bc

Cinta Dalam Doa

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
fated
friends to lovers
kickass heroine
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

Aisha, seorang gadis remaja yang cerdas dan penuh semangat, baru saja pindah ke sekolah menengah atas di sebuah kota kecil. Dia dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah dan selalu mengutamakan nilai-nilai Islami dalam setiap tindakannya. Meskipun sering dianggap pendiam oleh teman-temannya, Aisha sebenarnya adalah sosok yang penuh kasih sayang dan perhatian terhadap orang-orang di sekitarnya.

Di sekolah barunya, Aisha bertemu dengan Arif, seorang siswa yang terkenal dengan kecerdasannya dan kepemimpinannya di organisasi sekolah. Arif adalah seorang pemuda yang memiliki komitmen kuat terhadap agama, namun ia sering kali berjuang dalam menghadapi tekanan dari lingkungan sekitarnya yang cenderung lebih modern dan kurang memperhatikan nilai-nilai agama.

Pertemuan pertama mereka terjadi saat Aisha terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler Rohis (Rohani Islam) di sekolah. Arif yang merupakan ketua organisasi tersebut, merasa kagum dengan ketulusan Aisha dalam menjalankan ajaran agama, dan mulai tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.

Seiring berjalannya waktu, Arif dan Aisha semakin dekat. Mereka sering berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk tentang impian, cita-cita, dan juga tantangan yang mereka hadapi sebagai remaja Muslim di era modern. Namun, kedekatan mereka bukanlah tanpa hambatan. Ada rasa canggung dan takut di hati keduanya untuk melangkah lebih jauh, karena mereka ingin menjaga kesucian hubungan sesuai dengan ajaran Islam.

Di tengah cerita, konflik mulai muncul ketika teman-teman Arif mencoba mempengaruhinya untuk lebih "santai" dalam menjalani kehidupan remaja, termasuk dalam urusan percintaan. Sementara itu, Aisha merasa ragu apakah hubungannya dengan Arif akan tetap berjalan dalam bingkai syariat atau justru akan tergelincir.

Keduanya akhirnya menyadari bahwa cinta sejati bukanlah tentang memiliki satu sama lain, melainkan tentang saling mendukung dan mendoakan dalam kebaikan. Mereka memutuskan untuk menjaga jarak dan fokus pada pencapaian tujuan mereka, namun tetap saling mendukung melalui doa dan komunikasi yang baik.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Aisha menatap jendela mobil dengan perasaan campur aduk. Pemandangan kota besar yang ramai dan penuh kehidupan perlahan tergantikan oleh pepohonan rindang dan deretan rumah-rumah sederhana. Hatinya terasa berat saat mobil keluarga mereka melaju menuju rumah baru di sebuah kota kecil yang jauh dari keramaian. Kota ini terasa asing baginya, dan meski ayah dan ibunya berusaha menyemangatinya, Aisha tidak bisa menahan rasa gugup yang menghantui pikirannya. “Aisha, ini adalah bagian dari takdir. Kita tidak pernah tahu rencana Allah, tapi percayalah, di balik setiap perubahan ada hikmah yang bisa kita ambil,” ujar Umi Salma lembut, mencoba menenangkan hati putrinya. Aisha hanya bisa tersenyum kecil. Dia tahu betul bahwa apa yang dikatakan ibunya benar. Namun, meninggalkan teman-teman lamanya dan segala hal yang sudah akrab baginya bukanlah hal yang mudah. Masa-masa SMA adalah waktu yang berharga bagi Aisha, penuh dengan kenangan manis bersama sahabat-sahabatnya di sekolah lama. Kini, semuanya berubah dalam sekejap mata, dan Aisha merasa seperti harus memulai hidupnya dari awal lagi. Mobil akhirnya berhenti di depan rumah baru mereka. Sebuah rumah sederhana namun nyaman, dengan halaman kecil yang dipenuhi tanaman hijau. Aisha mengamati sekelilingnya. Udara di sini terasa lebih sejuk dan segar dibandingkan dengan udara kota yang dipenuhi polusi. Pepohonan tinggi menjulang di sekitar rumah, menciptakan suasana yang tenang dan damai, namun tetap tidak bisa menghapus perasaan asing yang melingkupi hatinya. “Ayo, Aisha, kita masuk,” ajak Ayahnya, Pak Yusuf, dengan senyum yang penuh kasih. Aisha mengangguk dan perlahan keluar dari mobil. Kakinya menyentuh tanah yang baru pertama kali diinjaknya, dan dia menghela napas panjang. Ini adalah rumah baru mereka, tempat di mana dia harus membiasakan diri dan menemukan kenyamanan di tengah-tengah lingkungan yang belum dikenalnya. Begitu memasuki rumah, Aisha disambut oleh ruang tamu yang sederhana namun tertata rapi. Dinding-dindingnya dihiasi dengan beberapa hiasan islami yang indah, dan jendela-jendela besar memancarkan cahaya alami yang lembut ke dalam ruangan. Aisha berjalan perlahan, menyusuri setiap sudut rumah, mencoba merasakan kehangatan dan kenyamanan yang bisa ditawarkannya. “Kamar Aisha ada di lantai atas, sayang. Kami sudah menatanya agar kamu merasa betah,” ujar Pak Yusuf sambil menunjuk ke arah tangga. Aisha mengangguk lagi dan menaiki tangga kayu yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas. Kamar yang disiapkan untuknya terletak di ujung koridor. Pintu kayunya terbuka lebar, seakan-akan menyambutnya untuk masuk. Aisha melangkah ke dalam kamar dan melihat bahwa semuanya sudah siap. Tempat tidurnya ditutupi dengan seprai berwarna pastel yang lembut, dan di atas meja belajar, ada sebuah Al-Qur’an yang diletakkan dengan rapi, seolah mengingatkannya bahwa di mana pun dia berada, dia tidak akan pernah sendirian. Namun, meskipun semua tampak baik-baik saja, Aisha tidak bisa mengusir rasa sepi yang mulai merayap ke dalam hatinya. Dia duduk di tepi tempat tidur dan memandang keluar jendela. Dari sini, dia bisa melihat halaman belakang yang dipenuhi tanaman-tanaman hijau yang tumbuh subur. Di kejauhan, terlihat gunung-gunung yang menjulang tinggi, mengelilingi kota kecil ini dengan keindahan alami yang menakjubkan. Tapi, pemandangan ini tidak dapat menghapus bayangan-bayangan kenangan masa lalu yang terus menghantuinya. Malam harinya, setelah semua barang-barang selesai dipindahkan dan diatur, keluarga Aisha duduk bersama untuk makan malam pertama mereka di rumah baru. Meskipun suasana di meja makan terasa hangat, Aisha tidak banyak bicara. Dia merasa kesulitan untuk berbicara tentang apa yang ada di pikirannya, tentang kekhawatiran dan ketakutan yang dia rasakan tentang masa depannya di tempat baru ini. “Aisha, bagaimana perasaanmu tentang sekolah baru besok?” tanya Umi Salma dengan suara lembut. Aisha mengangkat pandangannya dari piring dan menatap ibunya. Dia tahu bahwa Umi Salma mengkhawatirkannya, dan dia tidak ingin membuat ibunya merasa sedih. “Insya Allah, aku akan baik-baik saja, Umi,” jawabnya sambil tersenyum kecil, meskipun hatinya masih diliputi rasa gugup. Pak Yusuf menatap putrinya dengan penuh perhatian. “Ingatlah, Aisha, kita selalu bisa berdoa kepada Allah untuk diberikan kekuatan dan petunjuk. Apa pun yang terjadi, yakinlah bahwa ini semua adalah bagian dari rencana-Nya yang lebih besar.” Aisha mengangguk pelan, menerima kata-kata ayahnya sebagai pengingat bahwa dia tidak sendiri dalam menghadapi semua ini. Namun, dia tetap merasa bahwa besok adalah hari yang penuh ketidakpastian, dan dia tidak tahu apa yang menantinya di sekolah baru. *** Keesokan paginya, Aisha bangun lebih awal dari biasanya. Dia menghabiskan beberapa saat untuk berdoa dan membaca Al-Qur’an sebelum bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Seragam barunya tergantung rapi di lemari, dan dia mengenakannya dengan hati-hati, mencoba merasa nyaman dengan identitas baru yang harus dia hadapi di tempat ini. Saat dia berdiri di depan cermin, melihat pantulan dirinya yang berusaha terlihat kuat, Aisha merasakan dorongan dalam hatinya untuk terus melangkah dengan penuh keyakinan. Dia mengingat nasihat ibunya bahwa setiap perubahan pasti membawa hikmah, dan Aisha berjanji pada dirinya sendiri untuk menemukan hikmah tersebut, tidak peduli betapa sulitnya. “Aisha, ayo kita berangkat,” panggil Pak Yusuf dari bawah. Aisha menghela napas dan mengambil tasnya. Dengan langkah mantap, dia turun ke bawah dan bertemu dengan ayahnya yang sudah siap mengantarnya ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Aisha berusaha mempersiapkan dirinya untuk apa yang akan dia hadapi. Meski rasa gugup masih ada, dia tahu bahwa dia harus menjalani hari ini dengan keberanian. Setibanya di sekolah, Aisha disambut dengan pemandangan yang tidak terlalu berbeda dari yang dia bayangkan. Bangunan sekolahnya cukup besar, dengan banyak siswa yang sudah memenuhi halaman depan. Mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok, tertawa dan berbicara, seolah-olah mereka telah mengenal satu sama lain sejak lama. Aisha merasa kecil dan tidak terlihat di tengah-tengah keramaian itu. Pak Yusuf menepuk bahu Aisha dengan lembut. “Semangat ya, Nak. Umi dan Ayah mendoakanmu.” Aisha tersenyum dan mengangguk, meskipun dalam hati dia masih merasa cemas. Setelah mengucapkan salam kepada ayahnya, Aisha melangkah masuk ke dalam gedung sekolah dengan kepala tegak, mencoba mengusir rasa takut yang mulai menyelinap ke dalam dirinya. Di koridor sekolah, Aisha melihat sekelilingnya dengan perasaan campur aduk. Semua tampak asing baginya, dari wajah-wajah para siswa hingga suasana yang penuh dengan hiruk-pikuk pagi. Dia mencoba menemukan ruang kelasnya sambil berharap bisa menemukan seseorang yang bisa membantunya. “Aku bisa melakukannya,” bisiknya pada diri sendiri. Akhirnya, Aisha menemukan ruang kelasnya dan melangkah masuk. Saat dia memasuki kelas, semua mata langsung tertuju padanya. Sejenak, Aisha merasa ingin berbalik dan keluar, namun dia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Dia tahu bahwa hari pertama selalu sulit, dan dia hanya perlu melewatinya. Seorang guru perempuan dengan senyum ramah menyambut Aisha di depan kelas. “Selamat datang, Aisha. Kami sudah menunggumu. Silakan duduk di sana,” katanya sambil menunjuk ke sebuah bangku kosong di barisan tengah. Aisha mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju bangku yang ditunjuk. Dia bisa merasakan tatapan penasaran dari teman-teman sekelasnya, tetapi dia mencoba untuk tetap fokus dan tidak terlalu memikirkannya. Saat dia duduk, seorang gadis yang duduk di sebelahnya tersenyum hangat. “Hai, aku Siti,” katanya dengan suara lembut. “Kamu murid baru, kan? Jangan khawatir, nanti kita bisa jalan-jalan di sekolah ini, aku tunjukkan tempat-tempat yang penting.” Aisha merasa sedikit lega dengan sambutan ramah Siti. “Terima kasih, Siti. Senang bertemu denganmu,” jawab Aisha sambil tersenyum. Sepanjang pelajaran pertama, Aisha mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Guru-guru di sini terlihat sangat bersemangat dan memperhatikan para siswa. Meski begitu, Aisha tidak bisa sepenuhnya menghilangkan rasa canggung yang dia rasakan. Dia terus bertanya-tanya apakah dia bisa berteman baik dengan siswa-siswa di sini seperti di sekolah lamanya. Saat istirahat tiba, Siti mengajak Aisha untuk berkeliling di sekolah dan memperkenalkan berbagai fasilitas. Mereka melangkah ke area kantin, ruang olahraga, dan lapangan olahraga yang luas. Siti juga menunjukkan kepada Aisha ruang ekstrakurikuler, termasuk ruang Rohis, tempat kegiatan keagamaan dan sosial diadakan. “Ini ruang Rohis. Kami sering mengadakan berbagai kegiatan di sini. Kamu bisa bergabung jika tertarik,” kata Siti sambil menunjukkan sebuah ruangan dengan beberapa poster Islami di dindingnya. Aisha mengangguk, merasa sedikit lebih tertarik dengan kegiatan ini. “Aku pasti akan memikirkan itu. Terima kasih sudah menunjukkan semuanya padaku.” Ketika bel berbunyi menandakan akhir istirahat, Aisha kembali ke kelas dengan perasaan sedikit lebih tenang. Selama pelajaran berikutnya, dia merasa bahwa dia mulai menemukan ritme dan bisa mengikuti pelajaran dengan lebih baik. Meskipun masih ada banyak hal baru untuk dipelajari, Aisha merasa bahwa hari pertamanya di sekolah ini tidak seburuk yang dia bayangkan. Saat pulang sekolah, Aisha merasakan campuran rasa lega dan kelelahan. Dia merasa sedikit lebih nyaman dengan teman-teman barunya, dan Siti telah membantunya merasa lebih diterima. Aisha kembali ke rumah dengan harapan bahwa hari-hari berikutnya akan semakin mudah. Di rumah, Aisha menemukan Umi Salma dan Pak Yusuf sedang menunggu di ruang tamu dengan ekspresi penuh harapan. “Bagaimana hari pertamamu, Nak?” tanya Umi Salma dengan senyum lembut. Aisha tersenyum kecil dan menceritakan tentang hari pertamanya. Dia bercerita tentang Siti dan teman-teman barunya, serta tentang kegiatan di sekolah. Meski hari itu penuh dengan tantangan, dia merasa ada beberapa hal positif yang bisa diambil dari pengalaman pertamanya. “Alhamdulillah, sepertinya kamu sudah mulai merasa lebih nyaman,” kata Pak Yusuf. “Teruslah berdoa dan bersabar. Setiap hari adalah langkah menuju lebih baik.” Malam itu, setelah makan malam, Aisha duduk di meja belajarnya, memikirkan hari-harinya ke depan. Dia membuka buku catatan dan mulai menulis tentang pengalamannya hari ini. Menulis adalah cara dia mengekspresikan perasaannya dan meresapi setiap perubahan yang dia alami.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

Video Pernikahan Papa

read
12.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook