Pagi-pagi sekali Taris berangkat ke kantor, ia berniat menata meja kantor El yang berantakan. Nyatanya kini sedikit banyak, Taris paham akan tugasnya. Jadi tidak heran saat El membuka pintu sudah mendapati Taris. El tersenyum manis sambil melipat kedua tangan di d**a, bersandar di kusen pintu memperhatikan gadis yang semalam tidak tahu malu menyatakan perasaannya. "Pagi." Sapa El lembut. Taris baru sadar, ia menoleh dan tersenyum. Apalagi ia senang El menuruti ucapannya dengan memakai baju yang kemarin ia beli. Taris berlari kecil menghampiri El, merangkul tangan El, baru ia menjawab sapaan El setelah jarak di antara tidak jauh. "Pagi kak El. Gimana tidurnya? Nyenyak?" "Lumayan." "Ih gak adil, padahal Taris gak bisa tidur." El mengusap puncak kepala Taris pelan. "Malu ya?" Taris me

