|6| Parfum Kesukaan Mas Hamza

1554 Kata
Mas Hamza pulang, aku tidak sengaja berpapasan dengannya saat turun ke lantai satu rumah. Entah di mana Aina, seharusnya dia yang menyambut Mas Hamza pertama kali. Mas Hamza berjalan mrnghampiri, hidung lurusnya mendekati tubuhku, mengendus, lalu wajahnya terlihat tidak suka. Aku sengaja berpura-pura lupa akan amanahnya. Diraihnya pergelangan tanganku, ditelitinya lagi penciumannya di sana. Dahinya mengernyit. Ada bekas aroma lain di tubuhku. "Aroma siapa ini?" Wajahnya terlihat tidak suka. Aku ikut mengendus pergelangan tanganku, langsung mengerti. "Bibi Arunika ... di dalam rumah beliau memang senang memakai parfum ini." "Aromanya maskulin, bukannya ini aroma Ilham, sepupu tirimu itu?" "Bibi Arunika dan Mas Ilham memang memakai parfum yang sama ...." Kujawab, memang itu adanya. Aroma Bibi Arunika sengaja membekas di pergelangan tanganku, karena kami memang ada kontak fisik sebelumnya. "Oh," Mas Hamza hanya ber-oh lalu melengos pergi meninggalkanku. Aku kembali ke kamar, ingin beristirahat. Biarkan Mas Hamza menghabiskan malam bersama istri keduanya, langkahku tercegat saat melihat Mas Hamza ternyata ada di kamarku. Tangannya menggenggam botol parfum kesukaannya. "Sini," pintanya, membawaku duduk ke pangkuannya. Bisa kurasakan kedua lengannya mengungkung pinggangku. Dibukanya tutup kepalaku. "Mas—" cegahku. "Ini jadwalmu bersama Aina." "Aku tahu," timpal Mas Hamza. "Jadi—" "Jadi ada yang perlu kulakukan. Setelah itu aku akan kembali ke kamar Aina." Disemprotnya parfum vanilla ke leher dan sela bahuku, meratakannya perlahan. Sedikit mengendusnya, lalu tersenyum manis. Bahuku disingkap, dia ikut menyemprotkannya di sana. Meratakannya lalu menciumnya, menghirup aroma itu dalam-dalam. Gamis atasku nyaris lepas, bersisakan dalaman tank top lalu melorot hingga jatuh bertumpuk ke pangkuan. Kedua bahu dan punggungku, diratakan oleh parfum kesukaannya. Dari rautnya, Mas Hamza terlihat begitu menyukainya. Lenganku ditarik dan semprotan parfum ikut disapukan di sana. Setelah itu gamis atasku diperbaiki. Masih tanpa tutup kepala, kepalaku dibawa dalam dekapan dadanya. Kami berbaring, aku bisa melihat senyumnya yang manis. "40 menit saja ... kita tidur, cuma tidur." Usil, Mas Hamza menyemprotkan parfum vanilla ke rambutku, mengusapnya lalu menghirup aromanya. Dia terbuai. Aku merengkuh kedua bahu kokohnya. Sikapnya masih manis. Ada Aina di antara kami, tapi ... aku merasa seakan hanya ada aku. Kutepis jauh bayangan lain yang bisa saja Mas Hamza melakukan hal yang sama kepada Aina, aku hanya ingin menikmati rengkuhan dan d**a bidangnya. Air mataku menetes, berbisik di dadanya tanpa suara. "Mas ... kapan kamu menjadi suami yang dzalim?" Aku mendengar dengkurannya, sepertinya dia terlelap. Kelak, setelah 40 menit aku akan membangunkannya. "Mas, kapan kamu menjadi suami yang tidak adil?" Kucekram kemeja depan yang dia kenakan, "Mas." Kutahan segukan. "Jatuhkan talak padaku atau kutunggu doaku terkabul, kamu dzalim dan aku akan menuntut cerai darimu ...." Masih berbisik tanpa suara, aku membenamkan kepalaku ke d**a bidangnya. Aku terbangun, setelah itu kulihat Mas Hamza sudah pergi. Ruang sebelahku kosong. Hanya ada guling, yang digantikan oleh Mas Hamza saat kedua lenganku masih mengungkung untuk memeluk sesuatu. Aku keluar dari kamar. Ingin mengecek, kemana Mas Hamza? Padahal sudah jelas dia di kamar Aina. Aku menyerah dan hendak berlalu masuk kembali ke kamar. Tapi dari kamar Aina, yang tadinya gelap, lampu dinyalakan. Napasku sesak, adakah Mas Hamza di sana? Tentu saja. Hatiku remuk. Kudekatkan telinga ke pintu kayu. Sunyi di dalam. Tak ada suara-suara aneh. Apa mereka sudah selesai? Kulirik jam yang ada di lorong. Sudah pukul tiga, pastinya sudah sedari lama mereka selesai bermadu-kasih. Lampu kembali dipadamkan. Suara benturan tubuh mungil yang menjatuhkan diri ke atas ranjang. Tubuh itu merengsak, memeluk sesuatu. Entah guling atau tubuh. Membayangkan Mas Hamza dan Aina berpelukan, mataku perih. Aku melengos pergi, melewati jendela besar. Berlalu untuk Tahajud, mengabaikan sebuah kepulan asap rokok di halaman rumah. Seseorang duduk di sana, merokok, dan mendongak ke langit. Tetap pada posisi yang sama, duduk di sana, sejak 7 jam yang lalu. . . Sebanyak apapun aku berdzikir, meminta dan membentangkan tangan. Di dalam salat dan Tahajudku, sepertinya doaku itu memang sudah diklaim Tuhanku untuk tidak akan terwujud. Aku ketiduran di atas sajadah setelah Subuh. Tubuhku hangat dalam dekapan seseorang, saat seseorang itu mengangkat tubuhku, menggendongnya lalu merebahkanku ke atas ranjang. Dia melepas mukenahku, melipatnya dan meletakkannya ke atas meja. Lututnya menumpu di atas kasur lembut, merapikan anak-anak rambutku, mengendus sela leherku lalu tersenyum. Setelah itu dia pergi. Suara pintu yang ditutup perlahan. Aku terbangun, mengerjap-ngerjapkan mata, melambai-lambai ke langit-langit kamar. Aku bergegas mandi. Berpakaian rapi dan sedikit berdandan. Mas Hamza kelak pasti akan memintanya, kusemprotkan parfum ke pergelangan tanganku dan punggung tanganku. Setelah menghirup aromanya dalam-dalam, aku memperbaiki tutup kepala. Berderap menuju tangga bawah, hendak memasak sarapan. Kulihat hidangan sudah ada di atas meja, Mas Hamza seorang diri menikmatinya. Mungkin Aina yang memasak? Seakan aku kalah telak darinya. "Kamu baru turun?" Kulihat dia makan dengan lahap, matanya mengerjap saat melihatku baru ke dapur. Aku mengangguk. "Jadi, ini yang masak siapa?" "Mungkin Aina ...." "Oh ...." Mas Hamza hanya ber-oh, mendadak dia kurang berminat. Awalnya lahap seperti pagi-pagi sebelumnya, kini dia berhenti mengunyah. Hanya meminum air putih dan menghela napas. "Makanlah Annisa, masakan Aina enak." Pinta Mas Hamza. Aku mengangguk menurut, sakit saat mendengar pujiannya tentang masakan Aina. Entah kemana wanita itu? Aku melahapnya. Hem, benar. Enak. Bukan aku sengaja, tapi masakan Aina rasanya persis seperti masakanku. Aku memang sering melihatnya memerhatikanku memasak, mungkin dia sedikit meniru resepnya yang cocok di lidah Mas Hamza. "Enak, 'kan?" Mas Hamza bertanya sambil meminum air. Aku mengangguk. Mendadak pesimis. "Di mana Aina?" Mas Hamza bertanya yang kujawab dengan gelengan, "aku juga tidak tahu." Mas Hamza meraih pergelangan tanganku lalu menciuminya. Dia tersenyum. "Setelah makan, cuci pergelangan tanganmu. Aku libur ke kantor hari ini. Nanti—sekitar 1 jam lagi Mama sama Mas Attar, Meena, dan Nizar akan berkunjung kemari. Mas Attar dan Nizar tidak boleh mencium aroma memabukkanmu ini." Aku mengangguk, sesuai perintahnya seusai makan sambil mencuci tangan aku mengusap air bersih ke pergelangan tangan dan lenganku, agar aroma tersebut hilang total. Saat aku kembali, Aina sudah ada di meja makan bersama Mas Hamza. Mereka mengobrol, aku melihat tangan Aina menyentuh lengan kokoh Mas Hamza yang tidak menghindar. Menghindar? Bodoh sekali aku mengharapkan Mas Hamza menghindar dari sentuhan Aina. Tidak kembali ke meja makan, aku segera naik ke lantai atas. Ke kamarku. Hanya sentuhan di bahu Mas Hamza dari Aina saja, aku sudah cemburu seperti ini. Apalagi jika melihat langsung mereka berpelukan, ciuman bahkan berhubungan suami-istri. Kepalaku panas, mataku pedas. Demi Allah tidak sanggup membayangkannya. . . Canggung saat bertemu dengan ibu mertua dan ketiga iparku. Mereka baik, tidak menjahatiku sama sekali. Tapi mereka juga baik kepada Aina, egois jika aku mengharapkan mereka hanya baik kepadaku. Aina tetap menantu untuk Ibu mertuaku dan ipar untuk ketiga iparku. Kami makan siang di luar rumah, Meena yang sebaya dengan Aina mengobrol seru. Mereka cepat sekali akrab, kadang aku iri. Aku hanya mengobrol sepatah-dua kata bersama Ibu mertuaku dan menjawab pertanyaan Mas Attar. "Kamu masih mau belum punya anak, Ham?" Mas Attar bertanya. Mas Hamza mendongak lalu mengangguk. "Tunggu beberapa tahun lagi." "Kenapa?" Dahi Mas Attar mengernyit. "kamu sudah berumur 33 tahun, Annisa sudah berumur 31 dan sekarang sudah ada Aina? Kenapa masih mau menunda?" Dia bertanya sembari menjejalkan makanan ke dalam mulut. Diam, saat mengunyah. "Ini urusanku," Mas Hamza menjawab ketus. "Aku punya alasan untuk itu." "Baiklah," Mas Attar mendesah pelan. "Lebih baik kamu urusi urusanmu sendiri. Sudah berusia 35 tahun, kenapa belum menikah?" Tudingnya heran, "itu aneh." "Mau bagaimana lagi, calonnya udah kamu embat. Sekarang lagi nyari yang lain dulu, deh." Saat Mas Hamza diam dengan raut menahan kekesalan, aku melontarkan pertanyaan. "Aina?" Ajaib sekali kecantikan Aina jika bisa merebut perhatian kedua kakak-beradik di hadapanku ini. "Bukan," timpal Mas Attar, santai. "Kamu." Aku mengerjap, mulai bergerak tidak nyaman. Aku melirik wajah Mas Hamza yang hanya diam. Mas Attar melanjutkan makan siang, mendadak lingkungan sekitar canggung. Aku berusaha mengabaikannya, sekalipun menyadari tatapan Mas Attar yang begitu penuh arti. Mas Attar masih melirikku, hingga Mas Hamza menggebrak meja dan berdiri. "Pulanglah duluan," pinta Mas Hamza padaku. Dia menghubungi sopir yang datang 20 menit kemudian. "Masuk dan pergilah ke rumah duluan. Nanti aku pulang dan menyusul." Aku menurut, tergugu saat dia mencium pipiku di depan yang lain. Dengan segera mungkin aku menghindar dan masuk ke dalam mobil. Di rumah aku menunggu sampai gelap. Mas Hamza baru pulang bersama Aina tanpa anggota keluarganya yang lain. Mas Hamza terlihat gusar, melirikku yang menyambutnya di ruang tamu. "Sudah kupul 20.10, Annisa. Masuklah ke kamarmu, sesuai jadwal aku akan bermalam di tempat Aina." Sesak, napasku menjadi sempit setelah mendengar titahnya, kata lainnya mengusirku. Padahal berjam-jam aku menunggu dari siang sampai malam mereka belum kunjung pulang. Aku mengangguk lalu pergi. Mas Hamza dan Aina masuk ke dalam kamar. Kali ini aku tidak menangis. Berbaring di ranjang sambil menyanggah pipi dengan telapak tangan. Aku suka udara malam saat aku terbangun untuk salat Tahajud. Setelah beribadah, aku keluar dari gedung rumah. Udara malam membuat mataku memerah. Tubuhku membelah hembusan angin dingin. Terperanjat saat menemukan sosok yang duduk di kursi yang ada di halaman belakang rumah. Kepulan asap rokok, satu kaki lelaki itu dilipat. Perlahan aku mendekatinya, "Mas Hamza?" Suamiku menoleh. Wajahnya pucat karena udara dingin. "Kenapa kamu di sini, Mas?" Mas Hamza membuang putung rokoknya. Dia mendongak, menatapku. Tanpa kalimat melengos pergi meninggalkanku untuk masuk ke dalam rumah. Aku mengejar langkahnya. Mas Hamza masuk ke dalam kamar Aina, membuka pintunya yang tidak dikunci, masuk dan menutupnya dari dalam. Dapat kudengar sahutan riang Aina yang terbangun. "Mas, tumben kamu ke sini?" Tumben? Kalimat Aina seakan Mas Hamza tidak pernah menemuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN