"Sayang, ayo bangun!" kata Bunga sembari mengusap kepala putranya. Matanya terlihat berbinar tatkala mengetahui bahwa Luka, sama sekali tak bergerak demi menjaga kenyamanan adik, serta mamanya ketika terlelap. 'Kamu benar-benar anak yang baik, dan kuat, Luka.' Binar kesulitan menelan air liurnya, karena batang hidung itu terasa perih. "Mama?" "Iya," jawab sang mama yang terus memuji putranya, tanpa suara. "Sudah pagi ya, Ma?" "Iya, Sayang. Kamu tunggu di sini dulu ya! Mama ingin membelikan sarapan untuk kalian." "Biar Luka aja, Ma." "Jangan, Sayang! Kamu kan tidak tahu daerah sini." "Memangnya, Mama tahu?" "Bunga mengangguk dalam senyum. " Tentu saja. Dulu, Mama kuliah di sekitar sini." "Waaah ... Luka juga mau, Ma. Kuliah di sini." "Tentu saja, Nak. Doakan saja, supaya rezekinya

