11 - New Project

2133 Kata
Kembali ke Bogor, seperti yang ku duga, rentetan pertanyaan dari Mama bikin aku sakit kepala. Namun kujelaskan satu per satu, aku gak mau nutupin ceritaku ke mama, jadi aku ceritain semua. Termasuk ciuman Quinsha. “Itu namanya goodbye kissing, Ka!” Kata Mama, santai. “Goodbye kissing apaan deh Ma.” Sahutku. “Jadi, ngejar cinta ke Londonnya gagal nih ceritanya?” Tanya Mama. “Bukan ceritanya lagi ma, faktanya ini sih.” “Yaudah  kak, masih banyak ikan di laut.” Mama menggambil Tata dari gendonganku. Padahal dari tadi Tata-lah yang bikin aku rada tenang. “Yang mancing juga banyak Ma.” Sahutku. “Deketin aja tuh, siapa yang kemaren kamu gambar. Dia cantik kok!” “Lha, Mama ada-ada aja. Kakak pernah ditonjok orang Ma gegara dia.” “Yaah, kasian. Yaudah  ah, apaan sih! Kamu masih muda, pikirin dulu deh yang lain. Cewe mah gampang, Kak. Kamu kedip-kedipin juga dapet kayanya.” Aku hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalaku. Mama udah  mulai ketularan Adam sepertinya. “Ma nih ahh! Nana rewel!” Pintu kamarku terbuka, Adam masuk sambil menggendong Nana. Aku mengulurkan tanganku untuk menerima Nana, Adam duduk di sampingku. “Kenapa nih? Ko rapat aku ga diundang?” Tanya Adam. “Rapat apaan sih Dam?” Sahutku. “Ya abis, Mama sama Kakak serius banget.” “Kakak batal sama your Queen.” Kata Mama dengan nada jahil. “Lha? Kakak ditolak sama My Queen? Udah  jauh-jauh ke London masa batal. Kakak ga jago gombal kaya aku sih. Payah” Sahut Adam. Cukup udah , aku gakuat ngeladenin sablengnya Adam. Aku memilih merebahkan diri, mendudukan Nana di perutku dan bermain cilukba. “Tersangka utama kita menyerah Ma.” Sahut Adam dan terdengar Mama tertawa. “Kakak buang-buang ongkos aja ke London, tau gitu mending duitnya buat aku traktir coklat ke semua cewe di sekolah. Kan lumayan aku makin eksis.” Adam mulai ngoceh sendiri. “Kakak penasaran kalo kamu nanti jatuh cinta gimana Dam?” Tanyaku. “Aku tuh udah  jatuh cinta setiap hari kak, ke Mama, ke Ayah, ke Tata sama Nana, ke Kakak, ke Satpam komplek, hidup aku tuh kan dipenuhi cinta, mangkanya aku bagi-bagi, kan aku dermawan.” Aku tak menyahut, biarkan saja Adam menggila dengan dirinya sendiri. “Pesen Mama satu ya Dam! Jangan jadi playboy, jangan mainin cewek! Mama pites kamu kalo kaya gitu.” Ujar Mama. “Kalo cewenya yang mau dimainin gimana Ma?” Tanya Adam dan aku tertawa. “Mama pasung kamu mainin cewe! Inget punya adek cewe. Kamu mau Tata sama Nana dimainin orang?” Tanya Mama. “Aku setuju sama Ayah, kita kurung Tata sama Nana sampai umur 30, baru kita lepas.” Aku udah  no comment deh, Ayah sama Adam itu bener-bener setipe. “Kakak ngantuk nih!” Seruku, mengusir halus mereka semua. Aku nih lagi berduka tau ga, cinta pertamaku baru saja mati dalam beberapa hari yang lalu, aku harusnya masih mengheningkan cipta. Tapi gegara Adam sama Mama, pembahasan soal percintaanku malah ngalor-ngidul. “Yaudah  ayok Ma, kita biarin Ka Aga bermuram durja.” Adam bangkit sambil mengambil Nana yang sedang kupeluk. “Bhay!!” Seru Adam sambil keluar kamarku. “Jangan galau, Kak.” Kata Mama dan aku mengangguk. **** Kembali ke kampus, kembali ke kesibukanku sebagai mahasiswa nanggung. Ya, nanggung. Maba bukan, mahasiswa tingkat akhir juga bukan. “Woy, Gas!” Aku menoleh ketika mendengar suara Fachri memanggilku. “Kenapa Ri?” Tanyaku saat ia mendekat. “Ke mana aja lo? Di cari Pak Feri tuh buat project baru, gabung sama anak teater loh. Mau bikin yang aneh katanya.” Pak Feri, dosen dari department seni pertunjukan. “Pak Feri di ruangan sekarang?” Tanyaku. “Kayanya sih ada, tapi kalo ga ada ya kaya biasa paling, di studio.” “Thanks yaa!” Seruku meninggalkan Fachri dan ia mengangguk. Ya, bolos lima hari bikin aku keder karena banyak project baru yang deadline-nya menipis. Aku langsung mencari Pak Feri di studionya, karena berada di lantai satu. Ruangannya ada di lantai 2, jadi ya lebih efisien cari dari lantai satu dulu. Yakan? Tak butuh waktu lama untuk sampai di studio milik Pa Feri, aku langsung membukanya karena percuma aja diketuk, gak bakal kedengeran. “Pak!” Panggilku, Pak Feri menoleh dan tersenyum. “Ke mana aja Ga?” Tanya beliau saat aku duduk di kursi di dekatnya. “Ada urusan keluarga Pak.” Jawabku, bohong. “Kamu bisa main peran?” Tanyanya. “Gak bisa Pak, saya cuma bisa gambar sama main piano.” Kataku. “Di coba ya? Semua angkatan seni musik sama teater gabung buat project ini.” “Project apa Pak?” Tanyaku. Lalu pak Feri menjelaskan. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, campuran anak seni musik dan teater, campur angkatan juga, jadi aku bakal kerja bareng sama senior dan junior. Akan ada pentas pertunjukan drama musikal, dibikin perlombaan supaya pada semangat. “Kalian pake ruang teater ganti-gantian. Jangan lupa bikin poster, flayer atau apapun supaya pada mau dateng nonton kalian. Kalian di bebas-kelas selama dua bulan. Akhir semester kalian tampil, itu akan jadi nilai akhir kalian. Semua bakal sama rata, juara satu A+, juara 2 A, juara 3 B+. “Kalo kalian jadi pemain apalagi peran utama, nilai kalian plus-plus!” Pak Feri menyelesaikan penjelasannya. “Kelompok saya Pak?” Tanyaku. “Tanya Virlo, kamu sekelompok kok sama Virlo.” Aku mengangguk. “Makasih Pak.” Aku bangkit dan berdiri. “Saya ngarep lebih loh dari kamu Bhagas. Saya pengen kamu main drama.” Katanya sebelum aku keluar. “Saya coba pak.” Sahutku. “Surprise me!” Serunya, aku hanya mengangguk lalu keluar  dari studio Pak Feri. Aku langsung berjalan menuju kantin, Virlo pasti ada di kantin, yakin aku. Anak kaya dia kan pasti ngecengin cewe di kantin. Dan benar saya, baru langkahin kaki ke kantin aku udah  denger suara tawanya. Langsung saja kuhampiri ia. “Virlo!” Panggilku dan duduk di tempat yang tersedia. “Woy! Ke mana aja lo k*****t!” Serunya, ia bangkit dari duduknya dan menghampiriku. “Ada project pribadi, mangkanya ngilang.” Jawabku. “Sukses ga?”  “Fail.” “Payah lo! Mending omongin project kita sama anak teater.” “That’s why I came here.” “Emang ya lo! Gak pernah basa-basi.” “Basi.” “Lo tau anak cewe yang lo gambar? Nah kita sekelompok sama dia.” Damn! “Pembagiannya gimana sih?” Tanyaku. “Dikocok sama Pa Feri, kaya lotre gitu deh. Biar adil.” “Terus kita mau bikin apa?” “Ini yang paling gue sebelin, kita kebagian tema ‘cinta’ can you believe it? Suck yeah!!” “Kelompok laen dapet apa?” “Alam sama peperangan.” “Kenapa kita gadapet tema perang aja sih?” “Gue juga maunya gitu. Malesin banget kan cinta-cintaan. Eneg gue.” “Gue juga Vir.” “Besok giliran kita kumpul pertama sama anggota kelompok, jam 8 di ruang teater. Dateng ya!” “Sure.” *** Keesokan harinya, aku  bangun pagi seperti biasa aku mengambil beberapa roti yang udah  kusiapkan di meja dan berjalan dari kostan ke kampus. Ini masih pagi dan hari sabtu, kampus masih sepi. Mungkin siangan baru ada rame-rame. Aku berjalan santai ke ruang teater sambil memakan rotiku, sesekali meminum air mineral yang tadi kubeli di warung. Begitu sampai, aku membuka pintu ruang teater, ruangannya luas. Ada stage besar, ada bangku untuk audience dan yang paling besar, backstage. Ya, tempat untuk mengolah, meramu, menggodog sebuah seni memang harus dibuat besar, karena setauku drama atau teater bukan hal mudah  dan melibatkan banyak orang. Aku bergabung dengan beberapa orang yang udah  hadir, tersenyum, menjabat tangan sambil menyebutkan nama, aku masih asing sama orang-orang ini, tapi mereka semua ramah, orang-orang yang kukenal paling hanya dari jurusan musik. Selebihnya? Yaa gitu deh. Seseorang yang dituakan di kelompok ini mulai membuka suara saat kami semua udah  datang, ada Virlo di sampingku. Dan di seberang lingkaran besar ini, ada Anida. “Selamat pagi semuanya, makasih udah  mau dateng. Sebelumnya kenalin yaa, gue Edo, dari teater semester 7. “Karena ini project besar dan project gabungan, gue amat sangat mengharapkan ketulusan kalian untuk project ini. Gue mengharapkan, waktu kalian, tenaga kalian, pikiran kalian, bakat kalian, dan yang terpenting: hati kalian.” Ucapan Edo tentu saja disambut riuh oleh tepukan tangan beberama anak. “Okay, sebelumnya kita voting, siapa yang mau jadi sutradara dari drama ini. Karena tim ini harus punya kepala.” “Lo aja kak!” “Iya bang, lo aja.” “Gue setuju kalo lo!” Terdengar sahutan anak-anak mengusulkan untuk Kak Edo ini menjadi sutradara, aku yang dari tadi mengamati sosok Edo ini setuju-setuju saja bila ia terpilih menjadi sutradara. Ia keliatan tegas, berwibawa dan sepertinya tidak egois. “No, bukan gitu cara kerjanya. Di sini ada anak musik, kita juga harus perhitungkan mereka. Mungkin ada perwakilan anak musik yang mau angkat bicara?” Tanya Edo. Aku diam, menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, berharap Ka Vito buka suara. Yaa kalo dilihat untuk jurusan musik kayanya ada Vito yang bisa dituakan. “Aga lo mau ngomong sesuatu ga?” Aku menoleh, melihat Vito, orang yang ada di pikiranku barusan malah bertanya padaku. Aku memandangnya dengan tatapan heran. Kenapa aku? Kenapa ga dia aja? “Say something, Bhagas!” Seru Vito. Aku berdeham, mengosongkan tenggorokanku agar tidak tercekat saat bersuara. “Okay, Hello kak Edo. Hello semuanya. Gue Aga dari seni musik masih semester 5. “I dont know what I'm gonna to say. Tapi, gue setuju, kalo anak-anak teater memilih Edo buat jadi sutradara kami, I'm with them. Gue sama anak-anak musik buta soal drama-drama-an, kita cuma pernah menikmati apa yang kalian suguhkan tanpa tau proses pengolahan sebuah drama kaya gimana. “Jadi, gue atas nama anak musik, setuju kalo Edo jadi sutradara. Kami dari seni musik bakal bantu semampu kami, bakal berusaha sekuat kami. I'm gonna use my heart for this project just like what you ask, and I hope my friend doing the same thing.” Aku selesai. Ga nyangka, ucapanku barusan juga diiringi tepukan tangan dari beberapa orang. “Okay Aga, thank you! Tapi gue masih ga yakin ini fair. Ga enak rasanya jadi sutradara dengan cara semudah  ini. Dan, gue pun mikirin beban yang ada di pundak gue saat jabatan ini bener-bener gue terima. “So? Gue minta kalian semua ngeluarin kertas kecil untuk tulis nama siapa yang kalian percaya untuk jadi sutradara.” Katanya. Kami semua mengangguk. “Vir, kertas dong. Sama pulpen.” Pintaku pada Virlo. “Kuliah apaan lo kaga bawa buku sama alat tulis?” Tanyanya sambil memberiku potongan kertas dan pulpen. “Yee kan bilangnya latihan drama, masa iya drama bawa pulpen.” Sahutku. Tanpa ragu, aku menulis nama Edo dalam kertas kecil. Melipatnya dan memberikannya pada orang yang ngider dengan topi sebagai kotak suara. Kemudian pembacaan suara di lakukan, seperti yang diduga, Edo terpilih dengan cara yang benar. Meskipun ada satu-dua suara yang meminta Vito, bahkan aku menjadi sutradara. Unbelievable. “Oke, setuju yaa Edo sutradaranya?” Tanya Vito dan kami semua bersorak untuknya. “Okay, sebelum mikirin ke drama dan lainnya. Kita bentuk kepanitiaan. Gue selaku sutradara milih Vito sebagai wakil gue. “Lalu, kita butuh bendahara, gue serahin itu ke Anastasia, gimana? Lo selalu jadi bendahara Nas di tiap semester dan acara.” Si Anastasia mengangguk setuju. “Buat sekertaris, ada yang bisa bantu milih?” Tanya Edo. Kemudian ada yang mengusulkan sebuah nama. Lanjut lagi, kami mencari siapa yang bakal bikin sekenario untuk drama ini. Dialah 'tuhan' untuk cerita yang akan kami lakonkan. Semua udah  terpilih, aku bahkan ditunjuk jadi ilustrator untuk membuat flayer, poster dan lainnya untuk promo iklan. “Oh iya, kalian semua gak cuma jadi apa yang tadi gue sebutkan, kalian punya tugas ganda atau bahkan 3 kalo kalian mampu. Kalo nanti ada peran yang cocok untuk kalian, kalian akan main. Okay?” Kata Edo. “Okay!” Seru kami semua serempak. “Good, gue kasih waktu 3 hari buat Tiara. Gue pengen dalam waktu 3 hari ada naskah mentah yang dateng ke gue, biar gue bisa baca, pelajari dan cari orang yang cocok.” Kami semua menggangguk. Bubar, aku dan Virlo mampir ke kantin. Mengobrolkan keseruan tadi, asli sih emang seru. Sesuatu yang baru dan asik untuk di kerjakan. Ketemu banyak orang pekerja dalam satu tim. Rasanya luar biasa. “Jalan yuk?” Ajak Virlo. “Sabtu cuy, gue mau balik.” Kataku. “Gue ikut ke rumah lo boleh? Kangen godain si Adam gue.” “Vir? Lo normal?” Tanyaku dengan nada becanda. “Normal lah b*****t! Adek lo tuh seru, gak kaya elo. Mangkanya gue seneng main sama dia.” Kata Virlo. “Yaudah , ayok ke kostan gue ambil mobil.” “Okay!” *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN