Bab. 4 - Aku Menyukaimu

1746 Kata
Ada dua batasan dalam cinta dan hati Pertama, tau kapan harus memulai Kedua, tau kapan harus selesai *** Semalaman Tiara tak bisa tidur. Ia terjaga dengan kemelut dalam pikirannya. Segala macam bentuk kenangan terurai satu per satu. Ia membuka galeri lama di ponsel. Bahkan mengecek ulang foto-foto di beranda salah satu sosial medianya. Ia juga mengecek arsip lama yang tersimpan. Anehnya, tidak ada foto Dipta atau Septa di sana. Padahal Tiara selalu memposting setidaknya satu foto bersama seseorang yang menjadi mantannya. Meski kemudian mengarsipkannya setelah hubungan mereka usai. Ini memang kebiasaan Tiara sejak dulu. Sangking serius mengulik kembali ingatan lama, Tiara sampai kehausan. Satu gelas air putih ludes tak bersisa. Tenggorokkannya belum puas begitu saja. Gadis itu ke luar menuju ruang tengah, tempat dispenser air disediakan secara gratis di sana. Ia memutuskan duduk di kursi kayu dekat dispenser. Masih sesekali termenung memikirkan sesuatu dalam masa lalunya. Agaknya kesungguhan itu tidak sia-sia ia ulas kembali. Ada beberapa potongan kenangan samar muncul dalam ingatan Tiara. Malam itu bertahun silam, ia baru selesai nongkrong di salah satu klub malam bersama teman-temannya. Pulang seorang diri memang bukan hal yang bisa dipastikan aman seratus persen. Terlebih saat itu ia tak sepenuhnya dalam keadaan sadar seratus persen. Ada beberapa pria asing mencoba menggoda dan mengerjainya. Tapi salah seorang dari mereka justru melarang dan membantu Tiara. Pria itu memapah Tiara dan mengantarkan pulang. Karena tak tahu alamat Tiara, ia membawa gadis itu pulang ke apartemennya. Sampai gadis itu sadar dan kelabakan tak karuan. "Aku di mana?!" pekiknya masih merasakan pusing di kepala. Seseorang terbangun di kursi sofa, mengucek mata sebentar dan menyiapkan segelas air untuk Tiara. Ia menyodorkan gelas beserta pil pereda mabuk. "Kamu siapa?!" "Aku Septa. Kamu orang Indonesia kan?" "Tunggu. Kamu bisa bahasaku?" Pria itu mengangguk. "Minum ini dulu supaya mabukmu lekas hilang," katanya mengingatkan. Tanpa curiga macam-macam, Tiara langsung menelan pil dan meminum setengah gelas air putih. Ia sudah biasa mendapati pria tak dikenal tiba-tiba bersama dengannya setiap kali dari klub. Jadi ini bukan hal yang terlalu aneh baginya. Hanya saja, yang cukup mengherankan adalah, ketika ia menyadari tak sehelai kain pun lucut dari tubuhnya. Ini baru mencenangkan sekali baginya. "Jangan cemas, kamu bukan seleraku." "Baru kali ini ada yang bilang begitu." "Lain kali jangan pulang sendirian di negara asing begini. Berbahaya." "Banyak hal berbahaya di dunia ini. Apa yang musti ditakutkan? Kalau memang waktunya kena sial ya pasti kena." Pria itu menggeleng sembari berdecak. "Mau kuantar pulang sekarang? Atau tunggu besok pagi sekalian?" "Aku bisa pulang sendiri. Oh ya, perkenalkan, namaku Tiara." Gadis itu menjulutkan tangan. Keduanya bersalaman sebentar. Tiara mencari tasnya. Septa menunjuk tas hitam itu ada di sofa. Gadis itu mencari kartu nama miliknya. Lalu menyodorkannya pada Septa. "Aku bukan tipikal orang yang nggak tau balas budi. Ini kartu namaku. Kapan pun butuh bantuan, silahkan menghubungi nomorku. Jangan sungkan-sungkan. Aku benci punya hutang budi." Pria berkulit bersih itu tersenyum sambil mengangguk. "Padahal aku hanya menyelamatkanmu dari teman-temanku yang kurang kerjaan. Bukan masalah serius." "Aku tau, tapi niat baik tentu harus dibalas baik kan? Ibuku selalu mengajarkan hal ini. Ketika orang lain mengulurkan tangan dengan ketulusan, jangan sampai tangan itu kembali dengan tangan kosong tanpa balasan. Ini hanya kiasan. Kamu paham maksudku?" "Petuah yang bagus." "Bahasa Indonesiamu lancar sekali." "Aku lahir di sana dan besar di sana sampai menginjak bangku sekolah menengah." "Orang tuamu asli sana?" Septa mengangguk. "Ibuku orang Kalimantan. Ayahku asli Korea." "Menarik." Tiara mengelus perutnya, sudah kebiasaan kelaparan tiap tersadar dari mabuk. Septa menyadari gelagat gadis itu. Ia menuju dapur untuk menyiapkan makanan. "Akan kubuatkan makanan sebentar. Pulanglah setelah kenyang." "Pengertian sekali kamu ya." "Apa kamu selalu bersikap santai saat berurusan dengan orang baru dikenal begini?" Septa agak penasaran. "Ya begitulah. Kurasa kamu juga mengerti dunia malam seperti apa." "Jangan terlalu percaya pada siapa pun, apalagi orang tak dikenal." "Kamu sedang menasihatiku? Aku juga orang asing kan bagimu?" Septa hanya tertawa sekilas. Sekali bertemu ia paham sepak terjang Tiara menghadapi kaum Adam selama ini. Pasti bukan hal baru dan bukan hal yang dianggapnya serius. "Kurasa besok aku harus buat janji dengan dokter kecantikan. Seorang pria menolakku dan mengatakan aku bukan seleranya, hmm, mungkin tubuh dan wajahku sedang kurang sehat? Atau kurang menggairahkan?" celotehnya setengah bercanda. "Kamu cantik dan menarik." "Oh ya?" "Begitulah kenyataannya." Tiara mendekati Septa. Hanya melihat pria itu sibuk memasak mie khas Korea beserta lauk pauk yang hanya perlu dipanaskan saja. "Lalu, kenapa kamu-" belum sempat menyelesaikan kalimat, pandangan mata Tiara terhenti ke satu sudut. Sampai akhirnya dua matanya berkeliling menatap beberapa foto yang terpajang di dinding maupun di atas meja sebagai pajangan. Gadis itu menelaah sesuatu dari sudut pandang berbeda. Tidak ada satu pun foto Septa bersama seorang perempuan. Insting Tiara jelas langsung menjurus ke satu hal. Namun ia hanya diam tanpa berkomentar. "Kurasa kita bisa jadi teman." "Semudah dan secepat itu?" Tiara mengangguk kilat. "Aku lebih suka berteman dengan lawan jenis daripada sesama perempuan." "Why?" "Agak merepotkan. Kebanyakan dari teman-teman perempuanku berakhir membenci dan memusuhiku." "Itu hal yang wajar." "Kenapa?" "Karena kebanyakan perempuan tak suka mendapatkan saingan lebih." "Benarkah?" "Kamu pasti jauh lebih paham." "Ya begitulah." "Mungkin mereka khawatir kamu merebut pacar mereka." Tiara terkekeh geli. "Tepat sekali. Kamu pintar menebak ya?" "Mudah sekali." Dan begitulah awal mula perkenalan mereka. Sampai Tiara ingat kepingan-kepingan masa silam yang pernah menghias memorinya. Gadis itu menghela nafas panjang. Ia mengurut kening sebentar, lalu kembali ke kamar untuk tidur. Mendadak rasa kantuk menyerang tiba-tiba. Ia perlu istirahat. Esok hari, Tiara sedang menyantap roti di halaman depan. Seorang pria menghampirinya, agaknya baru selesai lari pagi. Bahkan di saat sedang liburan masih sempat-sempatnya melakukan olahraga. Pikiran Tiara tak habis pikir. "Selamat pagi," sapa Dipta. "Ya, pagi." "Mimpi buruk?" Tiara menelan sisa kunyahan roti. Ia berdiri dan mendekati Dipta. Lalu membisikkan sesuatu. "Jangan mencoba membohongiku. Kamu bukan Septa." "Kamu mengingatnya?" "Sedikit demi sedikit." Dipta tersenyum aneh. "Darimana kamu tau aku bukan Septa?" "Hanya menebak saja." "Kupikir akan seru, tapi secepat ini harus berakhir..." "Kamu berniat memulai sesuatu denganku?" "Bisa dibilang begitu." "Apa motifmu sebenarnya? Kenapa harus pura-pura jadi mantan pacarku? Kenapa harus mengatakan kalau kamu Septa? Kamu nggak percaya diri dengan identitas aslimu sendiri untuk mendekatiku?" Tiara memang berbeda. Ia tak suka basa-basi, bahkan dengan orang baru sekali pun. Apa yang ada dalam kepala lebih baik ia lontarkan sekalian, daripada harus menjadi sembilu dalam benaknya. Walau tidak semua hal sanggup ia ungkapkan secara gamblang dengan mudah. "Kamu akan tau nanti." "Kenapa harus menunggu nanti kalau bisa dikatakan sekarang? Apa kamu takut mengakui sesuatu?" Pria itu lagi-lagi tersenyum. "Baiklah, akan kukatakan dengan jelas sekarang. Aku menyukaimu. Bahkan sejak saudara kembarku memperkenalkanmu dulu." "Ah... cinta pandangan pertama?" Tiara tertawa terbahak-bahak. "Kekanakan sekali. Jangan berfikir aku bodoh." "Apa aku terlihat mengira kamu seperti itu?" "Delapan puluh lima persen pria mengatakan hal sama padaku. Jadi, ini bukan alasan baru yang didengar telingaku. Dan seratus persen dari mereka yang mengatakan aku cinta pandangan pertama, hanya berakhir rasa penasaran belaka." "Apa aku terlihat sama seperti mereka?" "Entahlah, bisa jadi..." "Biar kubuktikan kalau aku berbeda." "Untuk apa? Aku menolak." "Menolak pembuktianku?" Tiara menggeleng singkat. "Menolak pernyataanmu." Ganti Dipta yang terkekeh mendengar gadis di hadapannya langsung to the point. "Ada yang lucu?" Tiara tak peduli. Ia sudah bosan bermain hati. "Kamu..." "Aku?" "Kita lihat saja nanti." Dipta berlalu setelah mengatakan demikian. Meninggalkan Tiara yang bingung dengan maksud kalimat barusan. "Apa dia nggak akan menyerah? Aku sudah bosan main-main!" dumelnya seorang diri. Beberapa menit kemudian, roti yang sejak tadi dinikmati Tiara sudah habis tak bersisa. Ia merasa tenggorokkannya butuh asupan air karena terasa seret. Sampai pipinya merasakan kesejukkan dari sebuah benda yang menempel tanpa permisi. Gadis itu menoleh kilat. Melihat Dipta kembali dengan sebotol air mineral di tangan. "Haus kan?" "Kok tau?" Tiara langsung menyabet botol dari tangan pria bertubuh tinggi tegap itu. Membuka tutup botol dan meminumnya perlahan. "Lega?" Tiara mengangguk. "Terimakasih," ucapnya santai. "Apa kamu selalu semudah itu menerima pemberian dari orang asing? Bagaimana jika ada racun di dalamnya?" "Begini ya, sejujurnya, aku nggak takut apapaun di dunia ini kecuali Tuhan. Dan aku percaya, setiap hal sudah ada waktunya." "Hmm, begitu ya. Apa kamu juga percaya jodoh akan datang di saat yang tepat? Bahkan tanpa dikejar?" "Ya, bisa jadi." "Kenapa bisa jadi? Artinya kamu nggak seratus persen yakin?" "Entahlah, mungkin karena aku belum terlalu memikirkannya. Lagipula masih pagi begini, kenapa harus bahas soal jodoh sih? Jangan seperti ibuku, hampir tiap hari mengomentari masalah jodohku. Aku sampai malas terima teleponnya." "Kamu curhat?" "Anggap saja begitu. Keberatan? Nggak usah didengarkan." "Lanjutkan. Aku senang mendengarnya." "Hei, jangan berfikir kamu dapat kesempatan mendekatiku ya? Sekali kutolak, kamu harus tau batas." "Kamu menolakku sebagai apa?" "Maksudnya?" "Calon kekasih atau seorang teman?" "Konyol. Kamu pikir aku bodoh? Aku tau ujungnya ke mana." "Ke mana?" Tiara melirik sinis. "Tolong berhenti berharap padaku. Aku benar-benar lelah main-main." "Aku nggak bermaksud mengajakmu main-main." "Lalu?" "Aku ingin bersungguh-sungguh." Tiara terkekeh sembari berdecak. "Ckck, sudah banyak laki-laki bicara seperti kamu padaku." "Aku tau." "Menyerahlah." "Itu bukan gayaku." "Keras kepala. Baiklah, kita lihat saja sampai di mana batas kesabaranmu. Kuperingatkan ya, aku bukan perempuan yang mudah ditaklukan. Setidaknya sekarang begitu." "Menyenangkan..." "Apanya yang menyenangkan?" "Bagiku tantangan adalah hal yang menyenangkan." "Kamu mungkin akan menyesal mengatakannya." "Atau justru kamu yang akan menyesal..." "Aku? Atas dasar apa?" Dipta hanya mengangkat bahu sekilas. Ia berbalik dan hendak masuk untuk kembali ke kamar penginapan. "Tunggu. Aku ingin tanya satu hal." Suara Tiara menghentikan langkah pria tersebut. "Ya?" "Apa nggak merepotkan mengatur begitu banyak kebetulan di antara kita berdua?" Dipta menoleh. Menatap lekat pada wajah cantik Tiara yang memandangnya penuh kecurigaan. "Teman-temanmu begitu baik dan pengertian. Mereka membantuku dengan tulus. Kuharap kamu nggak merusak bantuan mereka." "Maksud kamu?!" "Kamu benar. Nggak ada yang namanya kebetulan beruntun di dunia ini. Kecuali ada sebabnya. Itu pun jarang terjadi. Dan pertemuan kita, semua memang sudah kurencanakan. Aku nggak akan menyerah sebelum dapatkan yang kumau." "Teman-temanmu membantu merencanakan semua?" "Mereka orang baik. Melihat kamu patah hati sampai kehilangan semangat, pasti menyesakkan." "Setauku teman-temanku bukan orang yang mudah didekati. Apalagi sampai memberi akses mendekatiku." "Hmm, kamu bisa tanyakan apa saja yang kulakukan untuk meyakinkan mereka dan mendapatkan dukungan mereka." "Seharusnya kamu sekalian menemui ibuku dan keluargaku," cibir Tiara. "Akan kulakukan. Setelah dapat izin dari kamu..." Tiara melotot. Tak habis pikir dengan jawaban sungguh-sungguh Dipta. Ia sampai kehabisan kalimat untuk membalas lagi. Dipta hanya mesem, lalu berlalu begitu saja. "Aku jadi penasaran, apa yang dia lakukan pada teman-temanku? Tunggu! Teman-temanku? Artinya, bukan hanya satu? Lalu, siapa lagi?!" Ia baru sadar dengan perkataan Dipta. Sejujurnya, perasaan Tiara agak tak enak. Seakan ada sesuatu mengganjal dalam jiwanya. ♡== SH ==♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN