Ruang tamu keluarga Leo benar-benar kaku dan dingin, sofa empuk berwarna maroon itu kini terisi penuh dengan orang-orang yang canggung satu sama lain. Padahal cuaca diluar sangat cerah karena sinar matahari yang tak malu-malu menunjukkan kuasanya sebagai sumber utama kehidupan. Semilir angin yang berhembus diluar rumah menyelinap masuk dari pintu utama yang terbuka lebar. merangsang kulit manusia yang menyamai patung. Manusia-manusia itu adalah dua keluarga yang berkumpul, terdiri dari dua pasang suami isteri dan satu anak perempuan dan laki-laki. Keluarga Leo dan Kris lebih tepatnya.
Angel dan Thalia yang berperan sebagai seorang Ibu saling bertatapan canggung. Berbicara lewat mata mereka. Sedangkan Leo dan Kris sama-sama menatap kosong apa saja yang ditangkap indera penglihatan mereka. Berbeda dengan para orang tua, Elmarc tak berhenti melayangkan tatapan tajamnya kepada seorang gadis yang duduk ditengah antara Leo dan Angel. Jangan ditanya betapa takutnya Tarisa saat ini. bukannya tidak peka ia ditatap tajam oleh Elmarc, ia sangat peka sehingga ia menghindari kontak mata dengan pria itu dengan cara menyibukkan diri menatap sekitar.
Entah sampai kapan kedua keluarga itu hanya diam tanpa ada yang memulai. Kaki Angel tak berhenti bergerak mengetuk lantai menimbulkan sebuah tempo. Tak tahan lagi, akhirnya Angel memulai percakapan dengan basa-basi.
"Diminum tehnya, Kris, Thalia, El." ucapnya,
Kini giliran Thalia yang bersuara, "Makasih ngel, tapi niat kami sekeluarga kesini karena ada yang mau diomongin."
Akhirnya...
Kris maupun Leo sangat bersyukur karena pembicaraan utama mereka berkumpul mengalami kemajuan. Kris memulainya dengan menarik napas dalam lalu menghembuskannya keras.
"Sebelumnya maaf Leo atas perilaku Elmarc. El cepetan ngomong sama om Leo tujuan kamu kemari." Ucap Kris kepada putranya.
Untuk sesaat El terpaksa mengalihkan pandangannya dari Tarisa kepada Leo. Tak malu menatap mata Leo karena wajahnya babak belur El memulai obrolannya. "El mau minta maaf sama om Leo dan tante Angel. El tahu perilaku El kelewat batas dan mungkin susah buat dimaafin. tapi jujur om, El gaada niatan buat nyakitin Tarisa. El bener-bener nyesel sudah nyakitin Tarisa sampai bikin dia nangis. Om Leo tahu El peduli ke Tarisa dari kami masih kecil sampai sekarang. El khilaf karena marah dan gabisa kontrol emosi El saat kami bertengkar kemarin. El sayang Taris om. Sekali lagi El minta maaf sebesar-besarnya. El gaakan ngelakuin hal ini lagi. El berani jamin kalau ini adalah pertama dan terakhir." Jelas El panjang lebar.
Leo dan Angel yang mendengarnya sedikit melunak. Berbeda dengan Tarisa yang tak berhenti mengumpat. Ia bertanya-tanya, topeng mana lagi yang El gunakan untuk mengelabui keluarganya? Menahan marah Tarisa meremas rok hitam selutut yang ia kenakan saat ini. Ia tidak boleh lepas kendali jika tidak ingin rencananya untuk pergi dari hidup El gagal. Yang terpenting saat ini tidak perlu melakukan kontak mata dengan pria gila itu.
"Apa yang kalian ributkan hingga terjadi hal seperti ini? Ini pertama kalinya."
"Masalah yang gak bisa El ceritain om. Masalah kita berdua. El harap om ngerti."
"Baiklah El, kali ini om maafin kamu. Tapi om mau minta kamu jaga kepercayaan om buat jaga Taris. Om harap kamu tidak mengecewakan om."
Senyum terukir diwajah El, "Iya om pasti."
"Ke Taris belum minta maaf." Ketus Kris. El kembali menatap gadisnya yang masih enggan berkontak mata dengannya. Mungkin dia sudah ketakutan akan kemenangan yang El dapat. El masih mendapat kepercayaan dari orang tuanya gadis itu.
"Taris, maafin kak El ya, kak El janji gaakan ngulangin hal itu lagi." Ucap El lembut. Rasanya Taris ingin meludah ke wajah El, mantan kekasihnya yang sudah ia putusi secara sepihak.
"Iya gapapa kak, maafin Taris juga yang udah buat kakak marah." Ucap Taris tanpa mau bertemu tatap dengan El. Ia mengatakan kalimat itu dengan terpaksa. Tentu untuk menyudahi masalah yang sangat memuakkan bagi dirinya. Taris sudah sangat muak dengan hal yang berhubungan dengan El.
"Om Kris sama bunda Thalia juga maafin Tharis, Tharis udah bikin Om Kris sama kak El berantem." Ucap Tharis menatap kedua orang tua El yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri.
Kris menghela napas hingga kemudian tersenyum manis kepada Tarisa. Anak sahabatnya yang sudah ia anggap anaknya sendiri karena ia tak punya anak perempuan itu benar-benar gadis yang sangat polos. Tidak heran anaknya El mudah untuk membodohi gadis tak tahu apa-apa itu. Kris menghampiri Tarisa, menarik berdiri gadis itu dan memeluknya erat. "Harusnya om yang minta maaf sama kamu sayang." Ucap Kris.
Taris membalas pelukan Kris, memang Kris tampak sangat galak namun teman ayahnya ini selalu menyalurkan rasa aman pada diri Tarisa. Andai El sama seperti ayahnya, mungkin Taris tidak akan sekesal itu kepada El. Andai El tidak menganggapnya remeh, andai El bisa lembut dan sedikit memberi kebebasan kepada Taris, ia tidak akan merasa tidak nyaman kepada El.
"Taris mau ke kamar dulu ya Om, Bunda."
"Iya sayang, kamu butuh istirahat. Sekali lagi maafin anak Om ya, kamu kalo diapa-apain sama El bilang sama om aja langsung. Om akan kasih pelajaran sama dia." Balas Kris.
"Iya Om."
Tarisa pamit meninggalkan ruang tamu. El? jangan ditanya seperti apa tatapan elangnya yang memperhatikan Tarisa yang berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Melihat Tarisa tidak menatapnya sama sekali membuat amarahnya tak terbendung. Kenapa Taris semakin berani padanya? Dimana Tarisa yang ia punya dulu?
"Tante, Om, El boleh bicara berduas sama Taris?" Tanya Taris, dan semua orang pasti tahu jawaban kedua orang tua Taris. Dengan senyumnya El berucap terimakasih hingga kemudian pergi meninggalkan ruang tamu. Membiarkan para orang tua mengobrol atas apa yang ia perbuat. El tak menyesal, karena yang ia dapat lebih parah dari apa yang ia perbuat. Seharusnya yang meminta maaf adalah Taris bukan dirinya. Mungkin El sudah mulai tidak waras karena sikap Taris terhadapnya.
Pintu kamar Taris tidak terkunci, membuat ujung bibir El tersungging. Tanpa mengetuk, tanpa mengucapkan permisi El masuk dan menutup pintu pelan. El melihat Taris termenung menatap luar jendela kacanya. Penasaran dengan apa yang dipikirkan gadis itu, El langsung memeluk tubuh mungil Taris dari belakang. Tentu saja Taris terkejut sekaligus ketakutan.
"My Girl." Bisik El.
"Kakak ngapain disini?" Tanya Taris bergetar takut.
"Nyamperin cewe yang kemarin mutusin gue." Balas El serak.
"Lepasin Taris.."
Bukannya melepas El semakin mengeratkan pelukannya. Ia menumpukan dagunya pada pundak Taris, mencium lembut pundak itu. Hal itu membuat Taris merinding, apa lagi yang akan di lakukan El? Taris sangat was-was. Benar saja, setelah beberapa detik mencium lembut pundak Taris, El malah menggigit pundak itu membuat Taris reflek berteriak. Seolah tahu akan berteriak El langsung membekap mulut Taris. Hanya air mata yang kini Taris keluarkan karena gigitan El sangat keras.
Tahu Taris tidak lagi berteriak El melepaskan bekapan tangannya, saat itu juga Taris bersuara, "Sakit kak.." Ringis Taris mengeluarkan air mata menahan perih di pundaknya.
El membalikkan tubuh Taris, menatap mata berair gadis itu. Taris bisa melihat jelas wajah El yang babak belur, ia tidak tahu kenapa Kris tega melakukan hal itu kepada El. Satu sisi Taris bersyukur El mendapat luka lebam itu, namun disisi lain ia merasa kasihan kepada El.
"Jangan pernah berpaling dari gue. Lo itu punya siapa gue tanya?"
Taris diam, ia tak menjawab meski mereka masih saling bertatapan. Ia benci saat El mengklaim dirinya, ia benci hal itu. Apa El tidak tahu bahwa Taris terkurung? Dari kecil Taris tak pernah bebas bermain dengan siapa saja, Taris tak pernah punya teman selain El. Belum lagi aturan ini dan itu yang harus Taris patuhi. Ia hidup di dalam penjara setiap harinya.
"Taris pengen bebas kak.." Ucap Taris lirih.
"Kalo lo bebas, lo seenaknya. Lo pasti semakin jadi pembangkang." Balas El.
"Kenapa Taris kak?"
"Karena dari awal lo punya gue." Balas Elmarc.
"Taris capek.. Taris mau bebas berteman sama siapa aja, Taris mau bebas ngapain aja tanpa harus ada kak El di dalamnya. Taris mau terbebas dari kakak."
"Dengan lo temenan sama Tasya, Lo udah gue beri kebebasan."
"Apa ini gak keterlaluan? Kakak bisa seenaknya bergaul sama siapa aja, sama kak Arsy yang ganjen sama kakak. Sedangkan Taris? kakak ngebatasi ini dan itu. Kakak egois."
"Disini yang harus nurut itu lo, bukan gue."
"Kakak Gila!"
"Itu lo tahu."
"Taris benci."
"Jangan ucapin kata laknat itu dari mulut lo!"
"Taris benci kakak."
Lelah dengan ocehan Taris, El mendorong tubuh Taris hingga punggungnya terbentur pada dinding. Cukup keras membuat Taris meringis. El menundung, mengangkat dagu gadis itu hingga kemudian mencium bibirnya. Taris berusaha mendorong d**a El, namun tak ada pergerakan sama sekali. Taris menangis, El selalu memaksanya. Ia benci, semakin benci kepada El. Bagaimana hidupnya jika tidak pergi? Apa seterusnya ia akan terkunci pada kuasa Elmarc?
El melepas bibirnya, mengusap bibir Tarisa menggunakan ibu jarinya lembut. El berkata sangat pelan, "Gue mohon lo jangan bersikap kaya gini lagi Tar, lo harus nurut sama gue kaya biasanya. Jangan buat gua gila karena setiap hari harus mikir lo pergi dari hidup gue. Lo tahu gue gabisa hidup tanpa lo."
"Cara kakak salah."
"Apa yang gue lakuin udah bener. Lo yang salah karena ngelanggar semua yang gue rencanain dari awal. Lo cuma perlu sekolah yang bener, setelah lo dewasa kita nikah. Gue gamau lo salah pergaulan, apalagi suka sama cowok lain selain gue. Gue sama Arsy gaada apa-apa Tar, gue cuma sayang sama lo. Lo gatahu gue udah belajar bisnis biar bisa di percaya ayah buat nerusin perusahaan, gue kerja lo kuliah setelah lo lulus kita nikah. Apa salahnya lo nurutin omongan gue Tar? Apa salahnya?"
Tarisa semakin deras mengeluarkan air mata, El tidak pernah serius menyukainya. Mendengar semua yang El bicarakan membuat Tarisa merinding. Bagaimana bisa El merencanakan menikah dengannya secara sepihak? Apa ia tidak ingin mendengar pendapat Taris? El benar-benar gila.
Lelah mendengar semua ocehan El, jika Taris tidak mengiyakan semua yang El bicarakan perdebatan mereka tidak akan usai. Yang harusnya Taris lakukan sekarang adalah mengiyakan semua yang El ucapkan sebelum merencanakan kepergiannya kabur dari El.
"Kak El maafin Taris.." Ucap Taris tercekat akan isak tangisnya.
Mendengar itu membuat El tersenyum lega, ia menangkup wajah Taris lembut. Menatap kedua mata Taris dalam. "Sekarang lo ngerti kan maksud gue? Lo bisa kan kembali jadi Taris yang gue mau?" Tanya El yang mendapat anggukan lemah dari Taris.
Senang bukan main, El langsung memeluk erat tubuh Taris.
Permainan kita di mulai dari sekarang Kak. Taris akan nurutin semua yang kakak mau, sebelum Taris pergi dari hidup kakak.
Dalam pelukan erat El, taris menahan mati-matian rasa marahnya. Baru ia sadari hari ini bahwa El sangat terobsesi padanya. Rencana yang El jelaskan tadi membuat Taris sangat merinding. Pilihannya hanya dua, pergi atau diam.
- To Be Continue -