"Kamu dari mana saja?"
Pertanyaan Mas Hamza saat aku masuk ke dalam rumah, awalnya diam dengan langkah mengendap. Mas Hamza berdiri di ruang tamu, melipat tangan dan seperti menungguiku. Aku mendongakkan kepala, melihatnya mendekat dan kembali bertanya.
"Kamu dari mana saja?"
"Aku baru saja dari rumah Bibi Arunika—" Tak perduli mulut lancangku berbohong, aku hanya mengalihkan pandangan.
"Kenapa tidak izin padaku, dan kenapa kamu harus berbohong?" Suara ketus Mas Hamza, dia terlihat kesal. Punggungnya berbalik, mendengus, melangkah menjauh, helaan napasnya terdengar tertahan. "Kamu menemui Kak Attar 'kan?" Delikan Mas Hamza terlihat kecewa, "untuk apa kamu menemui Kakakku, Annisa? Malah kamu memberikan 'kesempatan' padanya?"
"Aku tidak memberikan kesempatan atau apapun kepada Mas Attar ...." Elakku lalu melangkah menaiki anak tangga.
"Annisa!" Mas Hamza memanggil, mengejar langkahku. Secara spontan menarik lenganku, di atas tangga membuat tubuhku berbalik menghadapnya, kedua tubuh kami bertubrukan.
"Kenapa kamu menelantarkan tugasmu sebagai istri?"
Mas Hamza meinsterogasi.
Aku bergumam sinis, "oh, ya?"
"Kamu pergi tanpa seizin aku, kamu menemui lelaki lain tanpa aku dan ... kamu menggoda Kakak iparmu, Kakakku sendiri! Seharusnya kamu menjaga sikapmu, Annisa!"
PLAK!
Sebuah tamparan keras dariku terdampar di pipi kanan Mas Hamza.
"Seharusnya kubalikkan hinaan itu ke kamu, Mas."
"Benarkah?" Ganti Mas Hamza yang bergumam sinis. "Tugas mana yang kutelantarkan ke kamu sebagai suami, Annisa? Aku menafkahimu, batin dan material. Aku tidak membedakanmu dengan Aina, jika Aina yang protes mungkin dia ada benarnya. Seharusnya kamu tahu diri dan bersyukur."
Emosi Mas Hamza semakin meluap, kulihat matanya memerah. Hingga bibirnya kehilangan arah. "Mana ada lelaki yang mau menerima wanita penyakitan sepertimu, bahkan untuk punya anak saja nyawa kamu harus terancam dan tidak bisa memberikannya, setidaknya meskipun aku masih mencari perempuan lain, selain aku tidak mungkin ada lelaki yang rela menghamburkan uang dan banyak hal untuk mempertahankan kamu—"
Aku membelalak, kaget dengan hinaan dan kejujuran yang dia katakan.
Saat itu juga, mataku berair. Mas Hamza langsung menghentikan kalimatnya, tersadar, lalu menggusar rambut. Dia menjambak-jambak rambutnya sendiri, mengerang menyesal saat melihatku membeku di hadapannya. Air mataku tumpah, tubuhku gemetar di hadapannya. Kucekram serat kemeja yang dia kenakan, kutarik kuat nyaris hendak merobeknya—melampiaskan perasaan dan emosi.
"Satu doaku, Mas—"
Aku mendongak.
"Semoga kamu jenuh dan menyesal, lalu menceraikanku—wanita penyakitan yang tidak tahu diri dan tidak bisa memiliki anak ini. Cukupkan Aina untuk dirimu sendiri, dia wanita yang kamu cari, sempurna, bukan aku."
Aku melewatinya. Mas Hamza berusaha mengejarku, tapi langkahku lebih gesit karena berlari lebih dulu. Kubuka pintu, masuk dan menguncinya dari dalam. Napasku ngos-ngosan, menyenderkan punggung ke pintu. Mas Hamza menggedor pintu dari luar, menyebut-nyebut namaku, memanggilku dari luar, memohon padaku untuk membuka pintu. Kudengar suaranya memelas, nyaris seperti hendak menangis. Aku mengabaikannya, berjalan perlahan menuju ranjang dan menjatuhkan diri ke atas sana.
Berusaha kukontrol perasaan gundah dan emosi. Mendadak panik saat terdengar Mas Hamza mengambil kunci cadangan dan hendak membuka pintu kamarku dari luar. Dengan sigap aku mengambil meja, menyeretnya untuk menghadang pintu hingga tidak bisa didorong dari luar. Mas Hamza mengerang kesal, sekuat tenaga lengannya bersender di pintu agar benda tersebut terbuka lebar. Tapi pergerakannya sia-sia, saat aku menambahkan benda lain untuk menahan pintu.
Di sela pintu yang sedikit terbuka akibat usaha kerasnya untuk mendorong pintu tersebut, aku melirik matanya yang berembun di cela sana. "Annisa, buka pintunya ... akan kujelaskan. Kumohon, buka pintunya, sayang ... aku tak bermaksud menyakitimu ...."
Aku tidak luluh. Aku bukan membencinya, hanya saja mengingat kekurangan pada diri sendiri hatiku resah.
Aku merasa tidak tahu diri di sini.
.
.
POV Author
"Kapan Mas mau menyentuhku?"
Pertanyaan Aina, setiap malam. Jatah jadwalnya Hamza bermalam di tempatnya, tapi Hamza selalu menghindarinya.
"Jika satu ruangan denganku dan berdua saja, pakai parfummu," Hamza menjawab datar, bokongnya mendarat di sisi ranjang lebar.
Pukul 20.00, dia menempati kamar Aina. Hanya di awal-awal, setelah memastikan Annisa sudah tidur dan tidak akan keluar dari kamar, Hamza yang merasa pengap di kamar istri keduanya sendiri keluar dari kamar. Entah tidur di sofa ruang depan, atau kamar tamu, tapi kadang dia tidak bisa tidur. Selalu nyaris menghabiskan waktu sia-sia dengan duduk di halaman belakang sambil merokok. Menunggu Subuh, dengan tubuh yang nyaris membeku. Nyaris semalaman hanya ditemani dengan selimut tipis.
Sebenarnya sejak lajang Hamza adalah perokok berat, tapi menyembunyikan kebiasaan buruknya di depan Annisa, tapi tidak segan memperlihatkannya di depan Aina, Hamza tahu Annisa tidak suka lelaki perokok.
"Kenapa Mas tidak menyentuhku?"
Aina mengulangi pertanyaannya. Di tengah malam yang dingin, menyusul Hamza yang duduk di halaman belakang. Lelaki itu menghadap ke depan, tidak menoleh sambil merokok.
"Bukannya Mas menikahiku karena tiga alasan. Pertama, atas desakan keluarga Ibraed dan aku menantu idaman keluargamu. Kedua, untuk merawat Mbak Annisa, agar senantiasa siaga di dalam rumah saat Mbak Annisa kambuh. Dan yang paling utama, untuk anak. Menggantikan Mbak Annisa, karena Mbak Annisa sama saja tidak bisa memberikannya."
Akhirnya Hamza menoleh. Dia melirik sedikit sinis, lalu membuang putung rokoknya. "Salah, anak bukan alasan utama. Sudah pernah kubilang ke Mas Attar 'kan--aku yakin kamu ingat percakapan kami? Soal anak, kutunda beberapa tahun meski kelak keluarga Ibraed mempertanyakannya. Yang berarti, kutunda beberapa tahun untuk menyentuhmu."
"Kenapa, Mas?"
Semerbak aroma parfum lemon yang Aina kenakan sesuai permintaan Hamza. Jarak mereka berjauhan, Aina tidak berani mendekat dan Hamza tidak sudi mendekat. Jangan salahkan hidungnya yang alergi.
"Pertama, anak bukan prioritasku. Tapi aku menginginkannya, normalnya sebagai seorang lelaki dan calon Ayah. Kedua, kenapa harus secepat itu aku menikahimu? Untuk menenangkan keluarga Ibraed yang terus mendesakku akan itu. Dan terakhir, jujur saja aku belum sanggup."
Aina terdiam, kepalanya menunduk. Jika begitu, sekalipun sesuai perjanjian, ini tidak adil, bukan? Aina mencekram piyama yang dia kenakan. Dia ingat betul isi surat perjanjian yang mereka tulis sesuai kesepakatan masing-masing. Sebenarnya, dia ingin menuntut haknya. Ingin disentuh atau dimanja. Tapi ... sebagai sosok istri yang menerima bayaran besar untuk rahim yang 'entah' kapan akan digunakan dan sebagai dokter pribadi untuk sang Kakak madu, Aina merasa tidak pantas untuk menuntut atau memaksa.
Tapi tetap saja,
Dia terluka dan ini tidak adil.
Hamza ingin terlihat sebagai suami yang adil di depan Annisa, baik kepada Annisa ataupun Aina. Hamza pura-pura membagi waktu masing-masing tiga hari, untuk Annisa Hamza memenuhi untuk Aina Hamza pura-pura, masuk sementara lalu pergi saat Annisa tidak tahu.
Saat Annisa pikir, raga suaminya terbagi.
Nyatanya lebih dari sebulan, raga tersebut masih utuh milik Annisa. Hamza enggan membaginya, dia terus menunda.
Makanya Aina sebut,
"Mbak, tidak pantas untuk merasa tersakiti ataupun terdzalimi."