Tubuhku terasa membeku, aku melirik Mas Robi yang duduk ditepi ranjang dengan pandangan lurus mengarah, Dimas.
"Akhirnya kau datang juga ...."
Mas Robi bangkit dari duduknya, kakinya menyentak pakaianku yang tercecer di atas lantai.
Dimas menatapku lemas, sorot matanya meminta penjelasan.
"Apa istrimu tidak seliar Naomi, hingga kau mengkhianatinya?" Mas Robi perlahan melangkah mendekati Dimas, yang menatapnya penuh amarah.
"Apa aku harus mengajari istrimu? Cara memuaskan nafsu suaminya?" lagi Mas Robi berkata. Memancing emosi, Dimas.
"Tutup mulut busukmu!" sembur Dimas dengan mata memerah.
"Kenapa? Apa ucapanku ada yang salah?"
Kini wajah mereka saling berhadapan, mata mereka saling beradu tajam. Membuat suasana semakin mencekam.
Aku hanya bisa berdiri di tempat, menyaksikan pertikaian mereka.
"Jawab. b******n!" Mas Robi mencengkram kerah Dimas, pun sebaliknya.
Bugh!!
Satu bogem mentah mendarat telak di wajah Mas Robi, membuatnya mundur beberapa langkah.
"Jangan mencampuri urusanku!" sengit Dimas.
Mas Robi terkekeh kecil sambil menyeka sudut bibir yang mengeluarkan sedikit darah. Tangannya terkepal dengan sekali hentak dia bangkit, dan membalas memukul Dimas.
"Bajiangan!"
Bugh ... bugh!
"Cukup Mas ... jangan pukul dia," aku berlari mencoba menghalangi serangan Mas Robi yang kesetanan menyerang, Dimas.
Namun bukan berhenti, Mas Robi malah mendaratkan pukulan di wajah dan tubuhku.
"Perempuan sialan, menjijikan. Cuihh ..." Makinya sambil mendorong tubuhku kencang, hingga badanku terbentur tembok.
Rasa sakit dan perih, langsung membekas di setiap inci tubuhku. Badan begitu lemas, dengan tangan terulur mencoba meraih tangan Dimas. Nafas ini tersenggal, memandanginya yang meringkuk di tendangi suamiku.
Mas Robi memukul dengan membabi buta, membuat Dimas kewalahan menghadapi serangannya. Mas Robi memang pandai dalam pancak silat, dia pernah mendapatkan penghargaan dari seni bela diri itu.
"Dengar!" ucap Mas Robi dengan nafas tersenggal. "Hidupmu dalam pengawasanku, silahkan kau nikmati hubungan ini. Dengan segala akibatnya!" tegasnya sambil kembali melayangkan kaki tepat mengenai wajah, Dimas.
"Argh!"
Dimas menjerit kesakitan, wajahnya basah oleh cucuran darah yang mengalir dari keningnya.
Mas Robi tersenyum puas kearahku, lalu berjalan keluar sambil membanting pintu dengan keras.
Kurang ajar. biadap!
Aku bersumpah, akanku balas perbuatanmu secepatnya!
Tubuhku merangkak mendekati Dimas, dia masih sadarkan diri saat aku mengambil kepala dan menaruhnya di pahaku.
"Perngorbanan kita, tidak boleh sia-sia. Kita harus bahagia setelah ini," bisikku lirih di telinganya.
***
Dengan bantuan scurity apartemen, aku membawa Dimas kerumah sakit. Rasa perih dan sakit yang tergores ditubuhku lenyap begitu saja, saat melihat kekasih hatiku terbaring tak berdaya.
Aku sanderkan badan di bangku samping ranjang tempatnya berbaring, memandang lekat wajah yang penuh luka itu. Hatiku begitu pilu melihatnya seperti ini.
Dimas ... maafkan aku, aku berjanji akan selalu ada di sisimu.
Dengan pelan aku ambil telapak tangan Dimas, lalu menciumnya penuh cinta. Berharap sentuhanku menjadi penguat untuk kesembuhannya. Perlahan mataku terpejam, dengan tangan masih menggenggam tangannya.
"Sayang ..." suara serak terasa jauh terdengar. Aku mencoba membuka mata walau pusing begitu terasa di kepala.
"Dimas?" ucapku saat mendapatinya sudah membuka mata.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dimas khawatir.
Aku terhenyuh mendengar kalimatnya, dengan keadaan seperti ini. Dimas masih saja khawatir padaku.
"Ya ... aku tidak apa-apa," sahutku dengan senyum yang mengembang.
Walau keadaanku sendiri belum bisa dibilang baik-baik saja. Namun aku harus menepis itu semua, aku tidak mau menjadi beban pikirannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dimas dengan mata meneduhkan.
"Tidak apa-apa ..." jawabku sambil menggelengkan kepala. Dadaku terasa sesak mengigat kejadian itu.
"Tidak usah takut ... ayo cerita, aku mau tau?" cecar Dimas sambil meraih tanganku dan menciumnya.
Perlahan aku menarik nafas dalam, menatapnya dengan lekat.
"Saat ... aa aku menunggu kedatanganmu, tiba-tiba dia datang dan mengacaukan semuanya," jawabku dengan mata yang terasa panas.
"Dia menjamahku, seperti perempuan hina dan menjijikan!" ucapku dengan badan terguncang hebat.
Dimas meraih tubuhku, lalu menyandarkan kepalaku didada bindangnya. Membuat tangisku semakin menjadi.
"Robi harus membayar semua kesalahannya. Kita harus menyusun rencana, untuk membalas perbuatannya."
Dimas mengeratkan pelukkannya, bisa kurasa dia menciumi pucuk kepalaku. Membuat rasa nyaman mengalir begitu saja.
"Kau harus menceraikannya," bisik Dimas di telingaku.
"Dia tidak mau menceraikanku," sahutku lemas. Dimas melonggarkan pelukan, menatapku dengan expresi bingung.
"Dia bilang ... akan menceraikanku saat aku sudah terkena gangguan jiwa," terangku lemas mengigat ucapan Mas Robi, yang terngiang di kepala.
Dimas tersenyum miring mendengar penjelasanku. Wajahnya nampak berpikir keras.
"Kita harus membuat strategi untuk menyingkirkannya. Ikuti saja dulu permaian dia, aku pasti akan membantumu." ucap Dimas sungguh-sungguh.
Aku menganggukan kepala, menyetujui perkataannya.
Suara gawai mengganggu moment romantis kami. Dengan terpaksa, aku melepas pelukan Dimas dan meraih gawai yang ada didalam tas.
"Siapa?" tanya Dimas, saat aku terpaku membaca nama penelpon yang ada dilayar pipih.
"Papahku ..." jawabku.
"Angkat saja, siapa tau penting," titah Dimas.
Aku mengangguk lalu menggeser tombol hijau.
"Iya, Pah?" ucapku sambil menempelkan gawai di telinga.
"Ada dimana kamu?" sahut Papah dengan nada tinggi, membuatku menautkan alis.
"Mimi ada dirumah sakit, Pah."
"Cepat kerumah Linda sekarang!" ketus Papah sambil memutuskan panggilan.
Aku mendesah cemas, ada apa ini? Kenapa Papah bersuara ketus padaku. Biasanya Papah selalu lembut saat bicara padaku.
Apa Linda membocorkan masalah ini?
Atau Mas Robi sendiri yang mengadu pada Papah?
Ah ... dasar manusia bermulut sampah. Tidak puaskah melihat aku sakit seperti ini.
***