16 - Hujan Meteor

1724 Kata
Malam itu El memberikan jaketnya kepada Tarisa. El tahu Taris sangat kedinginan, dan bodohnya gadis itu tak memakai jaket tebal. Keduanya duduk di atas rumput, bersama dengan para pengunjung lainnya. Banyak pasangan yang juga ingin melihat hujan meteor, namun merekalah pasangan termuda di sana. El memilih tempat yang sedikit sepi. Di atas rumput bukit keduanya duduk. Menantikan hujan meteor yang tengah diramalkan akan menghiasi langit malam. "Kak El." "Apa?" "Katanya sih kak, di film-film kalo ada hujan meteor tuh bisa ngabulin permintaan." "Minta itu sama tuhan bukan sama gituan. Mitos itu mah." "Ya siapa tahu lewat hujan meteor para malaikat turun. Jadi doa kita sampenya cepet." Lanturan Taris membuat El gemas sehingga mau tak mau Taris harus menerima kutisan dari tangan El. "Gausah sok tahu. Jangan percaya gituan." "Ya nggak percaya banget kak. Tapi siapa tahu terkabul kan?" "Terserah lo deh." "Pokoknya Taris mau minta sesuatu pas hujan meteor. Masalah terkabul enggaknya terserah nanti." El tak lagi menjawab, percuma saja. Taris sudah terlanjur mempercayai hal tahayul itu. Taris terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya berucap. "Jodoh udah diatur kan ya kak?" "Iyalah. Tapi udah pasti lo jodoh gue." "Apa yang kakak suka dari Taris?" El menoleh, mata mereka beradu untuk beberapa saat. El tersenyum manis, setelah itu menarik tengkuk Taris untuk lebih dekat dengannya. Hidung mereka sudah bersentuhan. "Gue gak tahu." "Kok nggak tahu?" "Gue gatahu kenapa gue suka lo. Tapi yang gue tahu cuma gue pengen lo sama gue terus. Gue cuma takut kehilangan lo. Lo segalanya Tar. Bunda, ayah, dan lo. Kalian berarti di hidup gue. Jadi gue nggak tahu lagi bakal kayak gimana kalo gue kehilangan salah satu dari kalian." Taris langsung menunduk dalam, tentu saja El akan kehilangan dirinya sebentar lagi. Lusa Taris akan pergi ke Singapore, dan hal itu masih belum El ketahui. Taris merasa sangat bersalah, kenapa harus dirinya yang berarti di hidup El? Kenapa? Rasa sesak itu menyerang Taris. Air mata Taris menetes tanpa komando. El bingung, ia sedikit menjauhkan wajahnya, mengangkat dagu Taris agar mendongak. Namun Taris enggan untuk menatap El. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, meneteskan air matanya berkali-kali. "Tar lo kenapa? Hei, tatap gue Tar." Ujar El panik. Ia juga bingung kenapa Taris malah menangis seperti itu. "Maaf kak El maafin Taris ya hiks hiks.." El menangkup wajah Taris, Berusaha untuk menatap mata gadisnya. El merasakan hal aneh saat itu juga. Kenapa Taris berubah menjadi begitu aneh. Seperti ada yang disembunyikan dari El. Namun buru-buru ia menepis pikiran buruk itu. El mempercayai Taris. "Kenapa minta maaf? Hei Tar. Bilang sama gue, lo kenapa? Ada yang nyakitin lo? Siapa? Biar gue hajar orangnya. Lo kenapa? Jangan bikin gue panik gini dong Taris." Tarisa menyeka air matanya. Gadis itu menggigit bibirnya dalam. Ia menarik napasnya agar isak tangisnya berhenti. Taris tidak mau rencananya hancur begitu saja hanya karena masalah ini. Taris mendekat ke arah El, memeluk pria yang sudah ia anggap kakaknya sendiri itu erat. Jujur saja d**a El sangat hangat, lagi wangi maskulin El sangat pas di penciuman Taris. Taris sangat suka dengan wangi parfume yang El pakai. El membalas pelukan Taris, sesekali mencium puncak kepala Taris. "Kenapa Tar? Lo mau minta gue kerjain PR lo? Bilang sama gue lo minta apa? Gue turutin." "Taris cuma mau minta maaf kalo selama ini Taris selalu nyusahin kak El. Taris mau minta maaf kalo selama ini Taris nggak bisa bales apa yang kak El kasih ke Taris. Taris juga sering bikin kak El kesel, selalu kecewain kak El. Sering nggak nurut sama kakak. Taris juga minta maaf pas kak El dipukul sama om Kris masalah yang lalu. Taris minta maaf ya kak." Terdengar suara tawa renyah dari bibir El. El semakin erat memeluk tubuh Taris. "Gue nggak papa lo giniin Tar. Lo bikin gue susah sekalipun nggak masalah. Yang penting lo tetep di samping gue aja gue udah seneng. Jangan bosen sama gue ya Tar. Maaf juga gue selalu maksa lo, ngatur ngatur hidup lo. Sumpah, gue lakuin ini semata-mata karena gue nggak mau lo salah jalan, gue nggak mau lo ninggalin gue. Udah itu aja. Gue cuma berdoa supaya lo selalu betah terus sama gue. Soalnya gue sayang banget sama lo." Rasa bersalah itu semakin menggerogoti hati Tarisa. Ia sudah tidak kuat berada dalam kendali El, Taris memilih untuk pergi. Itu sudah keputusanya. "Kak El percaya Taris sayang kakak?" Tanya Taris "Percaya. Dan lo percaya gue cinta dan sayang sama lo kan?" Tanya El balik. "Percaya kak." El puas dengan jawaban Taris, ia mengurai pelukannya setelah mendengar suara riuh dari para pengunjung lain. El dan Taris reflek melihat ke arah langit malam. Hujan meteor benar-benar terjadi. Tak banyak, namun cukup indah menghiasi angkasa. Taris menyatukan tangannya, ia mulai menuturkan doa di dalam hati. Ia berharap keinginannya terkabul. Sedang El hanya menatap kosong langit seraya berbicara dalam hati. Percayakan Taris padaku tuhan, aku akan menjaganya. Aku akan membuatnya bahagia. Aku ingin dia tetap di sampingku apapun yang terjadi. "Lo minta apa Tar?" "Rahasia. Kalo kakak?" "Rahasia." Taris menangkup wajah El menggunakan tangan mungilnya. Ia menelan salivanya sebelum memajukan wajahnya untuk mengecup lembut bibir El sekilas. "Kenapa tiba-tiba cium?" Tanya El bingung. Tak ada rasa terkejut sedikitpun mesti untuk pertama kalinya Taris yang mencium El terlebih dahulu. "Taris sayang kakak." Balas Taris dengan ekspresi wajah serius. "Gue juga." "Terimakasih kak, dan maaf." El mengerutkan keningnya. Entah kenapa ucapan Taris terasa seperti sebuah kata perpisahan. Entah itu hanya perasaannya, namun Taris benar-benar sangat aneh. "Sama sama, gue yang harusnya minta maaf sering buat lo takut karena tingkah gue. Dan makasih ya udah betah ada di samping gue. Cepet dewasa ya Tar. Gue sabar buat nunggu lo dewasa." "Taris bakal cepet-cepet dewasa. Kakak tenang aja." "Yaudah ayo kita ke vila. Orang-orang udah pada pergi, hujan meteornya juga udah abis. Gue juga udah kedinginan, jaket gue lo pake." Taris mengangguk setuju. Ia juga sudah sangat mengantuk. Malam itu menjadi malam terakhir mereka bersama. Keesokan harinya mereka pulang. Dan selama seharian El sibuk dengan berbagai macam kegiatan yang ia ikuti karena tes masuk perguruan tinggi sudah dekat. Taris juga tengah mempersiapkan segala sesuatunya untuk ia berangkat pagi harinya. Entah apa yang akan terjadi, yang jelas ia akan meninggalkan Elmarc. ___________ Pagi-pagi sekali El terlihat lesu saat duduk di meja makan. Thalia tengah menyiapkan sarapan, sedang Kris tengah membaca berita di i pad miliknya. "Kamu kenapa? Lesu gitu?" Tanya Kris kepada El. "Gimana nggak lesu yah? El semaleman kurang tidur gara-gara belajar buat pahamin materi test masuk kuliah." "Ayah dulu cuma baca materi sekali udah masuk semua di otak." Pamer Kris bangga. "El juga baca sekali doang kok." Ujar El sedikit tak terima. Karena IQ mereka tak sama. Memang tak jauh berbeda, namun IQ Kris lebih tinggi dari El. "Kenapa sampai begadang?" "Ya karena El nggak belajar sama sekali yah. Udah tahu kemaren El baru pulang pagi-pagi karena ke puncak bareng Taris." "Yaudah semoga berhasil tesnya. Kamu ayah suruh kuliah di luar negeri malah alasan nggak mau jauh dari Taris." "Ya biarin." "Harvard itu menjanjikan loh El." "Ngga peduli." "Kamu lulus tesnya." "Ya kan El coba-coba yah." "Terserah kamu El, yang penting ayah nggak mau kamu kuliah main-main. Dulu ayah emang main-main pas SMA, tapi pas kuliah ayah udah nggak main-main lagi. Pas kuliah ayah itu fokus sama belajar dan ngurus perusahaan kakek kamu. Ya tujuannya satu, bunda kamu. Ayah bisa gila kalo bunda kamu nggak jodoh sama ayah. Untungnya tuhan sayang sama ayah, bunda kamu jadi milik ayah. Pas SMA ayah lebih b******n dari yang kamu pikirin. Bunda kamu untung sabar ngadepin kebrengsekan ayah." Oceh Kris. Ia mengingat masa remajanya dulu, masa di mana ia sangat nakal, masa di mana ia kecanduan obat terlarang, masa di mana ia menyakiti Thalia dengan menandai Thalia saat usia mereka masih muda. Kris tak akan pernah lupa itu. Ia memang b******n karena merusak hidup Thalia. Namun ia sudah bertanggung jawab dengan sukses dan menikahi wanita yang sangat dicintainya. "Ayah m***m ya? Bunda diapain aja sama ayah?" "Ada deh, kamu mau tahu aja." Thalia datang dengan membawa piring berisi telur gulung favorit Kris, kemudian duduk di kursinya. "Ngomongin bunda ya?" Tanya Thalia. Meski sudah termakan usia, Thalia masih terlihat cantik. Wanita itu sangat anggun. "Dia mau tahu aja dulu aku ngapain kamu aja Tha." "Kamu nggak usah ngomong macem-macem." Balas Thalia menatap Kris tajam. "Siap laksanakan. Tuh denger El kata bunda kamu. Ayah nggak boleh ngomong macem-macem." "El kamu fokus aja sama tes kuliah kamu." Ujar Thalia seraya membalikkan piring Kris, EL, dan piringnya. "El yakin El bisa lulus bunda. Orang tes di Havard aja El mampu kok." "Nggak boleh sombong dulu nak. Jangan ikut-ikut ayah kamu." "Aku udah diem dibawa-bawa." Ujar Kris. "Iyalah, kamu kan pembuat onar dulu." Ejek Thalia. El menghembuskan napasnya. "Enak ya jadi ayah sama bunda. Satu sekolah, bisa sama-sama terus." "Kamu nggak ada syukurnya, orang kamu setiap hari udah bareng Taris." "Ya tapi dia masih bocah yah." "Salah kamu pacarin bocah." "Ya biarin." Ada jeda di antara mereka kala Thalia menyiapkan nasi di piring masing-masing. Namun Kris kembali bersuara. "Oh ya, kamu nggak ikut anterin Taris sekarang?" Tanya Kris. Dahi El mengerut. "Anterin Taris? Emang dia mau ke mana?" Tanya El. "Semalem ayah telepon om Leo bicarain proyek. Ayah kan ada proyek baru sama om Leo. Ayah tuh mau adain rapat pagi ini. Tapi om Leo bilang ada keperluan." "Ngomong intinya deh yah. Maksud Ayah apa?" Tanya El tidak sabaran. Hatinya sudah tidak enak. "Katanya om Leo mau ke Singapore sama Taris pagi ini. Kayaknya om Leo mendadak gitu. Dia aja keceplosan pas bilang sama ayah. Pas ayah tanya ada keperluan apa telepon malah mati. Yaudah papa SMS buat adain rapat pas om Leo udah pulang dari Singapore." Jelas Kris. El berdiri duduknya. "Kunci mobil ayah mana?" Tanya El terburu. "Kamu mau ke mana? Makan dulu El." "Kunci mobil ayah di mana?" Tanya El memaksa. "Mobil kamu ke mana?" "Di bengkel yah! Mana pinjam mobil ayah!" "Kamu nih mau ke mana." "Cepetan mana kuncinya yah." "Lah ayah ke kantor pake apa?" "Mobil bunda!" "Kamu mau ke mana El?" El tidak sabaran. "Yah cepet! Mana kunci mobilnya?!" Mau tak mau Kris menyerahkan kunci mobil miliknya kepada El. Saat itu El langsung pergi keluar rumah. Thalia dan Kris sama sama bingung dengan tingkah putra mereka. "El mau ke mana nak?" Tanya Thalia. Tak ada jawaban, El sudah melesat keluar rumah. "Aku rasa ada yang nggak beres Tha." "Aku juga mikir gitu." - To be continue -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN