08 - Oke Gue Salah

1707 Kata
El terdiam bersandar di pintu mobil, memperhatikan sekolah kekasihnya yang terbilang masih kecil itu. Gila memang, memacari anak SMP yang seharusnya fokus belajar, bukan pacar-pacaran. Tapi dunia memang sudah berubah banyak, tidak seperti dulu lagi. Anak SD saja sudah memanggil pacarnya dengan sebutan Papa Mama. Gadis yang ditunggunya datang juga, Taris sedang asik bercengkrama dengan Tasya di trotoar. Ia tak sadar jika di hadapannya sudah ada El. "Taris." Panggil El. Raut wajah Taris yang awalnya ceria langsung berubah menjadi masam. Menatap El kesal, baru saja ia hendak pergi namun lagi-lagi pergelangan tangan Taris dicengkram. "Pulang sama gue." "Engga, sama Tasya aja." "Ngelawan?" Tanya El dengan tatapan tajamnya yang siap melaser apapun yang ditatapnya. Taris tak berani berkutik lagi. Ia menunduk, menghembuskan napas pasrah. Menatap kearah Tasya temannya yang sedari tadi hanya asik menonton tanpa berkutik. "Tasya, Taris pulang dulu ya." "Iya Tar lo ati-ati." Balas Tasya cepat-cepat. Taris menghempaskan tangan El yang sudah mengendur. Ia memasuki mobil tanpa peduli El masih di luar atau di dalam. "Gue pulang dulu. Makasih udah jaga Taris." "Eh iya kak sama-sama. Ati-ati kak." Balas Tasya dengan canggungnya. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan anak SMA tampan sekaligus menyeramkan itu. Tasya tak berhenti memperhatikan mobil yang sudah di naiki Elmarc hingga mobil tersebut hilang di pemandangan. Saat itulah kesadaran Tasya kembali. Apalagi para siswi yang menghampirinya dan menanyakan siapa anak laki-laki SMA tersebut. "Tasya dia siapa? Kakaknya Taris? Gila ganteng banget!" Cerocos salah satu siswi yang tak Tasya kenal. "Iya Tas dia siapa? Lo punya nomor handphonenya nggak? Bagi dong!" Susul yang lainnya. "Iya Tas.. Iya Tas.. Iya Tas..." Kuping Tasya mulai mau meledak. "Tasya blaa..blaaa...blaaa.." "DIEMMMM!!!!" Berteriak tentu saja, bagaimana tidak? Begitu banyak siswi yang mengerubunginya, menanyainya ini itu. Apa bisa ia sabar dengan hal itu? Meski sedikit senang karena dirinya di kenal, tentu saja, teman seorang Tarisa murid populer siapa yang tidak kenal? "Apaan sih lo pada! Itu pacarnya Taris. Gausah di ganggu gugat. Gue mau pulang! BYE!" Tasya membelah segerombolan siswi yang mengerubunginya dengan merentangkan kedua tangan, membuat jalan untuk dirinya sendiri keluar. Banyak yang kecewa mendengar ia adalah kekasih Taris, banyak juga yang tidak percaya. Mereka para bucin yang mengenaskan. _____ "Mau makan?" Tanya El. "Engga." Balas Taris singkat. "Jadi ceritanya lo ngambek nih sama gue?" Tanya El lagi. Taris tetap tidak menjawab. Ia kekeuh pada pendiriannya. Namun bukan menganggapnya serius, El malah menganggapnya bukan masalah besar. "Dasar bocah." Ejek El. "Nyebelin kak El pokoknya!!! Hwaaa.." Taris menangis keras, ia memukuli lengan El sambil menangis, ia sangat kesal. Ia menangis sesenggukan karena hal itu. El tidak pernah menganggapnya serius, El selalu menganggapnya seperti bocah. Taris bukan lelucon. "Idih nangis kan, kaya anak kecil." "Gamau tahu pokoknya! Taris turun! Taris mau pulang sendiri hiks hiks.. Taris benci kak El.." "Halah sok sok an benci. Kalo suka ngomong aja." "Enggak! Taris benci!!!" Ckittt El menghentikan mobilnya. Melonggarkan dasi yang ia kenakan. Membuang napas sejenak, membuat dirinya tenang menghadapi gadis remaja di sampingnya. Bibir merahnya ia basahi kemudian menatap Taris yang masih tidak berhenti menangis itu. El menarik tangan Taris, memeluknya erat, menumpukan dagunya pada pundak gadis itu. "Iya maafin gue, gue salah." Bisik El membuat Taris sedikit tenang meski ia masih terisak di pelukan pria itu. "Kak El kapan berhenti? Berhenti buat Taris kesel hiks.." isak Tarisa. "Iya Taris gue salah, gue minta maaf. Udah jangan nangis. Gue cium nih?" "Gamau dicium kak El." El melepas pelukannya, menatap kedua mata Taris. Senyum di bibir El terukir, ia menangkup wajah cantik gadis itu. "Kenapa gamau? Kan gue ganteng? Banyak loh yang mau gue cium." Bangga El pada dirinya sendiri. "Tapi Taris gamau. Takut hamil." Balas Taris membuat El tertawa terbahak bahak. itu sontak membuat isakan Taris berhenti seketika. "Kak El kok ketawa sih?" "Ya abisnya lo bloon banget." "Ih kak El!" "Yaudah deh gue gamau cium lo, takut ngamilin lo." Sindir El. Candaan mereka berlanjut hingga El sudah bisa menenangkan gadis disampingnya. El egois, ia tidak peduli seberapa polosnya Taris, tidak peduli betapa gadis itu tak mengerti apa-apa mengenai hubungan, bahkan cinta. Namun El tidak ingin gadis itu menjadi milik orang lain jika ia tidak cepat-cepat mengklaimnya. Hanya El, pria yang sedari kecil menjaga gadis itu. Egois memang, namun tidak adil jika Taris tidak menjadi miliknya. ______ "Kak El mana kak?" Tanya Arsy kepada Ido dan Odi yang sedang bersiap untuk bermain bola basket di lapangan. "Pulang tadi Ar, kenapa?" "Kok cepet pulangnya? Kan baru aja bel?" "Kaya lo gatahu El aja, dia mah kalo disuruh pulang gesit, apalagi bolos. Maklum lah, sekolah kan punya dia. Jadi ya serah." "Padahal Arsy mau ajak kak El nonton. Udah pesen tiket juga Arsy." "Yakin mau El? Dia kan jarang suka ke bioskop. Apalagi nonton romance." "Yaudah deh, hangus tiket Arsy." Tutur Arsy, terlihat jelas dari raut wajahnya jika dirinya sangat kecewa dengan penuturan Ido dan Odi. Odi dan Ido saling bertatapan. Pikiran mereka sama, dan bersamaan mereka mengungkapkan isi dalam otak mereka. "Nonton sama kita aja." Balas keduanya. Arsy tampak berpikir, setelah beberapa detik berpikir akhirnya ia mengiyakan ajakan Odi dan Ido, Karena sayang tiket yang sudah ia pesan untuk menonton film romance yang ia nantikan. Anggap saja sebagai pendekatan dengan teman El, pikir Arsy. "Yaudah deh kak, nanti malem Arsy tunggu di bioskop ya." "Siap Arsy.." dengan semangat Odi dan Ido memberikan hormat kepada adik kelasnya itu. _____ Sore hari, El baru selesai mandi setelah pulang sekolah bermain PS hingga lupa waktu. Sambil mengeringkan rambutnya, ia meraih ponselnya dan melihat notif, tidak ada tanda tanda pacarnya Taris memberinya pesan. Sehingga mau tidak mau ia yang harus mengirim pesan gadis itu terlebih dahulu. To : Tarisa Masih idup? From : Tarisa Masih To : Tarisa Oh syukur deh. Jalan yuk? From : Tarisa Engga, Taris udah ada janji. To : Tarisa Janji apaan! Kok lo gak bilang sama gue? From : Tarisa Lupa, janji nonton bioskop sama Tasya. Ada film romantis. Gilan 1991. To : Tarisa Ih film apaan tuh? Film gajelas. From : Tarisa Lanjutannya Gilan 1990 kak, yang tahun lalu viral. To : Tarisa Gue gak nonton begituan. From : Tarisa Yaudah. To : Tarisa Bentar lagi gue kerumah lo. From : Tarisa Lah Taris kan mau nonton film kak. To : Tarisa Ya bareng. From : Tarisa Katanya gamau? To : Tarisa Ya terpaksa. Dari pada nanti lo di lirik cowo lain. From : Tarisa Kak El aja, yang suka sama anak SMP kaya Taris. To : Tarisa Bodo. Gue abis mandi, ganti baju terus langsung ke rumah lo. From Tarisa. Iya. To : Tarisa Ih ga ikhlas lo ya?! From : Tarisa Iya kak El iya , Taris tunggu. To : Tarisa Bagus. El meletakkan handphonenya dengan senyum kemenangan di bibirnya. Buru buru ia mengganti pakaiannya. Setelah rapi dengan apa yang ia kenakan, El menuruni tangga. Bertemu dengan Thalia dan Kris yang bersantai menontin televisi. "Bunda, Ayah, El mau nonton bioskop." Ucap El kepada keduanya. "Sama siapa El?" "Sama Taris, sama temennya." Balas El sambil menyalami tangan kedua orang tuanya bergantian. "Yaudah ati-ati ya sayang." Balas Thalia mencium pipi putranya sebentar. "Ayah tumben bunda? diem aja? Lagi ngambek?" Tanya El melirik ayahnya yang memasang wajah masam. "Ya Biasa. Udah berangkat, ayah kamu emang gini." Balas Thalia. "Kalo gitu El berangkat." "Iya ati ati sayang." "Iya bunda." Sepeninggal putra mereka, Kris menatap Thalia kesal, ia mencubit pipi istrinya itu cukup keras membuat Thalia mengaduh kesakitan. "Aduh sakit kris!" Teriak Thalia mengelus pipinya sendiri. "Kenapa kamu gak setuju nambah anak?" Tanya Kris. Matanya yang masih tajam itu mampu mengeluarkan laser. "Ya karena udah tua. Cukup El aja." "Aku tapi pengen punya anak cewek Tha! Satu gak cukup. Lagian kita engga tua tua amat kok. Masih 30an." Oceh Kris. "Iya hampir 40 kan, 2 tahun lagi kita 40 tahun." "Ya terus kenapa? Gamau tahu kamu harus hamil." "Kenapa tiba tiba pengen punya anak lagi sih?" "Ya pengen aja!" "Kamu kaya anak kecil deh." "Biarin! Pokoknya minta anak!" "Gamau!" "Harus mau!" "Gamau!" "Mau thalia!" Seterusnya kedua orang tua El yang masih bersikap romantis seperti biasa itu berdebat karena satu hal. Di sisi lain.. El sudah sampai di depan rumah Tarisa. Gadis itu sudah bersama sahabatnya Tasya. Keduanya masuk kedalam mobil El tanpa El suruh. Taris di samping El, sedangkan Tasya di belakang. "Kak El tumben mau nonton?" Tanya Tasya. "Iya lagi pengen." Balas El seadanya. Obrolan singkat juga terjadi di dalam mobil, namun lebih banyak mengoceh adalah Tarisa dan Tasya. Kedua anak bocah itu mengobrol mengenai oppa oppa yang tidak di mengerti El. Sehingga mau tidak mau El hanya diam. Sampai mereka pada mall. Di parkiran, El tak sengaja melihat kedua temannya yang sama sama memarkir mobil. "Odi Ido!" Panggil El sedikit keras. Kedua pria berambut kriting itu menoleh. Senyum lebar terpampang di bibir keduanya. "El!!" Odi dan Ido menghampiri El. Tak lupa, di belakang mereka ada Arsy yang sedang membuntuti. "Ngapain kesini?" "Nonton bioskop, bareng Arsy juga." Balas Ido. Arsy mendekati El, melambaikan tangannya pada pria itu sambil malu malu. "Gak nyangka ketemu di sini kak El." "Iya, tumben lo ajak nonton Odi Ido? Btw gue juga nonton sama dua bocah ini." "Ih beneran? Kok bisa kebetulan gitu ya kak? Pasti nonton film Gilan 1991 kan?" "Ya gitu deh.." "Kalo gitu bareng aja masuknya kak." Dengan berani Arsy merangkul tangan El. Odi dan Ido malah menatap satu sama lain. Di lain sisi Tarisa sudah menahan marahnya. Tarisa sendiri tidak tahu kenapa ia marah. Tapi, melihat Arsy dan El sedekat itu membuat hati gadis itu kepanasan. "Ih kakak itu kok genit gitu ya Tar?" Tanya Tasya. "Biarin Tasya biarin. Kak El juga keliatan seneng gitu. Biarin." Balas Tarisa tidak sepenuhnya ikhlas. Odi dan Ido mendekati Tarisa dan Tasya. Keduanya saling berkenalan satu sama lain, mengucapkan nama masing masing. Kecuali dengan Tarisa yang memang sudah kenal dari dulu. Mereka hanya berkenalan dengan Tasya. "Kelas berapa dek?" Tanya Ido kepada Tasya. "Sama kaya Tarisa kak." "Oh... Pasti temen sekelasnya Taris ya?" "Iya kak.." Seperti biasa, masih canggung satu sama lain. Obrolan Tasya dan Odi Ido memecah keheningan diantara mereka. Tarisa seperti zombie yang menatap tajam kedua makhluk di depannya. Berjalan seperti sepasang kekasih. Padahal kekasih yang benar sedang ada di belakangnya. Apa El seperti itu? Apa maksud El memacarinya? "Kak El!" Teriak Taris tak bisa menahan amarahnya lagi. - To be continue -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN