Muncul ke permukaan

1955 Kata

Wahyu memarkir kendaraan di lahan khusus parkir pengunjung pemakaman. Mulai berjalan menyusuri jalan sempit, terhimpit di antara gundukan makam satu dengan lainnya di sisi kanan dan kiri. Semenjak Asia Pratama di serahkan total kepada putranya, ia memiliki lebih banyak waktu luang. Hanya sesekali ia berkunjung ke kantor untuk sekedar membantu Rayyan yang masih membutuhkan pegangan atau sekedar memberi saran masukan kebijakan apa yang perlu diambil oleh putra tampannya. Hari ini ia hendak mengunjungi makam Bunga sekaligus bertemu dengan seseorang di sana. Dari sekian banyaknya tempat, entah mengapa mereka memilih tempat pertemuan di lokasi sehoror itu. “Kau sudah tiba?” sapa Wahyu begitu tiba di samping pria yang sudah berdiri duluan entah sejak kapan. “Kau memang selalu terlambat!” ejek

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN