Di balik tubuhnya yang mungil, serta tulang belulangnya yang masih rapuh. Luka ingin menjadi manusia yang pada kelahirannya, semua orang menyambut dengan tawa bahagia. Walaupun di dalam jiwa, hanya dirinya sendiri yang menangis. Si bocah juga mau pada kematiannya, semua orang menangis sedih, tapi hanya dirinya sendirilah yang tersenyum. Sebab, puas sudah melakukan semua hal baik dan hebat, untuk adik, serta mamanya. Setelah mendapatkan rezeki yang tak disangka-sangka, Luka tersenyum dengan wajah berbinar. Dadanya pun tampak busung, seolah ia tengah bangga pada dirinya yang mampu memenuhi kebutuhan orang-orang yang ia cintai. Sambil mencium lembaran berharga, Luka berdoa kepada Tuhan. Ia berharap, orang baik seperti juragan kayu yang selalu membantunya ini, diberikan semua kebaikan, dan

