Bab1 Di beli seharga hidup ibu
📖 BAB 1 – Dibeli Seharga Hidup Ibu
> “Kau akan menikah denganku malam ini.”
Suara itu tajam, tak mengenal tawar-menawar.
Aku menatap pria yang berdiri di depanku — Raka Aryasatya.
Matanya gelap. Dingin. Tak ada keraguan.
“Apa maksud Anda?” tanyaku, meski hatiku sudah tahu.
“Tuan rumah sakit. Utang ibumu. Semua sudah lunas. Sekarang giliranku menagih.”
Dia menggeser sebuah map coklat ke hadapanku. Di dalamnya, kontrak... pernikahan.
Aku menahan napas.
“Kenapa saya?” tanyaku pelan.
“Karena aku butuh istri. Dan kau, Ara, adalah pilihan yang paling tak punya suara.”
Dunia terasa runtuh. Tapi di dalam diriku, suara kecil berkata: ‘Tandatangani, demi ibu’.
Dan saat pena menyentuh kertas itu, aku tahu… aku baru saja menyerahkan diriku pada neraka yang
bernama Raka Aryasatya.
📖 Bab 2 – Rumah Tanpa Cinta
> Hujan mengguyur kota saat aku tiba di rumahnya.
“Bukan rumah... ini istana,” pikirku dalam hati, menatap bangunan besar bercat hitam pekat, dikelilingi pagar besi tinggi dan kamera pengintai di setiap sudut.
Supir yang tadi menjemputku di depan rumah sakit langsung membuka pintu. Aku turun dengan tubuh gemetar, langkah terasa berat.
Lalu dia muncul.
Raka Aryasatya, dengan jas hitam, berdiri di ambang pintu seolah menungguku. Wajahnya tanpa ekspresi.
“Masuk,” katanya singkat.
Aku melangkah masuk, disambut oleh aroma antiseptik yang bercampur dengan parfum pria. Bukan rumah yang hangat, tapi rumah yang steril... seperti hidupnya.
“Mulai malam ini, kamu tinggal di sini. Dan kamu akan mengikuti aturan yang kutetapkan,” katanya, melemparkan satu bundel kertas ke meja marmer.
Aku menatapnya. “Aturan?”
Dia menoleh. Tatapannya menusuk.
“Satu, jangan bicara kalau aku tidak bicara.
Dua, tidak keluar rumah tanpa izin.
Tiga, jangan menyentuh apapun di lantai dua.
Empat, jangan mencoba mencintaiku.”
Aku terdiam. Kata terakhir itu terasa seperti tamparan.
“Kenapa tidak?” tanyaku lirih.
Dia mendekat, sangat dekat, hingga aku bisa merasakan napasnya yang dingin di leherku.
“Karena aku tidak tahu bagaimana caranya dicintai... dan aku tidak mau belajar.”
Lalu dia pergi. Meninggalkanku di ruang tamu yang luas dan sunyi.
Hatiku penuh tanya.
Apa sebenarnya yang kualami? Pernik
ahan? Atau penjara tak berdinding?