“Kamu dari mana Mas?” Dewi berteriak dengan nyaring, seolah Wahyu berada jauh darinya. Pedahal jarak lelaki itu tak lebih dari tiga langkah dari tempat ia berdiri sambil melipat tangan didepan tubuh. Lagipula mereka sedang berada di kamar, dimana suara akan terdengar jelas meskipun hanya berupa desahan. Sorot mata Dewi tampak menyala penuh amarah. Belakangan ini emosi wanita itu sulit terkontrol karena perubahan sikap Wahyu. Lelaki itu menjadi sangat acuh padanya, pergi dan pulang semaunya tanpa peduli bagaimana perasaannya. Sedangkan yang ditanya bersikap acuh tak menjawab. Bukannya tak ingin menjawab, Wahyu sangat paham, apapun yang ia katakan saat ini tidak ada gunanya jika wanita yang selama ini mengarungi bahtera rumah tangga dengannya itu sedang marah. “Mas, aku bertanya padamu,

