2 - Mikinah

2599 Kata
“Kok bisa tau aku ngadain mini konser?” Tanyaku pada Quinsha, membuka obrolan agar perjalanan pulang ini tidak membosankan. “Adam, dia kan punya nomer w******p aku, jadi dia ngasih tau. Tadinya mau bareng, cuma kan Adam sama keluarga kamu dari kemarin datengnya. Yaudah  deh aku nyusul.” Jawabnya. “Makasih yaa udah  dateng jauh-jauh dari Bogor.” Kataku. “Yapss, gak apa-apa kok. Jarang-jarang aku nonton konser gitu. Musik-musik klasik lah, apalah. Adem dengernya.” Katanya lagi. Aku mengangguk. Fokus menyetir. “Kamu dari kapan main piano?” Tanyanya. “Emm dari umur 4 tahun sih kayanya. Tapi kalo belajar piano bener-bener dari umur 5 tahun.” Yaa, kali pertama aku melihat piano adalah hari pertama aku diadopsi oleh ayah, saat diajak berkeliling rumah aku melihat grand piano berdiri gagah mendominasi ruang keluarga lantai dua. Aku tertarik, ingin memainkannya. Dulu Ayah mengajarkan kunci-kunci not-not dasar yang ia tahu. Saat aku ingin lebih mendalaminya, barulah ayah memasukanku ke tempat les untuk belajar piano. “Kalo kamu sukanya apa?” Tanyaku saat kami terdiam cukup lama. “Eksperimen, aku suka kaya percobaan-percobaan kimia gitu. Asik.” Jawabnya. “Kamu cocok berarti sama Mama sama Adam. Mereka berdua IPA banget.” Kataku. “Mama kamu kerjanya apa emang?” Tanyanya. “She's a housewife, but have a master degree of Chemistry!” Jawabku. “Woow!” Serunya. “Kalo orang tua kamu?” Tanyaku. “Daddy kayanya cocok sama kamu, tapi bagian lukis-lukis. Kalo musik Daddy main gitar.” “Wow, Daddy kamu seniman berarti di Inggris?” Tanyaku. “Nope! It's just his hobby. Daddy lebih ke pengusaha gitu, pelariannya ya itu musik sama lukis.” Jawabnya. Aku mengangguk, bingung mau bahas apa dan aku sekarang ngerasa aneh aja gitu kita berdua malah bahas orang tua, dari sekian banyak topik yang bisa dibahas. “Jadi lanjut kuliah ke London?” Tanyaku. “Iyaps, pengen sih masuk oxford, tapi Sheffield University juga gak apa-apa biar bisa temenin Grandy!” Jawabnya. “Kakek kamu di sana?” Astaga Aga! Lagi-lagi bahas orang tua. “Yapss udah  tua banget, diurus sama aunty Jean,” Jawabnya. Aku hanya mengangguk. Bah! Aku gak tahu aunty Jean itu siapa. Aku memilih tak melanjutkan obrolan ini, bingung aku mau ngobrol apa lagian. Aku memilih fokus menyetir sementara Quinsha terlihat asik dengan ponselnya. Jalan tol malem ini macet banget, ya wajar sih malem minggu, bikin tua di jalan ini sih. Sesampainya di gerbang tol Bogor, langsung saja aku ambil kiri. Yaa, ada jalan khusus untuk langsung masuk ke Bogor Raya dari tol. “Eh mau ke mana Ga?” Tanya Quinsha. “Oh sorry!” Aku langsung tersentak kaget. Yaelah kenapa pake lupa segala sih Aga?!! “Maaf, aku refleks biasa kalo pulang langsung belok kiri.” Kataku. Karena udah  kepalang, akhirnya aku putar arah, bukannya masuk Bogor Raya aku malah ambil jalur kebalikannya. Masuk ke pusat kota Bogor. Ini malem minggu, jadi gak usah tanya macetnya kaya apa. Parah! “Sorry ya!” Kataku. “Iya gak apa-apa Ga.” Sahutnya. Aku mengangguk, mengarahkan mobil ke perumahan Kebun Raya Residence. Kami masih stuck di Tugu Kujang, gilaa makin malem malah makin rame. “Sorry ya jadi harus nganter dulu!” Serunya. “Gak apa-apa ko Quinn, kan kamu udah  dateng di konser amal aku.” Kataku. “Kamu emang anaknya gini ya?” Tanyanya. “Maksudnya?” “Pendiem, kayanya ngomong seperlunya gitu.” Jelasnya. “Bingung aja mau ngomong apa,” Kataku. “Ya apa aja gitu!” Serunya. Aku hanya mengangkat bahu, bingung ngomong apa, asli. Tapi yaa kan emang begini sih. Aku lebih suka mengamati, dan lagi kan aku lagi nyetir. Ya mendingan fokus nyetir kan, liat jalan biar ga kejadian hal-hal yang tidak diinginkan. Hampir satu jam, akhirnya kami masuk ke perumahan KRR. Aku langsung mengarahkan mobilku. “Lurus aja, kalo ada taman nanti belok kiri.” Kata Quinsha menunjukan arah. Aku mengangguk. Menuruti arahannya. Setelah melewati taman perumahan yang berisi mainan anak-anak, aku mengambil jalan ke arah kiri. “Sini bener?” Tanyaku sambil berbelok. “Iya bener ko Aga.” Jawabnya. Aku langsung melanjutkan jalannya. “Masih jauh dari sini?” Tanyaku lagi. “Nanti belok kiri lagi di belokan yang kedua. Rumahnya pager biru.” Jawab Quinsha. Aku menurutinya, tak lama kemudian sampailah kami di rumah berpagar biru. Melihat bangunannya, sepertinya ini jatah dua rumah yang dijadikan satu. Rumahnya terlihat besar namun halamannya kecil, beda sama di rumah. Kalo dirumah halaman sama garasi bisa dipake 5 mobil. Ini kayanya cuma 3 deh. “Mau masuk?” Tawar Quinsha. “Eh gak usah Quinn, udah  kemaleman.” Kataku, yaa jam ditangan kiriku udah  menunjukan pukul setengah sebelas malam. “Oke deh,” “Maaf yaa kamu jadi balik malem.” Kataku. “Santai aja Ga. Mami sama Papi orangnya santai ko. Lagian aku udah  izin, jadi pasti ngerti kalo aku balik malem.” Jelasnya. Aku mengangguk sambil tersenyum. “Oke, kamu hati-hati yaa baliknya. Maaf kamu jadi nganter aku padahal rumah kamu deket dari tol.” “Aku yang minta maaf, gegara nonton konser amal aku jadi kamu balik malem.” “Kita berdua kebanyakan minta maaf kayanya hahahah!” Seru Quinsha. Aku ikut tertawa bersamanya, iyalah. Tawanya tuh kaya sihir yang bikin aku pengen ikutan ketawa juga. God! “Udah  aku turun yaa!” Serunya. Aku mengangguk saat ia membuka pintu mobil dan keluar. Aku menurunkan kaca mobil agar masih bisa melihat wajah manisnya itu. “Hati-hati Ga! Makasih lo!” Serunya sambil melambai dari balik pagar rumahnya. “Ya, makasih juga Quinn!” Kataku sambil tersenyum kepadanya. Setelah ia masuk rumah, baru aku memutarkan mobil untuk pulang ke rumah. Untunglah jalan pulang udah  ga semacet tadi, pukul 11 malem. Orang-orang yang malem mingguan udah  pada cape kali yaa di jalan. Rumahku masih terlihat terang dibagian lantai dua. Oke pasti Mama sama Ayah belum tidur. Pelan-pelan kubuka pagar rumah, lalu langsung saja kumasukan mobilku. Setelah parkir dengan rapi kututup kembali pintu pagar. Aku masuk lewat pintu samping yang ada di garasi. Langsung saja naik ke lantai dua. Benar dugaanku, Mama sama Ayah masih nonton. Aku tersenyum melihat mama yang bersender di d**a ayah. Senang melihat mereka seperti itu, apalagi Mama lagi hamil sekarang, bayi kembar. Ya ampun, dalam kurun waktu beberapa bulan aku bakal punya adek lagi. Aku cuma ngarep itu adek nanti cewe-cewe yang lucu, kalem dan manis. Bukan yang pecicilan macem Adam hahaha! “Assalammualaikum, Mama! Ayah!” Sapaku. “Ya Allah kakak pulang malem amat?” Mama tersentak kaget melihatku. “Hehe tadinya gak mau pulang. Cuma ya sekalian anter Quinsha gitu. Yaudah  aku balik. Macet banget.” Jelasku, duduk di sofa di samping Ayah. Langsung saja Ayah merangkulku, mengecup puncak kepalaku. “Emmm nyambi! Pantesan dibelain pulang malem-malem!” Ledek Ayah. “Ga gitu, kena macet mangkanya balik malem Yah. Dari jakarta juga tadi jam 7an.” Kataku. “Udah gak apa-apa, kamu laper ga?” Tanya Mama. “Tergantung ada menu apa Ma.” Jawabku. “Di kulkas ada macaroni schotel, mau kamu?” Tawar Mama. “Boleh Ma. Aga ke kamar mandi dulu yaa.” Kataku. “Sip Nak. Mama siapin dulu biar anget!” Kata Mama padaku. Aku mengangguk sambil bangkit dari sofa. “Kamu ayok temenin aku ke bawah!” Terdengar suara Mama mengajak ayah saat aku masuk ke kamarku. *** Minggu pagi aku terbangun dengan pikiran akan lukisan yang belum terselesaikan. Aku langsung ke garasi untuk mengambil sketsa Mikinah yang ada di mobilku. Aku membawanya ke spot favoritku di rumah, deket kolam. Udah  tersedia semua peralatan tempurku untuk membuat Mikinah. Setengah jam menekuni Mikinah, ia udah  terlihat lebih baik sekarang. Background udah  kuisi warna, menyisakan Mikinah dan atribut yang dikenakannya. “Morning Kak!” Aku menoleh, melihat Ayah yang masih dengan muka bantalnya. “Morning Yaah!” Sapaku lagi. “Ngapain?” Tanya Ayah. “Berenang!” Aku menoleh, Adam lah yang menjawab. Aku tertawa melihatnya, turun dari tangga, gapake baju. Khas Adam, tidur t*******g d**a. “Tidur lagi sana, masih ngigo kamu!” Seru Ayah. “Ya Ayah udah  tau Kakak lagi ngelukis, pake ditanya lagi. Basi tauk!” Seru Adam sambil berjalan menuju dapur. “Ayah masih ga ngerti Kak, Adam tuh kenapa bisa gitu.” Kata Ayah, sambil menyusul Adam ke dapur. Aku mengambil cat minyakku, mencampur-campur warna untuk mendapatkan warna yang kumau. “Hello boys!” Aku menoleh, Mama turun dari tangga. Udah  seger, beres mandi kayanya. “Hey Ma!” Balasku. “Pada mau sarapan apaan nih?” Tanya Mama. “Aku mau french toast ma,” Terdengar suara Adam menyahut. Beberapa saat kemudian udah  terjadi hiruk pikuk di dapur. Inilah kenapa aku suka ngelukis di pinggir kolam, soalnya deket dari dapur enak kalo ngelukis ada rame-rame kegiatan orang rumah tuh. “Itu siapa ka? Serem amat.” Kata Adam saat sedikit wajah dari Mikinah udah  jadi. “Kepala suku di Dayak, de.” Jawabku. “Serem yaa!” Kata Adam. “Yakk.” Sahutku. Adam memilih duduk di kursi pinggir kolam. Aku masih asik menekuni Mikinah. Entah lah, aku merasa orang tua ini wajib dibikin sesempurna mungkin. “Makan dek, kakak!” Terdengar seruan Mama dari arah ruang makan. “Ayok kak!” Ajak Adam. “Bentaran deh Dam. Nanggung.” Jawabku. “Yaudah !” Lalu Adam melengos masuk ke dalam rumah. “Kak! Ayo!” Seru Ayah saat aku ingin melanjutkan menggambar telinga Mikinah yang sangat panjang ini. “Bentar Yah.” Kataku. “Kamu mau mama yang kesini?” Tanya Ayah. “Fine, dad!” Kataku sambil meletakan palette dan kuas yang kupegang ke kursi. “Ayah penasaran, kamu kalo di kostan makan gimana kak? Makin kurus kamu. Kan ga ada yang maksa makan kalo di sana. Ayah jadi setuju sama Mama.” Kata Ayah saat kami berjalan masuk ke dalam. “Setuju apaan Yah?” Tanyaku. “Mama sama Ayah tengokin kamu seminggu sekali, pas weekday, weekend kamu pulang.” Jelas Ayah. “Yah! Aku udah  gede. Aku masih sehat ko. Yang penting kan sehat.” Sahutku. “Janji yaa jangan telat makan. Ayah gak mau kalo kamu tiba-tiba maag.” Kata Ayah. Aku mengangguk. Setuju. Setelah selesai sarapan, langsung saja aku melanjutkan proyek Mikinah-ku. Membuatnya terlihat nyata senti demi senti. Ohh s**l, mendadak moodku hilang, ini nih hal jelek yang ada di diriku, moodku suka tiba-tiba berubah dan jadi ga niat sama sekali lanjutinnya. Aku meletakan peralatan lukisku, meninggalkan Mikinah di teras samping. Aku masuk ke dalam rumah, melihat Adam sedang asik nonton TV. “Dek, jalan-jalan yu?” Ajakku. “Ke mana? Padahal kalo kita bangun pagi mah mendingan CFD-an Kak.” Sahut Adam.(CFD: Car Free Day) “Minggu depan deh kita CFD-an, udah  lama kakak ga main sepeda.” Kataku. “Sekarang deh Yuk, sepedahan. Kita kelilingin kebun raya.” Usulnya. “Mau kamu?” “Ayok, tapi aku mandi dulu. Biar makin ganteng, kan ga asik kalo ketemu cewe cantik tapi belum mandi.” Katanya seraya bangkit dari kursi. Ya ampun Adam!!! Kalo bukan adek sendiri kayanya ini anak udah  aku karungin terus aku kasih makan hiu di laut dah. Aku juga naik ke kamarku, mandi juga. Lepek banget ini dari semalem belum mandi. “Kamu mandi, Adam juga mandi. Mau ke mana Kak?” Tanya Mama saat aku turun dan bergabung dengannya di dapur. “Mau main sepeda, Ayah mana Ma?” Tanyaku. “Ayah ke rumah sakit, ada operasi katanya.” “Mama sendiri di rumah gak apa-apa? Apa aku sama Adam tunggu Ayah pulang baru main sepeda?” “Gak usah berangkat aja, bentar lagi Mbak Ayu juga dateng ko.” Sahut Mama. Aku mengangguk. “Adam lama banget ya?” “Kaya gak tahu dia aja, kudu perfect kan anak itu mah kalo mau keluar rumah, mandinya iya bentar, tapi dandannya lamaaaaa!” Sahut Mama. “Dia ganjen banget ya Ma!” Seruku. “Iyee, kaya Ayah.” Sahut Mama. Aku tertawa mendengarnya. Asli, kalo aku nanti punya pacar, aku mau yang kaya Mama. Baik, pinter, penyayang, cantik, rendah hati, bersahaja lah pokoknya. Ada ga yaa orang kaya Mama lagi? Yang seumuran gitu sama aku. Hehehe! “Ayok!” Terdengar suara Adam dari tangga, membuat aku dan Mama menoleh. Dia udah  rapi, seperti biasa kesenengannya dia pasti pake iket kepala, pake sweater dan untuk kali ini pake celana pendek dan sepatu olahraga. “Ma gak apa-apa aku tinggal?” Tanyaku. “Gak apa-apa Kak, udah  kamu main aja sana sama Adam. Gaet cewe kek, udah  gede juga!” Seru Mama. Ya ampun Ma, cukup Adam sama Ayah aja yang gila. Mama jangan. Batinku. Aku mengecup pipi Mama sekilas sebelum berbalik menyusul Adam lewat pintu samping garasi. “Keliling Kebon Raya doang nih kak? Masuk juga yuk?” Ajak Adam saat kami udah  di jalanan komplek. “Yaudah  masuk aja juga gak apa-apa.” Kataku. Pagi ini cuaca Bogor sangat sejuk, enak banget cuaca kaya gini di nikmatin sambil naik sepeda, bagusnya lagi di Bogor kan ada jalur khusus sepeda jadi kaga takut ke serempet kendaraan lain. Hampir 20 menit mengayuh sepeda, kami sampai di gerbang utama Kebun Raya Bogor. Setelah membayar dan lain-lain, aku segera masuk menyusul Adam yang udah  masuk duluan. “Lurus apa belok Ka?” Tanya Adam. “Belok de, ngapain lurus? Mau ke Istana Bogor kamu?” Tanyaku. “Hahaha engga sihh.” Pagi sampai siang kami mengelilingi Kebun Raya dengan bersepeda, mood-ku untuk melukis pun ada lagi. Ah tau gitu aku bawa kanvas deeh. Aku menoleh ke Adam yang sedang membeli ice cream. Lalu dengan dua ice cream di genggamannya ia kembali padaku. “Kak boleh ga ya kira-kira kalo aku bilang ke Mama nanti SMA aku mau di sekolah negeri aja?” Tanyanya. “Kenapa emang? Bogor Raya kan bagus de.” Kataku. Ya, aku waktu dulu dari SD sampai SMA selalu di Bogor Raya, gak pernah ada kepikiran buat masuk sekolah lain karena BR deket dari rumah dan sekolahnya udah  International. “Aku bosen, temen aku dari SD itu terus.” Jawabnya. “Temen bisa dicari di mana aja Dek.” Kataku. “Iya sih, tapi yang sekolah di BR tuh yaa orangnya itu-itu terus, emang sih enak jadi udah  kenal deket banget. Tapi please deh, stock cewenya itu-itu mulu. Kan ga ada kemajuan.” Sahutnya. Ohhhhh, tetep yee ujung-ujungnya cewe. Ini anak satu emang luar biasa sekali. “De, Kakak yang udah  kuliah aja belum kepikiran cewe loh.” Kataku. “Terus itu Kak Quinsha??” “Itu mah kamu iseng!” Kataku. “Tapi suka kan?” Godanya. Aku diam, es krim yang kami makan udah  habis. Jadi aku memilih berdiri menuju sepedaku dan pulang. Udah  lumayan siang, sekarang panas Bogor udah  ga bersahabat. “Ga dijawab, berarti iya tuh!!” Seru Adam dari belakangku. Perjalanan pulang memakan waktu lebih banyak daripada berangkat karena kami harus memutar, di jalan Adam sempat mengajakku mampir untuk makan soto Bogor, kami langsung melanjutkan perjalanan pulang setelah makan. Sesampainya di rumah, aku langsung menemui pacarku saat ini, yaaa.. Mikinah. Aku mengambil lagi kuasku, memulai lagi membuat Mikinah menjadi nyata dalam kanvas. Aku punya tekad untuk menyelesaikannya hari ini, aku gak mau di tunda-tunda, biar aku bisa istirahat dengan tenang sepanjang sisa minggu ini. Udah  hampir pukul 11 malam ketika aku akhirnya meletakan kuas yang seharian ini kugenggam. Selesai, ya Mikinah udah  selesai. Aku memandang ke dalam manik matanya, aku puas dengan gambaranku kali ini. Semoga dosenku juga setuju. Aku memandang Mikinah lebih lama, senang rasanya ada satu lagi karya yang terselesaikan. Aku menarik nafas panjang, membereskan semua peralatan, lalu aku membawa Mikinah ke atas. Entar kalo aku tinggal dia keujanan di sini, kasian. Heheheh! ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN