Jatuh cinta dan patah hati adalah dua hal berkaitan
Karena di setiap rasa bahagia, bisa jadi ada duka menanti kesabaran
Atau justru sebaliknya, di setiap luka yang menganga, bisa jadi ada cinta tulus menyertai kerelaan
***
"Kamu bilang nggak ingin main-main lagi. Kenapa sekarang berubah pikiran?"
"Aku nggak sedang ingin main-main."
"Jadi?"
"Hanya ingin menikmati hidup. Ingin tau rasanya berkencan sungguhan."
"Berkencan sungguhan?"
Tiara mengangguk. "Anggaplah kita saling mencintai. Aku penasaran bagaimana rasanya dicintai yang sebenarnya."
"Kamu menganggap semua mantan-mantanmu nggak mencintaimu dengan serius?"
"Mereka semua sama sepertiku. Hanya senang bermain. Aku tau itu. Dan aku juga nggak menuntut dicintai dengan serius. Aku harus berkaca jika menginginkan hal seperti itu."
"Pemikiran yang aneh."
"Maksudmu?"
"Baiklah, akan kutunjukkan seperti apa rasanya dicintai dengan serius. Kuharap kamu nggak menyesal akhirnya."
"Ish ish, kamu terlalu percaya diri. Oh ya, jangan beri aku bunga atau hadiah mahal. Nggak akan mempan padaku. Materi sudah kupunya. Aku wanita karir yang mandiri. Paham kan?"
"Aku mengerti."
Tiara kembali menikmati camilan sambil sesekali menatap sekeliling. Semilir angin malam menggerai rambutnya yang terurai bebas. Karet pengikat rambut itu putus beberapa detik lalu. Membuat helaian demi helaiannya tersibak ke sana ke mari. Gadis itu mendumel karena rambutnya jadi agak berantakan. Sampai tiba-tiba tangan Dipta membantu mengumpulkan rambut yang berperang dengan sang angin. Ia menggunakan gelang karet di tangan untuk mengikat rambur Tiara. Meski tidak sekuat ikatan rambut pada umumnya, minimal bisa menghalau rambut yang acak-acakkan.
"Apa yang kamu gunakan?"
"Gelang karet."
"Pantas saja terasa longgar."
"Setidaknya rambutmu nggak bikin ulah."
Tiara mencibir dengan decakkan tak berarti. Ia meneguk air perlahan untuk meredakan rasa kering di tenggorokan. Kebanyakan makan camilan sampai rasanya semua makanan tersangkut di kerongkongan.
"Ngomong-ngomong, kamu nggak punya pacar di sana?"
"Kalau aku punya pacar, untuk apa aku mengatakan menyukaimu?"
"Ya siapa tau. Ingat ya, aku memang mantan playgirl, tapi bukan pelakor. Jadi jangan sampai ada perempuan yang tiba-tiba datang memaki atau bahkan menjambakku nantinya."
"Pengalaman ya?"
"Bisa dibilang lumayan sering."
"Berapa kali?"
"Ehm, empat atau lima kali seingatku."
"Wow, kamu benar-benar nggak mudah belajar dari kesalahan ya?"
"Hei, aku hanya manusia biasa. Pesonaku ada di wajah, tubuh, dan permainanku. Sisanya, kurasa masih banyak kekurangan yang harus kuperbaiki."
"Kamu benar-benar suka bicara blak-blakkan sekali. Permainan macam apa yang kamu suguhkan sampai banyak pria menggilaimu?" Dipta tak habis pikir.
"Ehm... kalau sudah waktunya kamu juga pasti akan tau sendiri."
Semalaman mereka ngobrol banyak hal, dari mulai pembahasan sepele yang paling ringan, sampai beberapa hal yang bisa dibilang agak serius. Namun, setiap kali Tiara mencoba mengulik kabar Septa, selalu saja dialihkan oleh Dipta. Jelas sekali pria itu menyembunyikan sesuatu. Tiara tak mau ambil pusing, ia menganggap mungkin Dipta cemburu bila dirinya membicarakan pria lain. Pikiran yang sederhana sekali. Tak terbersit sedikit pun dalam benak gadis itu, ada hal lain yang bisa saja menjadi alasan mendasar.
Esok paginya, Dipta mengajak Tiara lari pagi bersama. Mulanya gadis itu enggan, tapi ujungnya menurut juga. Hitung-hitung untuk bakar lemak tubuh, toh semalam ia makan camilan terlalu banyak di luar jam makan seharusnya.
"Kenapa di saat liburan begini kamu masih olahraga? Seharusnya kita jalan santai lihat-lihat pemandangan tau!" protes Tiara sambil mengatur nafas yang tersengal.
"Kita sarapan gudeg dulu. Di sana enak."
Dipta menunjuk warung makan sederhana di seberang jalan. Ekor mata Tiara mengikuti instruksi telunjuk pria itu. Keduanya menyebrang beriringan. Lumayan agak ramai tapi kebanyakan lebih memilih dibungkus untuk dibawa pulang atau mungkin dibawa ke tempat kerja.
"Hebat kamu, baru berapa hari di sini sudah tau tempat makan enak."
"Lani yang merekomendasikannya."
"Oh pantas."
Keduanya lahap menyantap sarapan yang terhidang di atas meja. Tanpa sungkan pria itu membantu menyapu keringat di pelipis Tiara. Ia bahkan menepuk-nepuk punggung gadis yang tersedak karena makan sambil mainan ponsel.
Ada letupan cemburu dalam hati Tiara. Melihat postingan di beranda cinta pertamanya. Foto Abrar terpampang mesra berpelukan dan mengecup pipi istrinya. Rasanya luluh lantak batin Tiara. Ia bingung, sampai kapan bisa menyudahi cinta bertepuk sebelah tangan ini? Nafsu makannya seketika hilang ditelan luka mendalam. Ternyata sakit hati memang sesulit itu dihadapi. Padahal, selama ini ia selalu jadi sumber patah hatu para pria di luaran sana. Tapi sekarang malah ia sendiri kena batunya. Gadis itu susah payah meneguk teh tawar hangat sambil menahan pergulatan dalam jiwanya yang kian merana. Masih jelas batinnya meradang mengingat perasaan yang tak tersampaikan sekaligus tak kesampaian.
Pria di sampingnya menyadari gelagat aneh Tiara, Dipta ikut mengintip apa yang dilihat kekasih sementaranya ini. Dan ia sadar apa yang sedang terjadi. Pria itu berdehem beberapa kali, sampai Tiara menyadari suaranya.
"Kamu membuatku cemburu. Sudah jelas ada kekasihmu di sini, malah menikmati foto pria lain diam-diam," ujarnya.
"Apa maksudmu?!"
"Bukannya kita memang pacaran? Kamu sendiri yang menawarkan hubungan ini, dan kamu juga melupakannya begitu saja?"
Tiara menimbang sesaat, ia baru ingat apa yang dikatakan malam lalu. Memang dasar kalau sudah mengingat Abrar, gadis ini kadang bisa lupa segalanya.
"Oh iya, aku hampir nggak ingat."
"Habiskan makanannya."
"Sudah kenyang."
Dipta mengambil alih piring dan sendok Tiara. Gadis itu pikir, Dipta akan menghabiskannya. Tapi ternyata tidak, ia malah menyuapkan sesendok makanan ke mulut Tiara.
"Aku-"
"Aaaa, ayo makan..."
Mau tak mau Tiara melahapnya meski bibirnya ingin mendumel tak jelas.
"Aku bukan anak kecil! Aku bisa makan sendiri!"
"Ini hal biasa yang dilakukan sepasang kekasih sungguhan."
"Hah? Apa iya?"
"Kamu belum pernah melakukannya?"
"Entahlah, aku nggak ingat dan nggak ingin mengingat masa lalu."
"Oh ya? Lalu, kenapa masih kepo dengan mantan gebetan yang sudah jelas jadi milik orang lain?"
Sorot mata Tiara melirik sebal. "Nggak sengaja," kilahnya asal. Padahal ia sendiri yang mengubek sosial media Abrar sangking penasarannya.
"Kalau kamu terus seperti itu, move on mu akan gagal total."
"Sok tau!"
"Aku pernah mengalaminya juga. Jadi aku paham perasaanmu sedikit banyak."
"Benar kah? Kamu pernah patah hati juga?"
Dipta mengangguk. "Calon tunanganku memutuskan hubungan kami tepat seminggu sebelum acara pertunangan. Alasannya klasik, katanya ingin melanjutkan kuliah sampai selesai dulu. Tapi nyatanya, sebulan kemudian aku tau dia bersama pria lain. Temanku sendiri. Dan mereka mengakui kalau selama ini punya hubungan spesial di belakangku. Aku pikir aku yang utama untuknya, ternyata aku hanya pilihan kedua."
Mendengar cerita Dipta membuat hati Tiara trenyuh. Orang lain mungkin tak akan percaya, bahwa seorang pria setampan dan semapan Dipta juga pernah disakiti sedemikian rupa. Entah perempuan model apa yang bisa melakukan hal konyol begitu? Sudah diberi laki-laki baik nan tulus, punya pekerjaan, wajah mumpuni, kurang apalagi? Mungkin memang dasarnya saja kurang bersyukur. Pikiran Tiara jadi melantur ke mana-mana.
"Apa kamu pengangguran waktu itu?"
Dipta menggeleng. "Aku sudah jadi seorang kepala manajer."
"Wah, benar-benar. Atau jangan-jangan temanmu itu jabatannya lebih tinggi darimu?"
Lagi-lagi Dipta menggeleng. "Temanku seorang seniman. Hobinya memotret dan pekerjaannya sebagai freelance."
"What?!" Tiara agak shock, tapi kemudian ia menyadari sesuatu. Bukan bermaksud merendahkan pekerjaan apapun, justru ia mengerti apa yang sebenarnya diinginkan gadis tersebut. "Hmm, kamu pasti jarang ada waktu untuk pacarmu kan?" terkanya.
"Yah, begitulah. Aku disibukkan dengan pekerjaan. Apalagi saat itu aku sedang dicalonkan menjadi CEO di kantor pusat."
"Pantas saja.'
"Kamu tau alasannya?"
"Kamu masih bertanya? Sudah jelas alasannya karena kesibukanmu. Ckck."
"Tapi, aku selalu datang tiap kali dia membutuhkanku."
"Ckck, perempuan itu penuh misteri. Kami paling benci meminta terus menerus. Kalau memang seorang laki-laki benar-benar peduli dan sayang, tanpa diminta pun pasti akan selalu ada. Jangan menunggu kami mengemis perhatian baru cepat tanggap. Sudah diambil orang baru tau rasanya kan?!"
"Ah, jadi begitu. Kupikir karena aku nggak menarik lagi untuknya."
"Pikiran yang terlalu sederhana sekali."
Tiara mengambil alih kembali piring dan sendoknya. Melanjutkan menyantap makanan seolah beban hatinya menghilang begitu saja. Dipta tersenyum sambil mengusap pipi Tiara. Hampir gadis itu tersedak sangking kagetnya.
"Apa yang kamu lakukan?! Sembarangan!" keluhnya.
"Bukan apa-apa. Hanya senang melihat kamu lahap makan."
"Apa perlu kusuapi juga?"
"Boleh."
Tiara mendelik. Ia sendiri yang menawarkan, tapi ia juga yang kesal tak karuan.
Selesai sarapan, mereka memutuskan kembali ke penginapan. Berencana untuk melanjutkan jalan-jalan ke taman Gembira Loka.
"Kamu yakin mau ke sana?" Tiara heran dengan Dipta.
"Kenapa memangnya?"
"Bukannya malah terkesan seperti anak-anak ya?"
"Apa yang salah? Kita bisa lihat banyak hewan di sana."
"Hubungan macam apa ini? Nggak ada romantis-romantisnya sama sekali."
"Kamu mau yang romantis?"
"Lupakan saja. Nggak meyakinkan."
"Menurutmu seperti apa hal romantis yang menyenangkan?"
"Ehm, duduk berdua dan saling bercerita."
"Hanya itu?"
Tiara mengangguk. "Sulit menemukan waktu berharga seperti itu. Paling kalau pasangan sudah ketemu ujungnya juga nggak jauh-jauh dari chek in."
"Tergantung bagaimana pasanganmu memperlakukanmu."
"Tapi memang kebanyakan kayak gitu kan?"
"Kamu lebih berpengalaman, jadi kenapa masih bertanya padaku? Sepak terjangku hanya sejauh dua kali menjalin asmara, dan kandas begitu saja. Nggak ada yang terlalu berkesan untuk diingat."
Bola mata Tiara menatap wajah santai Dipta. Pria ini terlihat seolah begitu menikmati hidupnya. Apapun tak jadi masalah berarti walau mungkin ada luka yang pernah ia alami sebelumnya.
"Hmm, kurasa kita nggak akan bisa cocok."
"Alasannya?"
"Kamu terlalu setia untuk aku yang sering cepat bosan."
Dipta terkekeh. "Klise. Aku tau itu, nggak perlu diperjelas lagi."
"Jangan terlalu menyukaiku. Kamu berhak mendapatkan seorang perempuan yang jauh lebih baik dariku."
"Menurutmu aku pria yang cukup baik?"
"Ya bisa dibilang begitu. Lebih baik berpikiran positif."
"Jangan terlalu mudah percaya dengan orang."
"Ya ya."
"Kamu nggak penasaran kenapa aku bisa menyukaimu?"
"Karena cinta pandangan pertama, kurasa itu hanya rasa penasaran belaka. Aku nggak penasaran karena kupikir paling-paling kamu akan bilang aku cantik, aku baik, aku perhatian, dan bla bla bla. Membosankan untuk didengar."
"Tapi bukan itu alasanku."
"Bukan?"
Dipta menggeleng.
"Lalu, apa?"
Pria itu mengangkat dua bahunya sekilas. Tanpa menjawab atau menjelaskan maksudnya. Pertanyaan Tiara terabaikan begitu saja.
"Cepat mandi dan bersiap-siap," katanya seraya masuk ke kamarnya sendiri.
Sementara Tiara terbengong beberapa saat di depan pintu kamar. "Hmm, sekarang aku malah jadi penasaran kan?!" gerutunya pada diri sendiri.
Sementara itu Dipta bersandar di balik pintu kamarnya. Menatap kosong sekeliling dengan pandangan datar. Ponselnya berdering, membangunkan lamunan kosong yang ia hadapi dalam beberapa saat. Pria itu hanya terdiam menatap nama yang tertera di layar ponsel. Membiarkan sang penelepon menunggu tanpa berniat mengangkat panggilan telepon tersebut.
Sebuah pesan di aplikasi hijau masuk. Dipta menghela nafas berat.
'Kapan kamu akan kembali? Aku merindukanmu..'
♡== SH ==♡