07 - Ma Boy

1261 Kata
"Kak El kok diem disini? Sama anak SMP? Adik kak El ya?" El dan Taris menoleh, Taris mengernyitkan dahi karena tampak asing dengan gadis yang berdiri di samping mejanya dan El. "Ngapain lo?" Tanya El dingin. "Aku habis fotocopy di toko belakang sekolah kak, disuruh bu Martin. Fotocopy sekolah lagi error." Ucap gadis itu. "Bukan niat ngikutin gue kan?" Penuh curiga El seolah menuduh dengan pertanyaan yang ia lontarkan. "Engga kok kak, beneran." Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. "Kak El siapa?" Kali ini Taris bersuara, ia sudah penasaran dengan orang yang masih betah berdiri. Menggunakan seragam sama seperti El. Dan memanggil El dengan sebutan kakak. "Cewe ini?" Tanya El menunjuk gadis itu. Taris mengangguk. "Eh siapa nama lo? Gue lupa." Kini El bertanya. "Arsy kak. Masa kak El lupa terus sih? Kan yang setiap hari perhatiin kak El aku." Rengek Arsy, gadis itu duduk di samping El, membuat Taris sedikit tidak suka. El tak pernah membawa gadis manapun saat bersama Taris. Sejak dulu, sejak mereka belum resmi pacaran seperti saat ini sekalipun. Taris menunduk, ia membuang napasnya. "Kak El, Taris nambah es cendolnya ya? Boleh?" "Iya ngomong langsung aja ke mang ucup." Taris berdiri dan memasuki warung mang ucup, ia menemui anak pemilik warung itu dengan wajah tertekuk. Taris tidak tahu kenapa perasaannya menjadi sangat kesal melihat Arsy ada di samping El. "Mang ucup, nambah es cendolnya satu. Nanti yang bayar kak El." Ucap Taris lesu. "Iya neng nanti mang ucup antar ke meja neng." "Iya mang." Baru saja Taris hendak kembali ke mejanya, namun terhenti saat Arsy menghampirinya. Lebih tepatnya menghampiri mang ucup yang bersiap membuatkan es cendol untuk Taris. "Mang, Aku juga buatin es cendol ya, kak El nanti yang bayar." Ucap Arsy. Seketika Taris menjadi sewot sendiri, ia tak bisa menahan rasa kesal yang sedari tadi mendekam di dalam hatinya. "Kak Arsy gabisa bayar sendiri? Kak El udah bayarin makanan Taris. Masa harus bayarin makanan kak Arsy juga sih?" Sewot Taris. "Adek, kak El gabakal bangkrut juga cuma beliin gue es cendol. Lagian kak El gak keberatan kok." Taris mendecak kesal, ia menghentakkan satu kakinya dan pergi meninggalkan Arsy. Taris kembali ke mejanya dengan wajah tertekuk. El sibuk memainkan ponselnya dengan sebatang rokok yang terselip di sela-sela jarinya. "Kak El ngerokok lagi?" "Iya sebatang doang Taris." "Yaudah Taris balik ke sekolah aja." Taris berdiri, baru saja ia hendak pergi namun tangan El menahannya. "Iya gue buang. Udah duduk." Taris kembali duduk. Gadis itu menyaksikan El membuang batang rokoknya yang masih panjang ke atas tanah lalu menginjaknya. "Taris gasuka kak El ngerokok." "Tahu." "Kenapa tetep kak El lakuin?" "Iya gue bakal belajar berhenti." "Om kris aja berhenti, kak El kapan sih?" "Ayah gue kan berhenti baru aja Tar, gara-gara bunda marahin dia mulu." Perdebatan mereka terhenti saat Arsy sudah kembali dengan dua gelas es cendol. Gadis itu memberikan satu gelas kepada Taris. Dan dengan sok akrabnya ia berkata dengan nada asik di buat-buat. "Ngomongin apa sih?" Tak ada yang menjawab, El kembali fokus pada handphonenya, sedangkan Taris fokus menikmati es cendolnya. Setelah beberapa detik hanya keheningan, Taris kembali bersuara. "Pokoknya kalo Kak El tetep ngerokok, Taris aduin ke bunda Thalia." El mendelik, ia langsung berhenti bermain game hanya untuk mendelik kesal kepada Taris. "Apaan sih ngancem gue?!" Bentaknya. "Taris lo sebagai adek gaboleh gitu sama kakak lo." Tambah Arsy. Taris terdiam, ia ingin menangis, El membentaknya di depan Arsy, meski sudah terbiasa di bentak namun kali ini El tidak tahu kondisi. Dan ucapan Arsy membuat Taris semakin kesal, ia bukan adik El, ia kekasihnya. Namun kenapa ia tak bisa mengatakan hal itu? El juga tak terganggu dengan ucapan Arsy yang selalu salah paham tentang hubungannya dan El. "Taris balik ke sekolah dulu." "Mau kemana lo?! Diem sini!" El menarik pergelangan Taris untuk kembali duduk. "Taris mau kekelas." "Diem sini dulu, gue masih mau tanya, lo udah berani ancem gue?" "Biar kak El berhenti ngerokok kak." "Gaada alasan, sama aja, gue gasuka lo ancem gue kaya tadi. Siapa yang ajarin lo jadi berani ancem gue kaya gini?" "Kak El tangan Taris sakit. Lepasin dulu." "Gamau. Gue mau tanya siapa yang ajarin lo?!" "Gaada kak." "Siapa?!" Mata Taris tertunduk, tangannya sakit, dan El tidak berhenti membentaknya. Bagaimana Arsy yang ada diantara mereka tahu bahwa sebenarnya Taris bukan adik El? Jika sikap El saja tak jauh beda dari seorang kakak yang memarahi adiknya.  "Kak El tangan Taris beneran sakit." Ucap Taris menatap sendu mata El. Air matanya hampir saja jatuh. El melepas tangan Taris, benar saja, tangan Taris memerah. Setelah El melepas tangan Taris, ia langsung berdiri dan berlari menghindari pria itu. El sendiri menyesal, ia marah Taris berani terhadapnya, karena El tidak mau jika nanti Taris berani melawannya,  ia akan berani meninggalkannya. El tidak mau hal itu terjadi. "Kak El kalo tengkar sama Taris serem juga ya? Kasian adek kak El." "Dia bukan adek gue asal lo tahu. Gue anak tunggal. Mikir dong lo." Balas El sinis, ia menaruh selembaran uang seratus ribu dan pergi meninggalkan Arsy yang terdiam dengan berbagai macam pertanyaan di otaknya. _____ Taris duduk dengan wajah tertekuk. Ia tak pernah bayangkan jika dirinya akan dipermalukan di depan gadis lain oleh El. Dan parahnya pergelangan tangannya merah karena ulah El yang kasar. Tasya, teman sebangku serta sahabat karib Tarisa mendadak penasaran dengan tingkah aneh teman sebangkunya itu. Ia yang awalnya menghapus coretan tinta di papan tulis putih sontak memberikan penghapus tersebut kepada salah seorang anak yang kebetulan berjalan memasuki kelas, sudah pasti teman sekelasnya. Sikut Tasya menyenggol lengan Taris sengaja, "Lo kenapa? Bukannya habis apelan? Kenapa malah cemberut gitu?" "Kak El jahat sama Taris Tas." Lirih Taris hendak menangis, suaranya bergetar, membuat Tasya semakin serius. "Eh lo jangan nangis, nanti disangka gue lagi yang apa-apain lo." Taris menarik ingusnya masuk, ia juga mengusap kasar air mata yang mengambang di pelupuk matanya. Tarisa menuruti ucapan sahabatnya. "Taris kesel sama kak El Tas. Nih liat." Taris menunjukkan pergelangan tangannya kepada Tasya. "Ini kenapa?!" Tanya Tasya dengan raut wajah berlebihan. "Lo dianiyaya kak El? Wah gila Tar, ini gabisa di biarin. Masih pacaran aja udah kasar, apalagi lo jadi bininya kelak. Abis tubuh lo di jadiin samsak sama kak El Tar." Cerocos Tasya nonstop,melebihi paket data internet nonstop. "Jangan teriak-teriak Tasya." Lirih Taris masih dengan mata sendu dan air mata yang betah bersemayam di pelupuk mata. "Lo diapain kak El sampe merah gini tangan lo?" Tanya Tasya kini berbisik. "Ditahan sama kak El gara gara Taris mau balik kelas. Terus ada temen cewe kak El yang genit. Tapi kak El diem aja. Taris tuh gasuka, apalagi kak El malah terang terangan ngerokok di depan Taris. Keliatan nakal banget Tas, bunda Thalia gabakal suka." Cerocos Taris menceritakan kronologi yang membuatnya tidak mood seperti saat ini. Tasya tersenyum jail, ia tahu sekarang. "Oh jadi ceritanya lo kesel karena kak El ngerokok? Terus lo cemburu sama temen cewe kak El? Makanya lo sampe kaya gini?" Goda Tasya dengan ekspresi usilnya. "Iya bener Tas, Taris kesel liat temen cewe kak El, Taris juga kesel kak El ga dengerin kata-kata Taris. Padahal apapun yang kak El ngomong Taris selalu nurut. Apa salah? Kak El kan pacar Taris?" Seketika hening, Tasya berusaha mencerna ucapan Taris, sedangkan Taris sudah memukuli bibirnya menggunakan telapak tangannya berkali-kali karena keceplosan. Tasya belum tahu kalau dirinya dan El berpacaran. "Wait." "Lupain aja Tas. Taris gak ngomong apa-apa kok." "WHAT!!! LO SAMA KAK EL JADIAN?! SERIUS?! WAH GILA SIH INI. PAJAK JADIANNYA TARISA!!! GILA SUMPAH GILA! LO BENERAN JADIAN SAMA COWO KILLER ITU?!!!" Dan yah, keduanya menjadi pusat perhatian kelas karena mulut Tasya yang tidak bisa mengontol volume. - To be continue -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN