Setelah liburan singkat ke London, kami sekeluarga udah kembali ke Indonesia. Aku udah kembali ke paviliunku, yaa seminggu kemarin itu minggu tenang sebelum ujian tengah semester ganjil.
Oh iya, biarkan aku memperkenalkan diri. Aku Bhagas Aldimas Setiawan, aku anak pertama dari dua bersaudara, dan Mamaku sekarang sedang mengandung anak kembar, jadi dalam beberapa bulan ke depan aku akan jadi anak pertama dari empat bersaudara.
Umurku 19 tahun, mahasiswa semester tiga di IKJ, mengambil jurusan Seni Musik dan Seni Rupa, yaa aku memang sengaja double degree karena aku menyukai kedua bidang itu dan sangat menekuni keduanya. Aku cinta seni.
Pulang liburan, aku kembali ke rutinitas seperti biasa, sekarang malah lebih ribet. Ujian, banyak project yang harus diselesaikan. Terlebih aku langsung ambil dua jurusan, jadi buatku ini benar-benar menguras tenaga, fikiran dan waktu.
“Tema lukis buat ujian 'orang tua' nih, lo mau gambar apaan Gas?” Tanya Gega, temanku dari jurusan seni rupa.
“Gak tahu belum kepikiran, lo mau gambar apaan?” Tanyaku.
“Deket rumah gue ada kakek-kakek, tiap sebelum subuh dia suka koar-koar di masjid buat ingetin solat, jam 3 pagi! Epic banget kan ya orang kaya gitu, gue gambar dia aja deh.” Jawab Gega.
“Enak lo, udah punya objek. Gue gambar apaan yak?” Tanyaku.
“Gambar bokap nyokap lo aja, asik tuh kan orang tua lo.” Usulnya.
“Mainstream, dikasih tema orang tua kan bukan berarti lo kudu gambar orang tua.” Kataku.
“Terus lo mau gambar apa? Minuman?” Tanyanya.
“Maksud lo?” Tanyaku tak mengerti.
“Ada kali Gas minum-minuman gitu, cap orang tua. Hahahaha!” Jelasnya sambil tertawa.
“Gak tahu dah gue bingung, nyari inspirasi aja dulu. 2 minggu kan?” Tanyaku.
“Iyee, buat gue waktu dua minggu banyak. Lha buat elo? Lo kan kudu ngumpulin dana buat charity, di seni pertunjukan begitu kan ujian buat sekarang?”
“Yapsss, masing-masing kudu dapet minimal 5 juta.” Jelasku.
“Mampusss!” Serunya.
“Gampang sih, gue bisa minta bokap dateng ke perform gue terus nyumbang. Tapi cemen banget gue kalo kaya gitu.”
“Anjir, yaa udah lah langsung aja kaya gitu. Biar lo bisa fokus ngerjain gambar.” Kata Gega.
“Kaga ah, gue sama Virlo udah mau bikin mini konser gitu. Dia main gitar jazz, gue main piano. Dia hari pertama, gue hari kedua. Di ruang seni. Bayar tiket lima ribu seorang, nah sisanya boleh nyumbang seikhlasnya.” Kataku menjelaskan rencanaku dalam mencari dana untuk charity.
“Niat abisss ampe bikin mini konser!”
“Gak apa-apa, mumpung Virlo mau. Gue jadi gak sendiri.” Kataku.
“Yaudah deh, gue balik yaa. Mau nanya kakek-kakek penghuni mesjid ke orang rumah.” Serunya sambil bangkit dari kursi belajarku.
“Yeah, tiati Geg!” Seruku pada Gega.
Lalu ia udah keluar dari paviliunku. Karena bosan, aku menyalakan TV. Mungkin aku bisa dapet inspirasi dari TV. National Geographic Channel, lagi nayangin soal adat suku dayak dan lain-lain. Aku lebih fokus ke tayangan bukan suara. Kali aja inspirasi ngelukis bisa muncul.
Tayangan udah hampir berakhir tapi aku belum nemu inspirasi. Saat akan memindahkan Channel ke saluran lain, pandanganku tersita oleh ketua suku, sedang duduk di beranda rumah, Mikinah, itu namanya. Aku segera saja mengambil ponselku, menyalakan kamera dan memotret gambar Mikinah yang ada di layar sebelum tayangan berakhir.
Aku memandang layar ponselku, bagus kayanya kalo gambar orang ini. Seseorang yang gak aku kenal, seseorang yang kuketahui hanya dari layar kaca. Jika aku bisa menggambarnya, pasti rasanya spesial sekali karena untuk kali pertama aku menggambar objek yang belum pernah kukihat secara langsung.
Segera saja kuambil kanvas ukuran besar dari kolong kasur, yaa aku banyak nyimpen stock kanvas kosong. Buat jaga-jaga kalo ada inspirasi tetiba muncul, aku jadi bisa langsung gambar.
Memilih kanvas ukuran 100cm×100cm, aku langsung membuat sketsa Mikinah yang masih terarsir nyata di kepalaku. Tanganku langsung bergerak otomatis membuat sketsa Mikinah senyata mungkin.
Hampir dua jam, sketsanya selesai. Okay Mikinah pencil sketch on canvas done!! Project baruku untuk menampilkan Mikinah dimulai! Aku memandangi sketsa ini, mencari sesuatu yang kurang. Untuk menghidupkan Mikinah dalam kanvas, aku harus membuatnya sempurna dulu.
Pikiranku buyar saat ponselku berdering.
Virlo Greg calling...
“Yo?” Sahutku menjawab panggilannya.
“3 hari lagi, siap?” Tanyanya tiba-tiba, namun aku udah mengerti maksud perkataannya ini.
“Udah siap ruangan sama izinnya?” Tanyaku.
“Siap! Ajak keluarga lo dong, gue juga ajak keluarga gue. Gue bilang dua hari.” Jelasnya.
“Siap, entar gue telfon nyokap deh yaaa!” Seruku.
“Goodboy! Besok siang kita siapin ruangan, dekor dan lain-lain.”
“Iya Vir, santai.” Kataku, lalu sambungan pun terputus.
Langsung saja aku membuka group keluargaku supaya semua langsung tahu.
Me: Ma, Yah?
Jumat-Sabtu
Kakak bikin mini konser
buat charity, dateng dong
Badra: boleh ajak cewe gak?
Me: seriously dek?
Badra: hahaha becandaa!
Me: Mama sama Ayah
mana dek?
Mama: Hadirrr! Bisa kok kak! Kamu dari sekarang pesenin hotel dong buat Mama, Ayah sama Adam.
Badra: ma, udah canggih! Pesen online aja sih
Mama: oh iya lupa!
Ayah: ayah hadir, tapi kalo ada operasi dadakan gak bisa kak. Gak apa-apa?
Me: iya ayah gak apa-apa.
Mama: oke sayang semangat yaa
dari sekarang jangan kecapean
biar nanti tampilnya okee!
jangan begadang kak!
Me: iyaa maa siaap
Mama: goodboy
Badra: goodboy my boy
Me: dek?
Badra: nanti aku punya
kejutan buat kakak
Me: apa?
Badra: rahasia! Bhay~
Aku langsung menutup aplikasi chatting itu, fokus pada sketsa Mikinah di depanku. Aku masih belum tahu bagaimana aku akan menghidupan Mikinah di atas kanvas ini.
Oke, gak usah dipikirin hari ini deh kayanya. Fokus istirahatin badan aja dulu buat konser, beres konser baru aku akan memikirkan Mikinah.
***
Setengah jam yang lalu aku memposting sebuah foto di i********:, fotoku lebih tepatnya. Aku kaget menemukan komentar Quinsha yang bilang ia akan hadir hari ini. Yaa, ini sabtu. Hari kedua konser charity-ku dengan Virlo. Bisa-bisanya Quinsha hadir, tau dari mana coba dia?
Dengan perasaan yang gak karuan sejak info tadi, aku masuk ke panggung dengan jantung yang menggebu-gebu. Aku melirik ke barisan bangku depan, Mama Ayah dan Adam komplit hadir seperti kemarin saat Virlo tampil, namun kali ini ada yang beda. Di sebelah Adam bukan orang lain, tapi gadis cantik berambut coklat yang tersenyum kearahku. God! Jangan bikin aku kaku sekarang! Aku harus tampil.
Aku berjalan ke tengah panggung, menuju mic yang berdiri di tengah, menunggu kudatangi.
“Selamat sore semua, terima kasih karena telah menyempatkan hadir dalam acara penggalangan dana untuk anak-anak yang kurang mampu. Mungkin sekian kata sambutan dari saya, dan silahkan dinikmati musiknya.” Kataku singkat.
Aku langsung berjalan ke grand piano, duduk di singgasanaku. Aku menarik nafas panjang sebelum membuka buku note yang ada di depanku.
Lagu pertama dari list yang kusiapkan adalah Sigur Rós - Fjögur Píanó. Okee, Chill Aga! Kamu udah mainin instrument ini dari lima tahun lalu, pasti bisa!
Langsung saja kubiarkan jari-jariku menari di atas tunts, aku selalu suka instrument ini. Saat pertama kali mendengarnya aku langsung jatuh cinta, meskipun 5 tahun lalu kata Mama ini video klipnya p***o, tapi aku gak peduli. Aku melihat seni dalam semua yang dihidangkan oleh Sigur Rós. Tarian Shia LaBeouf dan Denna Thomsen di video clipnya pun tidak terlihat s*****l menurutku, aku melihat sesuatu yang tak terucapkan dari setiap gerakan mereka. Itulah seni, yakan? Mampu berbicara dengan hal lain selain suara.
Hampir 6 menit aku memainkan Fjögur Piano, dan selesai. Semua yang hadir bertepuk tangan. Aku menoleh untuk memberikan senyum kepada para audience. Dan mataku berhenti di sana, gadis berambut coklat tua yang berdiri dari tempat duduknya, memberikanku standing ovation. Aku mengembangkan senyumku, khusus untuknya.
Beberapa menit kemudian aku melanjutkan lagi daftar lagu yang akan kumainkan. Menit-menit berlalu, aku udah menyelesaikan 5 lagu yang ada dalam daftarku.
Selesai udah , semua bertepuk tangan. Banyak juga yang bertepuk tangan sambil berdiri, keluargaku dan Quinsha udah pasti, dan lainnya yang tidak kukenal.
Lalu Virlo bergabung denganku, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya dan menutup mini konser amal ini.
Lega rasanya saat Pak Murjadi (dosen yang memberi kami tugas ini) hadir dan juga termasuk ke dalam salah satu orang yang memberikan standing ovation.Aku segera turun dari stage, menghampiri keluargaku yang hadir, mereka selalu hadir. Di manapun, kapanpun. Selalu bersedia menemani aku tampil, dan sekarang ada plus satu yang membuatku lebih semangat dibanding biasanya.
Aku memeluk ayah pertama. Ayah langsung meraupku dalam dekapannya.
“Ayah gak pernah terbiasa kak dengerin itu semua, selalu merinding, selalu terbawa suasana. Kamu bener-bener deh!” Seru Ayah ketika aku melepaskan pelukannya.
“Goodjob, little man!” Seru Mama sambil mencium pipi kiri dan kananku. Aku tersenyum pada mereka berdua.
“Thank you!” Sahutku.
“Nih surprisenyaa! Gimana?” Tanya Adam, menunjuk Quinsha yang berdiri di sampingnya.
Aku tersenyum pada Quinsha, ia membalas senyumku. God! Senyumnya manis bangettt.
“Thank you!” Seruku, ia mengangguk.
“Kak! Mama laper. Ayah sama Mama mau cari makan ya? Ikut yuk kamu, sabtu kan ini, sekalian pulang.” Ajak Ayah.
“Gak bisa Yah, aku harus evaluasi dulu sama Virlo, terus laporan sama dosen, nanya lulus apa engga.” Dan yang paling penting, dananya memenuhi apa engga. Yang terakhir hanya kuucapkan dalam hati.
Kalo Ayah tahu ada standar jumlah uang yang harus dikumpulin, beliau pasti langsung buru-buru nyari kotak amal dan masukin semua cash yang ada di dompetnya.
“Yaudah tapi pulang kan kak?” Tanya Mama.
“Diusahain Ma.” Kataku tak berani berjanji.
“Quinsha mau ikut kita? Daripada kamu naik grab sampai Bogor, yuk nak!” Ajak Mama.
“Gak usah tante, aku sendiri aja. Nanti mau minta jemput papi.” Jawabnya.
“Yaudah my queen, kita pisah dulu yaaa!” Seru Adam sambil menggandeng Mama dan Ayah keluar meninggalkan ruangan ini.
“Seriusan kamu bakal dijemput?” Tanyaku memastikan.
“Gak tahu sih heheh cuma ya gak enak aja kalo bareng keluarga kamu.” Jawabnya.
“Mau nunggu ga? Bareng aku aja, tapi ada yang harus aku beresin dulu.” Tawarku.
“Boleh!” Jawabnya.
“Okee, ikut aku ke backstage yuk!” Ajakku dan ia mengangguk.
Aku mencari Virlo di backstage, dan mendapatkannya sedang mengobrol bersama Pak Murjadi.
“Duduk sini dulu Quinn, bentar yaaa!” Kataku.
Ia mengangguk, langsung saja aku meninggalkannya dan menghampiri Virlo dan Pak Murjadi.
“Gimana, Vir?” Tanyaku.
“Konser kalian bagus, dari kemarin saya liat langsung. Cari dana amal sekaligus ngehibur orang. Kalian lulus mata kuliah saya!” Kata Pak Murjadi.
Aku nyengir lebaar.
“Kalo boleh tahu, dana yang kalian kumpulin berapa ya selama dua hari ini?” Tanya Pak Murjadi.
Aku menoleh pada Virlo, dia yang ngurusin dana.
“Kemarin itu dapet 7 juta pak, hari ini 8 juta. Jadi total dana yang kita dapetin ini 15 juta.” Jawab Virlo.
“Okay! Goodjob. Dananya langsung kalian kasih ke panitia charity aja yaa!” Seru Pak Murjadi.
Kami berdua mengangguk.
“Sekali lagi selamat!” Serunya sambil menyalami kami berdua lalu berbalik meninggalkan tempat ini.
“Vir, kalo gue balik gak apa-apa?” Tanyaku.
“Gak apa-apa sih, wong udah beres juga. Tinggal suruh OB bersihih.”
“Okedeh soalnya gue mau nganter orang juga.”
“Asikkk! Lo udah punya cewe nih!!!” Serunya dengan suara tinggi.
“Shut up!” Bisikku.
“Hahaha okay okaay!” Katanya.
“Thankyou yaa!” Kataku.
Langsung saja aku berbalik meninggalkannya dan menghampiri Quinsha yang terlihat sedang asik dengan ponselnya.
“Hey!” Kataku.
“Eh, udah ? Gimana?” Tanyanya dengan nada terkejut.
“Beres kok, mau balik sekarang?” Tanyaku.
“Boleh.” Jawabnya.
“Mau ikut jalan ke paviliun ambil mobil apa mau nunggu sini nanti dijemput?” Tanyaku.
“Ikut aja, ngapain nunggu di sini. Ga kenal sama orang-orang.” Katanya.
Aku mengangguk lalu berjalan, melambaikan tanganku agar ia mengikutiku. Kami berjalan dalam diam menuju paviliunku, saat sampai Quinsha berdiri diluar.
“Bentar ya!” Seruku dan ia mengangguk.
Aku langsung masuk ke kamar, meraih kunci Lexus RX350 milikku dan membawa kanvas yang berisi sketsa Mikinah. Yaa, nyelesaiin tugas satu laginya di Bogor aja sepertinya.
Aku keluar begitu barang-barang yang perlu kubawa telah terangkut.
“Masuk Quinn!” Seruku sambil menekan tombol unlock.
Ia masuk sementara aku membuka pintu jok belakang, meletakan kanvas dan barang-barang lain.
“Mau langsung balik apa nyari makan dulu nih?” Tanyaku saat duduk di bangku kemudi.
“Bebas sih!” Jawabnya.
“Cari makan dulu kali ya?” Usulku, yaa aku laper banget. Belum makan dari pagi hahaha.
Quinsha mengangguk, lalu kulajukan mobilku mencari tempat makan.
****