Setelah sukses membayar uang sekolah adik, serta memenuhi kebutuhan obat mamanya. Luka berniat untuk berangkat bekerja, pagi-pagi buta. Ia ingin memulai hari dengan pekerjaan di bangsal kayu, di mana ia mendapatkan rezeki tambahan sore itu. Sambil memasang wajah ceria, dan hati yang dipenuhi semangat. Luka menatap sendal yang diberikan untuk dirinya. Bagi Luka, alas kaki ini sangat bagus. Ia pun memutuskan untuk menukarnya dengan milik Luke. Senyum manis itu terukir jelas. Ada yang mampu membuatnya lebih bahagia, yaitu ketika mampu memberikan lebih kepada adik semata wayangnya. Luka benar-benar menyayangi Luke, bahkan lebih dari pada dirinya sendiri. Perjalanan pun dimulai. Ketika semua orang masih menikmati ketenangan, dan kehangatan sebuah keluarga. Bocah ini malah sudah harus mengatu

