Jumat, hari baik. Yaa, aku percaya jumat adalah hari baik. Kenapa? Karena besoknya sabtu, terus besoknya lagi minggu. Libur! Bahagia! Ketemu keluarga!
Siang ini aku baru selesai kelas bersama Virlo karena aku juga ambil kelas gitar sebagai mata kuliah pilihan, buat menuhin SKS doang sih sebenernya, hahaha!
“Elo dikejar sama junior dari teater ga?” Tanya Virlo saat kami berjalan menuju kantin.
“Ada satu, nyebelin banget.”
“Nyebelin apa lo yang ga asik?”
“Perpaduan.” Jawabku.
“Cantik ga?”
“Relatif lah yaa, elo kan kambing di bedakin aja bakal lo bilang cantik.” Jawabku.
“k*****t emang lo!” Serunya.
Kami sampai di kantin, aku memesan makanan lalu mencari meja kosong.
“Lo ada project lagi ga?” Tanya Virlo.
“Belum, belom ada project apa-apa. Masih santai. Nanti paling pas mau UAS, kaya biasa.”
“Minggu depan ikut gue yuk, nonton teater. Temen gue ada yang ngajak.” Kata Virlo.
“Kapan? Kalo weekend gue gak bisa.” Kataku.
“Lo kenapa sih tiap sabtu minggu balik mulu?”
“Family time.” Lalu makanan yang kami pesan pun datang. Langsung saja aku menyantapnya, gila laper banget aku, belum makan dari pagi.
“Jadi hari apa teaternya?” Tanyaku di sela-sela makan.
“Kamis kok, ikut ya?!”
“Iyaaa siap.”
“Goodboy!” Sahutnya.
Selesai makan aku dan dan Virlo bangkit dari meja, sama-sama menuju parkiran.
“Bye!” Serunya.
“Yeah!”
Aku langsung masuk ke mobilku, begitu pun Virlo, ia masuk ke mobilnya dan kami pun pisah arah.
Aku mengemudikan mobil ke arah paviliunku, begitu sampai aku agak terkejut melihat seseorang berdiri di depan pintu kamarku. Setelah parkir aku langsung turun dan menghampirinya.
“Ngapain?” Tanyaku.
“Ye, kan Ka Bhagas yang bilang sore ini.” Jawab Nida.
“Oh s**t!” Aku janji lagi ke Mama kalo sore ini balik pas kemaren malem di telfon.
“Kenapa Ka?”
“Gak apa-apa, yaudah bentar.” Aku meraih kunci lalu membuka pintu kamarku.
“Masuk!” Ajakku.
Kamarku sedikit berantakan, tapi yaudah lah peduli amat.
“Kalo gambarnya gak hari ini gak apa-apa?” Tanyaku.
“Ya gak apa-apa, tapi deadline-nya hari senin Kak!” Serunya.
“Hari senin? Dan lo baru nelfon gue hari rabu kemaren? Lo kira ngelukis bisa sehari jadi?” Tanyaku kesal.
“Ya maap kak, kan aku gak tahu.”
“Duh gimana ya? Gue harus ke Bogor masalahnya. Terus tanda tangan Bu Meli juga belum kan?”
“Bu Meli?”
“Dosen wali gue, kudu tanda tangan juga kan di kanvasnya?”
“Eh iya, bener!” Katanya.
“Deadline senin, bisa sih senin pagi Bu Meli tanda tangan. Tapi gue gak yakin gambarnya udah beres.”
“Yaudah Kak, ngasal aja. Gak apa-apa ko!”
“Ngasal jidad lo! Gue gak pernah ngasal kalo bikin karya.” Kataku.
“Terus gimana?”
“Tulis nama lengkap lo, terus kirim foto muka lo, yang jelas. Tampak depan, tampak samping kiri, samping kanan.” Kataku.
“Terus aku gak ikut nimbrung bikinnya? Entar nilai aku dicoret kak!”
“Gue mau ke Bogor,”
Tepat saat itu ponselku berbunyi. Langsung saja aku mengangkatnya.
Mama calling...
“Hallo, Ma?”
“Di mana Kak? Jadi pulang ga?” Tanya mama di kejauhan sana, suaranya terdengar kesal.
“Masih di paviliun, Ma. Jadi ko, jadi balik.”
“Yaudah , hati-hati di jalannya ya, nak!” Masih dengan suara kesal, ada apa ini?
“Iya Ma, okay!”
Lalu aku memutuskan sambungan telefon.
“Noh, gue udah disuruh balik.” Kataku.
“Ka Bhagas anak mama ya?”
“Lo bisa serius gak sih?” Tanyaku kesal.
“Iya-iya, sorry kak! Yaudah deh, besok aku ke Bogor aja gimana. Gak apa-apa?” Usulnya.
“Bener lo mau ke Bogor?”
“Iya Kak, naik kereta deh aku.”
“Jangan kereta, bis aja. Nanti gue jemput di terminal.” Kataku.
“Yaudah deh Kak, aku balik ya!” Serunya sambil bangkit dari kursi belajarku.
“Iya, jangan lupa nama lengkap sama foto. Malem ini kalo sempet gue bikin sketsanya dulu aja.”
“Iya oke kak, siap!”
Lalu aku mengantar Nida sampai pintu depan, setelahnya aku masuk lagi ke kamar.
Aku menarik ponsel dari saku celana, ini dari tadi rame banget bunyi group keluarga. Langsung saja aku membukanya.
Ayah: Motor baru dong!
Ini sih ayah cari mati namanya! Aku mengscroll lagi ke bawah foto motor baru ayah, membaca percakapan yang heboh ini.
Badra: Abang mauuu! Ayah beli dua dong!
Mama: Apa-apaan!! Bahaya naik motor!!
Mama: Adam gak usah ikutan!
Mama: Besok mama jual motor ya!!!
Mama: Kalo ga mama kilo ke tukang loak!!
Oke, sepertinya aku udah tahu alesan kenapa nada suara mama kesel banget tadi pas di telfon.
Ayah: Itu motor ganteng banget kali, bae
Ayah: Cocok sama aku
Mama: Gak bakal ganteng kalo udah kecelakaan!
Mama: Lagian motor gituan mahal, mending buat Tata sama Nana!
Badra: Ayah beliin mama bedak deh, pasti nanti mama diem.
Mama: Kamu di mana sih Dam? Udah sore belum pulang?!
Badra: Abang pulang nanti, kalo Mama udah gak ngambek
Badra: Mwachhh
Aku menutup aplikasi chat tersebut. Haduh, ini kayanya kalo pulang bakal kena omel mama deh nih.
Yaudah lah, daripada gak jadi pulang makin kena omel. Aku mengambil kanvas ukuran 70×40 dari kolong kasur, membawanya keluar. Kumasukan kanvas ke mobil lalu kembali untuk mengunci pintu kamar. Setelah itu, aku siap menerjang kemacetan Ibu Kota sore hari ini.
***
Pukul 7 malam aku sampai rumah.
“Kakak! Ayo makan!” Seru Mama.
Aku tersenyum kepada mereka semua, menghampiri Ayah untuk memeluknya singkat. Lalu mengacak rambut Adam sekilas dan terakhir memeluk Mama.
“Tata sama Nana mana?” Tanyaku.
Ya, sekarang dua anak kembar itu lah hal yang paling waras di hidupku. Sisanya bikin gila semua.
“Tidur Kak, jangan diganggu yaa!” Seru Mama.
Aku mengangguk dan ikut duduk mengelilingi meja makan.
“Kirain kakak pulang besok, menghindari keributan di sini.” Kata Adam.
“Udah janji sama Mama. Kalo gak pulang entar tambah ribet, bang!” Kataku.
“Emang bener-bener yaaa kalian semua ini! Clarissa against the boys!!” Seru Mama sambil mengulurkan piring berisi nasi.
“Padahal ga ada yang mau lawan mama kalo mamanya ga bawel.” Ayah ikutan angkat suara.
“Udah makan semua, diem!” Sahut Mama dengan suara yang tak bisa dibantah.
Lalu kami semua diam, khusu menikmati makanan kami. Emang deh, masakan mama itu yang paling juara. Ga ada yang bisa ngalahin. Chef Juna juga kalah dah kalo sama Mama mah.
Makan malam berakhir seluruh keluarga udah pindah ke ruang santai lantai atas sementara aku izin ke kamar bentar untuk ganti baju dan membersihkan diri.
“Kakak abis mandi?” Tanya Adam begitu aku keluar kamar dan bergabung dengan mereka menonton tv.
“Engga, cuci muka, cuci tangan, kaki, sikat gigi doang.” Jawabku.
“Ga mandi aja lama, apalagi mandi? Kakak lagi jatuh cinta?” Tanya Adam.
Busetdah Dam!!
“Lama apaan, kamu aja itu sih kalo ngapa-ngapain bentar. Cuci muka aja matanya doang yang dibasahin!” Seruku.
“Hemat air untuk anak-cucu di masa depan.” Sahutnya.
“Anak SMP kaya kamu udah mikirin anak-cucu, Dam?” Tanya Ayah.
“Iya dongs, kan aku juga manusia yang mau hidup dan berkembang-biak.” Jawab Adam, dengan gayanya yang slengean.
“Kamu udah wet-dream belom sih, Dam?” Tanya Mama.
Aku dan Ayah serempak langsung tertawa mendengarnya. Untuk pertama kalinya Adam mati kutu oleh sebuah pertanyaan.
“Mama mah gitu, ga asik. Aku nangis nih!” Serunya setelah aku dan Ayah udah lelah tertawa.
Seperti inilah aku menghabiskan malam-malamku jika pulang ke Bogor, bener-bener detox untuk semua kegilaan yang aku hadapi di Jakarta.
Tiba-tiba aku teringat kanvas kosong yang masih tertinggal di mobil, langsung saja aku turun ke bawah dan mengambilnya.
“Mau ngapain kak? Malem-malem?” Tanya Mama saat aku kembali.
“Ada project, bantuin junior.” Jawabku.
Aku meletakan kanvas di sofa, dekat Adam lalu masuk ke kamar untuk mengambil kertas hvs dan pensil. Setelahnya aku kembali ke ruang santai bersama keluargaku.
Aku meraih ponselku, membuka aplikasi chat. Melihat foto yang dikirimkan Anida. Aku membaca nama lengkapnya: Anida Bilqissa Aretha. Bagus juga namanya.
Aku menutup aplikasi chat tersebut dan mulai membrowsing arti dari namanya. Gak butuh waktu lama untuk tahu arti namanya. Anida berarti sempurna, dan Bilqissa Aretha adalah ratu yunani yang bijaksana. Kayanya semacam Athena ini sih ya?
Aku langsung mencorat-coret kertas hvs yang kubawa tadi. Menggambar sketsa wajahnya dalam berbagai sisi. Gabutuh waktu lama untuk gambar sketsa wajah, dan aku udah punya 3 sketsa wajah Anida. Besok terserah dia deh mau pilih yang mana.
“Siapa itu kak? Cantik deh!” Tanya Adam.
“Junior yang mau digambar.” Jawabku.
“Tiati Ka Quinsha marah!” Serunya.
“Ma, aku tidur ya!” Tak memedulikan ucapan Adam barusan.
Aku bangkit dari sofa, merapihkan kertas-kertasku dan membawanya masuk ke kamar.
**
Pukul 10 pagi, aku udah sampai di terminal baranang siang, menunggu Anida.
Me:
Gue udah sampai.
Gue parkir di depan ya!
Di parkiran kopi gayo,
Lo cari aja!
Sent, dan terkirimlah chat-ku padanya. Tak butuh waktu lama ia membalasnya.
Anida:
Iya, okay kak
Ini udah sampai di gerbang tol ko
Bentaran yaaa
Aku hanya membaca pesan tersebut, yaudah . Dia udah tau aku di mana jadi tinggal tunggu doang. Hampir 15 menit kemudian jendela mobilku diketuk. Aku menoleh dan melihat Anida berdiri di kaca jendela.
Langsung saja aku membuka pintu.
“Masuk!” Seruku.
“Maaf ya kak, ganggu waktu liburnya.”
“Iya santai.” Jawabku.
Langsung saja ku keluarkan mobilku dari parkiran ini dan puter balik menuju rumah.
“Kita mau gambarnya di mana nih kak?” Tanyanya.
“Di rumah lah, mau di mana lagi?”
“Ga di cafe gitu?”
“Heh! Kalo bikin cerita, nulis lagu di cafe oke-oke aja. Masa ngelukis di cafe, ngaco aja lo!”
“Kak Bhagas galak yaa!”
Aku memilih tak membalas perkataannya itu. Barusan aku ga galak kali, tapi rasional.
Gabutuh waktu lama untuk sampai di rumah, aku segera turun dari mobil.
“Ayok buruan!” Seruku.
Anida juga ikut turun dan mengekor di belakangku masuk ke rumah lewat pintu samping.
Ada Mama dan Adam di ruang keluarga sedang bermain dengan Tata dan Nana.
“Ma, temen aku. Nida, yang mau di gambarin.” Kataku mengenalkan Anida pada Mama.
“Hallo tante, Anida!” Seru Nida sambil mencium tangan mama.
“Hallo, cantik. Tante seneng deh ada yang mau repotin Aga hahah.”
Setelah itu ia berjabat tangan dengan Adam.
“Ah aku harus bikin laporan ini sih!” Seru Adam tiba-tiba.
“Ma, aku di samping yaa!” Seruku.
“Iya Kak! Kamu bikin laporan apaan Dam?” Kata Mama langsung pada aku dan Adam.
Aku mengajak Anida ke pinggir kolam, aku udah menyiapkan semuanya.
“Bikin laporan ke London.” Terdengar suara Adam dari dalam rumah.
Ya Allah, Adam!!!!! Itu anak cari mati banget sih!!
“Nih Nid, semalem udah bikin sketsa. Pilih gih yang mana!” Seruku memberinya beberapa lembar sketsa yang udah ku buat.
“Bagus-bagus kak, yang mana dong?”
“Ya pilih!”
“Yang ini aja deh!” Serunya.
Aku menerima kertas yang dia pilih. Gambar mukanya penuh secara landscape. Oke dehhh.
“Kak, aku videoin yaaa bikinnya? Buat bukti.” Katanya.
Aku mengangguk.
Lalu Anida mengeluarkan kamera dari tas yang ia bawa, lengkap dengan tripod kecil lalu ia letakan di atas meja.
“Bisa mulai sekarang?” Tanyaku.
“Oh bisa kak. Aku diem di mana nih.”
“Ambil nih kursi, duduk aja di depan.” Kataku.
“Depan mana?” Tanyanya.
“Depan ka'bah!”
“Seriusan Ka Bhagas!”
“Ya di depan kanvas lah, lu gimana sih?!”
“Oh iya, okay-okay.”
Aku mengeluarkan cat minyak yang udah ku siapkan, mengeluarkannya sedikit ke atas palet. Lalu mulai mengambil senjataku, kuas.
“Ko warna biru sih kak? Aku gak punya rencana jadi avatar loh!” Katanya.
“Lo bisa diem ga sih?!”
“Oh iya, iya, iya!” Serunya.
Lalu aku pun mulai menggambarnya.
“Aga, Nida. Ini yaa minum sama cemilannya.” Aku menoleh ketika Mama datang membawa berbagai cemilan dan orange juice.
“Thank you, Ma.”
“Makasih tante.”
“Yeah, you're welcome kids!” Sahut Mama.
Lalu aku melanjutkan menggambar lagi setelah Mama pergi. Aku punya rencana bikin gambar ini dengan warna-warna terang, bukan warna kukit.
Aku memilih cat berwarna orange lalu sedikit mencampurnya dengan kuning dan mulai menggambar lagi.
“Kak, boleh minum ga?” Tanya Anida.
“Boleh, minum aja sana.”
Aku tetap fokus pada gambarku, mumpung masih mood. Kalo ga mood gak bakal selesai ini.
“Belom keliatan ya muka akunya. Hehehe.
“Udah , duduk lagi lo sana!” Seruku.
“Iya, kak siap!”
Menit-menit berganti jam. Lukisan muka Anida udah mulai terlihat, hanya kurang dipertegas di beberapa bagian supaya gambarnya makin bagus.
Hari udah sore saat aku selesai.
“Bagus kak, bagus banget!”
“Yaudah , balik lo sana. Nanti senin gue ke Bu Meli terus ke teater.” Kataku.
“Iya bentar kak, grab-nya belum dateng.” Jawabnya.
Aku mengangguk dan membereskan peralatan lukisku.
***