Senyum Luka

1425 Kata

Sepasang kaki tanpa alas, menyisir jalanan kota, sembari menenteng karung beras ukuran besar. Matanya menelisik tajam ke setiap sudut kursi, dan tempat sampah di mana sumber rezekinya bisa saja berserakan. Sejak enam bulan terakhir, Luka memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan mengumpulkan barang bekas, kardus, dan botol sisa air minum yang sudah tidak digunakan lagi. Harga jualnya memang tak seberapa. Tetapi bagi Luka, rezeki ini masih cukup untuk mengganjal perut, dan membayar uang sekolah adiknya. Harapan itu tak pernah sirna, seperti sinar mentari di pagi hari. Apalagi ketika guru mengatakan bahwa Luke akan mendapatkan beasiswa ketika menuju ke bangku Sekolah Menengah Pertama nanti. Hal itu membuat Luka terus sangat untuk bekerja keras. Sedikit lagi, kata Luka terus memompa semangat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN