Akhirnya tiba juga hari H, hari di mana kami mementaskan drama yang selama dua bulan ini kami tekuni. Kelompokku tampil di hari ke 2, kemarin aku sempat menonton pagelaran drama milik tim lain dengan tema peperangan.
Bagusssss banget sumpah, set-nya diatur sedemikian rupa sampai kita semua ngerasa beneran ada di medan perang masa-masa penjajahan dulu.
Dan sekarang, tiba giliranku dan teman-teman untuk menampilkan apa yang udah kami siapkan. Sedari tadi Anida menemaniku untuk tetap rileks dan tidak tegang.
“Wajar Ga, ini kali pertama kamu tampil depan orang banyak tapi bukan di singgasana kamu, ini panggung besar dan yang nonton ratusan lebih. Tapi aku yakin kamu pasti bisa, oke?” Aku mengangguk. Yak, aku sama Anida udah ngomong aku-kamuan sekarang, biar pas tampil udah terbiasa.
Mencoba meyakinkan diri sendiri kalau aku bisa, aku udah berlatih selama dua bulan, banyak tenaga dan pikiran yang kucurahkan untuk ini, bukan hanya aku tapi teman-temanku yang lain juga melakukan hal yang sama. Jadi, aku tidak akan menghancurkan ini semua dengan kegugupanku.
“Yuk! Bisa kok! Kapan kita in set?” Tanyaku.
“Bentar lagi, narator masih baca.” Jawabnya aku mengangguk.
Aku mendengar narator dengan seksama membacakan situasi kepada para penonton, lalu saat tahu bagianku untuk masuk ke panggung aku berjalan mantap ke tengah, udah khatam bagaimana aku harus berdiri dan bersikap.
Tak lama aku masuk, beberapa pemeran lain masuk, meramaikan panggung. Sedikit pembukaan dengan sebuah lagu yang kunyanyikan secara solo, latar tempat cerita ini di sebuah cafe yang menyediakan live accustic, ada keyboard di sana sebagai properti, aku sedikit memainkannya bersamaan dengan nyanyianku. Ga ada sih di naskah, cuma kayanya improv gini lebih bagus, mengurangi keteganganku dengan bermain keyboard, dan lagi aku makin menjadi pusat perhatian karena ini, menegaskan kalau akulah pemeran utamanya kepada para pentonton.
Adegan-adegan berlalu begitu saja, kurasa semua berjalan lancar. Sebisa mungkin aku tidak melirik ke arah Edo yang duduk di barisan penonton untuk menilai hasil karyanya. Dia udah wanti-wanti aku untuk ga ada kontak mata sama penonton kecuali saat nyanyi. Kontak mata hanya untuk ke sesama pemain, dan yang paling penting: Anida.
Entah kenapa saat Anida masuk set, aku lebih rileks dalam beradegan, dia bener-bener aktris yang baik. Blockingnya sempurna, intonasinya sempurna, semuanya sempurna.
Kemudian kami tiba di adegan akhir, adegan yang bikin aku gemeteran saking kalutnya karena ada Mama, Ayah, Adam, Tata dan Nana yang menonton. Adegan akhir yang dipersiapkan dengan baik oleh penulis naskah, dan harus ku sampaikan dengan baik ke penonton.
Selesai, semua bertepuk tangan dengan berakhirnya drama ini. Semua yang kami kerahkan terbayar dengan teriakan dan tepuk tangan dari para penonton.
Lega, berasa kaya bisul pecah tau ga. Akhirnya, aku bisa menyelesaikan sesuatu yang tidak aku kuasai. Semoga saja para juri yang merupakan dosen dan beberapa seniman terkenal mengapresiasi drama ini dengan nilai yang baik.
Setelah membungkuk pada semua penonton, kami masuk sesi foto-foto, seriusan ada aja yaa penonton yang minta foto sama kita-kita ini, apalagi aku yang masih amatiran.
“Kakak! Ya ampun, akhirnya bibir gacuma dipake buat makan sama ngomong!” Bisik Adam saat di dekatku. Gaberani kayanya dia ngomong kenceng-kenceng.
“Ngawur aja kamu dek! Tutup mata kamu tuh harusnya tadi.” Kataku.
“Mau foto dongsss boss!” Seru Gega yang datang mendekat, ia tersenyum tipis sambil bertepuk tangan pelan.
“Apa banget deh lo Geg!” Kataku.
Setelah acara ramah tamah dengan penonton kami berkumpul di back-stage, mengevaluasi hasil kerja kami barusan.
“No comment, I think it's perfect, no mistake dan gue harap juri setuju sama gue.” Kata Kak Edo saat kami evaluasi.
“Makasih buat kalian semua, ini kali pertama gue kerja dengan tim sebesar ini, ngehandle banyak kepala, tapi gue bersyukur karena kalian semua bener-bener berdedikasi sama tugas ini. Dan buat anak-anak seni musik, makasih usahanya, gue tau usaha kalian pasti lebih keras dari kita karena ini bukan bidang kalian. Pokoknya I give my heart to you all.” Katanya dengan nada tulus.
Kami semua bertepuk tangan. Jujur, aku terharu dengernya, terharu juga karena bisa menyelesaikan ini dan dikomen baik oleh orang sekelas Edo.
“Ga, abis ini mau ke mana?” Tanya Anida.
“Lha bukannya kita ada makan bareng sama anak-anak?”
“Eh iya bener, bareng yak?” Katanya dan aku mengangguk.
Dua bulan ngejalin chemistry sama Anida bikin aku ngerasa gak bisa gitu aja tinggalin dia. Asli dia anak yang menyenangkan, gak jaim, apa adanya. Tapi dibalik sifat dia yang blak-blakan, dia kadang manis, penyayang dan amat sangat perhatian.
“Ganti baju dulu gih, aku tunggu di parkiran.” Kataku, Anida mengangguk dan beralih ke ruang ganti.
“Nyusul yaa yang lain?! Gue sama Edo mau caw nih! Awas lu pada ga dateng, emak gue udah masak!” Seru Vito.
Aku dan yang lain mengangguk.
Aku segera mengambil tasku dan berjalan ke mobil, sesampainya di mobil aku membuka tasku, mengambil kaos, segera kulepaskan kemeja yang kukenakan dan berganti dengan kaus santai.
Tak lama, jendelaku diketuk, Anida udah sampai, langsung saja kubuka kunci dan dia masuk ke jok penumpang.
“Yuk? Rumah ka Vito kan?” Katanya, aku tersenyum dan mengangguk.
Dua bulan ini, kami sering banget ngabisin waktu di rumah Vito, bahkan suka tidur di sana desek-desekan. Rumah Vito ada studio luas yang bisa di pake buat latihan drama, jadi saat ga dapet giliran di ruang teater, kami tetap latihan di rumah Vito, bahkan sampai tidur, makan di sana.
“Ayok!” Serunya, aku segera menyalakan mesin lalu menjalankan mobilnya ke arah rumah Vito.
Saat di jalan, terasa ponselku bergetar, aku buru-buru mengambilnya dan melihat nama yang terpampang di layar.
Ayah calling...
“Nid, bisa tolong angkat terus loudspeak?” Pintaku.
“Sini!” Ia mengambil ponsel yang kuulurkan.
“Hallo kakak?” Terdengar suara Mama di kejauhan sana.
“Eh Ma, iya kenapa?”
“Kamu ke mana ngilang?” Tanyanya. Lha iya, aku lupa gak bilang kalo ada acara lanjutan.
“Sorry Ma, ada acara lanjutan. Kakak ga inget tadi.”
“Yee, yaudah kita malem ini nginep di Mercure, kamu pagi mau nyusul ga?” Tanya Mama.
“Gak tahu, Ma. Besok masih ada yang tampil, kan pengin liat, terus besok pengumuman nilai.”
“Sibuk banget sih Kak?” Tanya Mama.
Kami udah di pelataran rumah Vito, aku mematikan mesin mobil dan meminta ponselku dari Anida.
“Maaf Ma, emang jadwalnya begini.” Kataku.
“2 minggu kamu gabalik, tadi ketemu bentaran doang. Kakak jahat ah!”
“Lha, ko jahat Ma?”
“Abis gitu, gak mau pulang.”
“Belum bisa Ma bukan gak mau pulang.”
“Yaudah kalo udah beres pulang ya sayang?”
“Siap Ma itu mah pasti.”
“Yaudah , bye kak! I love you dari semua. Kecuali Adam katanya.”
“Kenapa dah si Adam?” Tanyaku.
“I dont love you Kak kalo kakak ga balik!” Terdengar suara Adam.
“Iye dek iya, nanti pulang!” Seruku.
“Bye Kak!”
“Bye!” Seruku lalu menutup sambungan telepon.
Aku menoleh ke samping, melihat Anida sedang serius memperhatikanku. Ia tersenyum saat aku membalas tatapannya.
“Aku iri deh sama kamu.” Katanya.
“Iri kenapa?” Tanyaku.
“Keluarga kamu harmonis banget, sayang banget sama kamu, beda sama keluarga aku yang sibuk banget.” Jelasnya.
“Tapi mereka juga pasti sayang sama kamu Nid, jangan diraguin.”
“Apa buktinya? Mereka gak pernah dateng kalo aku tampil, mereka nganggep pentas di kuliah gitu cuma main-main. Beda sama keluarga kamu yang selalu support, gak peduli kamu tampil di mana, mereka bangga sama kamu.”
“Cara masing-masing orang tua nunjukin sayang beda Nid, mungkin kamu ga liat apa yang udah di lakuin orang tua kamu buat kamu.” Katanya.
Anida tersenyum manis padaku. Ia membuka seatbeltnya tapi tidak turun, tetap berada di sini.
“Boleh peluk gak?” Tanyanya nada suaranya terdengar ragu.
Aku tersenyum dan mengangguk, melepas seatbelt aku memajukan tubuhku, Anida merentangkan lengannya lalu memelukku. Rasanya nyaman saat berpelukan seperti ini, namun perutku tiba-tiba bergemuruh. Seperti ada sesuatu yang menggelitik di sana.
Tak berapa lama, Anida melepas pelukannya. Ia tersenyum padaku, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Kenapa?” Tanyaku sambil mengulurkan tangan, berusaha menyeka air matanya agar tidak tumpah.
“I miss my mom, my dad and my bro.” Jawabnya.
“Wajar kok itu, udah yuk keluar?” Ajakku karena agak canggung aja duaan kaya gini.
Anida mengangguk lalu membuka pintu dan keluar. Kami berjalan berbarengan. Anida merangkul lenganku, aku bener-bener udah terbiasa dengan semua ini. Dua bulan kemaren kami kaya orang pacaran, asli deh.
Aku malah gak tahu, setelah drama ini aku siap apa engga bakal lepas dari dia. Dua bulan ketemu hampir tiap hari bikin aku ngerasa cukup untuk kenal dia, dari semua kelakuan abnormalnya dia, aslinya dia bener-bener amazing.
“Ga, I think I love you. Pacaran yuk?” Katanya saat kami berjalan ke studio Vito yang letaknya di belakang rumah.
Aku berhenti, menatap matanya dan ia balas menatapku. Tak ada keraguan dalam matanya, ia tersenyum tulus.
“You think or you feel?” Tanyaku.
“Both.” Jawabnya, yakin.
“Yaudah ayok!”
*****