"Kalau begitu pergilah," pinta Mas Hamza sambil menegapkan tubuh.
Dia melirikku dari atas, pandangannya redup. Seperti tidak rela. "Pulanglah besok, karena besok jadwalku bersamamu."
Lelaki itu mengambil handuk, membuka kemejanya—bersiap hendak mandi. Aku menunduk saat dia bertelanjang d**a, kepalanya menoleh—melirikku.
"Satu hal yang tidak kusukai semenjak aku menikah lagi, Annisa," suaranya terdengar dingin. "Kamu menunduk dan mengalihkan pandangan saat kamu melihatku—dengan pakaian terbuka atau semacamnya—seakan aku bukan suamimu."
Aku mendongak, menatap lurus tubuhnya.
Dia mendekatiku, menyibak tutup kepalaku. "Kamu masih mencintaiku 'kan?" Bisiknya di sela leherku.
Kepalaku bergeming, membatu seperti es.
Kepala itu masuk dan bersender di bahuku. Tarikan napasnya kuat, kedua tangan besarnya terangkat dan menyanggah punggung belakangku. Membawanya merapat, helaan napasnya begitu lelah.
"Kamu masih mencintaiku, 'kan?" Bisiknya sekali lagi.
Kepalaku nyaris menggeleng, kedua tangannya sigap dan menahan kepalaku kuat. "Annisa ...." Panggilnya lirih.
Matanya memerah, lalu mengulangi kalimatnya. "Kamu masih mencintaiku 'kan?"
Usapan lembut di dahi dan pipiku, seperti membujuk aku untuk mengiakan. Kepala dan tubuhku masih kaku, menatap samar matanya yang berembun.
"Tidak, Mas ...."
Saat kepalaku menggeleng, tangan besarnya yang menangkup pipiku berakhir meremuk kepalaku. Kulihat dia berusaha menahan ringisan.
Setelah d**a bidangnya semakin merapat dan menepuk-nepuk punggung kecilku, dia menarik tubuhnya menjauh.
"Baiklah ... baiklah." Helaan napasnya dengan kepala mengangguk-angguk dan mata yang memerah.
Kecupan kuat singgah di pipiku, setelah itu dia mendorong tubuhku menjauh. "Pergilah, sekarang. Kamu akan menginap 'kan? Kalau begitu bersiaplah."
Dia berlalu ke dalam kamar mandi. Aku masih membeku di tempat. Melirik nakas dan meja rias. Banyak peralatan make up di atas sana dan parfum.
Mas Hamza memang sangat menyukai wangi-wangian, terlebih vanilla yang biasa kukenakan dan kusemprotkan ke sekujur tubuh. Aku meraih sebotol parfum yang tinggal setengah, lalu membukanya. Hidungku mengernyit saat mengendusnya.
Bau lemon?
Ini parfum Aina atau Mas Hamza?
Mas Hamza alergi dengan bau lemon.
Dia sangat tidak menyukainya.
Jika Mas Hamza memakainya, tidak mungkin. Kalau Aina yang memakainya, untuk apa? Mas Hamza tidak menyukai bau ini, maka dia akan menjauh. Dilihat dari isinya yang berkurang, sepertinya Aina benar-benar memakainya.
Sengaja kusemprotkan parfum lemon itu ke sekujur tubuhku. Pergelangan tanganku dan sela leherku, agar Mas Hamza tidak bisa mendekatiku. Setelah itu aku keluar, mulai bersiap untuk menginap di rumah Bibi Arunika.
Aku berpapasan dengan Aina di depan pintu kamarnya.
Dia mendekat, hidungnya mengendus.
"Mbak pakai parfumku?"
"Hanya mencoba," jawabku, santai.
Aku merapatkan diri dan ikut mengendus. Aroma lemon samar tercium dari tubuh Aina. Aina benar-benar memakainya.
"Kenapa kamu memakai parfum ini?" Kutanya, heran.
"Memangnya kenapa, Mbak?" Jawabannya menimpali pertanyaanku.
"Mas Hamza tidak menyukai aroma lemon, bahkan dia alergi ... kenapa kamu memakainya?"
Kulihat wajahnya bergerak tidak nyaman. Sudut bibirnya digigit. "Mas Hamza yang membelikan parfum ini untukku ... dia juga yang menyuruhku memakainya ...."
Aku mengerjap. Untuk apa Mas Hamza melakukannya?
"Serius?" Aku menimpali tidak yakin.
Aina hanya mengangguk, lalu melengos masuk ke dalam kamar.
Berusaha mengabaikannya, aku segera mengemasi beberapa barang dan pakaian. Aku sudah mandi sebelum salat Tahajud, membuat tubuhku seakan beku sekarang.
Setelah salat Subuh, aku membawa tas sandang yang kubawa ke lantai bawah dan kunci motor. Menunggu sejenak hari sampai matahari terbit, aku sudah menghubungi Tante Arunika untuk menginap di rumahnya sehari-semalam.
Di lantai bawah, ada Mas Hamza yang tengah menikmati sarapan buatanku. Aku mendekatinya sebelum benar-benar pergi, "aku pergi, Mas—"
Tangannya yang nyaris kusambut, Mas Hamza segera bergerak menghindar sambil mengampit hidung. "Baumu? Kamu pakai parfum lemon?"
Wajahnya terlihat gelisah, sangat tidak menyukainya.
Aku hanya mengangguk, dia menutupi lubang hidung dengan kapitan jari.
"Kenapa kamu pakai itu?"
"Bukannya Aina juga memakainya?" Timpalku, sambil menaikkan sebelah allis.
Dia menatapku dingin. Secara perlahan dilepaskannya kapitan jemari di hidung lancipnya, sekalipun matanya memerah karena sangat tidak menyukai baunya hingga hidungnya mengernyit bahkan mengerut ke dalam.
"Mendekatlah ...." Pintanya, sekalipun penciumannya benar-benar mengusik. Setidak suka inilah Mas Hamza dengan parfum lemon, entah mengapa dia meminta Aina memakainya.
Aku bisa merasakan dekapan badannya saat dia membawa kepalaku untuk mendarat ke d**a bidangnya. Kesalahan besar, Mas. Aroma lemonku akan membekas di tubuhmu. Kupikir, kamu akan mandi dan membersihkan diri setelah ini. Karena aroma lemon itu sangat menganggumu. Dia mencium dahiku, mengusap tutup kepalaku perlahan lalu menangkup rahang kerasku.
"Besok pulang, ya? Pagi-pagi. Karena peranmu kembali dimulai besok sampai tiga hari kemudian."
Kepalaku mengangguk, aku bisa merasakan usapan lembutnya di pipiku.
Kulirik hidungnya yang benar-benar memerah, sepertinya tersiksa harus menahan diri dari aroma lemon.
"Jangan lupakan obatmu," Mas Hamza mengingatkan. Dia mengambil wadah kotak obatku, lalu kubawa kotak tersebut dalam dekapan.
Aku mengonsumsi banyak obat-obatan, yang semuanya diurus oleh Mas Hamza. Dia yang membelikannya dan memberitahu padaku apa manfaatnya. Karena kadang perut bawahku terasa sakit.
Mas Hamza sering membawaku ke dokter, dari penjelasan dokter aku baik-baik saja. Cuma masalah perut bagian bawah saja tapi harus sering berobat agar tidak terasa sakit dan minum obat.
Selain obat nyeri tubuh bagian bawah ada juga obat diet agar tubuhku bisa semampai seperti sediakala. Tapi selama ini, aku tidak mendapatkan efeknya. Setidaknya tubuhku tidak segemuk dan semelar yang kutakutkan. Selain itu vitamin dan obat-obatan lain. Yang kata Mas Hamza penting bagiku untuk mengonsumsinya. Demi tubuhku, kulitku dan kesehatanku.
Kukendarai motorku menuju rumah Tante Arunika, jauh pergi meninggalkan bangunan rumah Mas Hamza. Tanpa sadar aku menguatkan pegangan dan mengebut, karena hatiku yang sedikit gundah.
><
POV Author
Aina mendekat ke kamar mandi, memerhatikan bayangan Hamza dari balik pintu yang tengah mengguyur tubuh dengan air. Menghilangkan jejak bau lemon di sekujur tubuhnya, sekalipun dia senang dengan bekas aroma Annisa. Tapi bau lemon tersebut masih menganggunya, membuat hidungnya panas. Ditariknya handuk dari gantungan di balik pintu, lalu diikat dan digantungnya ke pinggangnya setelah mengusap badannya yang basah dengan handuk kering.
Hamza keluar dari kamar mandi, sedikit terperanjat saat melihat Aina menungguinya di depan pintu tapi diabaikannya. Hamza membuka lemari, mencari pakaian baru. Wajahnya sedikit kusut, diacaknya rambut yang basah setelah terguyur oleh air.
Aina mendekat, menyadari sepertinya Hamza kesusahan memilih pakaian yang pas untuknya. Biasanya, Annisa yang menyiapkannya.
"Perlu kupilihkan, Mas?"
Melihat Aina yang merapatkan diri, Hamza menghela napas lalu meliriknya.
"Pakai parfummu," jawabnya ketus.
Aina tergugu, belum beranjak.
"Cepat," suruh Hamza.
Aina dengan terpaksa menyemprotkan parfum lemon ke sekujur tubuhnya. Hamza mengernyitkan hidung, lalu lebih menjauh. Aina tidak akan bisa dekat-dekat dengannya, karena Hamza memang tidak mau di dekatnya karena aroma lemon yang benar-benar menganggunya.
"Jaga jarak dariku, aku tidak suka aromamu," pinta Hamza lalu memilih pakaiannya sendiri. Sedikit asal-asalan, Hamza tidak perduli kemeja yang dia pilih terlihat norak.
Aina dan bau yang dibenci Hamza—lemon—menjaga jarak dan tergugu di depan ambang pintu. Tidak bisa mendekat, pilihan untuknya hanya satu—menjauh. Saat Hamza melewatinya, dengan aroma tersebut Hamza pasti menjauhinya sambil mengampit hidung, tak ada pilihan lain bagi Aina selain menjauhkan diri lebih dulu sebelum diusir dengan kalimat kejam.
Kalimat 'aku tidak suka baumu' sangat menohok d**a Aina. Padahal Hamza sendiri yang memintanya memakai parfum ini—bukan vanilla yang Hamza sukai seperti yang dipakai Annisa, tapi aroma lemon yang Hamza benci. Aina tidak bisa berada di dekat Hamza jika sekujur tubuhnya berbau lemon.