Qunisha C B:
Hello, good morning from London
Sorry ya kemaren-kemaren sibuk
Siang ini aku tiba-tiba tersenyum karena pesan singkat tersebut. Udah setahun lebih sejak pertemuan pertama kami di London, namun belum banyak kemajuan di hubunganku dengan Quinsha.
Sebenernya aku bingung, selain cantik dan ceria, apa lagi yang ada di dalam diri Quinsha yang bikin aku suka sama dia? Aku belum nemu alesan, dan rasanya kami berdua nyaman seperti ini.
Kita berdua gak pernah bahas masalah hubungan, status atau apapun. Jadi ya gini aja, aku sih gamasalah dan Quinsha pun sepertinya begitu.
Lagian, aku ketemu dia jarang, pas dia masih di Bogor, dia lagi sibuk buat ujian nasional, setelahnya dia pergi ke London untuk kuliah. Bener-bener ga ada harapan.
“Woy! Kenapa lo Ga? Bengong sendiri sambil senyum-senyum!” Gega menghancurkan lamunanku.
“Geg, lo bisa ga sih gausa kaya gitu!” Seruku.
“Ya elo, Ibu gue nawarin itu ada tukang baso lewat, lo mau ga?” Tanya Gega.
“Lo mau?” Tanyaku.
“Mau, gue udah pesen.” Jawabnya.
“Yaudah gue mau deh.” Kataku.
Kemudian Gega turun ke lantai bawah. Aku mencoba menonton siaran tv yang lagi di tonton Gega.
“Eh lo tau ga tugas baru anak-anak teater yang angkatan bawah apa?” Seru Gega ketika ia kembali dengan dua mangkuk bakso.
“Apaan?” Tanyaku sambil menerima bakso.
“Dosennya jail banget dah. Mereka harus dapetin satu orang dari seni murni yang mau gambarin mereka. Terus harus ada sign kita di lukisannya sama dosen wali kita. Mampus ya?”
“Tau dari mana?” Tanyaku.
“Dari minggu kemaren ada dua anak cewe nyamperin gue minta digambar, segala nanya bayaran gue berapa.” Katanya.
“Serius lo?” Kataku, entah kenapa aku jadi antusias mendengarnya.
“Iyee! Udah ada yang ngejar-ngejar elu belom?” Tanyanya.
Aku menggeleng.
“Anak-anak teater pada takut kali sama lo. Di seni pertunjukan kan elo rada gimana gitu! Ga selepas di seni murni.”
“Sama aja ah, gue kayanya mau di mana aja sama ah.”
“Elo ngerasa gitu, ya yang lain? Lo kan terkenal dengan si Perfect.”
“Dihhh lagunya Ed Sheeran kali ah!!” Sahutku.
“Ya emang kan? Nilai lo selalu sempurna, gambaran lo, permainan musik lo!”
“Gak usah bahas itu dulu ah. Males gue.”
“Rahasia lo apa sih? Bisa bagus mulu?” Tanya Gega, tak memperdulikan perkataanku tadi.
“Just use your heart.” Jawabku singkat.
“Basi!” Serunya.
Aku hanya mengangkat bahu, mulai menyantap bakso yang udah tak terlalu panas ini.
Sore ini kuhabiskan bersantai di rumah Gega, main PS lah, gitar-gitaran gajelas lah. Kemudian aktivitasku terganggu karena getaran ponsel di saku celanaku.
+6281xxxxxx calling...
Karena tak tahu ini nomer siapa, aku memutuskan tak mengangkatnya. Males kan kalo ternyata penipuan ini-itu-anu. Bikin males.
“HP lo getarannya berapa skala richter sih?” Tanya Gega.
“Kenapa emang?”
“Berasa boss sampai sini!”
Aku hanya tertawa.
“Telfon? Angkat aja sih!” Serunya.
“Takut penipuan, males gue.”
“Udah angkat, loudspeaker!” Serunya.
Aku memandang layar HP ku, masih bergetar sih ini. Oke deh angkat aja.
“Hallo?” Sapaku.
“Ini bener Ka Bhagas?” Tanya seseorang di kejauhan sana. Nadanya terdengar ragu-ragu.
“Ya, ini siapa?”
“Ini Anida, Ka.” Jawabnya.
“Anida? Siapa ya?” Aku merasa tak mengenal nama Anida sebelumnya.
“Junior Ka, tapi dari department teater.” Jelasnya.
“Oh, kenapa?” Tanyaku.
“Ka Bhagas udah ada yang booking belum?” Tanyanya.
“Hahaha booking! Kaya apa aja lo Ga!” Seru Gega tertawa.
“Shut up!” Seruku pada Gega.
“Eh maaf ka, gasopan ya aku?” Tanyanya.
“Santai aja. Booking apaan emang?” Tanyaku.
“Itu loh, buat tugas anak teater. Disuruh ngegambar.” Jelasnya.
“Yang gue kasih tau tadi Ga!” Kata Gega dengan suara seperti bisikan.
“Ohhh tau, belom ada. Kenapa? Kamu mau saya gambarin?” Tanyaku.
“Boleh emang Ka?” Tanyanya.
“Iya boleh, besok ketemu di depan ruang 2.2.4 yaa!”
“Eh beneran nih kak?” Tanyanya seperti tak percaya.
“Iyaa, jam 11 pas saya bubaran kelas.” Kataku.
“Yaudah oke kak siap, makasih yaa!” Serunya.
“Iya.” Kataku.
Lalu sambungan telepon pun terputus.
“Kok lo main iya-iya aja sih Ga?” Tanya Gega.
“Emang kenapa?”
“Lo liat dulu kudunya, cantik apa engga. Terus jan langsung kasih kepastian, biar kali-kali kita cowo dikejar-kejar.” Jelasnya.
“Ngaco aja lo. Mereka udah dibikin susah sama dosennya. Masa iya sama kita mau dijailin juga.”
“Minimal liat dulu lah cantik apa kaga, biar gambarnya enak.” Kata Gega.
“Yaelah, penting amat sih Geg?” Kataku.
“Penting lah, kan kali aja bisa berlanjut.”
“Eh? Emang lo sama Felicia putus?” Tanyaku.
“Break. Ga ngerti lah sama cewe.” Katanya.
Dan sisa hari ini pun kuhabiskan dengan mendengarkan curhatan Gega yang ga ada habisnya.
Ponselku bergetar lagi, ada pesan masuk.
Quinsha C B:
Hello, giliran nih yaa sibuk?
Semangat Aga
Lagi-lagi aku hanya tersenyum merespon pesan dari Quinsha, cukup membacanya tidak membalasnya.
***
Keesokan harinya, setelah mata kuliah Instrument minor piano, aku keluar bersama beberapa temanku.
“Ka Bhagas?” Aku menoleh karena dipanggil.
Lalu terlihat seorang wanita menghampiriku, ia udah tersenyum bahkan dari kejauhan. Bukan senyuman, tapi cengiran lebar.
“Aku Anida kak, panggil aja Nida.” Katanya sambil mengulurkan tangan.
“Bhagas.” Kataku menjabat tangannya.
“Mau di mana Kak ngobrolnya?” Tanyanya.
“Kantin aja dulu yaa.” Kataku.
Lalu kami berdua berjalan bersamaan menuju kantin. Anida sedikit berlari untuk menempati meja kosong. Ya, agak susah nyari meja kosong di jam segini.
“Ka Bhagas mau pesen apa? Aku traktir deh.” Katanya bersemangat
“Santai aja, Nida. Saya mau itu deh, jus mangga aja.” Kataku.
“Makannya kak?” Tanyanya.
“Gak usah.” Kataku.
“Oke siap!” Serunya.
Ia lalu bangkit dan pergi memesan sementara aku tinggal di meja. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan segelas jus mangga dan segelas jus stroberi.
“Maaf ya kak, lama.” Katanya.
“Santai aja.”
“Eh iya, Ka Bhagas bener kan yaa ngambil seni rupa juga? Nekunin seni murni?” Tanyanya.
“Iyaaa, kenapa?”
“Gak tahu, aku heran. Anak-anak pada gak mau ketemu Ka Bhagas, takut juga nelfonnya. Katanya kakak galak.”
Yaelah, gosip dari mana coba? Cuma pernah sekali marahin Virlo masa langsung di cap galak?
“Siapa yang bilang?” Tanyaku.
“Ya banyak, lagian Kakak orangnya pendiem sih. Jadi takut deketinnya hehe aku aja beraninya lewat telfon.”
Aku hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala.
“Kamu mau digambar di kanvas ukuran berapa, apa di kertas HVS aja?” Tanyaku.
“Ya Allah kak, jahat amat di kertas HVS?”
“Yakan saya nanya!”
“Ukuran kanvas paling gede berapa sih kak?” Tanyanya.
“Di saya sih ada ukuran 140 x 140, tapi kalo mau custom yang lebih gede dari itu juga ada.”
“Meter?”
“Senti lahhhh! Pegel amat ngecetnya!”
“Ohhh gitu, standarnya berapa ya kak?”
Aku memandang Anida secara seksama, rambutnya, alisnya, matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya, dagunya dan lehernya. Oke sih, dia bagus. Kayanya ngegambar dia bakal seru, komposisi wajahnya bagus.
“Kak?”
Aku kembali tersadar.
“Kenapa?”
“Liatnya gitu amat? Serem aku.” Katanya.
“Udah kamu saya gambar di kanvas ukuran 70×50 aja ya.” Kataku.
“Yaudah aku mah terserah Kak Aga aja.”
Aku mengangguk, lalu meraih jusku dan meminumnya.
“Eh iya, berapa kak?” Tanyanya.
“Berapa apaan?” Tanyaku bingung.
“Aku bayar kakak berapa?” Tanyanya.
What? Di bayar? Hahaha lucu ini anak!
“Duit jajan kamu gak bakal bisa buat bayar gambaran saya.” Kataku.
“Ka Bhagas tuh gitu yaa orangnya.”
“Apaan?”
“Meroket untuk merendah. Orang-orang mah merendah untuk meroket, Ka Bhagas malah kebalikannya.”
“Maksudnya?” Tanyaku tak mengerti.
“Paham kan maksud merendah untuk meroket?” Tanyanya.
Aku mengangguk.
“Nah Ka Aga tuh kebalikannya. Sok-sok sombong bilang aku gamampu bayar, padahal mah lukisan kakak gratisan.”
Yeee ini anak k*****t juga yaaa!!
“Kamu cari pelukis lain aja!” Seruku, seraya berdiri meninggalkan kantin.
Bukan bermaksud tak sopan atau apa, aku sedikit kesel aja dia bilang gitu, lagian kan aku becanda, dan alasan lain aku ada kelas Ilustrasi dan itu udah di mulai dari lima menit yang lalu, jadi aku harus bergegas.
Dua jam pelajaran berlalu begitu saja, aku segera keluar kelas dan berjalan ke parkiran.
“Kak Bhagas!” Seseorang memanggil namaku ketika aku akan masuk ke mobil.
Aku menoleh, yaelah kenapa dia sih?
Anida berlari ke arahku, berhenti tepat di depanku.
“Apa?”
“Kak Bhagas sensitif ihh. Becanda tadi tuh kak.” Katanya.
“Iya gue tau.” Kataku.
“Terus kenapa pergi gitu aja?” Tanyanya.
“Telat kuliah Ilustrasi.”
“Jadi kan kak? Please, kata dosen aku, kakak juga dapet nilai tambahan loh. Tanya aja dosen wali-nya.”
“Tanpa nilai tambahan, nilai gue udah bagus. Banget!”
“Ya seengganya bantuin aku, kak.”
“Besok jam 4 sore. Cari tau sana paviliun gue di mana!” Seruku sambil masuk ke mobil, meninggalkannya sendirian di parkiran.
Aku langsung menyalakan mesin mobil, mengarahkannya ke paviliunku. Ini udah sore, aku gak mau kena macet dan aku udah lelah sama drama-drama hari ini.
Saat sampai paviliun, aku langsung merebahkan badanku di kasur. Tiba-tiba ponselku bergetar, nama Quinsha terpampang di layar. Langsung saja ku angkat panggilannya.
“Hallo!” Seruku.
“Hey! Lagi sibuk ga?” Tanyanya.
“Baru sampai kostan.” Jawabku.
“Okay good, how's Jakarta?” Tanyanya.
“Still crowded and cruel. How's London?”
“Ya gini-gini aja. Kuliah gak enak ya ternyata.”
“Kenapa?”
“Anak di sini semuanya ambisius, ga ada yang males, ga ada yang lenye-lenye, serius semua.”
“Oxford, Quinn. Kamu ngarep anak Oxford duduk-duduk ngaso di warkop?” Tanyaku.
“Hahahaha iya sihhh!”
“Lagi istirahat kamu?” Tanyaku.
“Nope, udah pulang. Ini lagi jalan ke asrama.” Jawabnya.
“Enak, masih siang udah pulang.”
“Yaa, tapi tugas sama laporan banyak banget, Ga.”
“Ya, namanya juga kuliah.” Kataku.
“How's your day?” Tanyanya.
“Absurd, ada junior minta digambarin tapi gitulah. Anaknya sok asik.” Kataku.
“Hahaha dia belum tau kali kalo kamu anaknya kaku.”
“I'am not a stiff, cuma gak mau terlalu akrab aja sama orang yang baru dikenal. Semua kan butuh proses.”
“Dia minta digambarin apa emang?”
“Gambar muka dia, tugas dari dosennya.”
“Yaudah gambarin sana, bantuin anak orang ngerjain tugas.”
“Iyaa iyaa!
“Ya udah , aku sampai asrama nih. Nugas dulu yaa.
“Yeah, semangat Quinn!”
“Thank you, Aga!”
Lalu sambungan teleponnya terputus. Aku bangkit dari kasur, mengambil kanvas kecil dari kolong kasur, menyiapkan semua peralatan tempurku.
Sepertinya aku akan melukis Quinsha.
***