Rayyan menatap tak percaya, tak ada tanda-tanda keberadaan kekasihnya di dalam kamar. Tidak ada juga koper yang sebelumnya ia letakkan di samping lemari. Seraya terus menguatkan diri sendiri, Rayyan coba mengecek ke kamar mandi. Tempat yang mustahil kalau kekasihnya akan ada di sana. Tapi entah kenapa ia masih berusaha, meyakinkan diri. Ia tak ingin melewatkan satu sudut ruangan pun untuk dilihat. Lalu merogoh ponselnya, mencoba menghubungi nomor Tiara. Pada panggilan pertama masih tersambung. Tapi tidak juga diangkat. Setelah itu, nomor Tiara sudah tidak aktif. Sepertinya gadis itu memilih membuat senyap ponselnya dengan mode mati total. Rayyan mengerti, kekasihnya itu butuh waktu untuk mencerna kebenaran yang baru saja terbuka. Sama hal seperti dirinya. Tapi, tidak inginkah gadis itu

