Pov Tisya
Nafas Mas Dimas begitu panas menerpa wajah, matanya memerah dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya seakan ingin menelan tubuhku bulat-bulat.
Sosoknya yang lemah lembut dengan pandangan sendu, yang mampu mencuri hati, kini lenyap begitu saja. Berganti dengan sorot amarah yang tersiat dalam matanya.
Cengkraman pada rambutku semakin kencang, terasa panas dan perih diseluruh kepalaku.
"Lepas ... atau kujebloskan kau kedalam penjara." lirihku bersuara.
Mas Dimas membesarkan kedua matanya, mengenduskan nafas kasar diwajahku.
"Berani kau melawanku?" tanyanya sengit dengan gigi yang beradu nyaring.
"Mau jadi istri durhaka rupanya!" sambungnya penuh amarah.
"Kau bukan suami yang baik, yang harus kuturuti keinginannya." sahutku lantang.
"Berengsek!" maki Mas Dimas, sambil menghempaskan tubuhku diatas lantai.
Bergetar seluruh tubuhku, namun tidak sebanding dengan hati yang sudah berdarah-darah ini.
Mas Dimas mencengkram rambutnya sendiri, berjalan kesana kemari dengan gusar.
"Ceraikan aku." ucapku kemudian, membuatnya menghentikan activitas.
Mas Dimas mendecih sinis, lalu mendekatiku. "Sudah siap menjandi janda?" tanyanya dengan senyum mengejek.
"Itu lebih baik, dari pada hidup dengan manusia bermaksiat sepertimu!" jawabku sengit dengan nafas yang masih terengah.
"Kau fikir selama ini aku bertahan karna takut menjadi janda?" Mataku menyorot tajam ke arahnya.
"Kau salah besar jika berfikir seperti itu. Aku bertahan hanya untuk anak-anak dan berharap kau bisa berubah dan menyesali perbuatanmu." aku menghentikan kalimat, mengatur nafas yang kian terasa mencekik.
"Tapi bukan berubah, kau malah semakin menjadi-jadi. Bahkan semakin dingin terhadapku! Aku rasa rumah tangga ini sudah tidak sehat untuk diteruskan, aku tidak sanggup memisahkan kalian berdua!" teriakku dengan lelehan air mata.
Mas Dimas menatapku garang, dengan tangan terkepal kuat. Dia berjongkok tepat dihadapanku, tangannya meraih dagu dan mengangkat kepalaku membuat mata kami beradu.
"Kau terlalu banyak menuntut, tidak sadar dengan kekuranganmu sendiri. Kau bahkan tidak membiarkan aku bahagia bersama Naomi sebentar saja. Dasar istri tidak tahu diri!" Mas Dimas menghempas wajahku kasar, lalu kembali berdiri tegak.
Nada bicaranya begitu pelan dan lembut, namun mampu membuat hatiku teriris pilu. Nafasku semakin tercekik terngiang ucapannya.
"Mulai malam ini, kau bukan istriku lagi!" ucap, Mas Dimas membuat tubuhku lemas seketika.
Walau ini memang keinginanku, namun rasa perih tetap menjalar disetiap sudut hatiku.
"Kemasi semua barang-barangmu, besok pagi kau harus pergi dari sini."
"Jangan berani membawa anak-anakku, besok pagi Ibuku akan datang kesini dan mengurus semuanya," sambungnya sambil melangkah keluar rumah.
Air mataku tumpah seiring suara deru mobil yang menjauh dari halaman. Tubuhku bergetar hebat dengan isakan menggema disetiap sudut rumah. Takku pedulikan jika ada orang yang mendengar suara pilu ini, dadaku terlalu sesak jika harus ditahan sendirian.
Dengan tubuh bergetar dan jalan sempoyongan aku menutup pintu dan menguncinya. Kulangkahkan kaki menuju kamar mengemasi pakaian dan barang penting milikku. Lalu berjalan kekamar anak-anak, dan melakukan hal yang sama.
Tentu saja aku akan membawa dua buah hatiku, tidak rela jika harus diurus oleh manusia kotor itu. Anakku terlalu suci jika harus tersentuh oleh tangannya.
Kupeluk kedua tubuh mungil anakku, mereka adalah penyemangatku. Akan aku lakukan apapun untuk terus bersama dengan mereka.
Mata kembali memanas, sudah hampir pukul 02:00 namun mata belum jua bisa terpejam. Melangkahkan kaki menuju toilet, membersihkan diri lalu bersimpuh dihadapan Rabbi-Ku. Hanya kepada-Nya lah aku menyerahkan semua kehidupanku, kupasrahkan diri ini dan meminta kekuatan agar aku bisa dengan tegar menghadapi segala ujian.
***ofd
"Kita mau kemana, Bund?" Tanya Keysa, Putri sulungku yang berusia enam tahun.
"Mau kerumah Nenek," sahutku riang, sambil memasang sepatu pada Arsha, Putra kecilku yang berusia dua tahun.
Mata Keysa berbinar, mendengar ucapanku. Keysa langsung melahap sarapannya dengan cepat mendengar aku menyebut nama Neneknya.
"Ayah, tidak pulang lagi Bund?" Keysa kembali bertanya soal Ayahnya yang memang jarang sekali pulang kerumah, dan itu membuat hatiku kembali berdenyut nyeuri.
"Belum sayang, Ayah masih banyak kerjaan," sahutku tenang.
"Sekarang Ayah sibuk terus ... kesel aku." rungutnya sambil meneguk air putih didalam gelas.
"Ya sudah ... yuk kita berangkat." ajakku saat semua sudah siap.
Kupasang sabuk pengaman pada Keysa dan Arsha dipangku oleh Bik Darsih, asisten rumah tanggaku di jok belakang. Dengan mengucap Bismillah ... aku lajukan mobil menuju rumah orang tuaku. Hanya mereka tempatku berpulang dan aku yakin kedua orang tuaku mendukung keputusanku.
Aku rasa perjuanganku sudah cukup untuk mempertahankan semua ini.
Dan aku ... tidak mau hidup dalam luka yang terus tergores, jika harus tetap bertahan dalam hati yang semakin tercabik-cabik.
***Ofd