POV Annisa Bisa kuperhatikan wajah gelisah Mas Attar saat dia membawaku ke rumah sakit. Padahal penjelasan detail bisa didapatkan dari Mas Hamza, aku kenapa dan penyakitku apa, tapi Mas Attar bersikeras untuk memeriksaku sendiri dan berhenti memercayai adiknya lagi. Seakan, apa yang dikatakan Mas Hamza dan yang akan dia katakan semuanya kebohongan. Setelah pemeriksaan di rumah sakit Mas Attar bersama rekannya, aku menetap di salah satu ruangan inap yang ada di rumah sakit. Hasilnya sudah keluar, tapi melihat wajah keruh Mas Attar, saat kudesak dengan pertanyaan, dia bungkam. Seperti enggan dan tidak rela, mengatakan yang sebenarnya padaku. Malah aku diusir dengan bahasa halus, diminta untuk istirahat. Awalnya aku menurut. Terbaring di brankar, menatap langit-langit dengan kepala terbuka

