|9| Sebuah Alasan

1355 Kata
Pagi-pagi sekali sesuai permintaan Mas Hamza, sehabis dari rumah Bibi Arunika aku bersiap dan melaju pulang. Di perjalanan aku singgah di sebuah toko untuk membeli parfum lemon, sesampainya di halaman depan rumah aku menyemprotkannya ke tubuh agar Mas Hamza tidak bisa mendekatiku. Benar sekali, saat dia menyambutku di ruangan depan, gerak tubuhnya langsung menghindar dengan hidung mengernyit. Mau bagaimana lagi, Mas Hamza sangat tidak menyukai bau lemon. Dia alergi berat. Lihat, hidungnya sudah memerah. "Kenapa kamu memakai parfum lemon, agar aku tak bisa mendekatimu?" Pertanyaan Mas Hamza terlempar dingin. Maniknya menatap tajam. Aku mengangkat bahu santai. "Aku mandi dulu," jawabanku terdengar luwes. Mengabaikan Mas Hamza yang mendelik kesal, kulirik kedua tangannya mengepal. Aku hanya tersenyum penuh arti, dengan semerbak aroma lemon setelah kusemprotkan berlebihan ke sekujur tubuh aku melangkah ke atas. Menutup pintu, menata barang-barang bawaanku ke tempat asalnya dan bersiap membersihkan diri. Kasihan juga Mas Hamza jika tidak bisa mendekatiku karena terhalang bau lemon ini. Guyuran air menggosok tubuhku yang aroma lemonnya menyengat. Mendadak tubuhku membentur dinding belakang. Mengerang sakit, sambil meraba perut bagian bawahku. Sakit luar biasa. Ringisanku menahan erangan kuat. Entah kenapa, hal yang sama terjadi seperti sebulan yang lalu. Dan beberapa waktu sebelumnya. Mas Hamza selalu membawaku ke dokter, dan berkata aku baik-baik saja setelah pemeriksaan, hanya sakit perut biasa. Tapi aku rasa aku tidak baik-baik saja ... Saat aku terdampar di lantai, pintu didobrak. Rintihan sakitku terdengar sampai luar. Mas Hamza muncul dengan raut panik, mendekap bahuku dan mencari handuk untuk menutupi tubuhku. Dia menjerit, memanggil Aina. "AINA! AINA!" Tak ada sahutan dari Aina. Mas Hamza mengerang kesal, berlalu keluar. Lalu memanggil keras, "AINA! CEPAT KE SINI! AKU MENEMPATKAN KALIAN SERUMAH, KARENA JIKA ANNISA MEMBUTUHKAN KAMU HARUS ADA! AKU MEMBAYARMU MAHAL UNTUK ITU!" Aina muncul dengan langkah tergopoh. Wajahnya pias. Aku hanya menoleh heran. Apa maksud kalimat Mas Hamza? Mas Hamza menggendongku yang kesakitan dan membaringkan tubuhku di atas ranjang. Kulirik Aina membawa obat-obatan dan peralatan medis. Aina dokter? Aina mulai memeriksaku dan memberikanku obat penahan nyeri. Mas Hamza di sudut ruangan menggusar rambut frustrasi, lalu berlalu keluar dari kamar. Memanggil para pelayan. Para pelayan yang datang terlihat panik, mulai membantu Aina yang memeriksa dan mengobatiku. Seakan beberapa pelayan yang membantu Aina paham dengan ilmu medis dan kesehatan, bukan sekedar memasak, mencuci dan bersih-bersih. Aku melirik Mas Hamza yang matanya memerah, ingin menuntut penjelasan. Tapi bicara saja, aku tidak bisa. Hanya bisa berbisik dari jarak dekat. "Aina ...." Aku memanggil Aina yang tengah memasangkan selang infus ke pergelangan tanganku. Mataku berair, antara haru dan heran. "Kamu dokter?" Tak kusangka dia wanita terpelajar. Aina menatapku, lalu mengangguk. "Iya, Mbak aku dokter. Mungkin Mbak kesal, kenapa harus ditempatkan serumah denganku? Profesiku berguna untuk itu, tepatnya semuanya demi Mbak." "Emangnya aku sakit apa?" Pertanyaanku lirih, saat aku bertanya kepada Mas Hamza, dia selalu berkata aku baik-baik saja. Aina menatapku samar, nyaris membuka mulut. Mas Hamza langsung menyela, diraihnya telapak tanganku untuk ditangkup. "Kamu baik-baik saja, sayang. Sakit perut biasa. Mas yang terlalu paranoid," Mas Hamza melirik Aina, seperti menyalahkan perempuan itu yang sengaja membuka mulut, memberikanku beberapa clue yang membuat kepalaku pening. "Mas bohong 'kan?" Tuduhku dengan mata memerah. Senyum Mas Hamza terlihat begitu meyakinkan, tapi aku masih meragukannya. "Kamu baik-baik saja, sayang ... sungguh. Mas tidak berbohong," diusapnya kening dan rambutku. Mendaratkan kecupan di puncak kepalaku, beralih ke ujung hidung dan kedua pipi. Sakit di perut bawahku berangsur hilang, aku mencekram tangan besar Mas Hamza yang mendudukkan diri di tepi kasur. "Mas nggak boleh bohong ...." Tangisku pecah. "Aku kenapa?" "Kamu baik-baik saja," desak Mas Hamza. "Mas yang jamin itu, kamu baik-baik saja, sayang." Aku yang pasrah mengangguk pelan. Mas Hamza membaringkan diri di sebelahku, lengannya menarik leherku, membawaku ke dalam dekapannya. "Istirahatlah," pintanya dengan nada lirih. "Mas mohon, jangan banyak pikiran dan istirahatlah." Aku melirik wajahnya dari dekat, lalu mengangguk pelan. Aina tergugu di tempat, menatap kami lalu mengundurkan diri diikuti beberapa pelayan yang lain. Ketiga pelayan yang hadir, mulai bekerja di sini semenjak Mas Hamza menikah lagi. Mereka kurang ahli dalam bersih-bersih, memasak ataupun mencuci, sekalipun kurang becus aku tidak pernah berniat memecat mereka. Tapi dari yang kuperhatikan barusan, mereka terampil dalam medis. Dan terlihat pintar. "Aina dokter, ya Mas?" Aku menanyakannya ulang kepada Mas Hamza, awalnya aku tidak tahu-menahu tentang profesi adik maduku. Mas Hamza mengangguk letih, wajahnya terlihat cemas. Takut aku bertanya macam-macam. "Ketiga pelayan baru kita ... kayaknya bukan pelayan biasa, ya Mas?" Aku bertanya lembut. Kuharap hatinya luluh dan menjawab jujur. Mas Hamza mengangguk, "mereka perawat, rekan Aina." "Aku kenapa, Mas?" Aku mengusap pipinya, memohon. Agar dia menjawab. "Kamu baik-baik saja. Kalau kamu nggak baik-baik saja, Mas bisa gila jika harus menerima kenyataan itu." Mas Hamza menenangkanku. Aku mendekap d**a bidangnya. Lalu mengangguk. Setidaknya, aku yang akan mencari tahu sendiri kelak. . . Kucek kotak obatku. Selama ini mereka mencurigakan. Aku tak yakin, mereka semua benar adanya seperti yang Mas Hamza jelaskan. Cuma vitamin, obat langsing, obat pencerah kulit dan semacamnya yang Mas Hamza katakan untuk menjaga kecantikanku. Padahal tidak ada efeknya sama sekali, kukira selama ini semua ini obat gadungan atau promosi obatnya tak sesuai kenyataan. Karena kondisiku sudah membaik dan Mas Hamza tidak ada di rumah, aku keluar dari rumah. Sengaja, tanpa izinnya. Jika Mas Hamza marah, itu urusan belakangan. Dia juga sengaja membohongiku. Kutelpon Mas Attar, Kakak Iparku. Aku ke rumah sakit tempat dia bekerja, saat menemuinya aku malah menyesalinya. Kami berhadapan, dan atmosfer di sekitar kami mulai canggung. Aku baru ingat, kalau Mas Attar sempat hendak melamarku tapi sudah diembat adiknya duluan seperti yang dia jelaskan. "Ada perlu apa, Annisa?" Suara Mas Attar canggung, dia berdeham. Meminimalisir kegugupan. Kuperlihatkan kotak obat di tangkupan tanganku, membukanya dan memintanya memeriksanya. "Hm, dari bungkusnya ini ... memang vitamin, obat kecantikan, obat langsing dan semacamnya. Tapi ...." Mas Attar mengoyak bungkus tablet obat, matanya menyipit. Dicecapnya ke ujung lidah, "tapi kok dari warna, rasa dan bentuknya beda, ya ...." Dibukanya bungkus obat yang lain. "Tak sesuai merk dan bungkus, rasanya benar-benar berbeda." Mas Attar terlihat heran, dia membangkitkan tubuh. Mengambil obat langsing, obat kecantikan dan obat vitamin yang merknya sama. Saat bungkusnya dirobek, bentuk dan warna bahkan rasanya berbeda drastis dari obat-obatan milikku. Wajahku memucat. "Kembalilah ke sini besok, Annisa. Aku akan memeriksa obat-obatan ini bersama kenalan farmasiku." Mas Attar menyungging senyum manis. "Baik, Mas. Terima kasih banyak." Kubangkitkan tubuh dan membungkuk. "Aku pergi dulu, ya Mas—" saat aku berlalu dan hendak membuka pintu, mendadak Mas Attar berdiri dan menahan kuat lenganku. Aku mendelik tajam ke arah tangannya, perlahan dia melepaskannya. "Annisa ...." Panggil Mas Attar, membuat perasaanku tidak enak. Dia hendak meraih pipiku, aku segera menghindar. Sejauh mungkin. Mas Attar menghela napas, kulihat matanya berkabut. "Aku cuma mau mengatakan ... jika kamu terluka terus, tak usah bertahan. Aku ada untukmu, jika kamu memutuskan untuk bercerai. Aku tak keberatan menerima janda dari adikku sendiri." Aku bisa menemukan cinta terdalam di dalam lautan indah matanya. Bahkan melebihi Mas Hamza, aku tak pernah melihat seorang lelaki menatap seorang wanita sesayang dan secinta ini. Kepalaku menunduk, lalu berpamitan, "aku pergi dulu, Mas. Assalamualaikum." "Aku serius, Annisa." Mas Attar memelas. "Bahkan, jika kamu menerimaku. Aku berjanji untuk menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupku. Satu-satunya!" Mas Attar menegaskan, "bahkan jika kamu meninggal lebih dulu, aku takkan pernah menggantikan posisimu dengan wanita lain." Wajahnya memohon, membuat perasaanku tidak enak. "Aku pergi, Mas—" "Annisa!" Suara Mas Attar melengking. "Ya atau tidak? Maksudku, boleh aku menunggumu sampai kamu lelah dengan pernikahanmu bersama Hamza? Sekalipun tak ada kepastian, kamu akan memilihku kelak." "Umur Mas sekarang sudah berapa tahun? 35 tahun 'kan?" Diungkit umur, Mas Attar terlihat kurang senang. "Menikahlah sekarang, Mas ... dengan wanita lain pastinya ...." Salam sudah kuucapkan sejak awal, tanpa berkata apapun lagi, aku membuka pintu dan pergi. Sedikit berlari di lorong rumah sakit. Aku pias saat melihat Mas Attar mengejarku. Langkahnya tergopoh dengan napas ngos-ngosan. "Baiklah, Mas." Suaraku tertahan saat kami kembali berhadapan. "Silahkan, tunggu aku." Kulihat wajahnya semringah. "Tapi, aku tak bisa menjanjikan apapun." Dia tidak terlihat keberatan. "Aku sudah menunggumu lebih dari 17 tahun, Annisa ... jika disuruh kembali menunggu, aku takkan pernah keberatan ... setidaknya yang kuharapkan di sini, kamu untuk pertama kalinya memberiku harapan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN