Kalap

2813 Kata
Ibu Mita, seorang Guru Konseling datang menghampiri keributan yang terjadi. Semua murid membubarkan diri, masuk ke kelas masing-masing. Tak ingin nama mereka terbawa-bawa pada keributan yang terjadi. Semua menghilang, hanya menyisakan Bella and the genk, Tiara dan Rayyan. Bahkan Bara berlalu, berjalan santai menuju kelasnya. Seolah tidak pernah melihat apa-apa. “Apa kalian tidak punya telinga? Apa yang terjadi?” Bentak Ibu Mita. Tak ada satu jawaban pun yang di dengar. Semua masih berusaha mengawal emosi masing-masing. “Semua ikut Ibu ke BK!” perintah Ibu Mita final, setelah sekian lama menunggu. Semua mengekori Ibu Mita ke ruang BK. Bella dan temannya saling berbisik khawatir nama mereka akan tercatat dalam buku kasus sekolah, membuat orang tua mereka harus dipanggil menghadap. Beberapa siswa mengintip dari kaca jendela kelas yang dilewati. Mereka yang berada di dalam menebak-nebak apa yang sedang terjadi, sehingga Ibu Mita memiliki banyak 'Bodyguard' di belakangnya. “Bell, gimana neh! gue nggak mau bokap sama nyokap gue dipanggil kesini gara-gara beginian!” keluh Lola setengah berbisik. Di ikuti anggukan teman yang lain, merasakan kekhawatiran yang sama. Tak ingin reputasi orang tua mereka tercoreng begitu saja di sekolah. “Sudah, tenang aja. Gue pastikan Ibu Mita berada di pihak kita!” janji Bella penuh percaya diri. Membuat teman-temannya bisa sedikit bernafas legas. Mereka tiba di ruang BK. Ruang yang cukup lebar itu tiba-tiba terasa sempit dan menghimpit. Ada sedikit kengerian melihat tumpukan file di lemari, berisi kasus-kasus permasalahan murid yang telah berlalu. "Masih belum ada yang bersedia buka mulut?" tanya Ibu Mita kehabisan kesabaran. Semua yang berkumpul hanya berdiri, tertunduk di ruang Bina Konseling. Meskipun Ibu Mita telah mempersilahkan semua yang hadir untuk duduk. "Duduklah, lalu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" perintah Ibu Mita lagi. Semua duduk, tapi masih membisu. "Mungkin kalian akan bicara, setelah Ibu minta kalian untuk berlari memutari lapangan seratus kali!" ancam Ibu Mita, tak sabaran. Bella and the genk terbelalak, tak ingin gertakan itu menjadi kenyataan. Tapi tak juga berani membuka suara. "Maaf Bu, saya telah membuat keributan. Tapi Bella yang memulai terlebih dahulu." Tiara mencoba buka suara, merasa tak enak karena Rayyan berdiri disampingnya. Ikut terbawa-bawa hanya karena melerai. Benar kata Rayyan, seharusnya dia mampu mengendalikan diri tadi. "Dia yang mulai Bu, gadis kotor ini yang mulai. Tanya aja sama Feby, Lola, sama Aida." sergah Bella. Temannya yang duduk di samping kanan dan kiri membantu mengiyakan. Tiara kalah telak. Meskipun ada beberapa murid yang menyaksikan pertengkaran mereka sejak awal, tapi rasanya tak mungkin mereka semua mau bersaksi untuknya. Untuk gadis dengan reputasi sosial terburuk di sekolah ini. "Kamu ngapain ikut-ikutan Rayyan?" tanya Ibu Mita, nada bicaranya sedikit turun saat mengajukan pertanyaan kepada Rayyan. "Saya ...," "Rayyan hanya melerai Bu. Dia tidak tau apa-apa," potong Tiara. Ibu Mita menatap tajam pada Tiara. "Ibu tidak bertanya sama kamu!" seru Ibu Mita ketus. Tiara semakin tidak memiliki harapan untuk mendapatkan keadilan. Ibu Mita sudah menikah, tapi pernikahan manisnya kandas di tengah jalan. Menurut kabar berita yang beredar, suaminya kepincut janda cinta satu malamnya, dari sebuah club malam. Sejak saat itu, Ibu Mita belum juga terlihat dekat dengan lelaki manapun. Dia masih trauma untuk menjalin sebuah hubungan. Lalu kini di depannya ada seorang murid perempuan, yang menurut desas-desus, dia adalah anak seorang penjaja seks, pekerjaan yang sangat ia benci. Profesi yang memporak-porandakan rumah tangganya. Mengubur impian tentang sebuah keluarga manis, juga tentang pernikahan pertama dan satu-satunya di dalam hidup. Meskipun Tiara selalu ramah dan sopan kepada semua guru, staff dan murid lainnya. Tidak ada catatan kepribadian yang buruk pada dirinya, selain kabar selentingan yang terus berhembus liar. Entah mengapa rasa benci itu tiba-tiba menghujam begitu dalam di jantungnya. Tak pernah sudi sama sekali, orang dalam lingkaran lingkungan buruk itu menyatu dengan lingkungan dimana dia berada. "Rayyan, silahkan keluar." pinta Ibu Mita. "Tapi, bu!" Rayyan ragu untuk meninggalkan Tiara sendiri di dalam ruangan itu. Dia masih ingin menemani Tiara. Setidaknya menjadi teman yang mendampingi, seperti ketiga sahabat Bella. "Silahkan keluar, atau menunggu di depan pintu. Nanti jika Ibu butuhkan, kamu akan dipanggil." Rayyan mengangguk, lalu perlahan pergi meninggalkan ruang BK. Rayyan mengintip dari kaca jendela untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam sana. Sayangnya suara mereka yang di dalam tidak dapat terdengar dari luar, jadi ia hanya membaca ekspresi wajah yang di tampilkan oleh masing-masing orang di dalam ruangan. "Jadi, kamu tidak mengakui kesalahan kamu Tiara!!" Bentak Ibu Mita menghakimi. "Tapi Bu, saya hanya membela diri." ucap Tiara pelan. Dia sadar betul, sekeras apapun dia berusaha tidak akan ada hasilnya. "Bella, coba jelaskan, bagaimana awalnya bisa sampai ribut seperti ini? Kenapa kalian bisa bersikap seperti anak TK?" tanya Ibu Mita, dengan suara lebih lembut. Meskipun ada luapan kegemasan di dalam nada ucapannya. "Dia ganggu pacar saya Bu!" "Bohong Bu!" sergah Tiara. "Iya, Bu, dia menggoda Bara! Semua anak di kantin mengetahuinya. Mereka bilang kalau Tiara dan Bara pergi berdua!" "Apa semua anak di kantin juga mengatakan apa yang Bara-mu lakukan kepadaku?" hardik Tiara, masih berusaha ingin menguasai amarahnya atas ketidakadilan yang diterima bertubi-tubi . Braak!! Ibu Mita menggebrak meja, membuat Tiara, Bella dan yang lainnya terlonjak kaget dari duduknya. "CUKUP! DIAM! Apa kalian tidak bisa bersikap lebih dewasa sedikit? Tiara, kalau Ibu tidak meminta untuk berbicara, tutup mulut kamu!" Tiara mengatupkan rahangnya, giginya gemeletak, menahan amarah yang sejak tadi telah bersiap berlompatan dari dadanya. "Coba ceritakan lebih rinci Bella! Ibu mau dengar." Mau tidak mau Ibu Mita harus bersikap objektif. Mendengarkan penjelasan dari semua pihak. Karena tidak mungkin dia menghukum Tiara hanya karena dasar rasa tidak suka. "Saya dengar Dia pergi sama Bara Bu, pacar saya. Semua orang membicarakan hal itu. Menurut ibu, apa yang kira-kira mereka lakukan di atap sekolah dengan pakaian yang kusut dan lecek seperti saat ini? Semua orang tau kalau Bara dan saya pacaran. Tapi kenapa dia seperti itu. Dia gadis yang sangat licik Bu. Playing Victim!" Bela menjelaskan dengan penuh emosi. "Terus?" "Lalu dia turun dari atap, dengan tampilan semrawut. Saya meminta penjelasan, tapi dia malah mencaci-maki saya dan keluarga saya Bu." "Terus?" "Kami berkelahi sampai Ibu datang." D4da Bella kembang kempis menahan gejolak amarah yang memuncak. Ibu Mita balik menatap Tiara dengan tatapan penuh rasa tidak suka. Jika tidak terpaksa, sebenarnya dia enggan berurusan dengan Tiara, yang telah di cap tidak baik. Meskipun tidak pernah ada penjelasan dari semuanya, apakah bena ibunya adalah seorang kupu-kupu malam. "Tiara, coba kamu jelaskan. Apa pembelaan kamu?" Tiara memberanikan mengangkat kepalanya, memandang Ibu Mita, meminta belas kasih keadilan. "Apa penjelasan saya bisa diterima bu?" tanya Tiara pelan, mulai jengah dengan semua ketidakadilan yang selalu dia dapatkan. "Apa kamu menentang Ibu? Kamu akan menerima hukuman berat jika seperti ini!" Lihatlah, dari cara bicara Ibu Mita saja, sudah sangat jelas membeda-bedakan antara dirinya dengan Bella. Bisakah berhenti saja sampai disini? Tiara sudah tidak tahan lagi. "Maaf bu, saya tidak bermaksud begitu." "Kalau begitu jelaskan!" "Saya dan Bara memang dari atas atap. Tapi tidak seperti yang Bella tuduhkan." Tiara memulai juga menceritakan runtut kejadian yang membuatnya lepas kendali, tak mampu menahan amarah, hingga terjadi pertengkaran itu. "Lalu kalian ngapain?" "Saya tidak bisa menceritakan Bu. Tapi tolong percaya sama saya, saya tidak menggoda ataupun mengganggu pacarnya Bela." "Ada saksi?" Tiara terdiam, sorot matanya memandang Rayyan di balik kaca jendela. Apakah dia harus menyebut nama Rayyan juga? "Ada saksi?" ulang Ibu Mita. "Apakah perlu saksi Bu? Ada beberapa saksi, tapi mungkin tidak akan berpihak pada saya Bu." Jawab Tiara sangsi. "Kamu berbohong!" tuduh Ibu Mita dengan kejam. "Saya tidak bohong Bu." tegas Tiara. "Bagaimana bisa kamu tidak bisa menghadirkan saksi jika kamu tidak sedang berbohong!" "Tolong percaya Bu! Saya tidak bohong." pinta Tiara memelas. Tidak pernah dia memohon seperti saat ini sebelumnya. "Kamu kira Ibu akan percaya!?" 'bukankah sudah kukatakan percuma saja kujelaskan. Tidak akan ada yang percaya padaku!’ gumam Tiara, menggerutu dalam hati. "Point pelanggaran berat, berbohong." Ibu Mita menulis di sebuah buku catatan siswa BK. "Saya tidak bohong Bu!" ucap Tiara setengah berteriak. "Lalu siapa saksinya!?" Bentak Ibu Mita gemas dengan sikap tertutup Tiara. "Rayyan..., Rayyan saksinya Bu." Tiara menyerah. 'maaf telah membawamu kedalam masalah ini Rayyan!' ucap Tiara lirih. Gerakan jemari Ibu Mita berhenti, tulisan yang baru saja dia selesaikan di coretnya kembali. Mungkin Ibu Mita percaya jika Rayyan yang di tunjuk sebagai saksi. "Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanya Ibu Mita. "Ketika saya turun, dan berjalan menuju kelas. Bella menghadang saya." "Hanya karena itu kalian berkelahi?" "Dia mencaci maki saya Bu. Saya masih diam." "Bohong Bu! Jangan percaya pada mulut penuh dustanya dia Bu!" sergah Bella kembali emosi. "Tenang Bela. Kita dengarkan dulu semua ceritanya." Ibu Mita menenangkan Bella dengan suara lembut. Seolah-olah dia sedang berbicara dengan putri cantik kesayangannya. "Lanjutkan!" pinta Ibu Mita, dengan nada dan ekspresi wajah yang sudah kembali menegang. "Saya masih mendiamkannya Bu. Sampai pada akhirnya Bela mulai mencaci maki Ibu saya." "Apa itu?" "Dia merendahkan Ibu saya." "Seperti apa?" "Saya tidak bisa menjelaskan Bu. Bahkan untuk mengulanginya saja saya tidak sanggup!" Suara Tiara mulai bergetar. "Kamu kalau mau mengarang, bukan disini tempatnya!! Kenapa setiap diminta memperinci suatu kejadian selalu tidak bisa??" "Saya tidak mengarang Bu. Saya bicara apa adanya." "DIAM!" sentak Ibu Mita, membuat Tiara sedikit tersentak. Tiara menelan ludah kasarnya, sedangkan Bella tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya Ibu Mita tidak mungkin memenangkan gadis kotor seperti Tiara. "Dia merendahkan Ibu saya Bu, mengatakan bahwa saya dan Ibu saya kotor." Tiara tertunduk, tetesan bening itu meluncur juga dari kedua bola matanya. Setengah mati dia menahan sedari tadi. Bahkan dadanya terasa sangat sakit, terhimpit oleh semua perlakuan tidak menyenangkan yang dia terima. "Merendahkan bagaimana? Apakah memang tidak rendah? Kotor seperti apa? Apa memang tidak kotor?" Pertanyaan Ibu Mita seperti sedang melecehkan Tiara juga. Tiara mengangkat kepalanya, menatap tajam Ibu Mita. Kali ini dia tidak perduli jika yang ditatapnya adalah seorang Guru BK yang bisa saja mengeluarkan surat rekomendasi Drop Out dari sekolah. "Dia memang rendah dan kotor Bu! Ibu tau, dia menuduh ayah Bella berbuat kotor juga. Dia menuduh Ayah Bella bejad Bu, bermain gila dengan wanita kotor seperti Ibunya." Bela mengadu. Seperti menyiram bensin ke dalam bara api yang tengah memanas. "Kau pun tidak suka orang tuamu di cela bukan? Lalu bagaimana dengan aku dan Ibuku!" jerit Tiara pada Bella. "DIAM Tiara! Jangan berteriak di depan Ibu! Kamu sangat tidak sopan. Apakah seperti ini pendidikan dari orang tuamu?" Tiara menggigit bibirnya hingga terasa perih, mencoba mengalihkan rasa sakit di dalam hatinya. Bagaimana lagi cara yang harus dilakukan agar semua keadaan itu berbalik mendukungnya. "Ibu, cukup. Tolong Bu, Tiara mohon. Jangan pernah memberi cap yang menyakitkan tentang Ibu saya. Ibu boleh mencela, menghujat saya seperti apapun. Tapi tolong jangan hina Ibu saya." Tiara menangis sambil memohon. "Ooo, sekarang kamu malah menuduh Ibu! Coba sekarang jelaskan, seperti apa Ibumu yang kamu agung-agungkan itu? Sesuci apa dia? Semulia apa dia?" cecar Ibu Mita dengan sangat tajam. "Dia seputih kapas bagi Tiara Bu." Ibu Mita berdecih jijik. "Apa pekerjaan Ibumu?" Tiara mendongak, menatap Ibu Mita yang memang sedari awal tidak suka padanya. Disana hanya ada pancaran kebencian dan penuh rasa jijik. Rasanya percuma jika dia meneruskan konseling yang tidak seimbang ini. Tiara membalikkan tubuh, pergi berlalu meninggalkan mereka semua yang ada di ruang BK. "Lihat Bu! Perhatikan bagaimana sikapnya. Gadis kotor, murahan! Sampah j4lang!!" jerit Bela. Tiara terus berlalu, yang dia inginkan saat ini adalah segera pergi dari ruangan sempit itu, bangkit dari kursi pesakitannya. Tak perduli apapun hasil keputusan dari Ibu Mita. Kalaupun harus menerima DO, Tiara sudah siap. "Berhenti Tiara! Dengarkan kalau Ibu sedang bicara!" Ibu Mita mencoba mencegah. "Tiara, ibu akan mengeluarkan surat rekomendasi DO kepada Kepala Sekolah untuk kamu, atas kekurang ajaran kamu!" gertak Ibu Mita. Semua kalimat Ibu Mita sia-sia saja. Tiara hanya berhenti sesaat, setelah mendengar ancaman itu, lalu melanjutkan sisa langkahnya menuju pintu. "Dasar anak sampah!" Ibu Mita kini diluar kendali, tidak mampu mengontrol amarahnya sendiri. Pikirannya panas bergejolak. Karena wanita seperti Ibunya Tiara-lah, rumah tangga manis miliknya harus rusak dan tak dapat dipertahankan. Seharusnya wanita seperti Ibu Tiara tidak pernah ada. Dan anak seperti Tiara tidak pernah dilahirkan. Karena bisa saja suatu saat Tiara akan mengikuti jejak Ibunya, menjadi penjaja tubuh bagi pria-p****************g yang tak mampu menahan nafsu. Seperti mantan suaminya. Merusak lebih banyak rumah tangga yang setengah mati di perjuangkan oleh pelaku bud4k kesetiaan seperti dirinya. "Seharusnya kamu tidak pernah ada!" Ibu Mita lepas kontrol, melihat sikap acuh Tiara. Diraihnya sebuah folder besar berisi penuh kertas-kertas yang terklip rapi didalamnya. Folder itu terangkat tinggi, kemudian terayun ke arah Tiara. Bersiap menyasar bagian belakang kepalanya. "Tiara!" jeritan Rayyan tertahan. Matanya terbelalak, tak percaya pada apa yang akan terjadi. ia menyaksikan semuanya dengan baik dari luar jendela. Rayyan berusaha membuka pintu untuk menggagalkan aksi Ibu Mita, tapi terlambat. Jaraknya lebih jauh. "IBUUU!" jerit Bela dan kawan-kawannya, ngeri melihat kemarahan Ibu Mita. Sedangkan Tiara tak menyadari apa yang sedang terjadi. Dia memutar tuas pintu untuk dapat segera meloloskan diri dari ruangan pengap itu, tak juga berhenti ataupun berbalik. Waktu berjalan begitu cepat dan ..., Buukk! Folder besar itu mendarat tepat di belakang kepala Tiara. Seketika tubuh gadis itu limbung, terjatuh tepat di depan pintu yang terbuka lebar. Disaksikan Ibu Mita, Bella dan Squad nya, Rayyan dan beberapa murid yang sedari tadi berkumpul diluar Ruang BK. Ingin mengetahui kelanjutan drama antara Bela dan Tiara, yang sejak tadi bergulat di depan kelas. Tubuh Ibu Mita seketika terkulai lemas tak menyadari hasil kecerobohannya. Ketidak mampuannya bersikap karena di kuasai amarah tak jelas. Pedahal Tiara tidak pernah mengatakan bagaimana Ibunya yang dituduh orang-orang sebagai manusia kotor. Ibu Mita memeluk Folder yang baru saja ia gunakan untuk memukul Tiara. Alih-alih membuat surat rekomendasi DO, kini dia yang harus menghadapi sidang dewan sekolah karena apa yang telah diperbuatnya. Bela menjerit ketakutan. Dia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Tiara, dan dia akan terseret, karena berada dalam satu ruangan saat kejadian. Murid-murid yang lain hanya bisa saling berbisik. Menyebarkan desas desus tidak jelas, tentang apa yang akan terjadi pada Tiara dan Ibu Mita kedepannya. Tiara masih terbaring di lantai yang dingin dan kotor bekas banyak kaki berlalu-lalang. Dia masih bisa merasakan sakitnya di kepala bagian belakang, dan rasa sakit dalam hatinya. Air matanya menitik, lambat laun pandangannya semakin redup, bahkan telinganya semakin tertutup. Rasa dingin menyerang ke sekujur tubuhnya, membuat tubuh itu terbujur kaku. Baguslah, seperti ini seharusnya Tiara sejak lama. Tak melihat ataupun mendengar apapun. Tak perlu dia merasakan penghinaan sesakit ini. Rayyan meraih tubuh Tiara. Kecemasan nampak jelas dari raut wajahnya. Digoncangkannya tubuh itu berkali-kali meminta reaksi. Tapi Tiara tidak memberi respon. Tangannya terkulai lemah. Rayyan berlari membawa tubuh lemah itu. Di cegatnya setiap kendaraan yang melintas, berharap dapat tiba di rumah sakit terdekat secepat mungkin. "Tiara, kumohon kuatlah!" jerit hati Rayyan meminta. Tubuh Tiara sama sekali tak memberi respon apa-apa. Hanya nafasnya kian melemah. Semoga tidak terjadi apa-apa, semoga tidak ada luka berarti karena benturan itu. Rayyan pun tidak yakin, apakah yang dilakukannya benar. Selama ini dia menemani Tiara hanya dalam diam. Tak pernah ikut campur sejauh ini. Tapi kali ini hatinya berkata bahwa dia tidak bisa tinggal diam. Perlakuan Bara, penghinaan Bela, bahkan pelecehan Ibu Mita, semua sudah melewati batas. Rayyan berjanji di dalam hati. Jika diperlukan, dia akan bersaksi di Sidang Dewan Sekolah nanti. Dia ingin, sekali saja membela Tiara dengan sungguh-sungguh. Meskipun dia tidak pernah tau, wanita seperti apa Tiara. Wanita seperti apa Ibunya. Dan lingkungan seperti apa yang membesarkan dan mendidik Tiara. Baginya Tiara masih tetap manusia, berhak diperlakukan dengan adil. Apapun yang semua orang katakan, tidak pernah sedikitpun Rayyan ambil pusing. Baginya Tiara adalah murid yang baik dan cerdas. Rayyan tak tertarik dengan kehidupan lain milik gadis itu jauh lebih dalam. *** Epilog Seorang anak remaja laki-laki berlari-lari di lorong UGD, menggendong tubuh seorang murid perempuan ala bride style. Mereka masih menggunakan seragam putih abu. Wajahnya penuh cemas dan khawatir. Entah apa hubungannya antara kedua insan itu. Dia terus berlari dan berteriak mencari dokter dan perawat yang bertugas. Tak menghiraukan banyaknya pasang mata memperhatikan sejak tadi. Dia mulai panik, karena tanpa disadari, ternyata di belakang kepala perempuan itu mengeluarkan darah yang tidak sedikit. Bahkan noda itu membekas di seragam putihnya. "Dokter, perawat! Tolong dia. Tolong dia!" jeritnya panik. Di jemputnya dokter dari tempatnya duduk. Berharap dapat memberikan pertolongan secepatnya. "Pasien kenapa?" seorang Dokter jaga dengan sigap memeriksa pasien darurat yang baru saja tiba itu. "Pingsan Dok!" jawabnya dengan nafas terengah-engah. tubuhnya telah basah oleh peluh. Ia tidak menyadari, entah berapa jauh dia menggendong tubuh itu. Yang dia rasakan saat itu hanya nyeri kram di bahunya, dan letih yang tak dapat dilukiskan. "Sebab pingsan?" tanya dokter sambil terus memeriksa tanda vital pasien. Murid laki-laki itu terdiam, tak mampu berkata. Bingung harus berucap apa. "Sebab pingsan?" Dokter mengulangi pertanyaannya. Dia tersentak mencoba memberikan jawaban sesuai dengan kejadian. "Kepala terbentur Dok!" "Kepala!?" Dokter memeriksa bagian kepala. Berdarah! Dokter berteriak kepala perawat lain untuk memeriksa lebih Seksama. "Terbentur apa?" "Ah?" Dia sungguh tak mampu menjawab pertanyaan itu. "Tolong selamatkan dia, Dok!" pintanya. Para petugas medis itu terus sibuk memberi tindakan yang diperlukan, sedangkan remaja laki-laki itu terduduk lesu, menemani disamping brangkar ruang UGD. Semoga semua baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN