bc

Kembali Bersamamu (First Love)

book_age18+
30
IKUTI
1K
BACA
billionaire
revenge
HE
forced
opposites attract
friends to lovers
arranged marriage
curse
dominant
drama
bxg
like
intro-logo
Uraian

Berusia 28 tahun, Keyra santai saja tak memikirkan pernikahan karena belum memiliki pasangan dan masih ingin mencari uang yang banyak. Dia sibuk bekerja pada sebuah PT sebagai salah satu staff finance. Hingga suatu hari saat pulang ke rumah, sang ibu meminta Keyra untuk menikah dengan anak sahabatnya yang merupakan seorang duda.

Masalahnya, lelaki itu adalah mantan kekasihnya Keyra dulu saat SMA. Keyra yang mengakhiri kisah dengan lelaki itu, karena sahabatnya juga menyukai lelaki bernama Ardan yang berusia 2 tahun di atas mereka itu. Sejak itu, Ardan membenci Keyra. Tapi, tak lama kemudian dia menjalin asmara dengan sahabatnya Keyra tersebut. Hubungan keduanya langgeng hingga menikah dan maut memisahkan mereka.

Maminya Ardan dan mama sahabatnya dulu banyak membantu ibunya Keyra, tentu saat ini Keyra sulit untuk menolak permintaan ibunya yang berkata jika kedua sahabatnya ingin Keyra menjadi istri sekaligus ibu sambung untuk anaknya Ardan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Mantan Kekasih
"Kamu menikah sama Ardan ya, Ra?" pinta ibu tiba-tiba pada malam hari saat aku baru saja pulang ke rumah. Aku sehari-harinya tinggal di sebuah indekos daerah Cikarang dan pulang ke rumah pada hari Jum'at usai pulang kerja. Aku bekerja di salah satu PT di kawasan Delta Silicon sebagai staff finance sejak setahun lulus kuliah. Satu tahun lamanya menganggur, aku akhirnya keterima di daerah yang cukup jauh dari rumah. Setelah menimang-nimang, aku mengambil kesempatan tersebut. Dan betah bekerja di sana hingga sekarang usiaku 28 tahun. Tak terasa sudah 5 tahun aku bekerja. "Nelly dan Laras itu udah banyak bantuin mama sejak saat sekolah dulu, bahkan saat ayahmu meninggal dunia pun," lanjut ibuku lagi, seolah mengingatkan akan jasa kedua teman dekatnya itu. "Ibu inget banget, mereka yang mengulurkan tangannya di saat sanak kerabat ibu atau ayah enggak bisa membantu. Bahkan sebelum ayahmu berpulang pun, mereka udah sering bantu ibu." Aku menghela napas berat. Di dalam hati nano-nano sekali rasanya mendengar permintaan ibu. Tapi, aku paham sekali akan kebaikan para sahabatnya ibu yang mana mereka berteman dekat sejak SMA. Tante Nelly memang sangat baik sejak dulu, begitu juga dengan Tante Laras yang merupakan mama dari almarhum temanku. Dan anak laki-lakinya Tante Nelly bernama Ardan yang ibu sebutkan itu juga baik sebenarnya... dulu. Hanya saja, semua berubah saat aku memutuskan hubungan dengannya. Ya... kami sempat menjalin asmara secara diam-diam dulunya. Namun, hanya beberapa bulan saja karena aku terpaksa mengakhiri kisah kami. Mengalah karena teman dekatku yang merupakan anaknya Tante Laras, sangat menyukai lelaki itu. Aku mengalah untuk anaknya Tante Nelly sekaligus sohibku sedari kecil yang bernama Alana itu. Sadar diri akan kebaikan mamanya, dan dia sendiri juga baik terhadapku. Kak Ardan awalnya tak terima saat aku mengakhiri hubungan kami—marah sekali padaku. Tapi, pada akhirnya sekitar 3 bulan kemudian dia jadian dengan Alana. Aku ikut senang Alana akhirnya bersama seseorang yang sudah lama diam-diam disukainya itu, walau ada rasa perih menggerogoti. Aku berbohong pada Alana saat dia bertanya apakah aku pernah naksir kepada Kak Ardan atau tidak. Aku menjawab tak pernah ada rasa suka terhadap lelaki itu. Tak kusangka, hubungan keduanya awet hingga menikah. Sejak kami kelas 3 SMA dan Kak Ardan kuliah tingkat kedua saat mereka jadian, dan kemudian menikah setelah setahun Alana lulus kuliah. "Jadi, ibu pikir, ini mungkin waktunya bisa membalas kebaikan mereka selama ini," lanjut ibu lagi dengan nada lirih seolah tengah memohon padaku agar aku bersedia mengabulkan permintaannya. "Kasihan Ardan, Ra. Dia butuh seorang pendamping dan Nesya membutuhkan seorang ibu. Nelly dan Laras berharap banget kamu bersedia. Mereka nggak mau Ardan menikah dengan perempuan sembarangan, khawatir enggak baik untuk Nesya. Sedangkan kamu, mereka udah tahu persis bagaimana kamu sejak kecil. Dan kamu juga kan sayang sekali sama Nesya." Nesya adalah puteri semata wayang Kak Ardan dan Alana yang saat ini berusia 5 tahun. Alana meninggal dunia 2 tahun yang lalu karena gagal ginjal. Takdir tak ada yang tahu, Alana meninggal pada usia yang masih muda dan meninggalkan seorang puteri yang berusia 3 tahun saat itu. Aku tak sempat bertemu dengannya pada 2 minggu terakhir sebelum meninggal, karena sibuk bekerja dan tak pulang ke rumah. "Mau ya, Ra?" Aku menarik napas sejenak, lalu tersenyum tipis. Apa bisa aku menolak permintaan ibu karena tak terbayang olehku bersanding dengan masa lalu yang mana sampai saat ini lelaki itu bersikap dingin kepadaku. Aku pernah melempar senyum atau menyapa singkat ketika tak sengaja berpapasan atau bertemu pada sebuah acara, tapi ekspresi wajah lelaki masih datar seperti dulu. Lalu, bagaimana jika kami bersama? "Biar Ardan ada yang urus, enggak sibuk kerja terus sampai kadang lupa waktu kata maminya. Nesya juga membutuhkan sosok ibu pada usianya yang masih segitu. Mereka berdua membutuhkan kamu, Ra. Nesya apa lagi. Ibu tahu dan bisa melihat juga gimana tulusnya kamu menyayangi Nesya." Aku memang menyayangi Nesya, sangat. Sejak dia baru lahir, aku sudah dekat dengannya. Sebagai teman dekatnya sejak kecil, Alana sering memintaku mengunjunginya atau dia yang datang ke rumahku. Setiap weekend atau hari libur, kami pasti bertemu. Sebelum itu, Alana sibuk menghubungiku untuk memastikan aku harus pulang. Alana baik, sangat baik seperti Tante Laras juga. Dan saat dia telah meninggal, aku masih tetap mengunjungi Nesya saat libur. Tante Nelly sering memintaku berkunjung dan aku sendiri juga senang bertemu dengan gadis kecil itu. Tinggal di rumah Tante Nelly, jarang ada Kak Ardan di sana. Lelaki itu masih lebih sering tinggal di rumah yang biasa dia tempati dengan Alana. Aku mendesah, bingung harus bagaimana merespon permintaan ibuku itu. Tak sanggup rasanya membayangkan setiap hari berada di atap yang sama dengan lelaki selalu bersikap dingin padaku. "Nggak tahu, Bu." Aku akhirnya bersuara juga. "Apa benar-benar harus aku? Enggak ada yang lain? Apa Kak Ardan enggak ada teman perempuan yang mau menerima anaknya juga? Kan dia ganteng walau duda juga. Kerjaannya juga bagus. Pasti banyak yang mau sama dia, Bu. Kak Ardan nggak tua-tua amat juga, baru 30 tahun." Aku membekap mulutku, sadar akan kalimat yang aku lontarkan hal-hal bagus tentang lelaki itu. Tak menampik, lelaki itu memang tampan sekali. Postur tubuh tubuhnya bagus, tinggi menjulang dengan kulit kuning langsat yang bersih juga. Kak Ardan tampan dari dulu, itu salah satu yang membuatku jatuh hati padanya selain sifat dan sikapnya yang manis. Tak kusangka jika lelaki yang diam-diam aku sukai itu menyatakan perasaan kepadaku dulu. Dan seiring bertambahnya usia, pesona sebagai lelaki dewasa itu sepertinya semakin bertambah. Belum lagi, pekerjaannya yang tak kaleng-kaleng juga pada usia segitu. Aku rasa, banyak perempuan yang tertarik dengannya walau lelaki itu telah berstatus duda seorang anak juga. Ibu mengangguk, lalu menggeleng. "Kan ibu udah bilang kenapa harus kamu. Selain karena kamu ada seseorang yang Nelly dan Laras percaya, alasan lainnya karena kamu udah kenal juga sama Ardan sejak dulu. Enggak perlu banyak waktu untuk saling mengenal lagi." Justru karena udah kenal dari lama itu, Bu! Ada cerita masa lalu yang membuat hubungan kami enggak baik. Aku hanya bisa menyahut di dalam hati. Memang tak seorang pun tahu mengenai hubunganku dengan Kak Ardan dulu. Perasaan cinta yang dulu Kak Ardan punya untukku, sepertinya sudah hilang lama. Jika tidak, tak mungkin dia bisa menjalin kasih dengan Alana dan bertahan lama hingga akhirnya menikahi perempuan itu. Tak ada jalan keluar bagiku. Ibu memohon dan juga aku tahu betul bagaimana kebaikan teman-temannya itu saat ayahku masih hidup hingga meninggal dunia. Mereka yang membantu keluarga kami, apa lagi setelah ayahku meninggal. Aku dan kedua adikku mungkin tak bisa melanjutkan sekolah kalau bukan bantuan dari mereka. Tak hanya membantu ibu dengan memberikan modal untuk berjualan warung sembako di depan rumah, tapi juga membiayai sekolahku dan adik-adikku. Terutama Tante Laras, orang tuanya Alana. Aku berteman dengan anaknya juga, beliau begitu baik. Jika membelikan sesuatu untuk Alana, sekalian dia belikan untukku juga. Itu salah satu alasannya dulu kenapa aku merelakan Kak Ardan untuk Alana. Selain karena Alana merupakan teman yang baik dan membantuku dalam pelajaran sekolah yang mana otakku ini pas-pasan, ada orang tuanya yang tak kalah baik juga. "Tapi... emang Kak Ardannya mau, Bu? Dia bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih-lebih dari aku. Apa lah aku ini, enggak ada kelebihannya." "Dia mau." Serius? Dia bersedia menikah denganku? Seseorang yang mungkin saja masih dia benci? Au inget persis bagaimana sorot matanya yang tajam pada saat terakhir kali melihatnya. "Kata Nelly, Ardan bilang, "terserah Mami aja". Gitu." Aku menghela napas. Terserah katanya? Apa dia tak berusaha mencari pengganti Alana di luar sana yang setara dengannya? Kenapa mau saja diminta menikah dengan perempuan serba biasa ini? *** "Makin cantik aja kamu, Ra," ujar Tante Nelly sembari tersenyum menyambut kedatanganku. Kami pun duduk di sebuah sofa. "Hampir sebulan terakhir kamu enggak ada pulang kayaknya, ya? Sibuk banget?" Iya. Memang hampir sebulan ini aku tak pulang ke rumah. Sekali ada lembur, namun alasan lainnya karena aku sedang malas pulang. Nyaris sebulan lalu, aku pulang dan berkunjung ke rumah Tante Nelly seperti biasa ingin bertemu Nesya, ada Kak Ardan di sana dan dia sempat melontarkan kata-kata sinis padaku. "Jangan terlalu dekat sama anak saya, kamu bukan ibu kandungnya. Jangan sering datang berkunjung. Saya juga enggak suka ngeliat kamu ada di sekitar anak saya." Mengingat ucapan lelaki itu nyaris sebulan lalu, sempat membuatku agak bingung semalam saat ibu bilang jika Kak Ardan bersedia saja menikah denganku. Dalam waktu singkat, apa dia berubah pikiran atau ada sesuatu lain yang membuatnya menyetujui permintaan mama dan mertuanya? "Iya, Tante. Baru sempat pulang." Kemarin aku pulang juga karena ibu berkata ada hal penting yang hendak dibicarakan denganku. Jika tidak, rasanya aku ingin menghindar saja. Pasalnya, jika aku pulang, Tante Nelly pasti tahu dan memintaku berkunjung ke rumahnya untuk menemui Nesya. "Nesya lagi tidur, baru banget sebelum kamu datang. Dari tadi bawel nanyain kamu terus, sampai akhirnya ketiduran sendiri." Aku manggut-manggut. "Kamu pulangnya masih lama, 'kan? Malam aja pulangnya, nanti di antar sama Ardan. Dia lagi ada di sini." Mendengar nama itu, jantungku berdegup dengan cepat. "Iya, Tan." Tante Nelly pun kemudian membahas tentang hal yang ibuku bicarakan semalam. Aku sesekali menyahut apa adanya dan terkadang hanya mengangguk saja. Sesuatu yang tak bisa untuk dibantah, hanya bisa pasrah saja. Akan bagaimana pun jalannya, mungkin ini lah takdirku. Kembali bersama mantan kekasihku dalam ikatan sebuah pernikahan. Tak lama, saat aku masih berbicara dengan Tante Nelly di ruang tengah rumahnya, Kak Ardan pun muncul dari lantai atas. Jantungku berpacu dengan cepat, pucat seketika. Saat dia menurun tangga dan tak sengaja tatapan kami beradu, aku langsung menundukkan kepala. Tak berani menatap sorot mata lelaki itu. "Dan, ini ada Keyra. Kalian mau mengobrol berdua?" Terdengar suara Tante Nelly dan aku langsung mendongak. Terlihat Kak Ardan sudah menuruni tangga, berdiri tak jauh dari kami duduk. Dan lagi, tatapan kami beradu. Bedanya kali ini, dia langsung membuang pandangannya. "Nanti. Aku mau makan dulu." Aku meremas jemariku, gugup. Berbicara dengan Kak Ardan berdua saja dan kemungkinan akan membahas tentang pernikahan kami? Terbayang akan bagaimana dinginnya lelaki itu berbicara denganku nanti. Menit demi menit seolah berjalan cepat sekali. Dari arah ruang makan, terlihat Kak Ardan berjalan mendekat ke arahku dan Tante Nelly yang masih duduk di sofa. "Mau ngobrol di sini atau teras belakang rumah, Dan? Atau, mau ngobrol sambil jalan keluar?" tanya Tante Nelly begitu lelaki jangkung itu tiba di dekat kami. "Boleh... di belakang aja." Lelaki itu langsung memutar badannya tanpa menoleh ke arahku, menuju ke arah belakang yang mana terdapat gazebo dan perosotan anak di sana. Aku dan Nesya sering bermain di sana. "Ya udah, Ra. Sana susul ke belakang!” Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. Berusaha terlihat tenang walau degup jantungku berpacu dengan hebat. Tiba di sana, aku menghampiri Kak Ardan yang telah duduk di gazebo memandang lurus ke depan dengan kaki menjulur ke bawah. Entah apa yang tengah dilihatnya, sama sekali tidak menoleh ke arahku. "Duduk." Lelaki itu bersuara tanpa menoleh padaku, ketika aku sudah tiba di dekatnya. Aku pun duduk dengan jarak dari ujung ke ujung. "Langsung saja pada intinya... " Lelaki itu berujar dengan nada dingin. "Kamu setuju untuk menikah dengan saya?" Aku mengangguk. "Ya." "Kenapa?" "Karena permintaan ibu, Tante Nelly dan juga Tante Laras. Aku enggak enak untuk menolak. Maminya kamu dan juga Tante Laras udah baik banget ke keluarga aku sejak dulu. Dan juga, karena Nesya. Aku menyayangi Nesya." "Balas budi." Terdengar kekehan sinis lelaki itu. "Is that so? Apa ada alasan lain?" Aku menggeleng. "Cuma itu dan karena Nesya. Emm... kalau kamu sendiri, gimana, Kak? Apa kamu enggak keberatan?" Lelaki itu menoleh dan menatapku tajam, kemudian kembali menatap ke arah depan. "Saya enggak punya pilihan lain, walau sebenarnya saya enggan melihat kamu di sekitar saya." ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
43.8K
bc

DARI LUKA MENUJU KAMU

read
1.4K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
37.5K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
23.5K
bc

Ranjang Panas Ayah Kekasihku

read
9.8K
bc

Menikah dengan Mantan

read
7.4K
bc

Pengantin Pengganti sang Pewaris Dingin

read
8.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook