22 - Surat dari Masa Lalu

1529 Kata

Mama dan Ayah menyambutku ketika aku pulang. Aku langsung memeluk mereka sekilas lalu naik ke kamar, meninggalkan Ayah dan Mama dengan Bu Maurice. Entahlah, aku udah  ga sanggup nahan nangis. Aku tahu aku cowok, anak laki ga seharusnya nangis. Tapi, aku tetep manusia, aku punya hati dan perasaan. Saat ini, baik hati, perasaan maupun pikirianku sedang amburadul. Aku ga kuat nahan semuanya, jadi ku tumpahkan air mataku ke bantal. Ga dosa kan? Aku menangis tanpa suara, mengepalkan tangan, membenamkan wajahku di bantal. Tak lama tedengar ketukan di pintu namun aku bergeming, aku udah  tak ingin peduli pada apapun saat ini. “Aga?” Itu suara Ayah, aku merasakan kasurku bergoyang saat Ayah duduk di kasur. Lalu, terasa jemarinya menelus rambutku. “Gak apa-apa kak kalo nangis, Ayah ngerti kok.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN