Rayyan menegakkan tubuh, mengangkat kepala yang sejak tadi diletakan di pinggiran ranjang rumah sakit. Memandang pilu, tak tega pada sosok yang terbaring di hadapannya. Kenapa gadis itu terus saja mendapatkan takdir yang menyedihkan. Air mata Rayyan menetes, melihat iba wajah Sang Kekasih yang hampir tak berbentuk. Penuh luka melepuh disana-sini. Gadis itu masih belum sadarkan diri. Beberapa alat bantu nafas terpasang di wajah melepuhnya. Gadis itu belum juga membuka mata, menampilkan senyum terbaiknya dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Sepertinya gadis itu terlalu lama menghirup asap tebal. Beruntung Rayyan tiba di rumah Tiara pada waktu yang tepat. Terlambat sedikit saja, mungkin ia hanya bisa meratap, menatap gundukan tanah merah. Beberapa saat yang lalu. Setelah berusaha mem

