[1] Malam Mendebarkan
“Silahkan masuk. Tuan sudah menunggu.”
Ivanka Fradella mulai berjalan, menyusuri lorong gelap dengan perasaan cemas. Jemarinya saling bertaut, sesekali meremas. Ingatannya mengenai kejadian sore tadi masih teringat jelas.
“Saya ingin menjual diri.”
“Kamu menjual diri?”
Ivanka yang melihat keraguan dari wanita di depannya pun hanya diam. Dia memilih menganggukan kepala, membiarkan wanita yang disebut madam itu mengamati tubuhnya. Dia tahu kalau tidak ada yang menarik, tetapi Ivanka terpaksa harus melakukan hal ini. Dia membutuhkan uang dengan jumlah yang besar.
“Kamu masih muda, kenapa malah menyerahkan diri denganku? Kenapa mencari uang di tempat seperti ini?” Wanita yang sering dipanggil Madam itu pun menatap bingung.
“Saya membutuhkan uang,” jawab Ivanka.
“Kalau begitu, apa kelebihanmu?”
“Saya masih perawan dan belum pernah berhubungan dengan siapapun.”
“Baiklah kalau begitu. Hari ini akan ada tamu VIP yang datang. Dia adalah pewaris tunggal keluarga kaya raya. Dia mau mencari satu wanita untuk dijadikan teman satu malamnya dan syaratnya harus bersih. Kamu yakin kamu masih bersih?”
Ivanka pun menganggukkan kepala tanpa ragu.
Sekilas ingatan itu membuat Ivanka semakin mengeratkan genggaman. Saat memasuki klub malam di mana banyak sekali wanita penghibur, dia merasa begitu yakin. Dalam benaknya saat itu hanya terpikir untuk menghasilkan uang yang banyak dengan waktu yang cepat.
Namun, sampai di tempat transaksi, Ivanka merasa ragu. Dia benar-benar takut kalau orang yang akan dilayaninya adalah sosok yang menjijikkan dan juga kasar. Bayangan akan cambukan dan juga rasa sakit membuatnya ingin mengurungkan niat. Sayangnya saat ini dia sudah berada di depan pintu hotel, menunggu sang pemilik untuk keluar.
‘Ya Tuhan, apa aku mundur? Tapi aku membutuhkan uangnya,’ batin Ivanka merasa ragu.
Salah satu pengawal yang sejak tadi mengikutinya langsung mengetuk pintu. Suara bariton dari dalam juga mulai terdengar, mengizinkan mereka untuk masuk. Tidak bisa lama, pintu juga terbuka. Mau tidak mau, Ivanka mulai melangkahkan kaki, memasuki ruangan yang tidak terlalu terang. Tidak berselang lama, terdengar suara pintu ditutup, membuat Ivanka tersentak kaget.
“Kamu wanita yang akan menemaniku malam ini?”
Ivanka yang masih gugup pun hanya diam. Jantungnya semakin berdegup kencang ketika melihat seorang pria memunggunginya. Ivanka benar-benar tidak pernah menyangka kalau dirinya akan menjadi wanita panggilan.
“Siapa namamu?” tanya pria itu lagi.
“Ivanka,” jawab Ivanka dengan gugup.
Ruangan itu tidak hanya temaram, tapi juga terasa begitu dingin. Meski begitu Ivanka masih memperhatikan pria di depannya. Dia penasaran, pria seperti apa yang akan dilayaninya hari ini. Dia hanya melihat tubuhnya yang tinggi dan tampak begitu kekar. Hingga perlahan pria itu membalikkan tubuh, menatap ke arah Ivanka berada.
Deg.
Ivanka yang melihat sosok di depannya pun langsung terdiam dengan kedua mata melebar. Jantungnya berhenti berdetak dengan mulut sedikit terbuka. Tubuhnya terasa kaku, tidak percaya melihat pria yang begitu dikenalnya.
“Kamu gak masalah cuman melihatnya sebentar? Bukannya kamu naksir dia?”
“Gak masalah. Lihat sebentar saja sudah bisa membuatku bersemangat lagi.”
Ivanka yang teringat dengan ucapannya dulu pun semakin dibuat membeku. Dia ingin sekali berlari, mendekap pria yang berada di depannya. Sayang, Ivanka tidak bisa melakukan hal itu.
“Kenzo,” gumam Ivanka lirih.
Sedangkan Kenzo yang berdiri di depan Ivanka hanya diam, menatap tajam dan memasang raut wajah sinis. Auranya begitu mendominasi. Langkahnya juga terasa begitu pasti, mendekat ke arah Ivanka berada. Hingga dia yang sudah dekat pun menghentikan langkah. Tanpa aba-aba, Kenzo mengulurkan tangan, meraih bintang Ivanka dan menarik kasar.
“Kamu yakin masih bersih?” tanya Kenzo berbisik, tepat di sebelah telinga Ivanka.
Ivanka benar-benar gugup. Dia tidak menyangka kalau harus melayani pria yang sempat ditaksirnya dulu. Mulutnya benar-benar sulit untuk digunakan berbicara, membuatnya menganggukkan kepala.
“Kalau sampai terbukti kamu sudah berhubungan dengan pria lain, kamu akan menerima konsekuensinya.”
Setelah mengatakan itu, Kenzo pun mendorong Ivanka, membuat wanita itu langsung berbaring di atas ranjang. Tanpa menunggu lama, Kenzo langsung mendekat dan berada di atas tubuh Ivanka. Dia tidak menunggu lama, mengecek seluruh bagian tubuh Ivanka, tidak meninggalkan sejengkal pun.
“Tolong pelan-pelan, ini pertama kalinya saya melakukan,” ucap Ivanka dengan penuh permohonan.
Kenzo yang sedang bersemangat pun menghentikan gerakan. Dia menatap manik mata Ivanka dan bertanya, “Kenapa kamu melakukan hal ini? Kamu masih cukup muda dan sepertinya masih bersekolah.”
“Itu urusan saya dan anda tidak berhak menanyakannya,” jawab Ivanka. Dia tidak ingin mengatakan masalahnya dengan orang lain.
Kenzo yang mendengar pun tersenyum sinis. Dia berkata, “Baiklah Kalau memang begitu. Awalnya aku ingin bersikap lembut, tetapi karena kamu bersikap begitu angkuh, aku akan melakukan seperti apa yang aku mau.”
Setelah mengatakan hal itu, Kenzo pun langsung melancarkan aksinya. Dia kembali memberikan rangsangan untuk Ivanka. Dia bahkan menahan kedua tangan wanita itu di atas kepala, membiarkan Ivanka merasakan nikmat tanpa perlawanan.
Sedangkan Ivanka yang melihat sikap dingin Kenzo hanya bisa menutup mulut rapat, mencoba menahan rasa sakit dan juga sedih.
‘Ya Tuhan, maafkan hamba,’ batin Ivanka.
***
Dering ponsel terdengar. Ivanka yang sedang terlelap mulai terbangun. Tangannya terulur, mencari sumber suara. Dia cukup hafal dengan dering ponselnya. Hingga dia mendapatkan benda pipih itu dan langsung mengangkat panggilan.
“Ivanka, hari ini ada ulangan. Aku harap kamu tidak lupa.”
Ivanka yang mendengar hal itu pun langsung membuka mata. Dengan cepat dia bangkit, bersiap untuk turun. Tadi itu sahabatnya yang menghubungi, mengingatkan dia yang memang sering sekali lupa karena saking banyaknya pekerjaan.
Namun, saat membuka selimut, Ivanka terkejut. Tidak ada sehelai benang pun di tubuhnya. Ingatan mengenai kejadian semalam pun langsung terlintas dalam benaknya, membuat Ivanka kembali menarik selimut.
“Kamu sudah bangun?”
Ivanka yang mendengar pertanyaan itu pun langsung mendongakan kepala, menatap asal suara. Di hadapannya sudah berdiri Kenzo dengan pakaian kerja lengkap, membuat Ivanka cukup malu. Pasalnya dia belum bersiap sama sekali. Wajahnya juga tampak begitu lusuh.
“Dimana pakaianku?” tanya Ivanka.Sejak tadi dia mencari pakaiannya, tetapi tidak ketemu sama sekali.
“Semalam aku tidak sengaja mengotorinya. Jadi, aku mau bikin yang baru,” jawab Kenzo sembari menyerahkan paper bag.
Ivanka pun tanpa ragu menerima tas tersebut. Dia langsung berlari, menuju ke arah kamar mandi dan membersihkan tubuh. Tidak membutuhkan waktu lama, dia pun keluar, mengenakan dress selutut.
“Kamu masih di sini?” Ivanka cukup terkejut karena Kenzo yang masih menunggunya di kamar.
Kenzo yang sejak tadi sibuk dengan ponsel pun menghentikan gerakan. Dia mulai bangkit, memasukkan ponsel dan berkata, “Aku menunggumu.”
“Menungguku? Untuk apa?” tanya Ivanka dengan sorot mata bingung.
“Aku memiliki penawaran untukmu,” kata Kenzo.
“Kalau kamu mau menjadi kekasihku, aku akan memberikan begitu banyak uang untukmu. Kamu tidak perlu bekerja sebagai wanita panggilan,” imbuh Kenzo ketika tidak juga mendapat jawaban.
Ivanka kembali dibuat terkejut dengan hal itu. Kedua matanya melebar, tidak percaya dengan ucapan pria di depannya. Tapi saat mendengar ucapan Kenzo selanjutnya, Ivanka merasa patah hati.
“Aku mau kamu datang setiap aku membutuhkanmu diranjang. Kamu jangan cemas, aku akan membayarmu dengan harga yang mahal,” ucap Kenzo.
Ivanka pun tersenyum miris. Menekan rasa sakit yang begitu dalam, Ivanka menjawab, “Aku menolak tawaran mu. Aku hanya ingin kamu membayar tarifku semalam.”