Wahyu memarkir kendaraan di lahan khusus parkir pengunjung pemakaman. Mulai berjalan menyusuri jalan sempit, terhimpit di antara gundukan makam satu dengan lainnya di sisi kanan dan kiri. Semenjak Asia Pratama di serahkan total kepada putranya, ia memiliki lebih banyak waktu luang. Hanya sesekali ia berkunjung ke kantor untuk sekedar membantu Rayyan yang masih membutuhkan pegangan atau sekedar memberi saran masukan kebijakan apa yang perlu diambil oleh putra tampannya. Hari ini ia hendak mengunjungi makam Bunga sekaligus bertemu dengan seseorang di sana. Dari sekian banyaknya tempat, entah mengapa mereka memilih tempat pertemuan di lokasi sehoror itu. “Kau sudah tiba?” sapa Wahyu begitu tiba di samping pria yang sudah berdiri duluan entah sejak kapan. “Kau memang selalu terlambat!” ejek

