|7| Mas Hamza

1030 Kata
Pagi-pagi sekali aku bangun karena hari ini niatku hendak mengunjungi Tante Arunika. Setelah salat Tahajud aku langsung memasak untuk sarapan dan makan siang Mas Hamza. Secara kebetulan untui beberapa hari Mas Hamza libur dari pekerjaannya. Seharian selain karena urusan mendesak pasti ada di rumah. Karena sesuai jadwal dia akan bersama Aina mungkin aku tidak akan dibutuhkan. Jika dia memintaku menetap, yah ... baiklah. Tapi kuharap dia mengizinkanku pergi mengunjungi Tante Arunika. "Mbak?" Suara Aina memanggil membuatku menoleh. "Kok pagi-pagi sekali?" Kerutan di dahinya memperjelas kebingungannya. Aku hanya tersenyum, setipis mungkin—semiris mungkin. Kulanjutkan memotong sayuran, Aina yang meraih segelas air putih dan menenggaknya melirikku yang fokus pada sayur-sayuran dan daging ayam mentah. Akhirnya, Aina ikut bantu-bantu. Kuali yang mengepul, uapnya menimpa wajahku. Setelah mengaduknya dan matang, mulai kutaruh ke dalam wadah lalu menyimpannya ke dalam lemari. "Subuh 'pun belum, Mas Hamza pasti masih tidur." Celetukan Aina terdengar, sekali lagi aku hanya tersenyum. Setelah selesai kuambil kotak obat vitaminku. Merobek bungkusnya dan meminumnya. Aina melirikku penuh arti, dia mengambilkan segelas air dan memberikannya padaku. Aku mengibas tangan, setelah berpamitan melangkah lebih dulu untuk menemui Mas Hamza di kamar Aina. Kuketuk pelan pintu kamar Mas Hamza, sambil mengucapkan salam. "Mas?" Tak ada sahutan. Karena Aina di luar, pintu kamar tidak dikunci. Perlahan kudorong pintu kamar hingga terbuka, mataku menjelajah—mencari-cari sosok Mas Hamza. Aku tidak menemukannya di atas ranjang, seharusnya dia masih tertidur. Aku terperanjat saat menemukannya tidur di atas sofa di balik pintu yang kubuka. Mas Hamza terlihat nyenyak, dengan bantal kepala dan bentangan selimut di atas tubuh. Kenapa dia harus tidur di sofa? Padahal ranjang terbentang nyaman di tengah ruangan. Kenapa harus sofa yang sempit? Apakah semalam kalian b******a di atas sana? Aku berjongkok di sisi sofa yang ditempatinya. Tanganku terangkat, perlahan menyapu lembut pipi kanannya. Kutarik bentangan selimut untuk menutupi tubuhnya secara sempurna. Dia terbangun, membelalak melihatku yang tengah memperbaiki posisi selimut. Sontak, bahunya langsung tegap. "Kenapa di sini?" "Hem," gumamku pendek, lalu mengalihkan pertanyaan dengan membuang muka. "Kenapa Mas tidur di sini?" Alisku terangkat bingung. Tangan besarnya mengusap kasar wajah tirusnya, "Mas dengan Aina memang tidur di sini tadi malam." Mataku redup, berarti benar dugaanku? "Kenapa bantalnya cuma satu?" Aku menepuk bantal besar yang dia jadikan sanggahan kepala. Mas Hamza menatapku penuh arti, seperti jengkel saat ditanyai. "Lihat, bantalnya cukup besar untuk kami berdua 'kan?" Kilahnya, berusaha menyangkal. Kuanggukkan kepala perlahan, ingin berhenti berdebat karena wajahnya terlihat kesal. "Mas ... aku izin ke rumah Bibi Arunika hari ini ...." Kulirik wajahnya yang semakin terlihat tidak senang. "Menginap semalam, aku pulang besok." Mas Hamza terlihat ingin melarang. "Mumpung aku libur, aku mau kamu ada di rumah, Nis ...." Melasnya, dengan nada suara kurang setuju. Aku masih berusaha membujuk, tapi dari gelengannya Mas Hamza masih menolak tegas. Helaan napasku terdengar, "baiklah, aku akan menetap di rumah jika." Aku menempatkan diri berjongkok di sebelah sofanya, menyentuh lengan kokohnya untuk berpegangan. Tidak sengaja tanganku mencekram kuat bahu lebar Mas Hamza. "Kamu menjawab pertanyaanku." Wajah Mas Hamza pias, apalagi ketika mulutku lanjut membuka. "Ada alasan lain kenapa kamu menikah lagi, Mas?" Dia mengalihkan muka, terlihat enggan untuk menjawab. Setidaknya Mas, jangan membuatku berpikir kamu picik jika menikah lagi hanya karena kecantikan seorang wanita yang berlalu-lalang di sekitarmu. "Mas," aku menangkup wajah tirusnya, memelas. Bahkan tidak sengaja meremuk tulang rahangnya. "Jawab aku," pintaku dengan bibir bergetar. "Pasti ada alasan lain 'kan? Setidaknya alasan syar'I suami menikah lagi?" "Satu alasan, Annisa." Mas Hamza menjawab, aku menantinya dengan wajah tidak sabar. Mungkin ada hal besar yang bisa membuatku memakluminya? "Agar aku terhindar dari zina." Aku meringis, binaranku redup. Begitu, Mas? Jawabannya seakan sebuah lelucon yang menggelitikku untuk tertawa. "Mas pernah dengan firman Allah?" Kepalanya tidak bergerak, masih berusaha mengalihkan pandangan. "(Kebolehan menikahi hamba sahaya) itu, adalah bagi orang-orang yang takut terhadap kesulitan dalam menjaga diri (dari perbuatan zina). Tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 25)." Bibirku meringis saat mengulang makna ayat itu. Lalu kuulangi, "tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu, Mas." "Meskipun kamu kesulitan menjaga diri dari perbuatan zina." >< Lebih dari sebulan yang lalu. Aku dikejutkan oleh kehadiran Aina saat Mas Hamza memperkenalkannya. Mereka sudah menikah secara sirih, dan Mas Hamza memintaku agar mengizinkannya menikahinya secara resmi dan mengadakan resepsi. Napasku tertahan saat itu, sontak menjerit. "Baiklah, nikahi dia, Mas! Tapi ceraikan aku!" Mas Hamza menatapku dingin, "aku takkan pernah menceraikanmu ...." "Atau ceraikan dia!" Aku menunjuk Aina. "Apakah pantas seorang suami menceraikan istrinya setelah 'ibadah' yang baru saja kami lakukan semalam?" Aku terkejut, mataku pedas seakan gumpalan cabe dioles ke kelopak mataku. "Baiklah," pundakku melemas. "Kalau begitu ceraikan aku, Mas. Kamu menikah lagi tanpa izinku, maka aku akan menjadikannya alasan di pengadilan untuk berpisah darimu. Sekaligus menuntutmu," aku mendengus, mataku menyala-nyala. "Baiklah," setelah anggukan kuat Mas Hamza tersenyum miring, yang membuatku pias. "Aku akan balik menuntut Ilham, sepupu tirimu itu. Atas kerugian di perusahaanku karena keteledorannya beberapa minggu yang lalu. Berapa aku rugi, Annisa? Entah berapa milyar. Aku bisa menuntutnya, jika kamu balik menuntutku di pengadilan. Aku pasrah saja selama ini demi kamu. Kamu gugat cerai aku, kamu tuntut aku ... kutuntut Ilham. Aku mendekam di penjara, sepupu tirimu juga. Dua orang terdekatmu, jika keputusan kamu demikian akan terkurung di sel jeruji. Kamu setuju dan tidak keberatan akan itu?" Kepalaku beku. Kugigit sudut bibir. Tante Arunika pasti sedih jika anak tiri kesayangannya mendekam di penjara. Belum lagi suaminya baru saja meninggal akhir-akhir ini. "Setidaknya Annisa," Mas Hamza melanjutkan kalimatnya. "Selagi aku masih menjadi suami yang adil dan tidak dzalim, pertahankan aku. Selain itu alasannya, kamu gugat cerai aku, aku tuntut Ilham ke pengadilan." Senyum Mas Hamza penuh arti. Tak ada pilihan. Aku menyesal menyetujuinya. Dan yang bisa kulakukan hanya berdoa, agar Mas Hamza menjadi suami yang dzalim. Dan aku akan terlepas darinya. Tapi seakan tahu sedari awal dalam keadilan beliau sempurna. Tidak kutemukan cela pada suamiku—Mas Hamza. Maka aku akan terus berharap dan mendoakannya. Doa burukku, "semoga kamu menjadi suami yang dzalim, Mas." Hanya dzalim padaku. Doa baikku untukmu, Mas. "Setelah kita berpisah, semoga kamu bahagia dunia-akherat. Bersama wanita selain aku dan anak-anak yang bukan keluar dari rahimku." Sebenarnya aku mengharapkan kebahagiaanmu tanpa harus melukaiku. Karena pernikahan ini melukaiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN