Agak kaget memang saat Edo memintaku menjadi pemeran pria dalam drama ini, aku buta soal seni peran, tapi anehnya Edo mempercayaiku. Peran tokoh utama pria adalah seorang pelukis, menurut Edo aku yang paling cocok karena aku pelukis betulan. Jadi untuk mendalami karakter dan konflik batin yang dialami si tokoh bisa dengan gampang kurasakan, gitu katanya.
Sialnya, pemeran utama ceweknya Anida. Aku baru tau kalo untuk di kalangan anak teater, Anida itu menonjol dan berbakat. Mangkanya Edo mempercayakan tokoh utama wanita ini untuknya.
Udah beberapa kali kami berlatih, Anida banyak mengajarkanku intonasi suara saat berada di panggung, blocking, gesture dan banyak hal. Dia menyenangkan kalau berada di zona nyamannya.
“Okee hari ini selesai yaa!” Aku mendesah lega begitu mendengar teriakan Edo barusan.
Aku segera menuju tasku, menggambil air minum. Aus gila banyak ngomong, dalam beberapa scene aku bahkan harus nari dan nyanyi pula karena ini temanya drama musical. Kalo tau gitu, mending aku main piano aja ya di belakang.
“Aga?” Aku menoleh saat tahu Edo ada di sampingku.
“Ya, kenapa Kak Ed?” Tanyaku sambil berdiri.
“Banyakin jalan sama Nida ya? Biar makin dapet chemistry-nya. Jadi ngeklop gitu kalian berdua.” Pesannya.
Aku mengangguk setuju, mengiyakan lebih tepatnya karena nasehatnya itu bagus sih.
“Posternya yang ada di IG lo ya? Bagus sihh tinggal masukin judul sama pemeran, tapi nanti aja. Biar surprise judul kita apaan.” Katanya lagi dan aku mengangguk.
“Oke Ka Ed.” Kataku, dia menepuk bahuku sekilas lalu berbalik.
“Vir!” Aku menghampiri Virlo, di cerita ini dia juga dapet peran, jadi temanku. Karena kita temen beneran jadi ga canggung, yang canggung itu kalo udah di suruh acting. Blank!
“Jadi?” Tanyaku.
“Eh ayok lah jadi, si Janett udah nunggu kita.” Jawabnya.
Hari ini kami mau nonton teater yang dibuat oleh UKM Universitas lain, biar sedikit-sedikit paham gitu, kalo dulu nonton teater cuma buat refreshing, sekarang buat bahan belajar.
“Gue ajak Anida boleh?” Tanyaku, ya aku tiba-tiba kepikiran dia dan omongan Edo tadi.
“Ya ajak aja, makin banyak makin rame.”
“Oke, tungguin gue yak!”
“Bawa mobil kan lo?” Tanya Virlo ketika aku akan berbalik.
“Iya santai.” Kataku.
Aku segera menghampiri kerumunan cewe-cewe yang ada Anida lagi asik ngerumpi di dalamnya.
“Nid?” Panggilku.
“Ya, kenapa Ga?”
“Edo bilang kita kudu jalan bareng biar ada chemistry, gue mau nonton teater, lo mau ikut?”
“Boleeh, bentar ambil tas.” Katanya.
Aku mengangguk dan menungguinya, tak lama ia kembali, lalu kami keluar, menyusul Virlo yang udah menemui Janetta.
Virlo dan Janett berdiri di samping mobilku, segera saja aku menghampirinya, bersama Anida tentunya.
“Yuk?!” Ajak Janett.
“Vir! Nyetir yaa!” Aku melemparkan kunci mobilku padanya dan dengan sigap ia menangkapnya lalu aku masuk ke jok penumpang depan sementara Anida dan Janetta duduk di belakang.
“Net itu kenalin temen baru kita dari anak teater, Nida namanya.” Kataku, lalu mereka saling tersenyum dan berjabat tangan.
“Langsung caw nih yaa!” Seru Virlo sambil menyalakan mobil, kami semua berdeham tanda setuju dan Virlo menjalankan mobil ke tempat tujuan kami.
“Drama kalian gimana? Udah sampai mana?” Tanya Janetta, kita beda kelompok jadi ga saling tau.
“Gitu aja Kak, udah mulai latihan.” Terdengar Anida menjawab.
“Dari posternya sih gue liat Aga sama lo ya Nid?” Tanya Janetta dan aku melihat Anida mengangguk dari kaca spion.
Banyak hal yang kami bicarakan sampai akhirnya kami tiba di lokasi yang kami tuju. Berjalan berbarengan, kami membeli tiket lalu duduk di kursi yang udah disediakan.
Bersyukur kami datangnya pas, jadi pas dateng pas mulai acaranya.
Aku mengamati masing-masing pemeran dengan seksama, bagaimana mereka berbicara dengan intonasi yang tepat agar kalimat-kalimatnya tersampaikan dengan baik, bagaimana mereka berbisik tapi terdengar oleh seisi ruangan, atau cara berjalannya, begitu pula blocking yang sering menjadi kesalahanku saat kami latihan.
Tak terasa pertunjukan drama selama dua jam itu selesai, karena terlalu sibuk memperhatikan aku kira ini drama cuna duapuluh menit. Asli sih ini bagus banget! Dramaku sama yang lain harus kaya gini juga nih, bahkan lebih kalo bisa.
Kami keluar dari gedung pertunjukan, menuju prakiran, kali ini giliran aku yang menyetir, sebelum nganterin mereka semua pulang, aku ngajak mereka ke tempat makan dulu, kasian anak orang pada laper kayanya.
***
“Kak Ed, sorry gue bisa mangkir dua jam dulu ga? Ada kelas.” Kataku meminta izin.
“Lha, kita semua kan libur.”
“Seni rupa kak, di gedung seni murni.” Kataku mengingatkannya kalau aku mengambil 2 jurusan sekaligus.
“Yaudah gak apa-apa Gas, langsung balik sini kalau udah beres ya?”
“Siap Kak, makasih!” Aku segera mengambil tasku, keluar dari ruang teater dan berlari menuju gedung seni murni.
Baru kali ini aku ngerasain kerepotan yang bener-bener, hampir 3 tahun kuliah aku selalu nyantai dengan double tugas, double belajar dan lain sebagainya, tapi kali ini, aku ngaku kewalahan. Jadi anak teater gak enak ternyata ya, cape.
Begitu sampai, aku langsung masuk ke ruang kelas, duduk di samping Gega yang udah terlebih dahulu tiba di kelas.
“Tampang lo!! Kenapa dah?” Tanya Gega.
“Ga denger gosip emang soal tugas baru anak musik dan teater?” Tanyaku.
“Lha? Emang betulan? Gue kira canda hahaha!”
“Gigi lo gue becandain Geg!”
“Akhirnya, gue liat lo kecapean juga! Udah terlalu banyak lo nyantai. Ternyata kelemahan lo di teater hahaha!”
“Serah lo dah!”
Obrolan kami terhenti karena dosen masuk dan mulai mengisi materi, di akhir kuliah, beliau memberikan tugas, kayanya tugasku udah overload deh, yang kemarin aja kayanya belum aku kerjain saking kecapeannya.
“Makan yuk?!” Ajak Gega, aku menggeleng. Masa iya aku santai-santai makan tapi teman satu tim-ku sibuk latihan.
“Gue kudu balik lagi ke ruang seni, Geg.” Kataku.
“Jah yaudah ! Gue balik deh! Stay alive Ga!” Serunya sambil menepuk bahuku.
Gega berjalan ke parkiran sementara aku berjalan ke gedung seni pertunjukan lagi, masuk ke ruang teater.
Sekembalinyaku ke ruang teater, kembali kami berlatih. Edo banyak mengajariku ini-itu-anu, dia ngajarin soal cara duduk, gimana gestur aku kalo ngomong. Katanya sih aku tinggal belajar ekspressi, muka aku terlalu datar soalnya.
“Ga? Balik dari sini mau ke mana?” Tanya Anida begitu kami selesai latihan.
“Ke kostan, banyak tugas terabaikan.” Kataku.
“Boleh nemenin?” Tanyanya.
Aku mengangguk, ini termasuk cara kami mencari chemistry untuk drama ini. Jadi yaa gini deh, kudu sering-sering bareng.
Aku dan Anida balik duluan, berjalan beriringan menuju kostanku.
“Masuk!” Ajakku saat kami sampai. Aku melemparkan tasku ke sofa yang ada, masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.
“Tugas apaan?” Tanya Anida saat aku keluar dari kamar mandi, ia udah duduk di kursi belajarku.
“Banyak.” Hanya itu jawabanku, karena aku sendiri lupa apa saja tugasku.
“Boleh pinjem laptop Ga?” Tanyanya.
Aku mengangguk dan Anida udah asik membuka laptopku, aku mengumpulkan semua tugasku di lantai, membaca apa saja yang harus ku kerjakan dan mulai mengerjakan dari yang paling susah.
“Eh? Lo punya film ini? Udah di tonton?” Tanyanya. Ia membuka koleksi film-ku ternyata.
“Belum, itu Gega yang download kalo gasalah.”
“Di tonton deh, bagus loh.” Katanya dan aku mengangguk.
Aku kembali fokus pada tugasku dan membiarkan Anida asik dengan kegiatannya.
“Ga? Kalo lo sukanya apa?” Tanyanya tiba-tiba.
“Apa yaa? Gue seneng sendirian di tengah keramaian, berisik emang, tapi itu bantu gue buat berfikir jernih, bikin gue fokus sama diri sendiri.” Kataku.
“Film yang paling lo suka apa?” Tanyanya.
“Semua yang bergenre comedy, gue seneng ketawa.”
“Tapi lo jarang ketawa.”
“Karena hidup kudu di bawa serius, meskipun santai tapi kudu tetep serius, ketawa itu karena hiburan, semua orang butuh ketawa.” Sahutku.
“Okay, sekarang lo ngerjain tugas, gue cerita tentang gue yak?” Katanya.
Aku mengangguk, berusaha membuat barrier di kepalaku, sisi kanan dengerin Anida, sisi kiri ngerjain tugas.
Hampir pukul sepuluh malam saat tugas terakhirku terselesaikan, aku masih mendengarkan Anida yang bercerita, gila ini anak kompleks banget.
“Nid, gue laper. Lanjut cerita di jalan aja yak? Mau makan gue.” Kataku dan Anida mengangguk.
“Lo tau Sherlock Holmes? Gue rasa emang si Benedict Cucumber deh yang paling pas peranin dia.” Celoteh Anida sepanjang perjalanan menuju McD.
“Cumberbatch, lo sembarangan aja ganti-ganti nama orang.” Koreksiku.
“Susah pelafalannya. Jadi ya gitu aja gue sebutnya.” Sanggah Anida.
Kami sampai di McD, turun dan berjalan bersama masuk ke dalam, Anida ikut makan bersamaku jadi kami pesen dua paket. Udah malam, jadi banyak kursi kosong Anida pun memilih kursi agak ke pojok.
“Nid, jangan di situ deket AC banget.” Kataku, memilih kursi di sebelahnya. Biar ga terlalu dingin.
“Okee-okee.” Anida pindah ke depanku.
“Lo gak apa-apa jam segini belom balik?” Tanyaku.
“Gue sering balik malem, apalagi kalo pentas kan selesainya kadang tengah malem baru beres evaluasi, kadang balik, kadang gabalik. Orang tua udah biasa.” Jawabnya.
Aku hanya mengangguk. Lalu kami mulai makan sambil membahas hal lain-lain. Dari ceritanya tadi sore, aku bisa menyimpulkan kalau Anida nih anaknya santai, ceria, dia dari keluarga berdarah seni turunan bapaknya sih, soalnya bapaknya sutradara kondang film tanah air, Ibunya akuntan di salah satu perusahaan multinasional yang sering bolak-balik luar negeri, kalo kakaknya lagi kuliah peran di Inggris. Keren sihhh.
“Seriusan? Terus bakat lo yang keren-keren itu nurun dari siapa?” Tanyanya saat aku menjelaskan keluargaku.
Dia kaget saat tahu kalau Ayah itu dokter bedah jantung dan Mama dengan hal-hal kimianya. Aku cuma bisa tersenyum, aku sendiri pun gak tahu bakat ini nurun dari siapa, aku gak pernah tahu soal orang tua kandungku. Mama dan Ayah udah lebih dari cukup sampai aku merasa tidak usah memikirkan keluarga yang dengan tega meletakanku di panti asuhan.
Malah kadang aku bersyukur, aku bersyukur masuk panti, karena kaloga gitu aku gak bakal ketemu Ayah, terus ketemu Mama, gak bakal punya adek macem Adam, Tata dan Nana. Aku bersyukur sama hidupku yang sekarang. Aku bahagia atas semua yang kumiliki saat ini.
“Ga kalo gue nginep di tempat lo boleh? Gue gak apa-apa ko tidur di sofa.” Katanya saat aku sedang asik melamun.
Aku melihatnya dengan tatapan heran.
“Rumah gue lagi kosong, bete sendirian.” Jelasnya.
“Yaudah ayok.” Kataku, yaaa paviliunku bebas kok, cewe-cowo-ganda-campuran.
Setelah makan kami kembali ke kostanku, aku mengambil bantal dan guling lalu kuletakan di sofa,
“Gue aja yang di sofa, kasian lo kalo di sofa.” Kataku dan Anida mengangguk.
Setelah Anida naik ke kasur, aku mematikan lampu dan naik ke sofa. Merebahkan tubuh lelahku di atasnya, mencari posisi nyaman agar tidak sakit punggung.
Lama aku terdiam, suasana ruangan ini pun udah hening sedari tadi. Tapi anehnya aku gak bisa tidur. Aku melirik jam di ponselku, hampir pukul 2 pagi. Ya ampun, besok latihan tapi aku masih belum tidur.
“Aga?” Panggil Anida.
“Belum tidur lo?” Tanyanya.
“Hemmm.” Hanya itu jawabanku.
“Gue bete deh, lo tau kan kalo orang seni tuh kebanyakan bebas dan realistis.” Katanya tiba-tiba.
“Gue bete orang tua gue tuh kadang ga ngelarang gue ini-itu-anu, asli deh kayanya mereka kalo liat gue ciuman juga gak bakal marah deh.”
“Kenapa lo tiba-tiba ngomong gitu?” Tanyaku.
“Dari tadi gue sibuk sendiri sama pikiran gue, jadi daripada jengah ya mending gue obrolin, mumpung ada lawan bicara.” Jelasnya.
“Kalo gitu balik ke diri lo sendiri Nid, di bebasin tapi lo yang harus bikin pakem buat hidup lo, benar salah, baik buruk, semua relatif, jadi ya harus diri lo yang batesin. Di bebasin orang tua kadang bikin kita dewasa kok.” Kataku.
“Tapi gue pengen gitu nyokap atau bokap sesekali larang-larang gue ini-itu apapun deh, biar keliatan peduli sedikit sama gue.” Katanya.
“Kalo dilarang entar lo brontak lagi? Remaja kaya kita kan gitu Nid.”
“Hahaha iya sih!” Ia setuju denganku.
Hening lagi. Cukup lama kami diam, akhirnya aku membuka suara. Mengutarakan apa yang sedari tadi mengangguku sampai-sampai aku gak bisa tidur.
“Gue kepikiran omongan lo tadi Nid.”
“Yang mana Ga?”
“Soal bakat, lo tau ga sih? Gue ini anak adopsi? Gue di ambil dari panti asuhan saat umur 4 tahun sama Ayah gue, gue gak tahu siapa orang tua gue, gue gak tahu darah siapa yang ngalir di tubuh gue, gue gak tahu siapa orang yang nurunin bakatnya buat gue.” Kataku.
“Tapi lo tau Ga, lo tau siapa orang yang ngebentuk lo untuk jadi Aga yang sekarang, lo tau siapa aja yang sayang sama lo, lo tau orang yang bakal siap belain lo, lo tau bakal ada yang nemenin lo saat lo jatuh. Yakan?”
“Yeah, that's right, and I think it's enough, although sometime I wondered siapa orang k*****t yang bikin gue tapi ga bertanggung jawab sama hidup gue, bikin gue sebel banget.”
“Ya pasti lah sebel, tapi balik lagi kita cuma manusia Ga, kita cuma bisa jalanin takdir kita.”
“Yeah, dunia ini panggung sandiwara kalo kata lagu mah.” Sahutku.
“Yaps, kita semua udah bermain peran sedari lahir, terserah kita mau jadi orang kaya apa sekalipun takdir, semesta dan dewi fortuna not on our side.”
“Udah ah tidur, udah jam 2 lebih ini.” Kataku.
“Yeah, sleeptight Bhagas.”
“Yeah, nite-nite Nida.”
*****