Jangan pernah memulai perang jika takut kekalahan
Sama halnya dengan perasaan
Jangan pernah memulai rasa jika takut kehilangan
***
Gadis itu baru saja naik ke dalam becak. Duduk santai sambil membenarkan tas mini selempangnya. Mungkin hanya berisi kartu atm, beberapa lembar uang kertas, dan kartu tanda pengenal saja di dompet mini tersebut. Tiara sedang tak suka repot membawa barang.
Ia pikir temannya yang akan ikut jalan-jalan bersama. Tapi yang datang justru orang lain. Pria itu menerobos dan duduk di samping Tiara tanpa permisi. Membuat gadis itu terlonjak kaget. Pak Arif, tukang becak langganan ibunda Lani sudah mulai mengayuh pedal becak. Sementara Tiara masih terheran dengan kehadiran Dipta barusan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?!"
"Naik becak. Apalagi?"
"Maksudku, kenapa kamu mengikutiku terus?! Di mana Lani?!" keluhnya mencari teman yang sepertinya ikut andil menjebak dirinya.
Semakin ditelaah, Tiara makin sadar, kalau sahabat karibnya satu itu pasti ada kongkalikong dengan pria ini. Kalau tidak, mana mungkin segala macam kebetulan bisa terjadi secara beruntun dan bertubi-tubi terhadapnya dan Dipta.
"Lani sedang sibuk dengan sesuatu. Jadi, aku menggantikannya menemani kamu."
"Turunlah! Aku nggak ingin ditemani olehmu!" ketus Tiara setengah kesal.
"Hei, boleh kutanya satu hal?"
"Apa?!"
"Kenapa kamu terlihat seperti sangat membenciku? Padahal, orang bilang, kalau kita terlalu membenci sesuatu, lama-lama bisa jadi menyukainya."
Tiara menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Ada benarnya juga yang dikatakan pria ini. Dulu gadis ini sangat ramah pada lawan jenis, baik yang dikenal atau tidak sekalipun. Namun, semenjak patah hati sungguhan, ia seolah jadi membatasi diri. Entah karena lukanya masih menganga, atau ia kurang percaya diri untuk jatuh cinta lagi nantinya. Dan akhirnya Tiara hanya diam, tak punya penjelasan atau jawaban dari pertanyaan Dipta.
"Kenapa nggak dijawab?"
"Terserah padamu saja, yang penting sudah kujelaskan di awal. Aku nggak tertarik denganmu. Jadi kalau niatmu mendekatiku hanya karena rasa penasaran atau malah berharap lebih, sebaiknya lupakan saja secepatnya."
"Bagaimana kalau kuubah sedikit niat utamaku."
"Maksudmu?"
"Misalnya, anggap saja aku ingin berteman dekat denganmu. Kalau kamu bisa menerima saudaraku dulu, apa salahnya menerimaku juga sebagai teman?"
Sejenak Tiara menimbang. Mungkin benar juga, apa salahnya dengan niat baik Dipta? Perasaan dan pikiran Tiara memang sedang limbung tak karuan. Kadang mengatakan A, tapi tindakan jadi B. Kadang berfikir C, tapi ujungnya D yang dilakukan. Serba salah seperti hilang arah. Sangking-sangkingnya mengalami radang asmara, sampai-sampai semangat pun ikutan naik turun tak karuan.
"Baiklah, terserahmu saja."
"Ngomong-ngomong, darimana kamu tau aku bukan Septa?"
"Untuk apa ditanyakan?"
"Jangan membalas pertanyaan dengan pertanyaan balik."
"Bukan hakmu mengaturku. Suka-sukaku mau bagaimana."
"Ya ya, jawablah..."
"Hem, ada sesuatu yang mungkin kamu nggak tau tentang dia. Tapi aku tau betul."
"Soal apa?"
Tiara mengerutkan kening. Agaknya memang benar, kalau Septa belum memberitau keluarganya tentang rahasia tersebut. Dan Tiara pun tak ingin jadi orang yang sok ikut campur terlalu jauh. Baginya sudah cukup dipercaya menjaga rahasia, jangan sampai mulutnya mengumbar akhirnya. Ia benci ketika orang lain mengkhianati kepercayaannya. Maka dari itu, dirinya pun berusaha menjaga rasa percaya orang lain padanya. Meski mereka sudah tak lagi pernah bertemu atau dekat seperti dulu sekali pun.
"Bukan apa-apa. Lupakan saja."
"Baiklah, kamu pasti akan mengatakannya sendiri suatu saat nanti."
Tiara tak menggubris. Ia mengalihkan pandang ke sekeliling. Memandang jalanan kota yang lumayan hiruk pikuk. Di kanan kiri ada pedagang menjajakkan jualan. Ada juga banyak pelancong dari berbagai daerah bahkan negara. Melintasi sekitaran jalanan Malioboro. Makin lama makin ramai orang lalu lalang.
"Mbak Tiara mau mampir beli oleh-oleh atau ndak?" tanya Pak Arif.
"Saya turun di sini dulu, Pak. Mau jalan-jalan sambil lihat-lihat. Nanti Pak Arif tolong jemput lagi sekitaran sebelum Maghrib ya?"
"Baik, Mbak. Masnya gimana?"
"Saya nemenin Tiara, Pak."
Tiara melirik sebal ke arah Dipta. Ia berniat turun sambil mendengkus sebal. Dipta sudah lebih dulu turun dan ingin membantu gadis itu. Tapi uluran tangannya tak digubris sama sekali. Pak Arif pamit berlalu untuk cari penumpang lain selagi Tiara menikmati jalan-jalan.
Dipta menjejari langkah gadis yang memakai celana jeans pendek di atas lutut, dipadu dengan kaus kuning muda bermotif pita timbul di bagian depan. Tak ketinggalan sweater tipis berwarna putih tulang menggantung di pundak. Pria itu menggeleng sambil berdecak menatap bagian atas kaki jenjang Tiara yang cukup terkespose jelas.
"Lain kali sebaiknya pakai celana atau rok di bawah lutut," tukasnya mengingatkan.
"Kenapa memangnya? Kamu juga pakai celana pendek."
"Aku laki-laki. Kamu perempuan. Masih harus dijelaskan detailnya?"
"Lihatlah sekelilingmu, ada ratusan bahkan lebih para turis dengan pakaian minimalis. Yang penting masih pakai baju dan celana!"
"Mereka nggak penting buatku."
"Terus?"
"Kamu penting."
"Aku ingin tau, ada berapa banyak gadis sudah kamu goda dengan kalimat semacam ini?"
"Klise."
"Apa katamu?"
"Ada banyak pria yang sudah mendapatkan pertanyaan macam itu dari kamu?"
Lagi-lagi Tiara dibuat kesal. Dipta selalu berhasil memutar balik pertanyaan dengan telak. Tiara putar otak, ia harus cari cara untuk membuat pria ini jera mengejar dirinya.
"Hei, kamu benar-benar menyukaiku?"
"Ya."
"Kalau begitu, boleh kuberikan kesempatan spesial."
"Benarkah?"
"Hem, begini, aku janji untuk bawakan oleh-oleh ke teman-teman di Jakarta. Kalau kamu nggak keberatan, mungkin bisa membelikannya untukku."
Dipta tersenyum. "Maaf, aku menolak."
Seketika raut muka iseng Tiara berubah muram. Niatnya ingin membuat Dipta berpikiran dirinya matre agak menjauh, malah langsung ditolak mentah-mentah.
"Dasar pelit!" dumel Tiara.
"Seharusnya kamu bertanya alasanku menolak, alih-alih mengataiku pelit."
"Tetap saja intinya begitu." Tiara tak mau kalah.
"Aku nggak mau menghamburkan uangku untuk orang-orang yang nggak kukenal sama sekali. Tapi kalau kamu bilang, kamu ingin membeli apapun untuk dirimu sendiri, maka pasti kuiyakan."
Spontan Tiara menghentikan langkah. Ia menatap Dipta yang masih tersenyum tulus. Meneliti kesungguhan pria ini melalui sorot mata legamnya.
"Kata-kata yang manis. Lumayanlah..." ujar Tiara sambil menganggukkan kepala. Ia melanjutkan jalan perlahan.
Sesekali berhenti di toko pernak-pernik. Melihat-lihat sampai ada yang cocok di hati. Mereka berdua berkeliling bersama. Menjelajah toko pakaian, barang-barang unik dari mulai aksesoris, sampai topi dan sejenisnya. Apapun yang disukai Tiara, Dipta langsung membelikan tanpa menawar ke pedagang. Lama-lama Tiara menikmati kebersamaan mereka. Tidak seburuk bayangannya, Dipta bukan tipikal pria seperti kebanyakan yang ia kenal. Mengikuti langkahnya tapi juga masih suka lirik sana-sini. Terlebih kalau ada yang lebih seksi dan bening. Pria ini memang aneh, ia tetap fokus pada Tiara meski sering diabaikan.
"Kamu belum lapar?" Ini sudah ketiga kali Dipta bertanya hal sama.
"Kenapa kamu terus menanyakannya? Aku masih ingin keliling."
"Kita bisa lanjut jalan-jalan lagi nanti. Setidaknya makan dulu. Lihat badanmu, makin kurang sehat."
"Apa kamu bilang? Body sebagus ini kamu bilang kurang sehat?! Apa matamu nggak lagi minus?" keluh Tiara. Pasalnya baru kali ini ia dibilang begitu. Biasanya para pria akan memuji kemolekan tubuh proporsionalnya.
"Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan," kata Dipta tak acuh. "Ayo kita makan dulu," ajaknya.
"Baiklah, mau makan di mana? Aku nggak mau makan lesehan. Banyak pengamen. Nanti kalau nggak dikasih ada saja yang sebagian yang menyebalkan."
"Yasudah, kita makan di resto dalam mall."
"Oke. Aku nggak makan berat."
"Bukan besi yang akan kita makan. Jadi jangan khawatir."
"Maksudku bukan begitu!"
"Kamu bilang nggak makan berat kan? Nasi dan ayam atau lauk pauk lain masing ringan diangkat."
Tiara mencibir, tapi ia sedikit terhibur dengan lelucon garing pria ini. Padahal niat Dipta tidak sedang bercanda, memang faktanya demikian.
Keduanya memutuskan makan di salah satu resto ayam ternama yang berada di dalam salah satu mall. Mulanya Tiara hanya ingin pesan salad sayur, tapi Dipta justru memesankan berbagai menu lain yang biasanya dihindari gadis ini.
"Kurasa kamu sedang mencoba meracuniku!" omel Tiara ketika melihat banyak makanan tertata di atas meja.
"Ini semua aman dan nggak mengandung racun. Kamu harus banyak makan bergizi."
"Apa kamu pikir selama ini makanan yang masuk ke perutku nggak bergizi?!"
"Bisa jadi kurang bergizi."
"Aku nggak bisa makan semua ini. Kepalaku langsung pusing lihat calon-calon penunjang lemak dalam tubuhku!" Tiara bergidik ngeri. Meski pada kenyataannya, ia menelan saliva melihat dan mencium aroma kelezatan dari menu yang tersaji di depan mata.
"Makan dan habiskanlah."
"Aku hanya akan makan sedikit. Jangan protes."
Bukannya mengomel, Dipta justru sengaja memanas-manasi Tiara. Ia makan sangat lahap. Sampai Tiara tak tahan melihat godaan yang terpampang nyata. Bibirnya boleh menolak keras, tapi hasrat dalam dirinya sudah tak mampu terbendung lagi. Gadis itu ikut lahap menyantap semua hidangan hingga nyaris tak bersisa. Rupanya selera makan Tiara bagus juga. Selama ini ia susah payah mengekang asupan makanan akibat menjalankan diet ketat demi menjaga keindahan tubuhnya. Dan dalam sekali waktu, semua itu dihancurkan dalam sekejap.
"Awas saja kalau berat badanku naik setelah liburan! Kamu harus bertanggung jawab!" protesnya tanpa tedeng aling-aling.
"Jangan khawatir. Aku akan bertanggung jawab dengan senang hati. Kamu mau minta dinikahi segera?"
"Nggak lucu."
"Aku nggak sedang bercanda."
Tiara tak membalas lagi, ia mengelus perut yang terasa penuh karena kekenyangan. Rasanya untuk berdiri pun sudah malas sekali. Tumitnya terasa kram akibat berjalan terlalu lama. Sinar matahari juga mulai redup hendak berpamitan pulang pada sang hari.
"Bagaimana kabar Septa?" tanya Tiara tiba-tiba.
Dipta hanya diam tidak menjawab. Ia justru mengalihkan pembicaraan. "Masih kuat jalan atau nggak?"
"Kurasa masih." Tiara berdiri dengan kaki agak gemetar. Ia sempoyongan karena kram menjalar di bagian lutut. Hampir saja oleng dan jatuh. Untung Dipta lekas menopang tubuh gadis itu.
Tanpa basa-basi, Dipta langsung memaksa Tiara dan menggendongnya.
"Apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku!"
"Jangan berisik."
"Hei! Banyak orang melihat!"
"Lalu? Apa masalahnya? Apa kamu telanjang? Atau mukamu kotor? Nggak kan?"
"Maksudku-"
"Sudahlah, diam saja."
Akhirnya Tiara hanya bisa menutup muka dengan satu tangan. Satu tangan lain berpegangan dan melingkar pada sekitaran leher Dipta. Pria itu membawa belanjaan dengan satu tangan. Sementara tangan lain menopang bagian belakang tubuh Tiara yang ia gendong. Benar-benar jadi pujian banyak mata yang memandang iri. Tak sedikit yang desas-desus memuji sikap gentle Dipta.
Sampai turun ke lantai bawah, akhirnya Tiara memaksa turun. Ia merasa kakinya sudah baik-baik saja. Keduanya berjalan bersama ke arah tempat janjian dengan pak Arif.
"Terimakasih..." kata Tiara pelan.
"Kamu bilang apa barusan? Aku nggak terlalu dengar jelas."
"Lupakan saja! Menyebalkan! Jangan mengulanginya lagi! Seenaknya menyentuhku! Dasar modus!" gerutunya menahan letupan kehangatan di pipi.
Selang lima belas menit berlalu, akhirnya becak yang dibawa pak Arif pun datang. Keduanya naik bergantian. Kembali menikmati semilir angin di sepanjang perjalanan. Ada yang sedikit berubah dengan mimik wajah Tiara. Ada semburat lain yang ia tahan sekuat tenaga. Untuk jatuh cinta memang sulit bagi hatinya berlabuh, tapi kalau sekadar naksir atau kagum, Tiara mudah tanpa sadar mengalaminya. Dan ujungnya berakhir dengan kebosanan belaka.
Dan tanpa sadar, Tiara malah terlelap begitu saja. Kepalanya bersandar di bahu tegap Dipta. Pria itu menghela nafas sejenak, mengatur hatinya yang harus tetap pada satu jalur. Raut wajahnya mendadak berubah datar tanpa senyum seperti sebelumnya. Sampai kayuhan becak berhenti di depan penginapan. Lani berlarian menghampiri. Membantu membawakan belanjaan Tiara masuk ke dalam. Sementara Dipta menarik senyuman di hadapan kawan baik Tiara. Mencoba meyakinkan ada keseriusan dan ketulusan dalam niatnya.
Tiara mengucek mata, rasa kantuk masih menyelimuti dirinya. Ia hampir jatuh karena belum seratus persen sadar dari bangun tidur. Dipta membantu membopong tubuh ramping itu. Kali ini Tiara hanya diam tak protes. Mungkin karena terlalu lelah berjam-jam keliling jalan kaki.
Pria itu merebahkan tubuh Tiara di atas peraduan kamar gadis itu. Menatap sebentar tubuh molek Tiara dengan pandangan membingungkan. Entah apa maksud sebenarnya.
"Terimakasih udah temenin dan antar temanku."
"Sama-sama." Dipta tersenyum membalas ucapan Lani.
Panggilan telepon terpaksa menyibukkan Lani dengan ponselnya. Gadis itu permisi keluar untuk menerima panggilan. Meninggalkan Dipta yang masih berdiri di samping tempat tidur Tiara. Kemudian pria itu pun berlalu pergi menuju kamarnya sendiri.
Sepuluh menit berselang, Tiara tiba-tiba terlonjak dan bangun segera.
"Jam berapa sekarang?!" pekiknya panik. Ia mencari ponsel miliknya. Mengecek jam dan menghela nafas lega. "Masih sempat maghriban. Mandi dulu deh," tukasnya pada diri sendiri.
Gadia itu duduk sebentar di pinggiran kasur. Mengurut kening yang terasa sedikit pening karena bangun mendadak. Sampai ia merasa pusingnya hilang, barulah bergegas berdiri. Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Malamnya, selesai makan seperti biasa ia nongkrong di pinggir kolam renang yang letaknya di halaman samping penginapan. Tadinya ada beberapa orang sedang duduk di sana, tapi tak lama mereka pergi.
Dipta menyusul dan duduk di samping Tiara. Gadia itu memainkan satu kakinya di dalam air. Tangannya sesekali berkecipak dengan dinginnya air kolam.
"Masih capek?"
"Lumayan."
"Mau jalan-jalan malam?"
"Sekarang?"
"Siapa tau kamu belum puas jalan-jalan tadi."
Tiara menggeleng. "Besok malam saja deh. Kakiku benar-benar lunglai sekarang."
"Temanmu pergi dengan temanku barusan. Aku dimintai tolong sampaikan pesannya. Supaya kamu nggak mencarinya nanti."
"Hah, dasar! Pasti dia sengaja tinggalkan aku."
"Ya lumayan, kita jadi punya banyak kesempatan berdua."
"Licik sekali."
"Licik katamu?"
"Hem... kamu menggunakan bantuan temanku untuk mendekatiku."
"Kugunakan cara yang berbeda dari banyak laki-laki sebelumnya. Kamu seharusnya memujiku."
"Ckck, itu namanya curang."
"Bukan licik, bukan juga curang. Tapi cerdas. Aku tau kelemahanmu."
"Maksudmu?"
"Kamu memang nggak terlalu setia dengan pasangan, cepat bosan dan putus. Tapi soal pertemanan, kamu sangat menjaganya. Aku benar kan?"
"Hmm, apalagi yang kamu tau tentangku? Berapa banyak yang sudah Septa ceritakan ke kamu?"
"Nggak banyak. Aku mencaritau sendiri dengan caraku."
"Benarkah?"
Obrolan keduanya terjeda sesaat setelah mendengar sayup-sayup suara dari satu arah. Ada gazebo di ujung sana. Tepat berada di bawah pohon rindang. Meski tidak terlihat jelas, tapi bisa dipastikan apa yang sedang mereka lakukan di sana.
"Buat apa mereka menyewa kamar kalau m***m di sembarangan tempat?!" dumel Tiara. "Kalau ibunya Lani tau, pasti sudah disuruh chek out!"
"Mungkin mereka senang mencoba hal baru."
"Hal baru katamu? Nggak etis sama sekali."
"Kamu senang melakukannya di tempat tertutup? Belum pernah coba tempat terbuka seperti mereka?"
"Apa maksud pertanyaanmu?" Tiara mendelik.
"Hanya bertanya saja."
"Kuberitau satu hal sebelum kamu terlalu berharap lebih." Tiara membisikkan sesuatu di telinga Dipta. "Aku nggak melakukannya secara berlebihan. Ada batasan yang kujaga dalam prinsipku."
Dipta menautkan alis tak mengerti maksud dari perkataan Tiara barusan.
Tiara tersenyum menyadari Dipta kurang paham maksud kalimatnya. "Kamu nggak ngerti ya?"
Dipta hanya mengangguk singkat.
"Lupakan saja..." balas Tiara cuek. Untuk apa ia menjelaskannya? Begitu pikirnya.
Mereka ngobrol sampai larut malam, ditemani camilan dan minuman ringan. Biasanya jam-jam segini Tiara hanya makan buah atau s**u khusus diet. Tapi semua tidak berlaku sekarang. Gara-gara godaan Dipta, jadi berantakan hasratnya menahan makan berlebih.
"Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Nikmati hidup selagi bisa," tukas Dipta santai.
"Setelah liburan, aku harus buat janji dengan ahli giziku. Jangan sampai badanku bermasalah nantinya."
Dipta terkekeh. "Kamu nggak akan sekarat hanya karena makan sedikit snack dan menambah asupan makanan. Berlebihan sekali."
"Cantik dan proporsional itu imageku tau."
"Lalu?"
"Aku harus menjaganya!"
"Untuk apa? Untuk menyenangkan orang lain?"
Tiara menggeleng. "Tentu saja untuk membahagiakan diriku sendiri."
"Benarkah?"
"Ya. Aku bahagia tiap kali melihat karunia Sang Kuasa pada diriku. Bersyukur itu perlu. Makanya aku harus tetap menjaga."
"Kupikir kamu melakukannya untuk menggoda banyak pria di luar sana."
"Apa kamu tergoda?"
"Aku normal. Bohong kalau kukatakan nggak tergoda sama sekali."
"Kejujuran yang masuk akal." Tiara mencomot keripik kentang dan mengunyahnya kilat. "Setelah kupikirkan ulang, bagaimana kalau kita buat kesepakatan selama liburan."
"Kesepakatan?"
"Begini, sejujurnya aku memang merasa agak kesepian belakangan ini. Rasanya nggak adil kalau di saat liburan pun perasaan ini masih menggangguku. Jadi, kuputuskan untuk buat penawaran khusus sama kamu."
"Penawaran khusus?" Dipta menautkan alis tak mengerti.
"Ya, itu pun kalau kamu setuju dan bersedia."
"Katakan, apa itu?"
"Aku mengizinkan kamu jadi pasanganku selama kita liburan. Bagaimana?"
"Tunggu. Maksud kamu, aku dan kamu?"
Tiara mengangguk. "Kita bisa berperan sebagai sepasang kekasih selama liburan ini. Setelah liburan selesai, hubungan kita juga selesai. Kamu keberatan dengan penawaranku?"
Pria di samping Tiara menimbang beberapa saat. Dalam kediaman memikirkan sesuatu yang masih acak dalam otaknya.
"Sebagai gantinya, kamu boleh melakukan apapun layaknya pasangan," lanjut Tiara tanpa sungkan.
"Apapun? Kamu yakin?"
Tiara mengangguk. "Hmm, selama nggak melebihi batasan dalam prinsipku."
"Aku penasaran, prinsip apa yang kamu terapkan?"
"Nanti juga kamu tau sendiri. Jadi bagaimana, mau atau nggak? Jangan bilang kamu butuh waktu untuk berfikir dulu. Waktuku terlalu berharga, dan menunggu itu menyebalkan."
"Baiklah. Aku terima penawaranmu."
Tiara tersenyum. Ia mengangkat satu tangan, dan keduanya bertos ria.
"Kuperingatkan, berhati-hatilah. Jangan sampai jatuh cinta padaku," kata Tiara memperingatkan.
"Kurasa kali ini, kamu yang harus berhati-hati..." balas Dipta dalam gumaman.
Ada sorot menegangkan dari bola mata pria itu. Menatap wajah cantik Tiara lagi-lagi dengan pancaran penuh kemelut. Seakan ada dendam terpatri samar di sana. Jika benar demikian, lantas apa yang sebenarnya ingin dia balaskan?
♡== SH ==♡