Bab 10 - Licik.

797 Kata
Aku menyambar tas diatas nakas, lalu berjalan mendekati, Dimas. "Sayang ... aku keluar sebentar ya." pamitku sambil mencium pipinya sekilas. "Mau kemana?" tanya Dimas, tangannya menahan lenganku. "Ini ... disuruh kerumah Kak Linda sama, Papah." jelasku dengan senyum tipis. "Jangan lama ya, aku cepet kangen soalnya," ucap Dimas dengan senyum nakal, membuat bibirku melengkung malu-malu. "Kamu tidak ngabarin keluarga atau siapa gitu?" tanyaku kemudian. Aku khawatir meninggalkan Dimas sendiri dirumah sakit. "Entahlah ... lihat nanti saja," jawabnya sambil menjawil hidungku. "Aku jalan dulu ya ...." "Iya ... hati-hati ya," ucap Dimas dengan senyum yang mengembang. Kubalas dengan anggukan kecil. *** Melajukan mobil kerumah Linda, hatiku sedikit was-was mengingat suara Papah yang terdengar tidak bersahabat. Sepanjang jalan aku menerka-nerka, apa yang membuat Papah seperti itu. Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Linda. Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan, berharap bisa menenangkan hati yang sedikit gelisah. Kaki melangkah pasti, degup jantung semakin kencang saat memasuki rumah, Linda. "Asalamuallaikum ..." ucapku saat memasuki rumah yang pintunya terbuka lebar. Suara ramai kompak menjawab salamku, nafasku seakan sesak saat mendapati Mas Robi tengah duduk di antara Papah juga Mamahku. "oh ... s**t!" gumamku sebelum melangkahkan kaki. Semua mata tertuju padaku, dengan wajah yang terasa memanas aku berjalan mendekati orang tuaku. Wajah Papah terlihat datar, berbeda dengan Mamah yang memandangku dengan raut khawatir. Hati mengatakan akan ada sesuatu yang tidak baik terjadi. Aku mengambil tempat di samping Mamah, Mamah terlihat senyum samar lalu melempar pandangan kelain tempat. "Dari mana kamu?" tanya Papah dengan nada ketus tanpa melihat kearahku. "Abis jenguk teman dirumah sakit," jawabku sedikit gugup. "Teman?" Papah mengulang kalimatku, kali ini matanya menyorot menatapku. "Iya, Pah." sahutku dengan hati yang tidak karuan. "Teman atau selingkuhanmu?" Tubuhku membeku, Papah melihatku dengan tatapan mengintimidasi. Membuatku kesusahan menelan saliva. "Teman, Pah." ucapku mencoba membantahnya. Papah menghela nafas berat, matanya terpejam dan menyandarkan badan di senderan sofa. "Mi ... Papah, tidak pernah mengajarimu berbuat culas." ucap Papah, matanya masih terpejam, tangannya memijit kening dengan pelan. Aku bergeming, bingung memulai kata. Sementara Mas Robi menatapku dengan senyum kemenangan. Ahh ... sudah pasti ini adalah ulahnya, dasar suami pengadu. Pecundang dan tidak punya perasaan! "Mi ... apa yang terjadi," Papah menatap bola mataku, hatiku seakan tercubit. "Dari mana kamu mendapat luka lebam diwajahmu?" Mamah menatapku cemas. Aku meraba wajah, goresan dan lebam memang belum hilang dari wajahku. "Maafkan saya, Pah ... saya khilaf. Saat itu ... saya terbawa emosi," sahut Mas Robi, mencari muka. Dasar b******n! Mataku terpejam mendengar penuturannya. Papah terdengar menghela nafas. Raut kecewa jelas sekali terlukis di wajahnya. "Bisa kamu jelasin semua ini ...." Papah menyodorkan foto diatas meja, ada gambarku juga Dimas disana. Membuat nafasku berhenti seketika. "Astagfirulloh ... Mi." Mamah nampak kaget, tangannya mengusap d**a beberapa kali sambil menyebut nama Tuhan. "Tega sekali kau melempar kotoran dimuka Papah, Mi ..." ucap Papah sendu. kedua tangannya meremas rambut kepala. Aku hanya diam dan menundukan pandangan. "Bisa-bisa nya, kamu berbuat hina seperti ini." Lagi, Papah berkata. Sementara Mamah hanya diam dengan isakan kecil yang sesekali terdengar. Linda datang dengan beberapa cemilan diatas nampan. Matanya menatap kecewa kepadaku. "Sekarang semua keputusan ada di tangan Robi, terserah mau dibawa kemana hubungan pernikahan kalian." ucap Papah frustasi. "Saya ... masih mau mempertahankan pernikahan ini, Pah." sahut Mas Robi, membuat Papah seketika menoleh kearahnya. "Maksud nya?" tanya Papah, mungkin Papahku bingung dengan ucapan Mas Robi. Yang terkesan memaafkanku, namun dibalik semua itu, sudah pasti rencana jahat sudah tersusun diotaknya. Dasar munafik! "Saya memaafkan ke khilafan Naomi, Pah. Kasihan Quena jika orang tua nya bercerai. Saya takut mentalnya jadi terganggu," terang Mas Robi yang disambut dengan anggukan kepala oleh Papah. Mata tua itu terlihat berbinar mendengar ucapan, Mas Robi. Berbeda denganku yang menjadi gelisah mendengarnya. "Kamu dengar itu, Noami? Suamimu masih bisa memaafkanmu. Papah harap, kamu bisa intropeksi diri dan tidak mengulang kesalahan yang sama." ucap Papah dengan pandangan lurus kearahku. Ingin sekali aku membantah ucapan Papah, namun mata sendu Mamah mengurungkan niatku. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Mamah, mengingat dia memiliki riwayat sakit jantung. Ahh ... apa yang harus aku lakukan, hidup berdampingan dengan Mas Robi bukan sesuatu yang menyenangkan. Sebelum perselingkuhanku terbongkar saja, dia selalu bersikap dingin padaku. Apa lagi sekarang, saat dia sudah mengetahui semuanya. "Mi ... cium tangan suamimu, dan minta maaflah. Hapus semua masalah yang kemarin, dan kembali pada keluarga kecilmu." titah Papah. Mamah menggenggam tanganku, memberi isyarat untuk menuruti perintah Papah. Dengan berat hati, aku berjalan mendekati Mas Robi. Mengambil tangannya lalu menciumnya sekilas. "Maafin aku, Mas ..." lirih suaraku, tak ikhlas mengucap kata maaf. Mas Robi menatapku dengan senyum tipis, satu tangannya menyelipkan anak rambut ditelingaku. "Iya ... Mas memaafkanmu. Mari kita mulai semuanya dari awal." ucapnya begitu manis. Namun terasa mengerikan di telingaku. Mas Robi menyerigai kearahku, membuat aku bergidik melihatnya. Membayangkan rencana jahat, yang akan dia mainkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN