Bab 3 Malam pertama yang tak pernah benar-benar di mulai

567 Kata
📖 Bab 3 – Malam Pertama yang Tak Pernah Benar-Benar Dimulai > Malam datang terlalu cepat. Dan aku duduk di sisi ranjang besar di kamar yang bahkan terasa terlalu luas untuk satu manusia. Gaun satin putih yang kubenci ini menempel di tubuhku. Entah kenapa pelayan tadi memakaikannya padaku dengan tergesa-gesa. Aku tahu apa yang dimaksud malam pertama. Tapi yang kutakutkan bukan malamnya… melainkan pria yang tidur di ranjang yang sama denganku. “Ara.” Suara itu muncul dari pintu. Raka berdiri di sana, membuka kancing kemejanya satu per satu. Wajahnya tidak berubah — dingin. Tapi ada sesuatu di matanya malam ini. Gelap. Ia berjalan pelan ke arahku. “Jangan takut,” katanya, suara datar namun tegas. “Aku tidak akan menyentuhmu... kalau kau tidak memintanya.” Aku terkejut. “Apa maksudnya?” Dia duduk di ranjang, di sampingku, dan menatap lurus ke depan. “Pernikahan ini hanya formalitas, bukan cinta. Dan aku tidak tidur dengan istri kontrakku… kecuali dia sendiri yang memohon.” Kata-katanya seperti belati. Tapi anehnya, ada rasa lega di balik sakit itu. “Kenapa kau menikahiku kalau kau bahkan tidak menginginkanku?” Diam. Lalu... “Karena kau mirip seseorang yang pernah meninggalkanku.” Jawaban itu membekukan napasku. Ia berdiri, berjalan ke jendela, membuka tirai. Hujan masih turun. “Kau boleh tidur di sini. Tapi jangan berpikir kita suami istri. Kita cuma dua orang asing yang terikat kontrak.” Dia keluar dari kamar tanpa menoleh. Dan di malam pertamaku sebagai istri… aku tidur sendirian. Dingin. Sunyi. Tapi dengan kepala yang penuh pertanyaan. Siapa yang telah meningga lkannya? Dan... kenapa dia menikahi bayangannya? 📖 Bab 4 – Pintu yang Seharusnya Tidak Pernah Kubuka > Hari kedua sebagai istri kontrak. Dan aku belum tahu seperti apa wajah suami baruku di pagi hari — karena dia bahkan tidak tidur di kamar yang sama. Aku duduk sendirian di ruang makan besar, disuguhi makanan mewah oleh pelayan yang tak banyak bicara. Tapi bukan rasa lapar yang memenuhi kepalaku. Melainkan lantai dua. Aku ingat jelas peringatannya semalam: “Jangan menyentuh apapun di lantai dua.” Dan larangan, dalam rumah ini, justru terdengar seperti undangan. Setelah semua pelayan kembali ke dapur, dan rumah terasa sepi... aku berdiri. Kaki ini bergerak sendiri menaiki anak tangga demi anak tangga. Lantai dua sunyi. Hening. Udara terasa lebih dingin. Di ujung lorong, aku melihat satu pintu. Tidak ada papan nama. Tidak ada kunci. Tapi tertutup rapat. Tanganku gemetar saat menyentuh kenop pintu. "Hanya melihat sebentar..." Klik. Pintu terbuka perlahan. Dan hatiku langsung membeku. Di dalam ruangan itu... Terdapat dinding penuh foto seorang wanita muda. Senyumnya manis. Rambut panjang. Dan... wajahnya sangat mirip denganku. Di sudut ruangan, ada rak buku, bunga kering, dan... kotak musik tua yang masih berputar pelan. Aku melangkah mundur, ngeri. Siapa dia? Kenapa wajahku bisa mirip? “Ara?” Suara itu membuatku membeku. Raka berdiri di ambang pintu. Wajahnya dingin — tapi matanya... Matanya menyala marah. “Aku bilang... jangan pernah ke sini.” Aku tak bisa menjawab. Nafasku sesak. “Keluar,” katanya pelan, tapi suaranya seperti pecahan kaca. “Mulai sekarang, semua kontrak berubah. Kau bukan hanya istriku di atas kertas. Tapi jug a... bagian dari hidupku yang tak bisa kau lari darinya.” 🎯 Catatan Dramatis: Ara melanggar batas dan mulai tahu kalau dia bukan orang pertama Raka jadi semakin kompleks: posesif, misterius, dan penuh luka masa lalu Ada konflik emosional yang siap dikembangkan: siapa wanita di fot o itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN