap memegangi Rayyan. “Seinci aja lo semua nyentuh gue, gue bakalan teriak! Biar kita sama-sama masuk ke ruang BK!” teriak Rayyan. Sepertinya gertakan itu bekerja, mereka tak jadi menghadang Rayyan. Bara pun berangsur melepaskan Tiara dari cengkramannya. Tiara berlari, meninggalkan mereka semua. Bulir di sudut matanya hampir tak dapat di tahan lagi. Dia tak ingin benteng pertahanan itu jebol menampakkan sisi kelemahan yang dimilikinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN