Bunga membuka matanya perlahan, memandang langit-langit kamar yang terasa asing. Tubuhnya terasa begitu lemah dan tak berdaya, selang oksigen terpasang di wajahnya. Sedangkan jarum infus menusuk bebas masuk kedalam venanya. Bunga mencoba memutar pandangan, mencari siapa saja sosok yang berada di sekitarnya, tapi tubuhnya seperti kehilangan seluruh tenaganya. Ia tidak mampu menggerakkan lehernya. “Hmmm,” Bunga hanya mengeluarkan suara berdengung lemah. Membuat sosok yang sejak lama setia menemaninya datang mendekat menuju ranjangnya. “Kau sudah siuman? Syukurlah!” Alex memeriksa, sejak semalam ia dibuat khawatir karena denyut nadi Bunga begitu lemah. Bunga berusaha menoleh ke arah asal suara. “A—Lex!” Yang disebut namanya hanya tersenyum. “Istirahatlah!” Alex mendekat, mengelus punggu

